Diana makin khawatir serba salah, Gentala adalah anak yang paling nekat. “Gimana kalo Mami kenalin anaknya teman Mami? Anaknya cantik, mapan, pengacara juga seperti kamu, gimana?”
“Genta nggak mau, Mi,” balasnya.
“Paling tidak kamu mau mencoba,” balas Mami dengan suara gemetar. Tangannya meremat pangkal tangan Genta. Rasa bersalah yang ada selama enam tahun juga ada di hati Mami. Tapi, sebagai orang tua, Diana punya kewajiban untuk menjadi penengah antara anak-anaknya. Apalagi sekarang, Diana merasa turut bertanggung jawab atas langgengnya pernikahan Argo dan Tyas. Dan mempertahankan pernikahan mereka.
Genta tidak bisa ada lebih lama lagi ada dalam satu ruangan bersama Maminya. Ditambah suara degungan penyedot debu. Mengganggu pendengarannya, jadi, Genta acuh tak acuh bangkit dari sofa. Melangkah keluar dari apartemennya.
Mami menyusul Genta, membujuknya agar mau dikenalkan ke anak temannya. Diana menahan tangan anaknya itu. “Genta, Genta! Mau ke mana?”
“Ke mana aja, Mi. Asal nggak ada dekat Mami.” Genta melepaskan tangan Mami yang menahannya pergi.
“Tapi kamu mau, kan dikenalkan ke anak teman Mami itu?” Maksud Mami tidak ingin Genta gelap mata lantas menemui Tyas dan merebutnya terang-terangan dari Argo.
Tatapan Mami seperti memohon ke arah Gentala. Kalau sudah begini, Genta tidak tega kepada Maminya. Tapi juga tidak bisa kalau menerima saran dari Mami. “Temui saja dia dulu,” saran Mami. “Dia pengacara juga sama seperti Argo. Kamu juga kan harus bantu-bantu di kantor Argo, kan?”
“Apa yang Mami kasih ke Gentala kalau memang dia berhasil masuk ke dalam kehidupan Genta?”
“Apa saja, Genta. Apa saja, asal kamu bisa melupakan Tyas.”
“Tidak akan bisa, Mi. Enam tahun Genta hidup dalam rasa bersalah! Apa Mami tahu terakhir Genta bertemu, Iras seperti tidak biasanya? Dia pucat, mual-mual. Maka dari itu Genta menuruti Mami untuk pergi, karena Mami janji akan mengurus Iras.”
Mami menghela napas, lemas, apakah mereka punya anak selama pacaran? Ini akan melukai perasaan Argo. Apalagi tampaknya Argo sangat mencintai Tyas.
“Baik. Apa pun semua sekarang adalah keputusanmu, Genta,” ucapan Mami membuat mata Genta membesar.
“Apa maksud Mami?”
“Apa pun yang kamu lakukan sekarang, Mami dan Papi tidak akan ikut campur lagi.”
“Itu bagus,” ucap Gentala, dalam hati menyusun rencana.
“Asal kamu jangan ganggu Argo. Dan jangan memberitahu kalau kamu dan Tyas dulu pernah punya hubungan. Apalagi, soal Tyas yang pucat dan mual-mual.”
Gentala menatap tajam Maminya, helaan napasnya terdengar kasar. “Baik, kalau begitu. Tapi, jangan salahkan Genta kalau memang Iras juga masih mencintai Genta.”
“Genta, cinta sejati itu tidak akan ada. Mami berani bertaruh kalau Tyas juga menginginkan kehidupan yang mapan bersama Argo. Jadi, walaupun dia masih mencintai kamu, dia tetap akan memilih Argo.”
“Karena Argo lebih mapan? Lebih cerdas dari pada aku? Kenapa Mami dan Papi selalu membandingkan aku dengan Argo?” Tangan Gentala mengepal sambil menggertakkan gigi.
“Itu kenyataannya, Argo selalu lebih unggul dari pada kamu. Dalam hal menjalankan firma hukum pun sama. Kamu hanya sekadar mampu menjalankan. Tapi Argo mampu berprestasi.”
Mami ini selalu menekan Genta dengan prestasi. Semua anak Papi selalu diseret untuk mendalami masalah hukum. Begitu juga Genta, padahal dia tidak tertarik sama sekali dengan dunia hukum, apalagi Indonesia.
Gentala memejam dan menarik napas, mau tidak mau dia harus masuk ke kantor firma hukum ayahnya dulu yang ada di Jakarta. “Baik kalau begitu, Genta akan ikuti apa kata Mami.”
“Bagus kalau begitu. Datang besok ke kantor jam delapan—”
“Ya, Genta sudah tahu bagaimana peraturannya. Tenang saja.” Genta bertekad dalam hati akan mati-matian merebut Tyas dari Argo. Walau kedengarannya gila, Genta tidak peduli.
“Baik kalau begitu. Tolong akur-akur saja dengan Argo.”
“Jangan banyak berharap, Mami.” Genta melangkah pergi dari hadapan Mami. Tanpa pamit, salam atau juga senyuman. Dalam hati Genta hanya ada dendam, rasa penasaran yang besar, dan tentu saja rindu menggebu, kepada Iras-nya.
***
“Well, well, well, ternyata perlu waktu dua minggu buat bikin kamu keluar dari persembunyian,” ledek Argo begitu melihat ada Genta di meja resepsionis gedung kantor.
Genta berusaha tersenyum. “Maklum, baru pulang kampung masa langsung ngantor? Mau liburan dulu, lah,” balasnya sambil menyerahkan KTP ke pihak keamanan gedung.
“Mbak, dia karyawan di lantai delapan belas, besok saya kasih dia ID pegawai. Jadi tidak perlu tukar KTP,” Argo memberikan penjelasan kepada petugas.
“Baik kalau begitu, Pak Argo. Mohon maaf, semoga hari Anda menyenangkan!” ucap si petugas itu.
Genta tersenyum melihat adiknya yang seratus delapan puluh derajat beubah sama sekali.
“Yuk, ke kantor, nunggu apalagi?” ajak Argo, sambil berjalan ke arah lift. Banyak karyawan yang pagi ini lalu lalang. Maklum, hari senin dan baru pukul delapan pagi.
“Apa Tyas tahu kalau suaminya itu mempesona perempuan lain?” goda Genta.
“Apaan, si?” Argo menanggapinya dengan menyikut perut kakaknya.
“Ati-ati, kamu yang nggak bisa nahan diri, Tyas nanti diambil orang, lho!”
Argo kali ini tidak merespon apa-apa, hanya melirik Genta sekilas. Lalu bertepatan dengan pintu lift terbuka. Argo dan Genta berdiri berdampingan di bilik lift yang lumayan penuh.
“Oh, iya, pengantin baru malam pertamanya apa kabar?” goda Genta lagi. Pagi ini sebenarnya adalah pagi yang dia benci dalam hidupnya. Mulai dari; kantor yang baru, dan harus bertemu dengan adiknya—yang—perebut kekasih orang! Namun, Genta memalsukan raut wajahnya yang selalu tersenyum seperti tidak ada apa.
Argo menghela napas, “Biasa aja, emang mau kayak apa?”
“Kayaknya ada yang belum dapat jatah, ni?” ledekan Genta terus berlanjut.
Argo sekali lagi tidak menanggapinya, dan Genta menganggap candaannya benar. Dari raut muka Argo yang terunduk sambil menghela napas.
“Ya, begitu, lah,” jawab Argo sedikit berbisik ke telinga Genta.
Kali ini Gentala sedikit bergembira, ingin bersorak, ternyata mereka belum melakukan malam pertamanya? Apa Tyas sengaja? Atau memang mereka berdua yang belum mau? “Maksudmu apa? Begitulah?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Genta. Rasa penasaran hampir mencekik lehernya sendiri. Hingga Genta melonggarkan dasinya.
Lift lantas sampai di lantai delapan belas. Argo berjalan dengan tegap, langkahnya lebar menuju salah satu lot kantor di gedung itu. Ada beberapa karyawan yang menyapanya. “Selamat pagi, Pak Argo!”
Argo itu dengan senyuman menjawab. “Pagi.” Dia lantas menoleh ke arah Gentala. “Oh, iya, nanti aku tunjukkin ruanganmu ada di mana.”
“Oke. Santai aja. Jangan tegang walau belum dapat jatah.” Genta coba mencairkan suasana. “Pengantin baru dengan wajah tegang, sendu, pasti dia belum dapat jatah! Pancing Genta lagi makin penasaran, makin gemas menunggu jawaban jujur adiknya.
Bukan adiknya yang dia ingin tahu soal malam pertama itu, tetapi Irasnya!