bc

Balerina Yang Kesepian

book_age4+
87
FOLLOW
1K
READ
family
brave
student
female lead
highschool
illness
lies
school
lonely
stubborn
like
intro-logo
Blurb

Menari adalah hobby nya sejak kecil, tapi orang tuanya tak pernah memberikan izin agar gadis itu ikut dalam sebuah sanggar tari. Terlahir dari keluarga kurang mampu, ibu hanya seorang tukang cuci dan ayahnya yang tak jelas pekerjaannya. kadang sang ayah suka berjudi dan selalu menyiksa anak istri jika kalah dalam perjudian. hal ini membuat gadis itu melampiaskan kekesalannya dalam sebuah tarian yang akhirnya diketahui oleh orang tuanya.

chap-preview
Free preview
Berdamai Dengan Masa Lalu
Wanita itu terkejut saat mendengar suara jeritan dari kamar putrinya beserta bunyi dari beberapa vas bunga yang sengaja dilemparkan. Segera beliau berlari meninggalkan Mushala kecil yang ada di rumahnya, dan menuju lantai dua tempat putrinya berada. “Astaga, Tara. Apa yang terjadi, Nak?” tanyanya kaget saat membuka pintu kamar anaknya dan melihat ruangan tersebut sudah seperti kapal pecah. Wanita yang masih mengenakan mukenah berbahan katun itu pun menghampiri seorang gadis yang tengah duduk di kursi roda dengan raut wajah yang tak dapat diartikan. Sembari melihat sekeiling ruangan yang tak enak dipandang, mata wanita itu terhenti pada anaknya yang bernama Tamara Alveria. Dengan penuh kasih sayang, wanita paruh baya itu membelai lembut rambutnya, dan mensejajarkan posisi dengan Tara, agar bisa merasakan apa yang dirasakan putrinya saat ini. “Istiqfar, Nak. Kamu harus melupakan semua kenangan pahit itu. Umi yakin, putri Umi pasti bisa bangkit dan kembali seperti dulu lagi,” ujarnya dengan lembut. Mengerti dengan kondisi anaknya yang sedang tidak stabil. “Aku muak, Umi. Aku benci dengan hidupku saat ini! kenapa ini semua terjadi kepadaku? Kenapa?” teriaknya lantang yang membuat sang Umi terkejut, tetap dengan sorot mata yang penuh cinta di sana. “Apa aku nggak pantas untuk bahagia, Umi?” lanjutnya lagi dengan air mata yang berlinang dan siap membanjiri pipinya. “Kamu berhak bahagia, Sayang. Maka dari itu kamu harus menciptakan kebahagiaanmu sendiri. Lupakan masa lalu, dan kembalilah ke jalan yang benar, Nak. Tuhan Maha Penyayang, Maha Pengasih, dan Maha Mendengar segalanya. Umi yakin, jika kamu bertaubat, insyaAllah hidupmu akan tenang.” Mendengar perkataan Umi-nya, membuat Tara semakin membenci wanita itu. Bukan hanya sekali, melainkan sudah berkali-kali wanita yang saat ini berstatus sebagai ibu angkatnya itu memberi nasihat. Namun, ekspresi dan tanggapan Tara tetap sama, belum berubah. “Jika aku bisa sendiri, kenapa aku butuh Tuhan, Umi?” tanyanya dengan wajah datar dan sorot mata yang lagi-lagi tak dapat diartikan. “Aku bisa menciptakan kebahagiaanku sendiri tanpa campur tangan Tuhan, aku nggak butuh Tuhan, Umi.” “Astaqfirullah, istiqfar, Nak! Kamu sudah terlalu jauh melangkah meninggalkan Tuhan. Jangan sampai Allah murka dengan perkataanmu ini.” “Tara nggak pernah meninggalkan Tuhan, Umi. Tuhan lah yang meninggalkan Tara, Tuhan itu nggak pernah ada, buktinya saat Tara butuh, Tuhan tak pernah membantu atau pun membalaskan semua sakit hati Tara pada mereka semua,” ujarnya tersedu. Seperti halnya gadis remaja seusia Tara yang bebas menikmati hidup tanpa ada beban sedikit pun, gadis yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas itu juga menginginkan hal yang sama. Pagi ke sekolah, pulangnya mampir ke tempat favorit atau nongkrong di kafe untuk sekedar ngobrol dan menikmati Wi-Fi gratis. Namun, masa remaja Tara telah lama terenggut, gadis itu kehilangan kepercayaan diri untuk menghadapi dunia, bahkan teman di sekolahnya pun sering mengucilkan dirinya. Ditambah lagi dengan kondisi fisik yang tidak seperti dulu lagi, alias cacat. “Nggak ada lagi yang peduli sama Tara, Umi. Semua orang menjauh, seakan Tara tak pernah ada di kehidupan mereka.” Tara menangis sembari memegang dadanya yang terasa sesak. Bak ditikam belati yang tajam, luka masa lalu kembali menganga. Tara berusaha untuk melupakan semuanya, tetapi tetap saja dirinya tak semudah itu menghapus semua kenangan pahit yang pernah tercipta dihidupnya. “Kamu salah, Nak. Umi masih peduli padamu, Umi sayang sama Tara. Allah juga sangat menyayangi Tara, jadi kembali ke jalan yang benar, Sayang!” pinta Umi nya sekali lagi. Entah apa yang merasuki hati Tamara, gadis itu seakan tidak suka mendengar nama Tuhan disebut dihadapannya. Ia sangat benci, dan mendorong keras tubuh wanita paruh baya itu hingga terjatuh. “Astaqfirullah, Tara,” bentaknya keras sembari menatap wajah Tara yang mulai memerah. “Tara sudah bilang Tuhan itu tidak ada, kenapa Umi masih saja percaya akan adanya Tuhan?” teriaknya tak kalah lantang. Sorot matanya sangat tajam menantang, menandakan dirinya akan baik-baik saja tanpa Tuhan. Umi Dewi, wanita yang telah merawat Tara dengan setulus hati tampak syok dengan ucapannya. Sama sekali tak percaya dengan sikap gadis itu yang begitu temperamen dan mudah marah. Sebenarnya Umi Dewi sudah tahu kondisi Tara seperti ini, akan tetapi beliau tetap saja berusaha untuk sabar menghadapinya. Gadis itu telah banyak mengalami kejadian yang membuatnya trauma, ditambah lagi beberapa hari yang lalu ia divonis mengidap penyakit yang membuat dirinya tak bisa beraktifitas seperti semula. Tentu hal itu membuatnya sangat marah. “Sayang, Tara mau makan apa? Umi masakin sesuatu, mau?” bujuk Umi Dewi untuk menenangkan dan berusaha mendekati putrinya lagi. “Keluar!” satu kata yang terlontar dari mulut Tara berhasil membuat Uminya terdiam tanpa tahu harus melakukan apa. “Aku bilang Umi keluar! Apa Umi nggak dengar,” bentaknya. “Umi akan keluar, tapi Tara mau Umi masakin apa?” “Aku nggak mau makan, Umi keluar sekarang! Biarkan aku sendiri.” Tanpa sadar Tara melempar vas bunga ke arah Uminya tepat mengenai d**a yang membuat sang Umi meringis kesakitan. Tara tak peduli dan sama sekali tidak menyesal atas perbuatannya. Bisa saja Umi Dewi terluka karena benturan vas itu terlalu keras mengenai dadanya. Namun, wanita paruh baya itu hanya bisa menangis dan memilih meninggalkan Tara sendiri dengan kemarahannya yang belum mereda. Beberapa langkah meninggalkan kamar itu, kembali terdengar jeritan histeris dari Tara, yang membuat Umi Dewi merasa kasihan akan kondisi putrinya. “Aagghhh... aku benci kalian, aku benci semuanya.” Tara melempar apa saja yang ada di dekatnya, gadis itu sama sekali tak bisa mengontrol emosinya yang berlebihan. Setiap kali bayangan masa lalu itu terlintas, amarah Tara meledak begitu saja, bahkan orang terdekat pun bisa jadi korbannya. Hari ini, entah berapa kali ia meluapkan kemarahannya, asisten rumah tangga pun sedikit takut untuk masuk ke kamarnya karena Tara bisa saja melukai mereka seperti yang dilakukan pada Uminya. “Tolong, biarkan aku hidup tenang. Pergi...! kenapa kalian terus muncul di hadapanku, apa belum puas menyiksaku dulu? Apa kalian masih ingin membuatku menderita disaat kondisiku sudah sangat memprihatinkan seperti ini? katakan, apa kesalahanku!” teriaknya sekali lagi yang membuat seisi rumah merasa khawatir. “Non Tara bicara sama siapa, Buk?” tanya Mbah Uti sedih Umi Dewi tahu kalau Tara hanya berbicara sendiri, karena ia sempat depresi sebelum dirinya memutuskan untuk merawat gadis itu. Dari ruang makan, suara tangis Tara terdengar dengan jelas yang membuat Mbah Uti dan Umi Dewi semakin sedih. Makanan yang lezat sudah terhidang di meja makan, tinggal disentuh oleh dua makhluk yang berbeda status tersebut. Iya, Mbah Uti merupakan asisten rumah tangga yang sangat disayangi oleh Umi Dewi. Selain umurnya yang udah tua, Mbah Uti sudah seperti ibu pengganti bagi Umi angkat Tara itu. Umi Dewi juga nggak pernah membedakan para pekerja, semua sama baginya. Oleh karena itu, dua asisten rumah tangga selain Mbah Uti, satu orang tukang kebun dan satu orang supir sangat menghormati dan menghargai Umi Dewi. Bagi mereka, Umi Dewi sudah banyak menolong keluarga. Makanya, nggak ada satu pun dari pekerja itu yang berani berkhianat. “Ningsih sama Sari mana, Mbah?” tanya Umi Dewi mengalihkan pembicaraan. “Ada di kamarnya, Buk. Sebentar, saya panggilkan dulu.” Mbah Uti beranjak meninggalkan meja makan dan berjalan menuju kamar belakang.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.7K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

WAKTU YANG HILANG

read
43.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook