Kembali ke Sekolah

1129 Words
Pagi ini, Tara menuruni anak tangga dengan bantuan tongkat yang membantunya untuk jalan. Ia tampak rapi mengenakan seragam sekolah lengkap dengan atributnya. Umi Dewi yang tengah sarapan menatap putrinya tak percaya. “Kamu mau kemana, Sayang?” tanya Umi Dewi yang menghentikan makannya. “Mau sekolah lah, Umi, nggak mungkin ke mall kayak begini,” jawabnya dengan malas tanpa melihat Umi nya. Umi Dewi bangkit dan menghampiri Tara yang masih kelihatan kesal. Wanita itu tersenyum melihat kondisi Tara yang mulai membaik, bahkan lebih baik dari hari kemarin yang penuh dengan amarah. “Kenapa nggak pakai kursi roda, biar kamu nggak kesusahan jalannya,” tawarnya. “Umi, aku nggak cacat, nggak butuh kursi roda. Aku masih bisa jalan, kok.” Tara memasang raut wajah kesal kala Umi Dewi menyuruhnya untuk menggunakan kursi roda. Gadis itu sama sekali tak menghargai niat tulus wanita paruh baya itu. “Bukan gitu maksud Umi, nanti kamu jatuh lagi kalau menggunakan tongkat, Nak.” Umi Dewi tampak khawatir dengan keputusan Tara yang menggunakan tongkat ke sekolah. “Umi, aku bukan anak kecil yang baru belajar jalan. Aku bisa jaga diri, kok, nggak usah berlebihan. Aku pamit,” ujarnya berlalu tanpa menyalami tangan Uminya. Umi Dewi terpaku di tempat, hatinya sedikit terluka dengan perkataan yang dilontarkan Tara. Sebagai seorang ibu, tentu merasa khawatir dengan kondisi anaknya yang belum pulih total. Umi Dewi merasa takut jika terjadi sesuatu pada anaknya. “Mang Udin, antar Tara ke sekolahnya, dan bawa kursi roda ini, siapa tahu Tara butuh!” pintanya pada Mang Udin, supir pribadi. “Baik, Buk. Kalau begitu saya permisi dulu.” Mang Udin keluar dengan mendorong kursi roda yang akan digunakan oleh Tara, sedangkan gadis itu sudah duduk di dalam mobil tanpa tahu bahwa Uminya menyuruh Mang Udin untuk bawa kursi roda tersebut. Mobil berjalan meninggalkan pekarangan rumah, sedangkan Umi Dewi masih terdiam di tempatnya semula. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu. “Buk, apa ibuk baik-baik saja?” tanya Mbah Uti yang berdiri tepat di belakangnya. “Iya, Mbah. Saya baik-baik saja. Lanjutkan makannya, saya mau bersiap dulu.” *** Kurang lebih sekitar lima belas menit, Tara tiba di sekolah. Mang Udin bergegas turun dan mengeluarkan kursi roda yang akan digunakan oleh Tara. Gadis itu tampak terkejut melihat supir itu mendorong kursi roda ke arahnya. Ia tak menyangka Uminya akan se-alay seperti ini. “Ini buat apa?” tanyanya sedikit marah. “Ibuk bilang Non Tara harus pakai ini, Ibuk khawatir Non kenapa-napa,” jawab Mang Udin tanpa berani melihat wajah Tara. Tara menarik napas panjang, kemudian menatap Mang Udin dengan raut wajah marah. “Aku nggak butuh ini, bawa pulang atau buang saja di jalan!” perintahnya. “Ta-tapi, Non...,” “Tapi apa? Mang Udin mau cari masalah sama saya?” teriaknya tanpa mempedulikan dirinya jadi bahan tontonan gratis bagi murid SMA Bhakti Kencana. “Baik, Mamang pamit dulu, Non.” Mang Udin menuruti perkataan Tara dengan memasukkan kembali kursi roda tersebut, kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. Tara sangat kesal dengan perlakuan Uminya yang berlebihan, meski ia tahu itu bentuk dari rasa sayang, tetapi sejak kejadian itu Tara tak pernah lagi percaya dengan orang yang bahkan tulus menyayanginya. Peristiwa itu membuatnya trauma, Tara tak mau lagi terpengaruh dengan tipuan semua orang, termasuk Uminya sendiri. “Lihat apa?” bentaknya pada kerumunan yang menyaksikan pertunjukan barusan. Seketika semua orang membubarkan diri, karena mereka tahu Tara bukanlah gadis yang bisa diajak baik-baik. “Coba lihat! Kita kedatangan tamu hari ini.” ucapan seseorang dari arah belakang, membuat gadis itu membalikkan badan menatapnya. Di sana, berdiri tiga orang siswi yang menjadi musuh Tara. Bahkan, Tara sering masuk BK karena ulah mereka bertiga. Meskipun Tara gampang marah, tapi gadis itu lebih suka menghindar dari masalah. Tiga perempuan itu tersenyum, mendekati Tara yang masih berdiri di sana. “Rupanya sang penari kita sudah bisa sekolah lagi. Selama seminggu ini sekolah sepi tanpa dirimu Tara. Apa kabar?” tanyanya basa-basi. Tara memalingkan muka, tak suka dengan sikap sok ramah wanita itu. “Lihat teman-teman, balerina kita kayaknya lagi cacat, deh. Bahkan, untuk jalan saja menggunakan bantuan,” ledeknya yang diikuti gelak tawa dari dua sahabatnya. Tara murka, dirinya tak suka mendengar kata itu, karena ia yakin bisa sembuh. Dari dulu Tara sangat benci pada Sofia dan teman-temanya, gadis itu selalu punya cara untuk membuat Tara marah. Untung saja Tara bisa mengendalikan emosinya hari ini. “Mau lo apa?” tanyanya, matanya tajam menatap Sofia yang seakan menantangnya hari ini. “Kok lo nggak marah? Pukul gue, dong!” pintanya dengan senyum meremehkan. “Lo mau gue tonjok? Nanti saja kalau mood gue sudah baik.” Tara berbalik meninggalkan Sofia dan kedua temannya. Gadis itu sama sekali tak tertarik dengan tantangan dari Sofia. Bukan bermaksud untuk menghindar dari mereka, Tara hanya ingin menjaga namanya sendiri, apa lagi ini hari pertamanya masuk sekolah setelah libur seminggu. “Pengecut,” teriak Sofia lantang. Tara menghentikan langkah, berbalik sebentar untuk melepas senyum pada Sofia, kemudian melanjutkan langkahnya. Sofia dan temannya tampak kesal dengan sikap Tara hari ini, dengan begitu tentu saja ia sedikit kesusahan untuk menjaili gadis tersebut dan membuatnya bermasalah dengan guru BK. “Sof, sepertinya Tara mulai berubah,” ujar Felly, gadis keturunan Tionghoa. “Iya, mungkin sakitnya ini membuat dia berubah. Sama sekali tak tertarik meladeni kita lagi,” timpal Vania melanjutkan. Sofia tampak memikirkan sesuatu, mencari cara agar Tara marah dan membuat gadis itu berada pada puncaknya karena poin Tara di sekolah sudah rekor mengalahkan poin siswa yang nakal sekaligus. “Tenang, guys. Aku tahu cara buat dia marah, kali ini gadis penari ballet itu akan keluar dari sekolah kita. Aku bisa menjaminnya,” ujarnya saat sebuah ide licik terlintas dibenaknya. Sofia tersenyum, begitu pun Vania dan Felly. Mereka kemudian meninggalkan tempat itu dan menuju kelasnya. *** Bel pun berbunyi, seluruh siswa masuk ke kelasnya masing-masing. Tara yang sudah duduk di meja belajarnya keluar lagi karena dipanggil oleh wali kelasnya. Gadis itu dengan malas berjalan mengikuti langkah Roy yang merupakan ketua kelasnya. “Tar, lo baik-baik saja, kan?” tanyanya memecah kesunyian di antara mereka. “Tumben banget lo nanyain gue,” jawab Tara menanggapi perubahan sikap Roy. Roy kelagapan, pria itu bingung dengan sikapnya yang berubah peduli pada Tara. Padahal dulu ia lah yang sering membuat Tara jadi bahan ledekan teman sekelasnya. Entah apa yang terjadi, sehingga pria itu merasa kasihan melihat Tara yang dikucilkan terus dan tak punya teman sama sekali. “Ya, gue merasa kasihan aja sama lo.” Roy beralasan, sebenarnya ada sesuatu yang dirasakannya saat melihat Tara hari ini. entah itu perasaan kasihan atau telah terjadi sesuatu. “Gue nggak butuh dikasihani, apa lagi sama orang kayak lo,” ucap Tara dingin saat mereka tiba di depan pintu ruang majelis guru. Gadis itu berlalu meninggalkan Roy yang masih bingung dengan perubahan sikapnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD