Seperti biasa, sebelum mulai pembelajaran selalu diawali dengan berdoa bersama dan membaca ayat suci Al-Quran. Kali ini giliran Teguh yang membaca ayat suci tersebut, semuanya menyimak sembari melihat Al-Quran nya masing-masing tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Suara merdu Teguh dan irama dari setiap ayat yang dibacanya membuat siapa pun yang mendengarnya merasa tenang. Termasuk Tara, gadis itu seperti mendapat pencerahan secara tiba-tiba. Hingga tak seorang pun yang sadar bahwa Teguh sudah selesai membacanya.
Bu Leli yang merupakan guru matematika yang terkenal dengan sifat horornya tampak terdiam sejenak. Menatap muridnya satu-persatu yang masih larut dengan bacaan Teguh tadi, kemudian guru killer tersebut memulai aksinya dengan memukulkan rol kayu pada papan tulis, otomatis semua siswa terlonjak kaget.
“Teguh dari tadi sudah selesai membacanya, apa yang kalian pikirkan?” tanyanya dengan mata yang sama seperti biasa, melotot tajam.
“Maaf, Buk. Kami larut dalam bacaannya hingga tak sadar kalau sudah selesai,” jawab Roy.
“Kalian larut dengan bacaan Teguh atau malah memikirkan hal lain?” lanjutnya lagi sembari berdiri dengan membawa rol kayu di tangannya.
“Maaf, Buk,” ujar mereka serempak. Seperti takut dengan apa yang akan dilakukan guru itu.
Bu Leli mengangguk, kemudian kembali duduk di kursinya. “Kumpulkan tugasnya,” ujarnya yang membuat semua siswa terkejut.
Mereka saling pandang, tak mengerti dengan perkataan Bu Leli. Karena tak ada tanggapan, Bu Leli kembali berdiri dan berjalan ke arah siswanya dengan rol kayu panjang. Siswa tersebut tampak ketakutan, Bu Leli memang guru yang suka menyuruh siswanya untuk mengumpulkan tugas meski tak ada perintah sebelumnya.
“Jangan bilang kalian nggak mengerjakan tugasnya.” Bu Leli marah, kemudian memukul rol kayu tersebut dengan keras ke meja Roy, membuat para siswa terkejut.
“Maaf, Buk. Kami lupa mengerjakannya,” jawab Roy mewakili teman-temanya.
Bu Leli diam, bukan berarti guru itu terima dengan alasan muridnya. Bu Leli tampak tengah mengatur napasnya agar bisa leluasa untuk memarahi mereka. Saat guru itu sudah siap dengan aksinya, Tara berdiri dengan menenteng buku bersampul biru itu ke meja guru dan meletakkannya di sana. Bu Leli dan para siswa menatapnya heran.
“Tamara Alveria,” panggilnya yang membuat langkah Tara terhenti saat melewatinya.
“Iya, Buk,” jawabnya berbalik.
Bu Leli mendekat, menatap Tara dari atas hingga ke bawah. Kemudian meninggalkan gadis itu dan menuju mejanya.
“Ini tugas kamu?” tanyanya yang diikuti anggukan Tara. “Sudah seminggu kamu sakit, dan masih bisa mengerjakan tugas. Apa kamu baik-baik saja?”
“Seperti yang Ibuk lihat, saya baik-baik saja,” jawabnya dan kembali duduk di tempatnya.
Sebenarnya Tara adalah siswi yang berprestasi, meski dipandang sebelah mata oleh teman dan gurunya yang lain karena gadis itu berprofesi sebagai seorang penari. Namun, Tara tetaplah seorang gadis yang selalu mematuhi peraturan di sekolahnya. Tara juga pernah menang lomba debat Bahasa Inggris karena kemampuannya dalam berbahasa asing sangat baik, dan membawa nama sekolah tersebut ke kancah Internasional.
“Kalian semua Ibuk hukum lari keliling lapangan sekarang juga, kecuali Tara! Perintah Buk Leli yang membuat para siswa terkejut.
“Tapi, Buk. Sekarang matahari lagi di atas kepala, panas banget, Buk,” timpal Sofia.
“Salah siapa tidak mengerjakan tugas!” bentaknya dengan keras, Sofia langsung terdiam meski di dalam hati sangat kesal dengan guru itu, terlebih lagi kepada Tara.
“Bisa hukumannya yang lain saja, Buk,” saran Vania yang diikuti anggukan dari teman sekelasnya.
“Kalian mau saya tambahkan hukumannya?” ancam Buk Leli yang membuat para siswa menggeleng dengan cepat.
Sofia menatap Tara tajam saat gadis itu tak sengaja menghadap ke belakang. Sorot matanya menandakan permusuhan, Tara dibuat bingung olehnya. Ia tahu betul dengan peristiwa yang akan terjadi setelah istirahat nanti, karena sorotan mata dari Sofia sangat mudah ditebak. Namun, bukan Tara namanya jika ia takut dengan ancaman itu. Tara sudah terbiasa menghadapi Sofia beserta teman-temannya, bukan sekali atau dua kali, bahkan sudah sering Sofia memulai pertengkaran.
Dengan sangat berat dan merasa terpaksa, para siswa berjalan gontai keluar kelas dan menuju lapangan untuk melaksanakan hukuman yang diikuti langsung oleh Buk Leli, sedangkan Tara lebih memilih berdiam diri di kelas.
“Gue bersumpah akan membuat perhitungan dengan penari itu,” umpatnya di sela-sela hukuman.
“Kita setuju.” Vania dan Felly mengiyakan ucapan Sofia dan mendukung gadis itu untuk mengerjai Tara lagi.
***
Tepat pukul 12.15 wib bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa meninggalkan kelas dan bergegas ke kantin untuk mengisi perut yang keroncongan. Ada juga sebagian dari mereka membawa makanannya ke kelas dikarenakan kantin yang penuh sesak oleh mereka yang berebutan. Tidak seperti biasanya, penjaga kantin kali ini terlihat sibuk melayani para siswa yang kelihatan antusias melihat makanan.
Tara tak berselera kali ini, gadis itu beranjak dari tempat duduknya hendak ke perpustakaan. Namun, lagi-lagi Sofia dan sahabatnya menghadang Tara yang baru saja tiba di ambang pintu. Tara yang tak ingin mencari masalah memilih untuk menghindarinya dengan melewati pintu yang satunya lagi. Berhubung kelas Tara ada dua pintu, satu di depan dan satu di belakang.
Sofia tak mau kalah, niatnya untuk balas dendam sudah dipikirkan saat dihukum tadi. Gadis itu sengaja mendorong Tara dengan keras hingga membuatnya terjatuh. Tara memegang kakinya yang sedikit sakit, ia meringis menahan perih yang begitu luar biasa.
“Sofia.” Roy yang melihat kejadian itu pun segera menghampiri Tara dan membantunya berdiri.
Sofia terlihat tak peduli dengan tatapan tajam Roy yang mengarah kepadanya. Justru ia kembali membalas tatapan dari Roy yang seakan mengancam pria itu untuk tidak ikut campur.
“Mau lo apa?” tanya Tara yang berusaha menahan emosinya. Sofia mengalihkan pandangan pada Tara, dan kemudian tersenyum sinis.
“Gue mau lo keluar dari sekolah ini. Seharusnya lo sadar, orang seperti lo nggak pantas berada di sini,” ujarnya sengit.
Tara terdiam sejenak, memikirkan kesalahan apa yang pernah ia lakukan sehingga Sofia tak suka dengan keberadaannya di sekolah. Berbeda dengan Roy, pria itu malah menatap Sofia semakin tajam.
“Lo nggak berhak untuk mengusirnya dari sini, karena sekolah ini bukan punya bapak lo.”
“Benarkah? Kita lihat saja nanti ketua kelas, gue bisa memastikan penari ballet ini keluar dari sekolah kita,” tunjuknya pada Tara. Gadis itu masih terdiam tanpa membalas perkataan maupun perbuatan Sofia.
Tara memilih untuk meninggalkan Roy dan Sofia, ia tidak ingin mencari masalah lagi dengan melayani gadis itu. Tara tahu, Sofia berusaha untuk membuatnya emosi dan terlibat lagi dengan BK, setelah itu dengan mudahnya ia ditendang keluar oleh pihak sekolah.
“Dengar Sofia! Apapun jabatan bapak lo di sini, gue nggak peduli. Gue cuma mau mengingatkan lo satu hal, jika lo berani menyentuh Tara lagi maka lo berurusan sama gue,” ancamnya setelah kepergian Tara.
Bukannya takut, Sofia malah tersenyum mendengar ucapan Roy. “Kita lihat saja nanti.”