Ruang Musik

1967 Words
Tara masuk ke perpustakaan, berpasang-pasang mata menatapnya dan bisikan-bisikan aneh terdengar di telinganya. Namun, Tara tidak mempedulikan itu, ia memilih berpura-pura tidak tahu. Tara tersenyum, ketika buku yang dicarinya berhasil ditemukan. Tara pun segera meraih buku yang berada di rak paling atas. Setelah itu, Tara berniat untuk membawa buku yang berada di tangannya untuk meminta petugas perpustakaan mencatat buku yang ia pinjam. Setelah keluar dari perpustakaan, Tara berniat untuk mampir sebentar ke kantin. Sejak istirahat tadi, Tara belum makan sedikit pun. Ia berjalan melewati ruang kesenian dan beberapa labor lainnya. Dengan bantuan tongkat, Tara sedikit kesusahan berjalan. Tanpa sengaja kaki Tara berhenti tepat di depan pintu ruangan musik saat mendengar seseorang tengah bernyanyi di dalam sana. Tara memutar badannya, mengintip sedikit pada celah pintu yang terbuka. Ia melihat seorang gadis cantik dengan rambut terurai panjang, tengah memainkan alat musik piano sembari memejamkan kedua matanya. Tangan Tara perlahan menyentuh gagang pintu dan membukanya perlahan. Ia tak ingin gadis itu terganggu dengan kehadirannya. “Aku tahu kamu akan datang,” ucap gadis itu menghentikan permainan musik pianonya. Tara terkejut, gadis itu mengetahui kedatangannya di sana. Langkahnya terhenti tak jauh dari ambang pintu. Tara menatap gadis yang kini tengah tersenyum padanya seraya berdiri. “Aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Apa kamu siswi baru?” tanya Tara penasaran. Ia menggeleng. “Tidak. Aku sudah lama di sini, bahkan jauh sebelum kamu menjadi siswi di sekolah ini,” jawabnya. Tara mengerutkan kening, tak mengerti maksud dari perkataan gadis itu. Ia berusaha untuk menelaah setiap kalimat yang diucapkannya. Setelah itu mata Tara melotot tajam, menatap ngeri pada gadis yang berdiri di hadapannya. “Jangan takut, aku tidak akan mengganggumu,” ujarnya saat melihat kaki Tara melangkah mundur ke belakang. Tara terlihat ketakutan, seluruh persendiannya terasa kaku bahkan bulu kuduknya mulai merinding. Ia tak bisa apa-apa sekarang, untuk lari sekuat tenaga pun rasanya sangat mustahil dikarenakan kakinya masih sakit. Alhasil, Tara mematung di tempatnya berdiri semula, membiarkan gadis misterius itu menghampirinya. “Aku sudah lama mengikutimu, Tara. Aku tahu kamu sangat menderita dengan keadaanmu yang sekarang. Tapi, kamu nggak perlu khawatir, aku pasti akan membantumu.” Tara semakin tak mengerti, gadis misterius itu bahkan tahu namanya. Ia tampak semakin ketakutan. Keringat bercucuran dari pelipisnya, wajah Tara juga berubah pucat dan bahkan terlihat seperti orang sakit. “Dunia kita sudah berbeda, jangan ganggu aku dan murid lainnya. Pergilah ke alammu!” pinta Tara. Akan tetapi gadis itu masih berdiri di sana dan tersenyum padanya. “Aku akan pergi jika tidak ada lagi kezaliman di sekolah ini. Aku nggak ingin orang lain merasakan apa yang aku rasakan dulu.” Gadis itu menunduk, rambutnya menutupi sebagian wajah yang menampakkan kesan horor. “Maksudnya? apa kamu juga pernah dibully?” Tara bertanya. Gadis itu diam, belum merespon pertanyaan Tara barusan. Ia juga terlihat tenang seperti saat memainkan piano tadi. Hanya suara isakan kecil yang mulai keluar dari mulutnya secara perlahan. “Tara.” Gadis itu terlonjak kaget, seseorang berdiri di belakangnya tanpa ia ketahui. Tara berbalik, menatap Roy yang memandangnya dengan tatapan penuh tanya. Gadis itu terlihat gugup, ia menelan salivanya sendiri saat Roy perlahan menghampirinya. “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Roy, matanya mondar-mandir melirik setiap sudut ruangan. “Dengan siapa kamu bicara tadi?” lanjutnya saat pandangan berhenti di wajah Tara. Tara tak langsung menjawab, ia bingung harus berkata apa. Tak mungkin juga Tara menceritakan pada Roy bahwa ada seorang gadis bersamanya tadi, meski ia sendiri tak tahu kemana gadis itu pergi. “A-aku berbicara sendiri. Kamu ngapain di sini?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. “Bel sudah berbunyi, tapi kamu tidak ada di kelas. Makanya aku mencarimu,” ujar Roy. Tara mengangguk. “Baiklah, mari kita pergi.” Roy mengikuti Tara dari belakang. Sebelum menutup pintu ruangan musik kembali, Roy memeriksa apa ada orang di dalam sana yang tadi diajak bicara oleh Tara. Namun, hasilnya nihil. Ruangan itu kosong, hanya diisi oleh beberapa alat musik yang bertengger di setiap kamarnya. *** Sepulang dari butik, Umi Dewi meminta supirnya untuk mengantarkannya ke kantor polisi. Umi Dewi tahu apa yang akan dia lakukan adalah demi kebaikan Tara sendiri. Setibanya di sana, Umi Dewi langsung menghampiri petugas yang piket untuk mengijinkannya bertemu seseorang. Setelah ijin didapat, Umi Dewi langsung diantar ke sel tersebut. Setibanya di sana, Umi angkat Tara itu terlihat khawatir melihat kondisi seorang pria yang jauh dari kata bersih, tak terawat sama sekali. Rambut yang mulai panjang, kumis dan jenggot yang ikut tumbuh bersama, pakaian yang tidak bersih. Menurut petugas, pria itu tidak mau diberikan baju pengganti dan membersihkan dirinya. Ini tentu membuat hati Umi Dewi merasa teriris. Umi Dewi kemudian diminta untuk menunggu di ruang tunggu, sementara sipir membawa orang yang dikunjungi oleh Umi Dewi kepadanya. “Bagaimana kabarmu, Mas?” tanya Umi Dewi setelah pria itu duduk di hadapannya. Mata Umi Dewi terlihat berbinar, seperti sudah lama berpisah dengannya. Lelaki berumur sekitar empat puluh lima tahun itu sama sekali tidak menatap Umi Dewi. Beliau tampak marah dan wajahnya yang bringas semakin terlihat menakutkan. Umi Dewi berulang kali berusaha untuk menyentuh tangannya, tapi pria itu menepisnya. “Ngapain kamu ke sini?” pria itu bertanya dengan sinisnya kepada Umi Dewi. Suara bariton yang khas dan sering terdengar seperti seorang preman, membuat Umi Dewi menatapnya dengan sangat lama. “Kondisi Tara saat ini masih belum stabil. Dia kadang suka melamun dan marah-marah nggak jelas, mungkin itu disebabkan karena dia masih trauma. Mas, bisakah kamu memberitahuku apa yang terjadi kepadanya?” Umi Dewi menanti jawaban dari pria itu dengan penuh harap. Meski, beliau tahu bahwa lelaki itu tak akan mengatakan yang sebenarnya tentang masa lalu Tara. Tapi, Umi Dewi tetap percaya bahwa darah lebih kental dari pada air. Dan, pria yang berstatus sebagai ayah dari putri angkatnya itu pasti akan mengatakan semuanya. “Hahahaha... kamu menanyakan tentang masa lalu gadis itu padaku? Aku tidak akan pernah mengatakan apapun padamu,” jawabnya sinis. “Jangan lakukan ini padaku, Mas. Aku nggak mau Tara semakin menderita nantinya. Dia sudah terlanjur menjadi anak yang dendam karena masa lalunya. Tolong! Jangan ganggu Tara lagi!” pinta Umi Dewi sembari merapatkan kedua tangannya. “Aku tidak melakukan apapun? Apa kamu tidak bisa lihat sedang di mana aku sekarang?” tanya lelaki itu melipat kedua tangannya di d**a. Umi Dewi menarik napas berat. Memang benar ayah Tara sudah berada di penjara beberapa tahun yang lalu, dan itu akan sulit bagi beliau untuk menghantui kehidupan Tara yang sekarang. Mungkin karena Tara masih teringat pada masa lalunya yang menyebabkan dirinya sering berhalusinasi. “Kamu memang benar, Mas. Aku datang ke sini hanya untuk mengatakan, bahwa Tara sudah hidup bahagia bersamaku. Jika nanti kamu bebas, jangan pernah mencari Tara lagi. Ini aku lakukan agar masa depan Tara tidak dihantu oleh rasa takut,” ujar Umi Dewi tegas. Setelah itu, beliau berdiri dan beranjak dari tempat itu. *** “Ra, mau aku antar pulang nggak?” tanya Roy yang tiba-tiba mencegat Tara saat baru keluar dari kelasnya. Tara menanggapinya dengan malas. “Nggak, gue bisa pulang sendiri,” Jawaban Tara jutek dan cuek. Tara juga sama sekali tidak melihat ke arah Roy yang saat ini berjalan di samping kanannya. Ia fokus melihat ke depan sembari memperhatikan jalannya agar tidak tersandung nantinya. “Kamu dijemput?” tanya Roy lagi. Pria itu masih belum menyerah. “Hm.” Roy mengangguk, ia juga mencari alasan lain agar Tara mau pulang dengannya. “Ra, temenin aku ke toko buku dulu, dong. Nanti biar aku yang mengantarmu pulang,” ujarnya. Tara menghentikan langkah, ia kemudian berbalik menatap Roy. “Lo bisa pergi sendiri ‘kan? Lo nggak lihat gue jalan aja susah, pake diajak ke toko buku segala lagi,” jawabnya jutek. “Bentar doang.” “Pergi aja sendiri, ajak Sofia sekalian,” sahut Tara yang terus berjalan menuju gerbang. “Kenapa dia, sih, Ra. Aku ‘kan maunya jalan sama kamu.” “Gue yang nggak mau jalan sama lo.” Tara menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang sekolah. Matanya tak pernah lepas memandang jalanan yang banyak dikendarai oleh kendaraan. Tara sebenarnya bukan menunggu sopirnya untuk menjemput, melainkan ia ingin mampir dulu ke suatu tempat dan mengatakan kepada sang sopir untuk tidak menjemput dirinya, karena ia akan pulang terlambat. “Sopirnya lama, pulang bareng aku saja, yuk,” ajak Roy sekali lagi. Kali ini ia berharap Tara tidak menolaknya lagi. “Berapa kali gue bilang, sih, Roy. Lo pulang aja sendri, gue nggak mau pulang sama lo.” “Kali ini aja, Ra. Berikan gue kesempatan!” pinta Roy memohon, ia juga merapatkan kedua tangan agar Tara bisa luluh. Tara merasa terganggu dengan permintaan Roy tu. Ia kesal dan menatap Roy dengan tatapan tajam. “Lo b***k apa tuli, ha? Sudah berapa kali gue katakan, kalau gue nggak mau pulang sama lo,” bentak Tara. Roy terkejut mendengarnya, ia tak akan menyangka jika permintaannya itu akan membuat Tara semarah itu padanya. Roy merasa bersalah karena sudah memaksa Tara yang jelas-jelas sangat membenci dirinya. *** Tara menangis sendiri di bawah langit malam yang indah ketika dihiasi oleh bintang-bintang. Cuacanya lumayan dingin, tapi Tara seolah-olah enggan untuk beranjak. Gadis itu masih setia memandangi rumah yang pernah ia tinggali dulu. Banyak kenangan yang terjadi di sana. Dimulai dari yang manis hingga yang pahit pun ada. Tara masih belum bisa melupakan satu persatu memorinya yang sampai saat ini masih membekas dihati gadis itu. Sesekali Tara bergumam kesal, tapi ia juga sangat merindukan kedua orang tuanya. “Ibu, ayah,” lirihnya. Tara tak bisa berbuat apa-apa, ia juga tak ingin terus-terusan berada dalam mimpi yang sampai saat ini membuatnya trauma. Tara hanya ingin hidup bahagia, seperti teman-temannya yang lain. Ia juga ingin melupakan semua kenangan pahit yang telah merenggut kakinya untuk bebas berjalan. Tara juga sangat kesal saat ia tahu impiannya untuk menjadi penari balet harus dikubur dalam-dalam. Tara mungkin tak akan pernah bisa menari lagi, karena kakinya yang sampai saat ini masih belum normal. “Ampun, Ayah.” Gadis itu memegangi kepalanya yang jadi sasaran pukulan pria mabuk itu. Gadis itu terisak dan terus menerus memohon untuk tidak dipukul lagi, akan tetapi sang ayah seperti tidak mau mendengarkan. “Anak tidak tahu diri, menyusahkan saja.” sekali pria itu memukulinya. Tara tersentak dari kenangan masa lalu yang pahit itu, saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang. “Nak Tara, kamu di sini?” Seorang wanita tua yang membawa kantong kresek, menatap Tara dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu seperti sudah lama merindukan Tara yang tiba-tiba menghilang dari desa itu. Tara pun terlihat senang melihat wanita tua itu. Dengan spontan, Tara langsung memeluk wanita itu. “Nek Minah, Tara rindu,” ujarnya terisak. Tara semakin mempererat pelukannya. “Nenek juga, Nak. Sudah lama tidak melihatmu, bagaimana keadaanmu sekarang?” jawab Nek Minah sembari melepas pelukan dan menatap Tara dari atas hingga ke bawah. “Tara baik-baik saja, Nek. Nenek gimana? Kakinya nggak sakit lagi ‘kan?” Nek Minah menggeleng. “Tidak, sekarang kaki Nenek sudah jauh lebih baik dari dulu. Kamu kenapa bisa menggunakan benda ini?” tanya Nek Minah ketika melihat Tara berjalan menggunakan tongkat. Senyum di wajah Tara berubah sendu. Ia juga melirik tongkat yang membantunya untuk berjalan. Tara sedih, tapi ia tak ingin Nek Minah tahu tentang kondisinya saat ini. “Cuma cedera ringan kok, Nek. Tara nggak hati-hati saat latihan,” jawabnya berbohong. Tara kembali menampilkan senyumannya. Nek Minah mengangguk, beliau juga mengusap kedua lengan Tara dengan lembut. “Syukurlah, Nak. Nenek senang mendengarnya.” “Nek, Wawan mana? Tara mau ketemu sama dia, sudah lama kami tidak bertemu,” ucap Tara. Nek Minah terlihat sedih, wajahnya yang keriput semakin jelas terlihat ketika Nek Minah menunduk sembari menangis. “Ada apa, Nek? Kenapa Nenek menangis?” tanya Tara yang melihat kesedihan wanita tua itu. Nek Minah menggeleng. “Tidak, Nak. Nenek hanya rindu pada Wawan yang kini sudah tenang di sana,” jawab Nek Minah, Tara terkejut tak percaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD