Tara tiba di rumahnya pukul sepuluh lewat lima belas menit. Ia memasuki rumahn mewah itu dengan pikiran yang masih berada di rumah Nek Minah. Hati Tara merasa teriris, dia sangat sedih kehilangan Wawan yang menjadi teman satu-satunya.
“Apa yang terjadi pada Wawan, Nek? Kenapa Wawan bisa seperti itu? Tara tahu Wawan nggak pernah mengidap penyakit apapun. Kenapa? Kenapa Wawan pergi meninggalkan Tara, Nek.”
Tara terduduk lemah di depan tangga menuju lantai atas, tangisannya di rumah Nek Minah tadi masih terngiang-ngiang dibenak. Tara menangis sesegukan, ia juga memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit.
“Wawan, kenapa kamu meninggalkan aku,” isaknya pilu.
Umi Dewi yang tahu Tara pulang pun terkejut melihat putrinya yang menangis dengan pilunya. Segera Umi Dewi menghampiri Tara.
“Tara, ada apa, Sayang? Kenapa kamu menangis di sini?” Umi Dewi terlihat khawatir dan langsung memeluk Tara.
“Umi,” lirih Tara di dalam pelukan Uminya.
“Iya, Sayang, ada apa? Cerita sama Umi, ya.”
Tara menggeleng cepat. “Tara nggak bisa cerita sekarang, Umi, nanti aja,” isaknya dan bangkit.
Tara kemudian menaiki tangga dengan tertatih dan meninggalkan Umi Dewi yang kebingungan dengan tingkahnya. Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin ditanyakan oleh Umi Dewi, tapi melihat Tara yang sedang menangis membuat Umi Dewi mengurungkan niatnya dan akan menanyakannya besok saja.
“Wawan waktu itu mau ke apotik untuk membeli obat Nenek. Tapi, dia kemudian jadi korban salah sasaran siswa yang sedang tawuran. Wawan terluka parah, Nenek nggak kuat melihat kondisinya.”
Lagi-lagi perkataan Nenek Minah terngiang-ngiang di telinga Tara. Dia sangat sedih, Wawan tidak mendapatkan keadilan atas kematiannya. Hal itu yang membuat Tara semakin merasa terpuruk. Dia tak tahu bagaimana caranya untuk mengetahui dari sekolah mana para siswa tawuran itu. Agar dia bisa menuntutnya untuk mendapatkan keadilan atas kematian Wawan.
“Wawan meminta Nenek untuk memberikan ini padamu, dia bilang kamu akan membutuhkan ini untuk menari. Sebenarnya, setelah Wawan membelikan obat untuk nenek, dia akan datang ke rumahmu. Tapi, takdir berkata lain.”
Tara meremas switernya dengan erat. Sakit hati atas kepergian Wawan telah menumbuhkan rasa benci dan dendam dihatinya. Tara ingin segera mengetahui para siswa yang dengan tega merenggut nyawa sahabatnya.
“Saat aku mengetahuinya, jangan harap aku akan memaafkan kalian,” ucap Tara yakin. Setelah itu Tara meletakkan tasnya dan membuka switer merah muda kesayangannya.
Tara kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Tara bergegas untuk berangkat ke sekolah. Padahal, jam menunjukkan pukul enam lewat lima menit, dan Tara sudah selesai bersiap. Ketika gadis itu turun dari tangga, Umi Dewi langsung mencegatnya.
“Sayang, pagi-pagi sekali berangkat sekolahnya? Apa ada tugas yang lupa Tara kerjakan?” sapa Umi Dewi dan membuat Tara menghentikan langkah.
“Tara mau mampir dulu ke rumah Nek Minah, Umi. Setelah itu baru berangkat sekolah,” jawab Tara.
Umi Dewi mengerutkan kening, beliau menatap anaknya bingung. “Nek Minah? Siapa beliau? Tara nggak pernah cerita sama Umi.”
“Tetangga Tara waktu di rumah lama, Mi. Beliau selalu membantu Tara saat ayah dan ibu sudah tidak peduli lagi dengan Tara. Tadi malam, Tara mampir ke rumahnya. Mau bertemu dengan sahabat Tara,” jawab Tara sendu.
“Ya sudah, kalau begitu Tara berangkat saja dulu. Nanti Umi bawain bekalnya ke sekolah.”
“Nggak usah, Umi. Tara mau makan sama mereka nanti,” tolak Tara cepat.
Umi Dewi mengangguk mengerti, kemudian tersenyum kepada Tara.” Baiklah, Sayang, kamu hati-hati di jalan. Mau diantar supir atau mau naik bus aja?” tanya Umi memastikan, biasanya Tara suka menolak jika diantar sopir ke sekolah.
“Tara naik bus aja, Mi. Kalau begitu, Tara pamit dulu.”
Seperti biasa, Umi Dewi hanya menatap kepergian Tara ke sekolah tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Beliau sama sekali tidak marah ataupun merasa kesal karena tingkah Tara yang kurang sopan. Umi Dewi tahu, untuk membuat sikap Tara berubah itu membutuhkan waktu. Tidak tahu kapan Tara bisa bersikap sopan pada beliau.
“Buk, Non Tara sepertinya masih belum bisa melupakan kenangannya dulu. Ibuk yang sabar, ya. Jangan sampai Ibuk nantinya kesal dengan sikap Non Tara.” Mbah Uti datang dari arah dapur, berniat untuk menenangkan Umi Dewi.
“Nggak kok, Mbah. Insyaallah Dewi ikhlas. Hanya Tuhan yang tahu kapan Tara bisa berubah. Yang jelas saat ini Dewi akan melakukan apapun sebagai ibunya,” jawab Umi Dewi sembari tersenyum.
***
Pagi yang cerah untuk semua orang, tapi tidak bagi Tara. Pagi-pagi sekali ia sudah mampir ke tempat peristirahatan terakhir Wawan sebelum berangkat ke sekolah. Tara tanpa sengaja bertemu dengan Nek Minah yang ternyata sudah berada di pemakaman. Beliau menangis tersedu, Tara hanya melihatnya dari kejauhan saja. Tara nggak mau kedatangannya ke sana akan membuat Nek Minah semakin sedih.
“Ra, tadi aku melihat kamu ke pemakaman desa kecil itu. Apa kamu mengunjungi seseorang di sana?” Roy yang baru saja tiba, langsung menghampiri Tara yang sedang berjalan di koridor.
Tara tak mendengarkan Roy yang bertanya padanya. Gadis itu cuek dan terus saja berjalan.
“Apa kamu mengunjungi ibumu di sana?” entah sudah berapa kali Roy bertanya padanya pagi ini. Namun, pada pertanyaan ini Tara menghentikan langkah, ia kemudian menatap Roy dengan kesal.
“Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Roy yang merasa bersalah.
Tara menggeleng tak mengerti, kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Roy tak kehabisan ide, ia terus saja mengekori Tara dari belakang.
“Maafin aku, Ra. Aku sama sekali nggak bermaksud untuk...,”
“Berhenti ngikutin gue!” Tara menghentikan langkah dan membuat Roy juga ikut menghentikan langkahnya.
“Kalau aku nggak mau, gimana?”
Tara nggak mengerti lagi dengan Roy. Pria itu yang dulunya dia benci karena sering menghujat dan membullynya di sekolah. Sekarang, sikap Roy berbanding terbalik dengan yang dulu, pura-pura baik dan perhatian pada Tara. Tara tak pernah percaya dengan perhatian palsu yang Roy berikan.
“Terserah lo,” jawab Tara berbalik badan dan meninggalkan Roy sendirian.
“Semalam lo dari mana? gue melihat lo keluar dari kampung kumuh itu sendirian. Pasti rindu dengan rumah gubuk lo itu kan.”
Sofia kembali mencari masalah dengan Tara. Pagi ini, saat Tara baru saja memasuki kelasnya, Sofia mencegatnya dengan ledekan yang membuat Tara kesal.
“Kenapa diam? Lo itu memang nggak cocok berada di rumah mewah itu, pengemis tetap pengemis. Jangan berlagak jadi nona muda, deh,” lanjutnya.
Tara tetap diam, meski teman di kelasnya mentertawakan dirinya. Tara sama sekali tidak peduli akan hal itu, ia sedang tidak bersemangat untuk melayani Sofia dan teman-temannya.
“Tutup mulut lo, Sof.” Roy yang sedari tadi berdiri di belakang Tara, geram karena ulah Sofia yang terus mencari masalah.
“Ups, ada Roy ternyata. Kenapa Roy? Lo mau membela pacar pincang lo ini yang tak tahu malu? Sudah diberi tumpangan gratis, tapi tidak bisa menghormati yang punya rumah. Dasar tidak tahu diri.”
Tara mengepalkan kedua tangannya, ia melirik tajam ke arah Sofia yang tersenyum licik penuh dengan kesombongan. Sebenarnya Tara tak ingin berkelahi lagi, tapi Sofia sudah sangat keterlaluan. Kemarahan Tara sudah berada di puncaknya.
“Maksud lo apa, ha? Lo mau nyari ribut sama gue?” tanya Tara.
“Kalau iya, kenapa? Lo takut sama gue?” tantang Sofia yang semakin membuat darah Tara mendidih.
Tara menarik napas panjang. Sebelum menyerang Sofia, Tara meletakkan tasnya di atas meja guru, dan setelah itu dia melayangkan tongkatnya hingga tepat mengenai kepala Sofia.
“Sofia,” teriak Vania dan Felly bersamaan saat melihat ada darah yang mengucur dari kepala Sofia.
“Ahhhh.”
Sofia merintih kesakitan, semua orang panik termasuk Roy. Roy bukannya khawatir pada luka Sofia, tapi pria itu takut jika Tara dikeluarkan dari sekolah gara-gara masalah ini.
“Ra, mendingan lo pulang sekarang sebelum ada guru yang melihatnya,” ujar Roy sembari menarik tangan Tara.
Tara menepis tangan Roy dengan kasar. “Apaan sih lo, gue nggak takut,” jawab Tara sembari keluar dari dalam kelas.
“Ra, kamu mau ke mana?” teriak Roy saat Tara pergi, namun Tara sama sekali tidak menggubrisnya.
Roy jadi panik sendiri, ia kemudian melihat Sofia yang kepalanya semakin banyak mengeluarkan darah. Jika luka Sofia tidak segera diobati, nanti akan membuatnya semakin merasakan sakit, dan luka itu juga akan infeksi nantinya
“Cepat bawa ke UKS!” perintah Roy. Beberapa orang anak laki-laki langsung membawa Sofia yang kelihatan lemas ke ruang UKS.