“Apa? Kamu serius?”
Buk Nunung, selaku guru BK yang baru, terkejut ketika mendengar penuturan Tara. Gadis yang berdiri di hadapan beliau mengangguk dengan sangat yakin. Ketakutan seperti tidak ada di dalam dirinya.
“Terus bagaimana keadaannya sekarang? Apa lukanya parah?” tanya Buk Nunung lagi. Tara menaikkan kedua bahunya.
“Aku nggak tau bagaimana keadaannya sekarang. Tapi, sepertinya luka Sofia sangat parah,” jawab Tara santai dan membuat Buk Nunung menatap takjub pada keberaniannya.
“Kamu sudah melukai teman sendiri dan masih santai seperti ini?” tanya Buk Nunung tak mengerti.
Tara mengangguk. “Terus aku bagaimana, Buk? Nggak mungkin ‘kan aku menangis karena dia terluka? Lagian dia itu bukan temanku, Buk,” jawabnya santai.
Buk Nunung tak bisa berkata-kata lagi. Wanita yang baru berumur tiga puluh tiga tahun itu, berdiri dan menghampiri Tara yang masih berdiam di tempat.
“Boleh Ibuk minta nomor orang tuanya?” tanya Buk Nunung pelan.
Tara terdiam sejenak, dia bingung harus memberikan nomor Umi Dewi atau tidak. Masalahnya Tara tidak ingin Umi Dewi merasa malu karena ulahnya. Tapi, Tara tidak punya pilihan lain selain memberikan nomor Uminya.
“Aku hanya punya nomor ibu angkat, Buk. Kalau Ibuk berkenan, silakan hubungi Umi Tara di nomor ini.” Tara merah pulpen dan kertas yang ada di atas meja Buk Nunung, kemudian menulis nomor Umi Dewi di sana.
***
Orang tua Sofia terlihat marah saat memasuki sekolah anaknya itu. Ketika guru BK menghubungi mereka, saat itu juga kedua orang tua Sofia langsung berangkat menuju sekolah. Baik ayah maupun ibu Sofia sudah bertekad akan mengeluarkan Tara dari sekolah itu, karena keduanya merupakan anggota dan sekretaris yayasan SMA Seni Indonesia. Pada masalah ini, tentu Tara tidak akan lolos dari hukumannya nanti.
“Mama tidak akan pernah melepaskan gadis itu, Pa. Dia harus membayar atas apa yang dilakukannya pada Sofia,” geram ibu Sofia saat sudah berada di dalam ruangan rapat yayasan.
“Papa juga, Ma. Kali ini kita akan mengajukan petisi pada ketua untuk mengeluarkan gadis itu dari sekolah ini,” jawab ayah Sofia yang tak kalah marahnya.
Satu persatu anggota yayasan memasuki ruangan rapat. Anggota tersebut terdiri dari beberapa orang tua murid dan selebihnya terpilih karena voting dari para donatur.
Umi Dewi tiba di sekolah Tara, dengan ditemani Mbah Uti, membuat Umi Dewi sedikit merasa tenang. Semenjak mendapat panggilan dari guru BK, Umi Dewi terlihat gelisah. Bukan karena beliau takut pada rapat kali ini, melainkan Umi Dewi nggak mau Tara sampai dihukum gara-gara masalah ini.
“Di mana Tara?” tanya Umi Dewi pada salah satu siswi yang lewat.
“Nggak tau, mungkin lagi dihukum di ruang BK,” jawab anak itu jutek dan tidak sopan.
“Ya Allah,” lirih Umi Dewi khawatir.
Mbah Uti yang mengerti dan tahu dengan kekhawatiran Umi Dewi pun mengusap punggung majikannya itu.
“Yang tenang, Buk. Insyaallah Non Tara baik-baik saja dan tidak akan dikeluarkan dari sekolah ini,” ujar Mbah Uti.
“Tapi, Dewi sangat takut sekali jika para orang tua menuntut untuk hukumannya, Mbah.”
“Serahkan semuanya pada Gusti Allah, Buk. Insyaallah semuanya akan baik-baik saja.”
Umi Dewi mengangguk dengan pelan dan kembali berjalan menuju ruangan rapat.
***
Tara dan Sofia masuk ke ruang rapat yayasan secara bergantian. Keduanya duduk terpisah di depan wali murid yang hadir. Tara masih terlihat tenang, ia sama sekali tidak takut dengan tatapan kedua orang tua Sofia yang menakutkan. Belum lagi para wali murid yang lain juga memandangnya dengan tatapan tajam. Tak ada gentar dan ketakutan di dalam dirinya, Tara seolah sudah siap untuk menerima konsekuensinya nanti.
Sementara Sofia, matanya tak lepas dari wajah cantik Tara yang sama sekali tidak menoleh padanya. Mulut Sofia komat-kamit, dia jelas sedang merutuki Tara yang menjadi musuh bebuyutannya.
“Lihat saja nanti, siapa yang akan menangis saat dikeluarkan dari sekolah ini. Aku yakin kamu tidak akan pernah diterima di sekolah mana pun, karena orang tuaku nggak akan membiarkan hal itu terjadi, Tara,” batin Sofia.
Tara tahu jika dirinya sedang diperhatikan oleh Sofia dan orang tuanya. Maka dari itu, Tara menunjukkan kepada mereka bahwa dia tidak takut dengan hukuman apapun nantinya. Tara juga sudah siap untuk menerima keputusan yayasan.
“Baiklah wali murid yang terhormat, dan dewan yayasan beserta ketua yayasan SMA Seni Indonesia. Pada hari ini kita berkumpul di ruang rapat sekolah, untuk membicarakan masalah yang baru saja terjadi di sekolah kita ini. Yayasan menerima laporan dari sekolah, bahwa ada seorang murid yang baru saja menyerang teman sekelasnya sehingga membuat temannya itu terluka. Maka dari itu, kita akan menyatukan pendapat untuk memberi hukuman pada anak itu.”
Ayah Sofia, selaku sekretaris yayasan membuka acara tanpa basa basi dan langsung pada pointnya. Pria paruh baya itu geram, melihat kepala putri semata wayangnya terluka dan dibalut dengan perban.
“Pak Ketua, ini sudah sering terjadi. Bahkan putra saya juga sering menceritakan tentang anak itu yang suka mencari masalah dengan murid lainnya. Catatan yang ada di ruang BK juga menunjukkan bahwa anak itu adalah anak yang bermasalah di sekolah kita,” timpal salah satu wali murid yang hadir.
“Benar Pak Ketua. Kami juga mendengar bahwa anak itu berprofesi sebagai penari balet yang jelas-jelas ditentang di sekolah kita ini. Sekolah kita memang sekolah seni, tapi di sini tidak diajarkan untuk menari balet. Anak itu telah melanggar hukum dan peraturan yang berlaku di sekolah kita. Untuk menghindari nama sekolah jadi tercemar, sebaiknya kita keluarkan anak itu dari sekolah ini,” timpal ibu Sofia.
Umi Dewi dan Mbah Uti terkejut. Tara masih dengan sikap tenangnya, dia melirik Sofia yang tersenyum pada wanita yang baru saja menyuarakan pendapatnya. Tara tersenyum tipis, ia tahu bahwa itu adalah orang tua Sofia.
“Dasar licik. Beraninya bersembunyi di bawah ketiak ibu,” gumam Tara. Sofia yang merasa sedang diledek oleh Tara pun langsung menoleh padanya.
“Apa yang barusan kamu katakan?” tanyanya geram.
“Kenyataan.” Tara menoleh pada Sofia sembari tersenyum. “Kamu takut padaku ‘kan? Makanya meminta orang tuamu untuk mengusirku dari sekolah ini.”
“Jangan asal bicara kamu, Tara.”
“Aku mengatakan yang sebenarnya, Sofia. Kamu takut bersaing denganku, makanya segala cara kamu lakukan agar aku keluar dari sekolah ini.”
Sofia mengepalkan kedua tangannya, Tara yang melihat Sofia menahan emosi pun tak mampu untuk tidak tersenyum padanya.
“Jangan tersenyum padaku, karena itu membuatku sangat membenci dirimu.”
“Aku tidak tersenyum padamu. Tapi, aku tertawa karena melihat kebodohanmu itu,” jawab Tara meledek.
Sofia yang emosinya sudah dipuncak ubun-ubun pun hendak berdiri dan membalas perlakuan Tara. Namun, cepat ia urungkan setelah mendengar ketua yayasan berbicara.
“Baiklah wali murid sekalian. Sebelum memutuskan untuk menghukum murid bernama Tamara Alveria, kami ingin mendengar pembelaan dari anak kami, Tara.”
Tara tak takut sama sekali, dengan keberanian yang ada di dalam dirinya, Tara berdiri dan meraih mic yang diberikan oleh guru BK.
“Terimakasih Pak Ketua. Saya Tamara Alveria, sengaja memukul Sofia Lanrita Lumbergh dengan tongkat saya sendiri.”
Semua hadirin heboh, Umi Dewi dan Mbah Uti menggeleng saat Tara mengakui hal itu. sofia tersenyum puas, dia berpikir setelah ini ketua yayasan pasti akan menghukum Tara nantinya.
“Saya melakukan hal itu bukan karena kemauan sendiri. Sofia lah yang memulainya terlebih dahulu, dia sering membully dan mengganggu saya di sekolah.”
“Bohong! Dasar anak pungut.”
Ibu Sofia memotong dengan cepat karena tak terima jika anaknya disalahkan. Tara melirik wanita itu dengan sudut matanya, ia melihat ada kemarahan dalam mata ibu Sofia. Tara semakin tertantang olehnya.
“Saya tidak pernah berbohong Pak Ketua, dan saya berkata apa adanya. Saya tidak pernah lari dan takut dengan hukuman. Jika saya takut, kenapa setelah memukul Sofia saya tidak pulang ke rumah dan malah datang ke kantor BK?”
Wali murid yang hadir menggeleng tidak percaya dengan apa yang dikatakan Tara. Mereka beranggapan bahwa Tara berbohong dan ingin mengelak dari kesalahannya.
“Dia jelas berbohong Pak Ketua. Jika dia memang benar datang ke kantor BK, lalu mengapa sekolah malah meminta kita untuk mencari solusi dari masalah ini?” sahut wali murid yang geram melihat tingkah Tara.
“Benar Pak Ketua, anak ini pasti sedang mencari alasan agar...,”
“Itu benar Pak Ketua,” potong Buk Nunung cepat. Tara menoleh dengan mata berkaca-kaca. “Anak ini memang datang ke ruang BK, dan menjelaskan semuanya yang terjadi di dalam kelasnya,” lanjut Buk Nunung.
Para wali murid saling berbisik, ada yang mengacungkan jempol pada Tara karena keberaniannya. Ada juga yang malah menuduh guru BK itu bekerjasama dengan Tara.
“Pasti guru itu dibayar untuk berbohong, Pak. Mana ada anak yang berani datang ke ruang BK setelah melukai temannya. Mereka pasti bersekongkol,” sahut wanita berpakaian formal, sepertinya beliau pejabat penting di negeri ini.
“Itu benar, Tante. Saya melakukannya karena saya sama sekali tidak bersalah,” jawab Tara. “Pak Ketua yang terhormat. Terlepas dari profesi saya sebagai penari balet, saya adalah siswa berprestasi di sekolah ini yang pernah mengharumkan nama sekolah. Saya bicara apa adanya dan fakta yang terjadi selama ini. Sofia sudah sering melakukan kejahatan terhadap saya. Bahkan, kesalahannya sudah tak terhitung lagi. Dia membully, mencaci, bahkan...,”
Tara menggantungkan kalimatnya. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Tara menahan sesak dihatinya yang selama ini dia pendam. Hari ini, dia harus menuntaskan segalanya, masalah dengan Sofia harus menemukan titik terangnya.
“Sofia juga menghina keluarga saya. Saya tahu dan sadar, bahwa saya bukan anak orang kaya seperti mereka. Saya bisa sekolah di sini karena beasiswa sejak SMP, tapi apakah saya pantas diperlakukan seperti itu? Sofia dan teman-temannya pernah menyiksa saya, mengurung saya di dalam toilet semalaman. Hal itu membuat Umi angkat saya menjadi khawatir. Apakah saya pantas mendapatkan hal itu karena saya bukan terlahir sebagai anak orang kaya? Atau, memang sudah menjadi peraturan yayasan mengenai perbedaan antara kaya dan miskin?”
Tara menangis tersedu, begitu juga dengan Umi Dewi dan Mbah Uti yang ikut merasakan kepedihan Tara. Para wali murid terdiam, tak ada satu pun yang berani berbicara. Bahkan, Sofia pun merasa semakin kesal dan marah kepada Tara.
“Baiklah wali murid sekalian. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ananda Tamara, kami selaku yayasan telah memutuskan_”
“Tunggu Pak Ketua.”
Semua orang menoleh ke arah pintu masuk ruangan, begitu juga dengan Tara dan Sofia.
“Ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan kepada Pak Ketua dan wali murid semuanya sebelum memutuskan sesuatu untuk Tara.”
Tara terkejut, Roy datang bersama seorang wanita di sampingnya. Mereka berjalan menuju meja ketua yayasan dan memberikan satu unit ponsel kepada ketua yayasan. Ketua yayasan menerimanya dan memperhatikan dengan seksama video yang diputar Roy. Semua orang menunggu dan penasaran dengan isi video tersebut, termasuk Tara.
“Apa yang dilakukan Roy di sini? Video apa itu?” batin Tara.