Ancaman Sofia

1446 Words
Tara mondar-mandir menyapu taman belakang sekolah dengan wajah gelisah, membuat Roy yang melihatnya dari kejauhan merasa khawatir. Roy segera menghampiri Tara dan menyuruhnya duduk. “Kamu kenapa sih, Ra? Mondar-mandir nggak jelas begitu?” tanya Roy. “Gue lagi mikir, Roy.” “Mikir apaan?” tanya Roy mulai heran sekaligus penasaran. “Vidio apa yang lo perlihatkan pada dewan yayasan tadi? Kenapa ketua yayasan sepertinya sangat terkejut ketika melihat vidio itu?” Roy terdiam sebentar, sepertinya Tara memng belum mengetahui tentang vidio itu. Roy kemudian menoleh ke arah dia muncul tadi. Tara mengikuti arah pandang Roy, di sana seorang gadis cantik berambut sebahu muncul sembari mendekat. “Ngapain lo bawa Puja ke sini?” tanya Tara yang masih belum mengetahui sesuatu. “Puja akan menjelaskan semuanya sama kamu. Benar ‘kan, Pu?” Roy melirik Puja yang baru saja berdiri di sampingnya. Puja mengangguk sembari tersenyum, kemudian melihat ke arah Tara yang menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Lo penasaran soal vidio yang diberikan Roy kepada ketua yayasan?” tanya Puja, Tara mengangguk cepat. “Gue yang merekam semuanya. Aksi Sofia cs yang selama ini membully dan menyiksa lo. Gue sengaja merekam itu untuk membuktikan bahwa Sofia dan teman-temannya telah melanggar hukum yang ada di sekolah,” terang Puja. Tara mengerutkan kening, ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Puja barusan. “Maksud lo apa? Peraturan mana yang lo maksud?” “Gini, Ra. Ketua yayasan itu adalah bokap gue. Setiap yang dibicarakan orang tua gue di rumah, gue selalu mendengarnya. Orang tua gue selalu membahas tentang peraturan di sekolah, untuk tidak membedakan kasta seeorang. Jadi, gue diam-diam merekam perbuatan Sofia dan mengungkapkan kejahatannya di waktu yang tepat.” “Tapi lo bisa kena masalah nantinya. Lo tau Sofia itu seperti apa, dia juga akan membuat lo menderita nantinya.” Tara terlihat khawatir, dia lupa bahwa Puja adalah putri dari ketua yayasan sendiri. “Lo nggak perlu memikirkan gue, Sofia nggak bakalan bisa menyentuh gue. Sofia akan semakin terpojok nantinya jika dia nekat berurusan dengan gue,” jawab Puja. Tara mendesis pelan, menatap Puja lebih heran lagi. “Gue nggak pernah tau kalau lo anak dari ketua yayasan. Apa lo sengaja menyembunyikan identitas lo selama ini? apa Sofia dan yang lainnya tahu kalau lo putri dari ketua yayasan?” tanya Tara penuh selidik. Matanya ia sipitkan untuk memahami siapa Puja sebenarnya. Puja terdiam, dia berbalik badan sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya. Kemudian Puja kembali melihat Roy dan Tara sembari menyerahkan satu lembar foto. Tara meraihnya dengan kening mengkerut. “Ini apa?” “Namanya Kinar, sahabat gue sejak kecil. Kami selalu bersama-sama dan sering berbagi cerita. Dia bukan orang kaya, orang tuanya bekerja di rumah gue. Tapi, gue nggak pernah menganggapnya sebagai anak pembantu. Orang tua gue memasukkan Kinar ke sekolah tempat gue menuntut ilmu. Kami bisa berangkat bareng dan mengerjakan tugas rumah juga bareng. Tapi...,” Puja menggantungkan kalimatnya, Tara dan Roy menunggu apa yang akan dikatakan Puja selanjutnya. “Tapi apa, Pu?” tanya Tara penasaran. “Kinar nekat mengakhiri hidupnya setelah dibully oleh Sofia. Kinar juga bilang, selama gue sakit, dia mendapat perlakuan tidak enak dari Sofia. Itu yang dia tulis di dalam diarinya. Gue sedih dan merasa bersalah karena membiarkan Kinar ke sekolah sendiri.” Puja menangis tersedu-sedu, ia juga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tara segera menghampiri Puja, menenangkannya agar ia sedikit tenang dan melupakan sejenak tentang kepedihannya itu. “Lo nggak usah sedih lagi, Pu. Gue akan membalaskan semua perbuatan Sofia pada Kinar. Sekarang lo tenang aja, dia sudah mendapatkan hukumannya meski hanya di skors selama dua minggu. Meski keputusan itu tidak membuat gue puas, setidaknya Sofia sudah mendapatkan ganjaran atas perbuatannya itu. Nanti setelah dia kembali, kita akan memikirkan cara untuk menghadapi mereka nanti,” ucap Tara marah. “Jangan terlibat lagi dengan Sofia, Ra. Lo nggak tahu orang seperti apa bokapnya itu.” Puja mencegah Tara untuk tidak balas dendam pada Sofia, karena Puja tahu orang tua Sofia tidak akan tinggal diam. “Gue nggak takut sama mereka, Pu. Selagi kita benar, ngapain kita takut.” “Apa yang dikatakan Puja itu benar, Ra,” timpal Roy yang sedari tadi diam. “Orang tua Sofia punya pengaruh kuat untuk yayasan dan sekolah. Mereka itu sangat dekat dengan para donatur serta salah satu kandidat yang akan menggantikan ketua yayasan nantinya.” Tara mendecak kesal. “Lalu kenapa kalau mereka punya peranan yang penting? Gue nggak pernah takut, Roy. Gue akan menghadapi orang-orang yang menindas siswa miskin di sekolah ini. Gue akan lakukan itu, karena gue ingin kebenaran ditegakkan.” Tara berujar dengan penuh keyakinan. Roy menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia menarik napas berat sebelum kembali menjelaskan pada Tara. “Bukan itu masalahnya, Ra. Ayahnya Sofia adalah ketua mafia, kamu nggak akan selamat jika terus-terusan berurusan dengannya,” jelas Roy. Tara terkejut mendengarnya, ia baru kali ini mengetahui ada orang tua temannya yang ternyata anggota mafia. Pantas saja jika anaknya berlagak seperti itu. “Lo serius, Roy?” Tara masih belum percaya, Roy mengangguk. “Kalau memang dia ketua mafia, lalu kenapa tidak dlaporkan pada pihak yang berwajib?” “Nggak semudah itu, Ra. Mereka terkenal dengan kelicikannya, sehingga nggak ada satu pun orang yang berani untuk melaporkan mereka,” sahut Puja. Tara terpaksa diam. Dia memikirkan cara untuk membalas kelakuan Sofia saat dia kembali nanti. Roy dan Puja pun juga tampak memikirkan solusi untuk masalah yang akan mereka hadapi ketika Sofia kembali ke sekolah. *** “Lo puas melihat gue di skors? Untuk dua minggu kedepan, lo terbebas dari gue.” Sofia yang entah datang dari mana, tiba-tiba mencegat jalannya Tara. Sebelum meninggalkan sekolah, Sofia memang sengaja mencari Tara terlebih dahulu. Ia memastikan bahwa Tara akan ketakutan saat hukumannya selesai nanti. “Jangan senang dulu, Tara, karena gue nggak akan pernah membiarkan lo tenang sekolah di sini. Gue akan mengikuti ke mana lo pergi, dan nggak akan gue biarkan lo terbebas dari bayangan gue,” ancam Sofia. Tara sama sekali tak gentar, ia tersenyum kecil mendengar ancaman dari Sofia yang menurutnya biasa saja. Tara sudah sering mendengar hal itu, ia juga pernah mendapat teror dari Sofia. Namun, Tara sama sekali tidak mempermasalahkan itu. “Gue akan tunggu lo kembali ke sekolah ini. sebelum itu tiba, jangan coba-coba untuk mengancam gue di luar. Semua yang lo ucapkan barusan, sudah gue rekam di sini,” balas Tara, ia memperlihatkan ponsel yang saat ini masih merekam percakapan. Sofia terkejut dan langsung merebut ponsel Tara dari tangannya. “Berikan ponsel itu!” pinta Sofia secara terpaksa. Untung saja Tara dengan sigap menjauhkan ponselnya dari Sofia. “Nggak semudah itu, Sofia. Lo mengancam keselamatan gue di luar. Jika sesuatu terjadi pada gue, lo nggak akan bisa hidup dengan tenang meski bokap lo ketua mafia sekalipun.” Sofia membulatkan matanya, dia sangat terkejut mendengar perkataan Tara yang dia sendiri tidak tahu maksudnya. “Lo ngomong apa, ha? Jangan suka fitnah jadi orang? Bokap gue bukan ketua mafia, lo dengar itu?” teriak Sofia tidak terima. Tara mengerutkan kening, ia merasa bahwa Sofia tidak tahu tentang siapa ayahnya. Mungkin Sofia hanya tahu bahwa ayahnya itu adalah sekretaris yayasan dan memiliki banyak rekan kerja yang sesama bangsawan. Tara memiliki cara untuk menghadapi Sofia. “Lo beneran nggak tahu, atau pura-pura tidak tau?” tanya Tara penuh selidik. Sofa menggeleng pelan. “Gue nggak ngerti apa yang lo katakan. Jangan pernah fitnah bokap gue lagi, atau...,” “Atau apa?” potong Tara cepat. “Lo bakal aduin ke bokap lo, gitu?” “Gue nggak akan pernah melupakan hinaan ini, Tara. Lo akan menyesal.” “Gue juga nggak akan melupakan apa yang telah lo perbuat pada Kinar sehingga dia mengalami akhir yang tragis,” balas Tara. Kali ini, Sofia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya lagi. Sofia tidak pernah tahu dari mana Tara mengetahui semua itu. Sofia juga sudah melupakan masalah itu sejak lama, tapi hari ini Tara kembali mengingatkannya. “Lo tahu dari mana? lo kenal sama Kinar?” tanya Sofia penasaran, ia juga ingin menyelidiki orang yang sudah mengatakan tentang Kinar kepada Tara. Tara tersenyum sinis. “Untuk orang seperti lo, siapa sih yang nggak tahu? Bahkan, sebesar apapun lo melakukan kebaikan, nama Sofia akan selalu dikenang dengan kejahatannya.” “Tara.” Sofia berteriak marah. “Apa? Lo mau ngancam gue lagi? Gue nggak takut, Sofia,” balas Tara yang tak kalah marahnya. Sofia menatap Tara tajam, napasnya naik turun dan ingin menampar wajah Tara. Tapi, saat semua siswa berkumpul ketika mendengar keributan itu, Sofia mengurungkan niatnya. Gadis itu lebih memilih untuk segera pergi dari pada semakin panjang urusannya. “Liat saja nanti, gue akan segera kembali dan menyelesaikan masalah ini sama lo. Tunggu aja, Tara,” ujarnya dan berlalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD