Pengakuan Cinta Roy

1599 Words
Sofia tiba di rumahnya dengan wajah penuh kesal. Baru turun dari mobil, Sofia langsung menghampiri ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu bersama empat orang rekan kerjanya. “Sofia mau tanya sesuatu yang penting pada Papa,” ucap Sofia, ia tidak peduli ayahnya bersama pejabat penting. Ayah Sofia menoleh. “Sofia, apa-apaan kamu? Nggak lihat Papa lagi ada tamu?” jawab ayah Sofia yang geram melihat tingkah anaknya. “Sofia nggak peduli, yang Fia inginkan saat ini Papa menjelaskan semuanya sama Fia.” Ayah Sofia tak lagi menjawab. Pria paruh baya itu menoleh kepada rekannya kembali. “Lain kali kita lanjutkan. Putriku ingin berbicara sesuatu yang penting dengan ayahnya dulu. Kalian, pergilah!” Keempat orang itu mengangguk, lantas berdiri dan keluar dari rumah mewah mereka. Setelah kepergian rekan kerja ayahnya itu, Sofia kembali menatap ayahnya tajam. “Katakan pada Fia, Pa. Selain menjadi sekretaris yayasan, apa lagi pekerjaan yang Papa kerjakan?” tanya Sofia langsung pada intinya. “Papa punya bisnis yang selama ini Mama yang menjalankan. Kamu sendiri juga tahu ‘kan? Bahwa Papa dan Mama sudah memiliki cabang untuk bisnis kita itu,” jelas ayahnya. Entah mengapa, Sofia merasa ayahnya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Ia sendiri bahkan tidak tahu jika bisnis yang dijalankan oleh kedua orang tuanya ternyata memiliki cabang lain. “Fia nggak pernah tahu bisnis Papa punya cabang lain. Kenapa Papa sama Mama nggak pernah cerita ke Fia? Apa yang sedang kalian sembunyikan?” “Papa tidak menyembunyikan apa-apa, Sayang. Kenapa kamu selalu bertanya seperti itu?” heran ayah Sofia. Sofia menggeleng pelan. “Jelaskan pada Fia, Pa. Apa benar Papa seorang ketua mafia?” tanya Sofia langsung, ayahnya terkejut tak percaya. “Dari mana kamu tahu soal itu?” Ayah Sofia membulatkan matanya sempurna, tak menyangka jika putri semata wayangnya akan mengetahui hal itu. Sofia pun semakin percaya dengan apa yang dikatakan Tara tadi, bahwa ayahnya adalah seorang mafia. “Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Tara. Papa seseorang yang sangat ditakuti oleh semua orang. Kenapa Papa melakukan hal itu? apakah Papa kekurangan harta, sehingga melakukan pekerjaan kotor seperti itu?” “Tutup mulutmu, Sofia,” bentak ayahnya dan membuat Sofia terkejut. Ibu Sofia yang tadi hendak turun ke lantai bawah pun mempercepat langkahnya, ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di bawah sana. “Seharusnya kamu tidak bertanya tentang pekerjaan Papa. Apa yang kamu dapatkan selama ini adalah hasil dari kerja keras orang tuamu selama ini. Jangan berani lagi untuk menanyakan hal itu pada Papa.” Suara ayah Sofia terdengar meninggi, membuat Sofia sedikit gemetar. “Ada apa ini? kenapa kalian berdua ribut sekali?” ibu Sofia menghampiri ayah dan anak itu yang sedang bersitegang di ruang tamu dengan wajah panik. “Ini nih, Ma, anakmu. Berani-beraninya dia bertanya soal pekerjaan Papa,” jawab ayah Sofia kesal. Ibu Sofia menatap ke arah Sofia yang terdiam karena takut. “Fia, kenapa kamu jadi seperti ini? nggak usah ikut campur dengan pekerjaan orang tua. Tugasmu itu hanya sekolah dan belajar biar bisa masuk Universitas ternama itu,” ujar ibunya. Sofia mendekati ibunya. “Bukan maksud Fia untuk menanyakan hal itu, Ma. Tapi Tara sudah mengganggu Fia tadi. Dia mengejek Fia dengan mengatakan Papa seorang ketua mafia,” jawab Sofia. Ayah dan ibunya menatap Sofia terkejut. “Tara, gadis yang melukaimu itu? wanita yang tadi ada di ruang rapat yayasan?” tanya ibu Sofia memastikan. Sofia mengangguk. “Iya, dia orangnya, Ma. Tara sering mengganggu Sofia dan mengejek Fia dengan perkataan yang sangat pedas.” Ibu Sofia terlihat kesal, jelas terlihat dari sorot matanya yang sangat marah. Begitu juga dengan ayah Sofia, aura mafianya keluar sempurna karena marah. Orang tua Sofia sepertinya tidak akan melepaskan Tara nantinya. “Gadis itu belum tahu siapa kita, Pa. Beraninya dia mengejek anak kesayangan kita. Mama nggak akan melepaskan gadis kurang ajar itu,” geram ibu Sofia. “Papa juga nggak akan membiarkan dia tenang sekolah di sana. Papa akan mencari cara untuk mengeluarkan gadis itu dari sekolah,” sahut ayahnya. Sofia tersenyum, kali ini dia akan menggunakan orang tuanya untuk membalas dendam pada Tara. Meski Sofia tahu siapa ayahnya, tapi dia sepertinya sudah tidak peduli dengan hal itu. “Lihat saja nanti, kali ini kamu nggak akan bisa lepas, Tara,” batinnya. *** Sepulang sekolah, Tara bergegas menuju halte bis yang berada tepat di depan sekolahnya. Hari ini dia memilih pulang dengan menggunakan transportasi umum. Tara tak ingin merepotkan orang di rumah dan membuatnya manja nanti. Ketika Tara berjalan di halaman sekolah, langkahnya terhenti saat melihat Umi Dewi sudah berdiri di depan gerbang. Umi Dewi tersenyum melihat Tara yang kembali melanjutkan langkahnya. “Umi, kenapa masih di sini?” tanya Tara saat tiba di depan Uminya. “Umi tadi habis dari butik. Mang Udin lagi mengantar Mbah Uti ke rumah sakit, karena ada kerabat Mbah Uti yang sakit. Makanya Umi yang jemput Tara hari ini,” jawab Umi Dewi, beliau membelai rambut putrinya itu. “Tapi Tara bisa pulang naik bis, Umi. Umi nggak perlu repot-repot menjemput Tara.” Umi Dewi menggeleng. “Mulai hari ini, Umi nggak akan membiarkan Tara pulang sendiri. Setelah kejadian tadi, Umi takut Tara sampai kenapa-napa.” “Maksud Umi, gimana?” Tara mengerutkan kening tak mengerti. Ia juga menatap Uminya lama dan merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh ibu angkatnya itu. Tapi, Tara tidak tahu apa itu. “Nggak ada apa-apa, Sayang. Umi hanya ingin menjemput Tara hari ini, boleh ‘kan?” tanya Umi Dewi menatap anaknya itu. Tara mengangguk pelan. “Boleh, Umi,” jawabnya. Umi Dewi tersenyum, sikap Tara perlahan mulai berubah dan tidak seperti biasanya. Setidaknya, untuk hari ini Tara bisa bersikap sopan dan lembut pada Umi Dewi. “Ayo, Sayang, kita pulang. Umi tadi ada beli sesuatu untuk Tara,” ajak Umi Dewi yang menuntun Tara untuk masuk ke dalam mobil. *** Selesai mengerjakan tugas sekolah, Tara berjalan menuju balkon. Di sana ia merenung tentang masalahnya dengan Sofia. Tara bukannya takut dengan ancaman Sofia, ia hanya lelah jika terus-terusan menghadapi permasalahan yang sepertinya tidak akan berakhir. “Bagaimana jika yang dikatakan Puja itu benar, tentang siapa ayah Sofia sebenarnya? Apa yang akan mereka lakukan jika Sofia nanti meminta ayahnya untuk mencelakakanku?” batin Tara, wajahnya terlihat khawatir dan gelisah. Tara tak bisa bernapas dengan lega. Meski mulai besok Sofia tidak ada di sekolah, tapi dia bisa saja menunggunya di depan gerbang. Nggak ada yang tahu apa yang akan dilakukan Sofia di luar sana. Bisa jadi ayah Sofia mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menangkap Tara saat pulang sekolah. Mereka ‘kan keluarga licik. Drttt... Tara tersentak, ponselnya yang berada di atas meja belajar berdering dengan nyaring. Tara bergerak meninggalkan balkon dan meraih ponselnya itu. “Roy?” kening Tara mengerut saat melihat nama Roy tertera sebagai pemanggil. Ia membiarkannya lama, Tara enggan untuk menjawab panggilan dari pria itu. Tapi, Roy juga nggak lelah untuk terus menghubunginya, seperti ada sesuatu penting yang ingin dia katakan. “Ada apa?” tanya Tara langsung saat memutuskan untuk mengangkat panggilannya. “Ra, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Maaf, sebelumnya aku mengganggu.” Tara mendesah sebal. “Besok aja, ini sudah malam. Gue mau tidur,” ujar Tara jutek. “Tunggu dulu, Ra,” cegah Roy cepat sebelumnya Tara memutuskan panggilan. “Aku udah nggak bisa menunggu waktu untuk besok lagi,” lanjut Roy. Tara penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Roy, ia ingin tahu hal sepenting apa yang ingin dia sampaikan sehingga tidak bisa menunggu untuk besok. “Lo mau ngomong apa? Buruan katakan! Gue mau tidur,” ucap Tara lagi. Roy menarik napas sejenak, hatinya dag dig dug sebelum mengatakannya. Tara yang di seberang sana masih menunggu Roy untuk kembali berbicara. “Sebenarnya... aku...,” Roy kembali menata hatinya untuk berkata jujur pada Tara, meski sebenarnya Roy ingin mengatakan kepada Tara bagaimana perasaannya yang sebenarnya. “Ra, aku..,” “Lo mau ngomong apa, sih sebenarnya? Dari tadi nggak pernah selesai. Pegel gue nunggunya,” potong Tara cepat. “Sebentar, Ra. Kasih aku waktu untuk bisa berkata jujur.” “Dari tadi gue dengerin lo, tapi lo sendiri ngomongnya belibet. Nggak jelas tau nggak.” “Aku suka sama kamu!” Sebelum Tara memutuskan untuk menutup panggilan dari Roy, pria itu dengan cepat mengungkapkan perasaannya pada Tara. Tara tentu terkejut mendengar hal itu, tapi Roy di seberang sana terlihat bernapas lega meski ia tahu nanti Tara akan menolak cintanya. “Lo ngomong apa tadi?” tanya Tara memastikan. “Aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu, Tara. Perasaan ini datang begitu saja tanpa bisa dicegah. Aku nggak pernah menyadari bahwa selama ini aku sayang sama ka_” Tut... tut... tut. Tara memutuskan sambungan secara sepihak sebelum Roy menyelesaikan kalimatnya. Tara sedikit terkejut, Roy dengan berani menyatakan cinta pada Tara yang dulu sering dia hina. Bahkan, Tara sendiri sangat membenci pria itu. “Dasar egois,” decak Tara. Sementara di rumah Roy, ia terlihat sedih saat Tara mematikan panggilan tadi. Roy merasa menyesal telah mengatakan perasaannya dan membuat Tara marah. “Maaf Tara, gue memang pantas untuk mendapatkan cinta dari lo. Tapi, gue nggak akan pernah menyerah untuk bisa melindungi lo sampai kapanpun,” ujar Roy sendiri. Roy beranjak dari kamarnya, hendak turun menuju lantai bawah. Namun, langkah Roy terhenti saat melihat ayah Sofia yang tiba-tiba datang ke rumahnya. Roy terkejut, baru kali ini dia melihat pria itu datang ke rumahnya. “Papa Sofia ada keperluan apa malam-malam begini datang ke rumah? Gue jadi curiga,” batin Roy. Ia mencari tempat untuk bersembunyi saat Papanya bersama ayah Sofia menaiki anak tangga dan menuju ke arahnya. Roy harus mendengarkan apa yang mereka bicarakan nanti, karena tingkah kedua orang itu terlihat mencurigakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD