14 ~ Rasa sakit Nina

1299 Words
“Kenapa kamu berani-beraninya tidur di ruangan saya?” Suara itu membuatku terbangun dari mimpi-mimpiku. Rasanya hampir tidak nyata, karena sesaat tadi aku memimpikan hal konyol. Dan hampir membuatku menangis. Aku ingin cepat pulang, untuk memastikan bahwa sosok di mimpiku ini baik-baik saja. Melihat wajah Rinaldy yang masih tetap di tekuk, dan terlihat marah. Aku lekas beranjak dari sofa, hal itu membuat Abian ikut terbangun karena aku yang tidak hati-hati. Aku menundukkan kepala, tidak berani menatap Rinaldy. “Jangan kamu pikir, karena putra saya menyukaimu, saya jadi termasuk di dalamnya. Kamu itu hanyalah sampah, dan wanita yang tidak tahu malu karena sudah berani memunculkan wajahnya di depanku lagi. Bukan begitu, Nina?” Deg—Lagi-lagi kata-kata ini,kata-kata yang selalu merobek-robek hatiku. Kenapa Rinaldy tiba-tiba berubah? Apa Frans mengatakan sesuatu padanya? Tapi aku sungguh yakin jika omongan Frans selalu dapat di pegang. Lelaki itu tidak pernah mengingkari janji. “Kenapa diam saja? Apa kamu pikir kejadian beberapa hari lalu itu mengubahku, dan membuatku menjadi bodoh seperti dulu? Tidak Nina, kamu itu tetaplah sampah yang tidak berguna. Kamu yang selalu merusak hidupku, apa kamu sadar dengan hal itu?” “Pak…” “Sekarang mau kamu apa, Na? Kenapa kamu harus muncul kembali dalam kehidupanku? Kenapa, kenapa hah?” Cengkraman di kedua lenganku membuatku semakin gugup, dan takut. Aku tidak pernah melihat sisi Rinaldy yang seperti ini. “Mungkin, jika dulu …” Tangan Rinaldy lepas, lelaki itu lekas membalikkan badannya, dan sama-sekali tidak memberikan penjelasan kenapa tiba-tiba dia membentakku. Tubuhku masih kaku dan gemetaran, tidak berani untuk beranjak pergi. Dan hal yang membuatku panik adalah, saat melihat jam dinding yang sudah menunjuk pada pukul 5 sore. Tunggu dulu, selama itukah aku tertidur. Kenapa bisa aku tidak sadar jika aku sudah tertidur selama itu? Padahal, selama ini, aku tidak pernah tidur selama ini. “Pak…saya!” “Maaf!” Deg—lagi-lagi aku dibuat bingung dengan sikap Rinaldy. Lelaki itu membalikkan badannya, dan menatapku, juga menatap Abian yang sejak tadi memelukku dari belakang dengan erat. Bahkan, aku bisa merasakan tangannya yang gemetaran. Dia juga takut. “Maaf, tidak seharusnya aku terbawa suasana. Pergilah, aku akan membayar untuk hari ini!” “Tapi…” “Aku mohon, pergilah Na!” Mendengar suaranya yang serak, membuatku semakin tidak tega untuk meninggalkannya seorang diri. Rinaldy benar-benar terlihat sangat berantakan. “Na…aku mohon, kalo kamu tetap diri di sini, aku gak tahu apa yang bakal aku lakuin sama kamu. Jadi, tolong jangan membuatku menyesal nantinya!” “Maaf jika aku berbuat salah selama ini, Aldy. Tapi, seharusnya bukan hanya kamu yang merasa paling sakit di sini. Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu, dan kamu menyimpulkannya begitu. Aku…aku juga sakit dengan semua ini. Maaf, aku pergi dulu!” Klik Pintu tertutup. Aku menyandarkan badanku di depan pintu dengan air mata yang menetes dari pelupuk mataku. Tanpa menunggu lama, aku segera berlari keluar. Aku bahkan sudah mengabaikan Lia beberapa hari ini akibat pekerjaan. Dan mengabaikan suara tangis Abian yang sejak tadi terus memanggilku. *** Setibanya di rumah sakit, aku lekas menemui suster Teresa. Wajah beliau begitu panik saat menatapku, seorang telah terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui. “Nak, akhirnya kamu datang juga. Kenapa nomor kamu tidak bisa dihubungi?” Berusaha tenang dan meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja, aku memaksakan diri untuk tersenyum dan menatap suster Teresa dengan tatapan kalem. “Beberapa hari ini aku sangat sibuk sus, maaf, ada apa ya?” “Sebaiknya kamu segera melihat keadaan Lia nak. Tolong kuatkanlah hatimu, suster yakin kalo kamu bisa!” Mendengar itu, mendadak kakiku bergetar. Dan aku segera berlari ke ruangan Lia. Bahkan kali ini aku kembali mengabaikan sapaan beberapa suster yang sudah aku kenal. Kenapa mimpiku tadi siang mendadak terasa seperti nyata? Tidak…tidak mungkin, itu hanyalah mimpi konyol, karena aku merindukan Lia. Adikku itu pasti baik-baik saja, dia tidak mudah menyerah. Dia itu gadis yang kuat. Pintu terbuka, tatapanku tertuju lurus pada dokter Jhon yang duduk di kursi, dengan Lia yang tidak sadarkan diri. Suasananya terasa sesak, dokter Jhon sudah terbangun. Lelaki paruh baya itu tersenyum menatapku. “Bicaralah dengannya, nak. Mungkin dia sudah sadar, kami sudah melakukan yang terbaik, namun, aku rasa ada kehendak lain yang lebih baik nantinya!” “Dok, ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa dokter berkata seperti itu?” Air mataku mendadak mengalir, rasanya aku tidak siap dengan apa yang akan terjadi kali ini. Tatapan dokter Jhon memberitahuku agar maju, dan melihat sendiri. Kulakukan hal itu. Aku melangkah maju, dan menahan tubuhku yang bergetar. Aku mohon, jangan Lia, aku mohon, jangan untuk kali ini. “Lia…” “Kakak!” Tangan kurus Lia berusaha untuk meraihku. Dengan segera aku mendekat dan meraih tangan yang jauh lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya. Air mataku semakin deras turun, dan semuanya terasa sakit. Senyuman Lia semakin membuatku ingin menangis kencang. Wajahnya semakin pucat, dan nafasnya tinggal satu-satu. Layar monitor di sebelah, menunjukkan jika garis-garis denyut jantungnya yang hampir menuju ke arah yang lurus. “Makasih buat selama ini kak. Semalam, aku mimpi ketemu sama ayah, dia minta maaf sama kita. Mama juga minta maaf. Mereka orang yang baik, dan mereka ngajak Lia pergi. Tempatnya bagus, Lia bisa lihat rumput hijau, Lia gak sakit.” “Lia…” “Kakak harus baik-baik saja ya, selama ini Lia udah nyusahin kakak. Tolong, kakak juga harus bahagia. Lia…sayang sama kakak!” Tangan Lia terjatuh dari genggamanku begitu bibir pucat terpecah-pecah itu selesai bicara. Bunyi layar monitor di depanku juga berhenti dan menunjukkan garis lurus. Tidak, ini tidak benar. “Lia…bangun dek, jangan begini sama kakak. Lia udah janji mau jalan-jalan bareng kakak kalo Lia udah sembuh. Lia…Lia, dek, jangan tinggalin kakak. Kakak mohon. Tolong bilang kalo kakak ada salah, tolong bilangin, jangan tinggalin kakak.” “Nak…” Menatap dokter Jhon yang juga diliputi air mata semakin membuatku tidak tahu harus bagaimana. Kenapa harus sekarang? Kenapa? “Lia…tolong, dokter, tolong Lia. Apapun akan aku usahain buat biaya Lia dok. Tolong…tolong jangan dia dok, jangan….jangan dia!” “Nak…beberapa hari ini pihak rumah sakit sudah berusaha untuk menghubungi kamu karena keadaan Lia yang terus drop. Tapi, dia bertahan sampai di titik ini. Lia sudah cukup menderita selama ini, nak. Tuhan lebih sayang sama Lia, tolong yang kuat ya!” Dokter Jhon mengusap air matanya yang juga mengalir deras. Dokter paruh baya itu juga merasa sesak saat tidak lagi menatap senyum cerah Lia. “Kenapa…kenapa harus Lia? Aku…aku gak punya siapa-siapa selain dia, dok. Kenapa harus Lia? Aku…aku gak bisa!” Nina menangis tersedu-sedu. Wajahnya yang putih sudah memerah, dan terlihat begitu hancur. Ruangan yang hening itu mulai dipenuhi dengan beberapa suster yang juga ikut datang. Suster Teresa mengambil Nina, dan berusaha untuk menenangkan gadis yang hampir tumbang itu. Beberapa pasien lain saling berbisik iba, dan berusaha untuk menenangkan Nina yang terus menangis sejak tadi. “Nina?” Suster Teresa berbalik, dan menatap sosok pemuda dengan rambut ikal yang cukup terkejut. Frans…lelaki itu baru saja tiba untuk membayar biaya perobatan adik Nina. Dan berniat untuk mampir sebentar, untuk menjenguk Lia. Namun, pemandangan di depannya membuat Frans tidak bisa menahan air matanya. Di dekapnya Nina, dan dipeluknya gadis itu erat-erat. Tubuh Nina masih bergetar hebat, dan sesekali terisak lagi. “Nina, kamu yang kuat ya. Kabar ini dadakan banget, tolong, bertahanlah!” “Frans. Adik aku, Lia, dia…dia udah gak ada lagi. Aku…aku harus gimana? Aku gak kuat, Lia satu-satunya keluarga aku, dia udah pergi!” Nina semakin menangis kuat. Membuat Frans menahan tangan gadis itu, dan semakin mendekap erat Nina. Dokter Jhon bahkan sampai dibantu oleh beberapa suster lain karena tidak kuat. Lia, adalah gadis yang baik. Sayangnya nasibnya tidak sebaik yang gadis itu inginkan. Dan Tuhan lebih menyayanginya. Semua kenangan akan tertinggal untuk orang yang berkenan akan mengingat namanya. Dan semua rasa sakit, akan lebih besar pada Nina. Satu-satunya keluarga, yang Lia punya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD