bc

NADI KEDUA

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
contract marriage
family
HE
serious
office/work place
war
like
intro-logo
Blurb

Jika cinta itu detak jantung pertama, maka pernikahan hanyalah denyutan kedua yang seharusnya tidak perlu ada.

Dokter Bedah Militer, Kapten Aryasatya Mahendra, selama ini selalu memandang Letnan Kinanti Larasati, istrinya, sebagai penanda kesialan. Pernikahan mereka merupakan sebuah ikatan tanpa cinta yang dipicu oleh skandal memalukan dan tekanan komando yang telah merenggut satu-satunya hal yang selama ini ia genggam, yaitu impian untuk bersatu dengan Naira, cinta sejatinya.

Arya yakin ia hanya terikat oleh selembar kertas kontrak untuk menjamin status Kinan agar sah sebagai istrinya di mata hukum. Namun bagi Kinan, meski hatinya remuk, ia akan memegang teguh janji bakti sebagai istri prajurit.

Tak lama setelah mengikat janji pernikahan yang terasa dingin, Arya dan Kinan dikirim dalam misi kemanusiaan darurat ke Kerajaan Sumedang, wilayah perbatasan yang rawan bencana dan konflik. Jantung Arya saat itu mencelos ketika ia mendapati kenyataan pahit bahwa Naira, dokter relawan yang kini sukses, telah lebih dulu berada di sana dan menjadi bagian penting dari tim mereka.

Di tengah rasa trauma yang mencekam dan harapan penduduk yang menunggu, cinta segitiga itu kembali menyala. Namun, kerumitan emosi mereka harus segera dikesampingkan saat operasi kemanusiaan tersebut terancam oleh Geng Serigala Hitam, sindikat mafia lokal yang memanfaatkan kekacauan untuk menyelundupkan barang dan senjata.

Arya, yang kini memimpin pasukan gabungan, harus menjaga konsentrasi dan wibawanya. Ia harus berjuang keras memisahkan perasaan masa lalu dengan tanggung jawabnya sebagai komandan, suami, dan dokter.

Ketika situasi di Kerajaan Sumedang semakin sulit dikendalikan, Arya terdesak pada sebuah keputusan, apakah ia akan merobek surat kontrak itu demi cinta yang seharusnya ia miliki, atau membiarkan Nadi Kedua ini berdetak, menyadari bahwa Kinan adalah satu-satunya orang yang bisa menjahit luka-lukanya dan menyelamatkan seluruh misi mereka?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Nadi Yang Terbelah
Deru mesin pesawat Hercules C-130 yang mendarat di landasan darurat Kerajaan Sumedang terasa seperti palu yang menghantam d**a Arya Satya Mahendra. Namun, kebisingan itu tidak sebanding dengan kekacauan di kepalanya. Setiap kali ia melirik wanita yang duduk tegak di sampingnya, ada rasa sesak yang jauh lebih menyiksa daripada turbulensi udara yang baru saja mereka lewati. Mereka adalah pasangan sempurna di mata korps. Kapten Arya, sang ahli bedah yang brilian, dan Letnan Kinanti Larasati, perwira logistik dengan presisi yang mematikan. Namun, di balik seragam yang rapi itu, ada dokumen rahasia bernama kontrak senyap yang mengikat mereka layaknya borgol tak kasat mata. Pernikahan mereka bukan janji suci yang diucapkan dengan sukacita, melainkan baris perintah atasan untuk meredam skandal yang hampir menenggelamkan karier Arya dua bulan lalu. "Jangan memasang wajah seperti itu, Letnan," desis Arya. Suaranya rendah dan tajam, nyaris terkubur oleh deru mesin yang mulai melambat. "Ingat peranmu. Begitu kita keluar dari pintu ini, kamu adalah istri yang setia. Jangan buat aku harus mengingatkanmu berkali-kali tentang siapa yang menyebabkan kita terjebak dalam sandiwara pernikahan ini." Kapten Arya melanjutkan ucapannya. Kinanti tidak segera menjawab. Ia memilih diam, sambil menatap jendela yang berdebu, tangannya yang terbungkus sarung tangan militer bertaut tenang di pangkuan. Ia tahu Arya sedang menyalahkannya. Ia tahu pria itu menganggapnya sebagai pembawa sial yang melaporkan audit internal yang cacat, memicu rangkaian kejadian yang memaksa mereka menikah demi stabilitas institusi. "Aku nggak pernah lupa akan peranku, Kapten," balas Kinanti lembut, namun ada ketajaman yang tak bisa disembunyikan. Kinanti menoleh, menatap mata Arya yang penuh kebencian dengan sorot mata yang tenang namun tak gentar. "Kepatuhanku padamu adalah bagian dari tugasku kepada negara. Jika sandiwara ini membuatmu merasa lebih baik, silakan kamu nikmati. Tapi jangan ragukan loyalitasku pada misi ini." Arya mendengus, sambil membuang muka. "Loyalitas, Letnan? Bukannya kamu hanya peduli pada protokol dan pangkatmu? Pernikahan ini hanya batu loncatan bagimu agar terlihat bersih di depan Komando, bukan?" sindir sang Kapten. Kinanti terdiam. Ada rasa perih yang sempat mencubit hatinya, namun ia segera menekannya dalam-dalam. Ia sudah lama belajar untuk tidak membiarkan perasaan mengganggu presisi kerjanya. Baginya, Arya bukan hanya sekadar suami kontrak, tapi Arya adalah aset medis berharga yang harus ia jaga kestabilannya di lapangan, apa pun harganya. Tak lama kemudian, pintu pesawat terbuka, membawa masuk hawa panas yang menyengat dan aroma tanah basah khas hutan Sumedang. Arya segera berdiri, dan secara otomatis mengulurkan tangannya pada Kinanti. Sentuhan itu sama sekali tidak memiliki kehangatan, itu hanyalah mekanisme akting yang sudah terlatih. Kinanti pun menyambutnya, membiarkan jemari Arya menggenggam tangannya dengan tekanan yang sedikit terlalu kuat, sebuah peringatan fisik agar ia tidak melenceng dari skenario. "Kapten Arya, Letnan Kinanti! Akhirnya nadi kedua kami tiba," sambut Kolonel Wirawan dengan senyum lebar di depan tenda komando. "Posko ini sudah hampir menyerah. Kehadiran kalian adalah harapan baru bagi kami." Saat Arya mulai tenggelam dalam briefing medis bersama para perwira lapangan, Kinanti diam-diam melepaskan diri. Ia tidak menunggu instruksi verbal dari suaminya. Matanya menyisir area posko dengan insting tajam seorang perwira logistik. Ia memperhatikan bagaimana stok amunisi ditumpuk, jalur distribusi air yang rentan, dan yang paling mengganggu, posisi tenda komunikasi yang terlalu terbuka di perimeter luar. Baginya, kesetiaan pada tugas adalah harga mati, bahkan saat hatinya sendiri sedang terkoyak oleh dinginnya sikap Arya. "Letnan, kamu bisa langsung ke area logistik timur untuk memverifikasi suplai medis," ujar Arya tanpa menoleh. Nadanya seolah mengusir secara halus. "Aku akan segera ke tenda bedah utama. Ada banyak kasus trauma yang menungguku." "Siap, Kapten," jawab Kinanti singkat. Ia memberi hormat, sebuah gerakan formal yang tegas, sekaligus menegaskan jarak profesional di antara mereka, sebelum berbalik menuju gudang. Arya berjalan menuju tenda bedah utama dengan langkah panjang, seolah ingin segera menghapus bayangan Kinanti dari pandangannya. Namun, saat ia melangkah masuk ke ruang sterilisasi yang lembap, langkahnya mendadak membeku. Di tengah kesibukan para perawat, seorang wanita berdiri membelakanginya, sedang memberikan instruksi dengan suara yang lembut namun tegas. Suara itu begitu familiar. Suara yang sudah tiga tahun ini hanya bergema dalam mimpi dan kerinduan terpendam Arya. Wanita itu berbalik. Wajahnya yang tenang dan tatapannya yang teduh langsung meruntuhkan benteng pertahanan Arya yang selama ini ia bangun setinggi langit. "Dokter Naira?" bisik Arya. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. Naira tersenyum kecil, ada kilatan emosi yang tertahan di matanya. "Halo, Arya. Apa kabar? Ternyata benar desas-desus yang kudengar, kamu yang dikirim ke sini." Semua kebencian Arya pada Kinanti, semua beban kontrak yang mencekiknya, seketika terasa jauh. Naira adalah nadi pertama-nya. Satu-satunya alasan ia pernah percaya pada cinta sebelum semuanya hancur oleh tuntutan tugas. Di depan Naira, Arya bukan lagi kapten yang dingin, ia hanyalah seorang pria yang kembali menemukan jangkarnya di tengah badai. Dari kejauhan, di balik tumpukan peti logistik, Kinanti melihat pemandangan itu melalui celah tenda. Ia berdiri tegak, memegang daftar inventaris yang kini sedikit remuk dalam genggamannya yang mengeras. Ia melihat bagaimana Arya menatap Naira, sebuah tatapan penuh kerinduan yang tidak pernah sekalipun diberikan kepadanya selama dua bulan pernikahan mereka. Kinanti memejamkan mata sejenak, menelan kenyataan pahit bahwa keberadaannya di sini benar-benar hanya sebagai penghalang. Namun, sebuah kejanggalan pada data logistik di layar tabletnya memaksanya kembali ke kenyataan militer yang lebih mendesak. Ia memeriksa manifes pengiriman Plasma Darah berkode Phoenix. Di layar tablet militernya, statusnya tertulis sudah diterima. Namun, di hadapannya saat ini, peti bernomor seri tersebut kosong melompong. Hanya ada sisa-sisa es kering yang telah menguap sepenuhnya. Seseorang telah mencurinya dari dalam sistem, dan pencurian itu dilakukan dengan presisi tinggi tepat saat perhatian semua orang teralih oleh kedatangan mereka. Tepat saat Kinanti hendak berbalik untuk memberi peringatan kepada pusat komando, sebuah tangan dengan sarung tangan taktis hitam membekap mulutnya dengan keras dari belakang. Kinanti meronta, sikutnya menghantam rusuk penyerangnya dengan kekuatan penuh, namun sebuah pisau militer yang dingin kini menempel di lehernya, tepat di atas denyut nadinya. "Sshhh… Letnan Larasati," sebuah suara parau berbisik di telinganya. Begitu dekat hingga napasnya terasa di kulit. "Ingat kontrakmu. Tetaplah diam sebagai istri yang patuh di balik bayang-bayang, atau suamimu yang malang itu akan kehilangan nadinya selamanya, baik nadi yang pertama, maupun nadi yang kedua." Kinanti terpaku, tubuhnya menegang. Matanya melirik ke arah Arya dan Naira yang masih berbagi senyum di kejauhan, sama sekali tidak menyadari bahwa nyawa mereka baru saja dipertaruhkan dalam sebuah konspirasi yang jauh lebih gelap daripada pernikahan kontrak yang mereka jalani. Siapa sosok yang membekap dan mengancam Kinanti itu?

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook