Dingin baja yang menempel di leher Kinanti Larasati mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh sarafnya, tetapi anehnya, detak jantungnya tetap ritmis. Bukan karena ia tak takut mati, melainkan karena bertahun-tahun dididik untuk mengutamakan logika di atas insting bertahan hidup. Di depannya, melalui celah kanvas tenda yang sedikit terbuka, ia masih bisa melihat siluet Arya. Suaminya, setidaknya begitulah secara hukum, tampak begitu hidup saat berbicara dengan Dokter Naira.
Ada kepedihan halus yang menyusup di sela napas Kinanti yang tertahan. Melihat Arya tersenyum seperti itu adalah pemandangan langka. Selama dua bulan pernikahan kontrak mereka, wajah Arya baginya hanyalah topeng kebencian atau kelelahan.
“Kamu terlalu tajam untuk ukuran seorang perwira logistik, Letnan,” bisik suara parau di belakangnya. Bekapan tangan itu sedikit melonggar, memberi ruang bagi Kinanti untuk menghirup oksigen yang terasa berat. “Sayang sekali, kecerdasanmu tidak dibarengi dengan kepatuhan untuk menutup mata.”
Kinanti memutar otak. Ia tahu ia tidak bisa berteriak. Jika ia berteriak, penyerang ini akan menarik pisau itu, atau lebih buruk lagi, memicu kekacauan yang akan membahayakan Arya dan Naira di tenda sebelah.
“Siapa kamu?” suara Kinanti terdengar stabil, hampir seperti sedang bertanya tentang manifes kargo yang hilang. “Dan kenapa kamu butuh Plasma Darah Phoenix? Kamu tahu itu adalah nyawa para prajurit di sini.”
Tawa kecil yang dingin terdengar. “Nyawa prajurit adalah angka di atas kertas, Letnan. Sama seperti pernikahanmu. Semuanya hanya soal transaksi, bukan?”
Tiba-tiba, sebuah suara familiar memanggil dari kejauhan.
“Kinanti? Apa kamu ada di sana?”
Itu suara Arya. Pria itu tampaknya menyadari istrinya tak kunjung menyusul ke mess perwira. Detik itu juga, tekanan pisau di leher Kinanti menghilang. Penyerang itu mendorongnya kasar hingga ia tersungkur ke atas tumpukan peti kosong, sebelum bayangan gelap itu melesat hilang ke balik bayang-bayang hutan yang mulai gelap.
Kinanti terengah, tangannya menyentuh lehernya yang terasa panas. Ada garis tipis darah di jemarinya. Ia segera merapikan kerah seragamnya, menutupi luka itu sebelum Arya muncul di pintu tenda logistik.
Tak lama kemudian, Arya berdiri di sana, cahaya lampu sorot posko di belakangnya membuat wajahnya sulit dibaca. Namun, dari postur tubuhnya, Kinanti bisa merasakan sisa-sisa euforia setelah bertemu Naira yang kini bercampur dengan kejengkelan karena harus berurusan dengan istri kontraknya lagi.
“Kenapa lama sekali, Kinanti?” tanya Arya, suaranya kembali ke nada datar yang biasa. “Kolonel menunggu kita untuk makan malam penyambutan. Jangan buat aku terlihat seperti suami yang kehilangan istrinya di hari pertama,” ucapan yang terkesan sedikit menggoda.
Kinanti berdiri, ia membersihkan debu di celana militernya dengan gerakan metodis.
“Ada masalah dengan manifes, Kapten. Aku harus memastikannya dulu.”
Arya melangkah masuk, matanya menyipit melihat kekacauan kecil di sekitar Kinanti. Ia melangkah mendekat, dan untuk sesaat, jarak di antara mereka terkikis. Kinanti bisa mencium aroma antiseptik yang bercampur dengan parfum maskulin Arya yang familiar, aroma yang selalu mengingatkannya pada malam-malam sunyi di apartemen mereka saat mereka hanya saling melewati tanpa bicara.
“Kamu berkeringat, kenapa?” Arya memindai wajah Kinanti.
Ia memperhatikan napas Kinanti yang masih sedikit memburu. Tangannya terulur secara refleks, seolah ingin menyentuh dahi Kinanti, namun ia segera menariknya kembali seolah tersengat listrik. Ada konflik batin yang jelas di matanya, antara naluri seorang dokter yang peduli dan ego pria yang merasa dikhianati.
“Soalnya, panas banget di sini,” jawab Kinanti singkat, dan pastinya juga berbohong.
Ia mencoba menghindari tatapan Arya. Jika ia melihat mata itu, ia takut ia akan luluh dan menceritakan tentang pisau di lehernya. Tapi ia tahu Arya tidak akan percaya. Arya akan menganggapnya sedang mencari perhatian atau mencoba menyabotase waktunya bersama Naira dengan drama baru.
“Ayo cepat pergi!” ujar Arya dingin. “Dan perbaiki kerahmu, biar terlihat lebih rapi! Lihatlah, kamu terlihat berantakan banget.”
Makan malam di mess perwira adalah sebuah sandiwara yang sempurna, sekaligus tingkat tinggi. Arya duduk di samping Kinanti, tangannya sesekali menyentuh punggung tangan Kinanti di atas meja, sebuah sandiwara kemesraan palsu yang membuat Kinanti merasa seperti sedang memegang kabel bertegangan tinggi.
Sementara di seberang meja, Dokter Naira duduk dengan anggun. Matanya sesekali melirik ke arah tangan Arya yang menyentuh Kinanti, dan ada jejak kesedihan yang tak bisa disembunyikan di sana. Kinanti merasa seperti penjahat. Di sini ia berada, memegang posisi yang seharusnya menjadi milik Naira, hanya karena sebuah kontrak pernikahan yang dipaksakan dan ambisi institusi.
“Jadi, Letnan Kinanti,” suara Mayor Bram memecah keheningan.
Pria itu tersenyum ramah, namun bagi Kinanti, senyum itu kini terlihat seperti seringai serigala.
“Bagaimana kesan pertamamu pada logistik Kerajaan Sumedang? Tidak terlalu rumit, kan?” tanyanya.
Kinanti menatap Bram. Ia mencari tanda-tanda lecet di tangan pria itu, atau tanda apa pun yang menunjukkan dia adalah penyerangnya di tenda tadi. Tapi Bram terlihat sempurna.
“Ada beberapa anomali pada stok medis, Mayor,” jawab Kinanti, matanya terkunci pada Bram. “Terutama pada Plasma Darah Phoenix. Sepertinya sistem digital kita perlu diaudit ulang.” Dengan tatapan penuh selidik, Kinanti memberikan penjelasan.
Suasana di meja makan mendadak tegang. Arya memberikan tekanan keras pada tangan Kinanti di bawah meja, sebuah perintah untuk diam.
“Kinanti hanya terlalu berdedikasi, Mayor,” potong Arya cepat, tawanya terdengar dipaksakan. “Dia selalu melihat hantu di setiap manifes kargo. Jangan terlalu diambil hati. Anggap saja ini basa-basi.”
Bram tertawa kecil. “Dedikasi adalah hal baik, Kapten. Tapi terkadang, terlalu banyak melihat bisa membahayakan mata.”
Kinanti merasakan ancaman itu jelas seperti petir di siang bolong. Sepanjang sisa makan malam, ia hanya bisa diam. Pikirannya terpecah antara kehilangan plasma yang akan membunuh prajurit, dan pengkhianat yang duduk tepat di depan suaminya.
Setelah makan malam, Arya menarik Kinanti ke sudut koridor yang sepi. Di sini amarahnya meledak.
“Apa yang kamu lakukan tadi, Kinanti?” desis Arya, suaranya bergetar karena emosi. “Kamu mencoba mempermalukan aku di depan Kolonel dan Mayor Bram? Begitu? Kamu tahu nggak kalau posisi kita sedang diawasi, Kinanti? Kenapa juga kamu harus mengungkit soal logistik di meja makan?”
“Karena ini soal nyawa, Arya!” Kinanti membalas, untuk pertama kalinya ia memanggil nama pria itu tanpa gelar.
“Plasma Phoenix itu hilang. Seseorang mencurinya. Dan orang itu ada di posko ini!” jelas Kinanti.
“Atau mungkin kamu hanya ingin terlihat heroik di depan Naira?” tuduh Arya, matanya berkilat penuh prasangka.
“Kamu cemburu pada Naira, kan? Kamu pasti takut kalau aku bakal kembali pada Naira, jadi kamu membuat kekacauan agar perhatian semua orang tertuju padamu! Iya, kan?” Arya ingin memastikan tuduhannya.
Kinanti tertegun. Rasa sakit itu akhirnya menembus pertahanannya.
“Kamu pikir aku sepicik itu, Arya?” suaranya bergetar. “Aku mempertaruhkan nyawaku di tenda tadi, Arya. Seseorang menodongkan pisau di leherku!” Kinanti akhirnya memberikan pengakuan.
Arya terdiam sesaat, matanya mencari kebenaran di wajah Kinanti. Namun, bayangan Naira yang tersenyum padanya tadi sore lebih kuat.
Ia akhirnya memilih mendengus sinis. “Pisau? Kalau begitu mana lukanya? Jangan membuat cerita fiksi, Letnan. Aku ini dokter, aku tahu mana luka asli dan mana hasil rekayasa.”
Kinanti hendak membuka kerahnya untuk menunjukkan garis darah itu, namun harga dirinya menahan tangannya. Jika Arya sudah tidak percaya, penjelasan apa pun hanya akan terdengar seperti pembelaan diri yang menyedihkan.
“Baiklah,” bisik Kinanti, suaranya kembali dingin dan datar. “Anggap saja aku berhalusinasi. Tapi jangan salahkan aku jika besok pagi, pasienmu mati di meja bedah karena tidak ada plasma darah yang mengalir di nadinya.”
Kinanti berbalik pergi, meninggalkan Arya yang terpaku di koridor.
Saat Kinanti melangkah menuju mess-nya, ia melewati tenda komunikasi. Pintu tenda itu sedikit terbuka. Di dalamnya, ia melihat Mayor Bram sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon satelit yang tidak terdaftar.
“Paket Phoenix sudah siap dikirim keluar posko besok subuh,” suara Bram terdengar jelas. “Letnan itu mulai mencium bau busuk. Kita harus melenyapkannya malam ini juga.”
Kinanti membeku di balik dinding. Ia merogoh sakunya, mencari ponsel militernya untuk merekam, namun ia menyadari sesuatu yang mengerikan.
Ponselnya tidak ada.
Tepat saat itu, sebuah langkah kaki berat terdengar di belakangnya. Kinanti berbalik dan melihat seorang prajurit dengan wajah tertutup topeng, memegang senjata peredam suara yang diarahkan tepat ke dadanya.
Dan di kejauhan, ia melihat Arya berjalan mendekat, benar-benar tidak menyadari bahwa istrinya sedang berada di ujung maut untuk kedua kalinya dalam satu malam.
“Satu gerakan, dan Kaptenmu mati duluan,” bisik prajurit itu.
Kinanti berdiri diam, matanya menatap Arya yang semakin dekat, sementara jari si penembak mulai menarik pelatuk.
Menghadapi ancaman prajurit itu, pilihan manakah yang akan dijatuhkan Kinanti? Mengorbankan dirinya dengan menyelamatkan Arya? Atau lebih memilih mengorbankan Arya?