Malam di Kerajaan Sumedang tidak pernah benar-benar sunyi. Suara jangkrik hutan bersahutan dengan dengung genset yang konstan, menciptakan orkestra kegelisahan di kepala Arya Satya Mahendra. Ia berdiri di depan meja bedah yang kosong, menatap jemarinya sendiri. Bayangan Kinanti yang tersungkur di gudang tadi terus mengusik fokusnya.
Ia tahu Kinanti bukan tipe wanita yang mencari simpati dengan drama. Selama dua bulan ini, Kinanti adalah definisi dari efisiensi yang dingin. Namun, penyangkalan adalah satu-satunya benteng yang Arya miliki untuk menjaga kewarasannya. Jika ia mengakui bahwa Kinanti benar tentang ancaman di posko ini, maka ia harus mengakui bahwa pernikahannya bukan sekadar beban, melainkan tanggung jawab yang bisa merenggut nyawa.
"Apa kamu masih memikirkan ucapannya, Arya?" suara lembut Naira memecah lamunan pria itu.
Naira melangkah masuk dengan jubah medis yang tersampir anggun. Ia mendekat, jarak yang ia ciptakan begitu intim, seolah-olah dua bulan pernikahan Arya tidak pernah terjadi.
"Bagian logistik selalu punya cara untuk terlihat dramatis," lanjut Naira sambil merapikan kerah baju Arya yang sedikit miring, sebuah gestur yang seharusnya hanya dilakukan oleh seorang istri.
"Letnan Kinanti mungkin hanya kelelahan. Mengurus manifes di bawah tekanan bisa membuat siapapun berhalusinasi tentang pengkhianatan." Naira menyampaikan beberapa penjelasan.
Arya menghela napas, membiarkan sentuhan Naira tetap di sana.
"Dia tidak biasanya seperti itu, Nai. Kinanti sangat... presisi."
Naira tersenyum kecil, senyum yang tidak mencapai matanya.
"Presisi bukan berarti benar, Arya. Terkadang, orang melakukan segalanya untuk terlihat relevan di mata suaminya. Apalagi jika dia tahu, suaminya sedang menatap nadi yang lain."
Tepat saat itu, pintu tenda medis terbuka. Kinanti berdiri di sana. Ia sudah merapikan seragamnya, wajahnya kembali kaku seperti porselen, namun matanya menangkap tangan Naira yang masih hinggap di kerah baju Arya.
"Maaf mengganggu momen nostalgia kalian," suara Kinanti datar, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
Ia berjalan masuk, mengabaikan atmosfer intim tersebut.
"Kapten Arya, Aku butuh tanda tangan kamu untuk prosedur darurat pengadaan plasma alternatif. Karena Phoenix hilang dalam sistem, dan kita harus menarik stok cadangan dari posko terdekat malam ini juga," ucap Kinanti.
Arya menarik diri dari Naira, wajahnya menegang.
"Kinanti, aku sudah bilang, jangan membuat keributan soal Phoenix sebelum aku memverifikasinya sendiri besok pagi." Arya menjawab permintaan Kinanti dengan nada kesal.
"Besok pagi mungkin sudah ada sepuluh kantong mayat yang berbaris di luar, Kapten," potong Kinanti.
Ia meletakkan tablet digital di meja bedah dengan suara dentum yang cukup keras.
"Ini bukan soal ego. Ini soal fungsionalitas medis kamu. Kamu nggak akan bisa membedah tanpa darah." Kinanti melanjutkan ucapannya dengan emosi yang sedikit melambung.
Naira akhirnya melangkah maju, berdiri di samping Arya seolah menegaskan posisinya sebagai sekutu utama sang dokter.
"Letnan, aku rasa kamu terlalu melampaui batas profesional. Arya adalah kepala medis di sini. Dialah yang menentukan urgensi, bukan bagian administrasi kayak kamu."
Kinanti menatap Naira, tatapannya dingin dan menembus.
"Administrasi adalah apa yang menjaga detak jantung posko ini tetap berdenyut, Dokter. Ketahuilah bahwa tanpa logistik, kamu hanyalah wanita dengan pisau tumpul. Dan bagiku, nyawa prajurit nggak akan menunggu izin dari perasaan masa lalu siapapun."
Naira tertawa kecil, suara tawa yang begitu meremehkan.
"Ternyata kamu sangat protektif, Letnan. Apakah ini juga bagian dari kontrakmu? Atau kamu mulai lupa bahwa pernikahanmu hanyalah dokumen yang bisa robek kapan saja?"
Naira kemudian mendekati meja logistik tempat Kinanti meletakkan tas kecilnya. Dengan gerakan yang sengaja pelan, ia mengambil sebuah botol obat kecil yang menyembul dari tas Kinanti.
"Oh, ternyata ini obat penenang?" Naira membaca labelnya dengan nada sok prihatin, namun matanya berkilat sombong.
"Apakah menjadi istri kontrak Arya begitu berat sampai kamu harus bergantung pada obat ini, Kinanti? Ataukah ini cara agar kamu nggak gila karena tahu bahwa setiap malam, pria yang tidur di sebelahmu selalu memimpikan wanita lain?" lanjut Naira penuh sindir
Arya terkejut. "Kinanti? Kamu minum obat itu?"
Kinanti merebut botol itu dari tangan Naira dengan gerakan secepat kilat. Rahangnya mengeras.
"Ini adalah vitamin untuk menjaga stamina di lapangan, Dokter. Sesuatu yang mungkin nggak kamu butuhkan karena kamu lebih sibuk mengurusi masa lalu orang lain daripada keselamatan pasien. Iya, kan?"
Kinanti lalu beralih pada Arya, matanya kini memancarkan luka yang ia tutupi dengan kemarahan profesional.
"Dan kamu Kapten Arya, penyangkalan kamu terhadap apa yang aku temukan di gudang tadi bukan hanya menghina kompetensiku sebagai perwira, tapi juga membahayakan nyawamu sendiri. Jika kamu memilih untuk lebih percaya pada bisikan yang manis daripada fakta di depan mata, maka aku juga nggak punya pilihan lain."
"Apa maksudmu, Kinanti?" tanya Arya, suaranya mulai goyah.
"Aku akan menjalankan prosedur independen," jawab Kinanti tegas. "Sebagai perwira logistik, aku punya wewenang darurat jika nyawa di posko terancam. Tanda tangani ini, atau aku akan melaporkan malpraktik manajerial kepada Kolonel sekarang juga."
Naira melangkah ke depan Arya, menghalangi pandangannya pada Kinanti.
"Arya, jangan biarkan dia mengancammu. Dia hanya cemburu. Dia ingin kamu tunduk padanya karena dia tahu kamu nggak akan pernah mencintainya."
Arya menatap kedua wanita itu. Logikanya mengatakan Kinanti benar tentang prosedur, namun hatinya yang masih merindukan kedamaian bersama Naira, merasa terpojok oleh ketegasan Kinanti yang tanpa ampun.
"Cukup, Kinanti!" bentak Arya, meski nada suaranya lebih terdengar seperti keputusasaan daripada kemarahan. "Keluar dari sini. Aku akan memeriksa gudang besok pagi. Itu perintah." Arya memberi titah
Kinanti berdiri tegak, memberi hormat yang paling kaku yang pernah Arya lihat.
"Siap, Kapten. Perintah diterima. Semoga esok pagi tidak terlambat."
Kinanti berbalik dan keluar dari tenda dengan langkah militer yang sempurna. Namun, begitu ia berada di luar, di kegelapan yang pekat, ia harus bersandar pada tiang tenda. Tangannya gemetar hebat. Ia mengeluarkan botol obat tadi, bukan vitamin, melainkan obat penghilang rasa sakit dosis tinggi untuk luka di lehernya yang mulai membengkak dan membiru akibat serangan di gudang tadi.
Ia tidak bisa menunjukkan lukanya. Jika ia menunjukkan luka itu, mereka akan menganggapnya sebagai kelemahan atau bagian dari skenario untuk menarik simpati.
Saat Kinanti hendak melangkah menuju mess-nya, ia melihat bayangan Mayor Bram masuk ke dalam tenda komunikasi rahasia di ujung perimeter. Kinanti mengikuti dengan langkah tanpa suara, ia bersembunyi di balik tumpukan drum bahan bakar.
Melalui jendela kecil yang terbuka, ia mendengar Bram berbicara.
"Biarkan dokter itu sibuk dengan wanita masa lalunya," ujar Bram dengan nada dingin. "Besok subuh, saat mereka terbangun, Plasma Phoenix sudah berada di tangan pembeli. Dan jika Letnan itu masih mencoba mencampuri urusan kita... pastikan dia tidak akan pernah bangun untuk melihat matahari Kerajaan Sumedang."
Kinanti merogoh sakunya, mencari tabletnya untuk merekam, namun sebuah moncong senjata dingin tiba-tiba menempel di belakang kepalanya.
"Kamu memang punya kebiasaan buruk untuk tidak mendengarkan peringatan, Letnan," bisik suara yang sama dengan penyerangnya di gudang.
Namun, kali ini, ada suara lain yang menyusul. Suara langkah kaki Arya yang sepertinya menyusul Kinanti karena merasa bersalah.
"Kinanti? Apa kamu ada di sana?" panggil Arya dari kegelapan.
Si penyerang menarik pelatuk senjata peredam suaranya sedikit.
"Silakan pilih, Letnan. Kamu yang mati sekarang, atau suamimu yang tamat saat dia melangkah ke sini."
Kinanti memejamkan matanya, detak nadinya berpacu dengan maut yang hanya berjarak satu inci dari otaknya.
Kinanti ada di titik bingung untuk menentukan sebuah pilihan. Sebuah pilihan yang sulit tengah menanti dan menghadangnya.