Dingin moncong senjata di tengkuk Kinanti terasa jauh lebih nyata daripada rasa sakit yang berdenyut di lehernya. Di depannya, dalam keremangan lampu perimeter posko, ia melihat bayangan Arya yang semakin mendekat. Langkah kaki pria itu terdengar ragu, seolah ada beban rasa bersalah yang menyeret kakinya untuk menyusul Kinanti setelah konfrontasi tajam di tenda medis tadi.
“Kinanti? Kamu ada di mana? Aku tahu kau belum kembali ke mess,” panggil Arya lagi.
Suaranya tidak lagi sekaku tadi, ada nada cemas yang ia coba sembunyikan di balik otoritas suaranya.
“Ayo, silakan pilih, Letnan,” bisik si penyerang di telinga Kinanti.
Napas pria itu berbau tembakau murah. “Buat dia pergi, atau peluru ini akan menembus tengkorakmu sebelum dia sempat meminta maaf.” Penyerang itu semakin menekan Kinanti.
Kinanti memejamkan matanya sejenak. Otaknya bekerja seperti mesin logistik yang ia banggakan untuk mengkalkulasi probabilitas. Jika ia berteriak, Arya akan menyerbu, dan Arya bukan petarung lapangan, dia adalah dokter bedah. Dia akan mati. Jika ia diam, ia yang akan lenyap.
Namun, loyalitas Kinanti pada tugas dan pada pria yang membencinya itu, selalu berada di atas keselamatan dirinya sendiri.
“Kapten! Mohon berhenti di situ!” teriak Kinanti, suaranya sengaja dibuat tajam dan penuh amarah yang dibuat-buat.
Langkah Arya terhenti. Ia berdiri sekitar lima meter dari tumpukan drum bahan bakar tempat Kinanti disandera.
“Kinanti? Kamu ada di mana? Kenapa bicaramu seperti itu?” teriak Arya penasaran.
“Sekali lagi jangan mendekat!” Kinanti membalas, suaranya sedikit bergetar, namun ia berhasil menutupinya dengan nada ketus.
“Saya butuh waktu buat sendiri, Kapten. Bukankah kamu lebih suka menghabiskan waktumu dengan Dokter Naira? Pergilah, temani dia! Mohon jangan ganggu aku dengan sisa-sisa rasa kasihanmu!” Kinanti berucap seperti orang yang benar-benar memohon.
Arya terdiam di kegelapan. Ia tidak bisa melihat Kinanti yang tersembunyi di balik bayang-bayang drum, namun kata-kata itu menghantamnya tepat di ulu hati. Ada keheningan panjang yang menyiksa. Arya merasa seolah ia sedang dihukum, dan anehnya, ia merasa ia pantas mendapatkannya.
“Aku nggak datang karena rasa kasihan, Kinanti” ujar Arya pelan, hampir bergumam pada dirinya sendiri. “Aku hanya ingin memastikan... bahwa kamu benar soal Plasma Phoenix itu. Aku akan mengecek gudang sekarang juga.”
Si penyerang mengencangkan tekanannya pada senjata di kepala Kinanti. Kinanti tahu, jika Arya pergi ke gudang, dia akan menemukan bukti sabotase dan para penjaga Bram akan menghabisinya di sana.
“Nggak perlu, Kapten!” potong Kinanti cepat. “Aku yang salah. Aku hanya... Aku hanya cemburu aja kok, kayak yang dibilang oleh Dokter Naira. Phoenix ada di sana, aku hanya salah menghitung karena kelelahan. Sebaiknya Kapten pergi ke mess. Beristirahatlah dantidurlah. Sebaiknya kita bicarakan masalah ini besok.”
Ada jeda yang lama. Arya berdiri mematung. Pikirannya berperang. Kinanti yang ia kenal tidak pernah salah menghitung. Kinanti yang ia kenal lebih memilih mati daripada mengakui kesalahan yang tidak ia perbuat.
“Pasti ada yang salah,” batin Arya.
Naluri dokternya mendeteksi ketidakteraturan dalam frekuensi suara Kinanti.
“Baiklah kalau itu maumu,” sahut Arya akhirnya.
Ia berbalik, namun langkahnya tidak menjauh. Ia hanya bergeser ke balik bayangan tenda komunikasi, dan berpura-pura pergi.
Si penyerang mendesah lega. “Pilihan yang cerdas, Letnan. Sekarang, kamu ikut kami ke sektor luar. Kita punya urusan yang belum selesai.”
Kinanti diseret menjauh dari area utama posko, menuju kegelapan hutan di belakang perimeter. Namun, saat mereka baru melangkah beberapa meter, sebuah bayangan menerjang dari samping.
Sekelebat bayangan itu adalah Arya. Pria itu tidak pergi. Ia menggunakan kegelapan dan pengetahuannya tentang tata letak posko untuk memutar. Arya menerjang si penyerang dengan sebuah tabung oksigen kecil yang ia ambil dari tenda medis terdekat.
Brakk!
Tabung itu menghantam bahu si penyerang, membuat tembakan peredam suara itu meleset dan mengenai drum bahan bakar di dekat mereka. Perkelahian brutal pecah di tanah berlumpur. Arya, yang biasanya memegang pisau bedah dengan presisi, kini memukul dengan amarah yang buta.
“Cepat lari, Kinanti! Lari!” teriak Arya di sela-sela pergulatannya.
Namun, Kinanti tidak lari. Ia merogoh saku taktisnya, mengambil obat penghilang rasa sakit dosis tinggi yang tadi ia bawa, dan tanpa ragu menusukkan jarum suntik otomatisnya ke paha si penyerang yang sedang menindih Arya. Cairan itu bekerja instan, membuat saraf motorik pria itu lumpuh dalam hitungan detik.
Si penyerang ambruk. Arya terengah-engah, seragam medisnya kotor oleh lumpur dan darah. Ia menatap Kinanti dengan mata membelalak, napasnya memburu.
“Kamu... kamu hampir saja terbunuh, Kinanti” bisik Arya.
Ia mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh bahu Kinanti. Kali ini, sentuhannya bukan bagian dari protokol.
Kinanti mencoba berdiri tegak, namun luka di lehernya yang membengkak membuatnya goyah. Arya menangkapnya tepat sebelum ia jatuh. Tangan Arya secara tidak sengaja menyentuh kerah baju Kinanti, menyingkap kain yang menutupi luka membiru bekas cekikan dan sayatan kecil di sana.
Arya membeku. Dunia seolah berhenti berputar.
“Sejak kapan, Kinanti?” suaranya pecah.
“Sejak kapan kamu terluka seperti ini?”
Kinanti mencoba menarik diri, namun Arya menahannya dengan lembut namun posesif.
“Di gudang tadi, Arya. Saat kamu sedang bernostalgia dengan Naira, seseorang mencoba membunuhku untuk menutup mulutku soal Phoenix.”
Rasa bersalah yang menghantam Arya terasa lebih menyakitkan daripada pukulan si penyerang tadi. Ia menatap luka itu, lalu menatap wajah Kinanti yang pucat namun tetap tegar. Ia menyadari satu hal yang selama ini ia sangkal. Kinanti adalah satu-satunya orang yang benar-benar menjaga punggungnya, sementara ia sibuk mengejar bayangan masa lalunya yang nyaman.
“Maafkan aku, Kinanti” bisik Arya.
Ia menarik Kinanti ke dalam pelukannya, sebuah pelukan yang nyata, tanpa kontrak, tanpa sandiwara. Kinanti yang awalnya menegang, namun perlahan kepalanya bersandar di d**a Arya. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu yang liar, sama liarnya dengan miliknya.
“Nggak perlu meminta maaf, Arya” sahut Kinanti parau. “Tugasku adalah memastikan bahwa kanu selamat.”
“Berhenti bicara soal tugas, Kinantu!” Arya membentak pelan, namun nadanya penuh dengan luka. “Bisakah kamu bicara sebagai istriku sekali saja? Bukan sebagai Letnan?”
Kinanti mendongak, matanya bertemu dengan mata Arya. Untuk sesaat, topeng mereka runtuh. Di sana, di tengah kegelapan hutan Kerajaan Sumedang, mereka bukan lagi perwira militer yang terikat kontrak. Mereka hanyalah dua jiwa yang terluka dan saling membutuhkan.
Namun, momen itu hancur saat lampu sorot dari arah tenda komando tiba-tiba menyala terang ke arah mereka.
“Kapten Arya! Letnan Kinanti! Apa yang terjadi di sana?” suara Mayor Bram terdengar menggelegar melalui pengeras suara posko.
Dari kegelapan di belakang Bram, muncul Dokter Naira dengan wajah cemas yang dibuat-buat, namun matanya menatap tajam ke arah tangan Arya yang masih melingkar di pinggang Kinanti.
“Kami mendengar suara gaduh!” teriak Bram.
Puluhan prajurit mulai mengepung posisi mereka dengan senjata terkokang.
Kinanti melirik ke arah si penyerang yang lumpuh di bawah kaki mereka. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Pria bertopeng itu mengenakan tanda pangkat yang sama dengan tim keamanan pribadi Mayor Bram.
“Arya,” bisik Kinanti, suaranya kembali ke mode tempur. “Jangan lepaskan aku! Apapun yang mereka katakan, jangan biarkan mereka membawaku ke tenda medis Naira. Mereka akan menghapus jejaknya di sana.”
Arya mempererat pelukannya, menatap ke arah kerumunan prajurit yang mendekat. Ia melihat senyum tipis di wajah Mayor Bram dan kilat kebencian di mata Naira.
“Mereka nggak akan menyentuhmu,” janji Arya, suaranya kembali stabil dan dingin. Ia meraih pistol yang terjatuh dari tangan si penyerang, mengarahkannya ke arah kerumunan itu. “Kapten Arya ada di sini! Ada pengkhianat di dalam posko, dan aku tidak akan membiarkan siapapun mendekati istriku sampai Kolonel Wirawan hadir di sini!”
Tepat saat itu, alarm posko berbunyi nyaring. Bukan alarm serangan luar, melainkan alarm pelanggaran protokol medis.
“Lihat itu!” teriak Naira sambil menunjuk ke arah tablet digital yang dipegang salah satu prajurit.
“Letnan Kinanti baru saja menyuntikkan obat dosis tinggi yang hilang dari stok tanpa izin! Dia mencoba membunuh prajurit keamanan kita untuk menutupi kesalahan logistiknya!”
Kinanti menatap Arya. Perangkap telah dipasang sempurna. Sekarang, Arya harus memilih. Percaya pada bukti medis yang telah dimanipulasi oleh Naira dan Bram, atau percaya pada wanita yang baru saja ia peluk di kegelapan.
Pelatuk senjata Mayor Bram berbunyi. "Letnan Kinanti, atas perintah darurat keamanan, Anda ditahan atas tuduhan sabotase dan percobaan pembunuhan. Kapten Arya, menjauhlah dari tersangka, atau Anda akan dianggap sebagai kaki tangan."
Arya tidak bergeming. Ia justru melepaskan pengaman senjata di tangannya.
"Cobalah kalau kamu berani, Mayor!" tantang Arya.
Di ujung koridor penglihatan mereka, Kinanti melihat sebuah truk logistik Phoenix yang seharusnya hilang tiba-tiba meluncur keluar gerbang tanpa lampu. Pengkhianatan itu sedang terjadi sekarang, di depan mata mereka semua.