Suasana di perimeter belakang posko mendingin seketika. Sorot lampu yang menyilaukan menciptakan bayangan panjang yang tampak mengancam. Arya Satya Mahendra masih berdiri kokoh, tangannya melingkar di bahu Kinanti, melindunginya dari tatapan penuh tuduhan yang dilemparkan oleh Mayor Bram dan Dokter Naira.
"Arya, lepasin dia," suara Naira terdengar bergetar, aktingnya sebagai wanita yang cemas tampak begitu meyakinkan di bawah lampu sorot.
"Kamu lihat sendiri kan, apa yang dia lakukan. Dia menyuntikkan zat berbahaya pada prajurit itu. Kinanti itu nggak stabil, Arya. Skandal di masa lalu itu... mungkin karena dia memang punya masalah mental."
Kinanti merasakan tubuhnya sedikit goyah, efek obat dosis tinggi yang ia minum tadi mulai membuat kepalanya berputar. Namun, ia merasa sebuah tarikan lembut di bahunya. Arya tidak melepaskannya. Sebaliknya, pria itu justru merapatkan posisi mereka.
"Dia bukan nggak stabil, Naira," suara Arya terdengar tenang, sebuah ketenangan yang mematikan. "Dia terluka. Dan dia melakukan apa yang harus dilakukan seorang perwira untuk melindungiku."
Mayor Bram melangkah maju, tangannya bertumpu pada sarung pistolnya.
"Kapten Arya, jangan biarkan perasaan pribadimu mengaburkan sumpah medis dan militer kanu. Tablet ini tidak berbohong. Ada laporan otorisasi obat ilegal atas nama Letnan Kinanti sepuluh menit yang lalu."
Arya menatap Bram. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Bram sebagai rekan senior yang ramah, melainkan sebagai predator yang sedang mengintai. Namun, Arya tidak langsung menuduh. Ia tahu di posko ini, bukti adalah segalanya.
"Jika dia memang bersalah, Mayor," Arya memulai, suaranya berat dan penuh wibawa, "Maka biarkan saya yang memeriksanya secara medis. Saya suaminya, dan saya perwira medis senior di sini. Protokol mengatakan tersangka harus diisolasi di bawah pengawasan medis jika ada indikasi gangguan zat. Saya akan membawanya ke mess perwira, bukan ke sel."
"Itu melanggar prosedur keamanan!" gertak Bram.
"Dan membiarkan seorang perwira logistik yang tahu terlalu banyak soal hilangnya Plasma Phoenix diseret ke sel gelap tanpa pemeriksaan adalah pelanggaran kemanusiaan," balas Arya tajam.
Kinanti mendongak, menatap profil samping wajah Arya. Di tengah penolakan yang ia terima selama ini, di tengah kebencian yang Arya tanamkan pada setiap kata-katanya di pesawat tadi, pria ini sekarang memilih untuk berdiri di depannya. Arya memilih untuk percaya pada apa yang ia rasakan di kegelapan tadi, bukan pada bukti yang disodorkan Naira.
"Percayalah padaku sekali ini saja," bisik Kinanti parau di d**a Arya.
Arya menunduk, matanya bertemu dengan mata Kinanti. Untuk sesaat, tidak ada Naira, tidak ada Bram, dan tidak ada konspirasi.
"Aku sudah mulai melakukannya sejak kamu berteriak menyuruhku pergi tadi, Nan," jawab Arya pelan.
Ia menggunakan panggilan pendek yang belum pernah ia gunakan sebelumnya.
Dengan otoritas yang tersisa, Arya menuntun Kinanti melewati kerumunan prajurit. Bram tampak ingin meledak, namun kehadiran beberapa prajurit medis yang mulai berbisik-bisik membuat Mayor itu tertahan. Ia tidak bisa membuat keributan lebih besar tanpa memancing kecurigaan Kolonel Wirawan yang saat ini sedang berada di pos pantau jarak jauh.
Begitu sampai di mess perwira yang sempit, Arya segera mengunci pintu. Ia membantu Kinanti duduk di tepi ranjang. Suasana yang biasanya canggung kini terasa penuh dengan urgensi yang intim.
Arya segera mengambil kotak P3K miliknya. Dengan gerakan yang sangat lembut, gerakan yang biasanya ia simpan untuk pasien paling kritis, ia mulai membersihkan luka di leher Kinanti.
"Maafkan aku, Nan" ujar Arya lagi. Kali ini suaranya pecah. "Aku seharusnya nggak membiarkan Naira bicara seperti itu di tenda tadi. Aku terlalu buta untuk melihat bahwa kamu sedang mencoba menyelamatkan nyawaku."
Kinanti meringis saat cairan antiseptik menyentuh lukanya, namun ia menggeleng.
"Aku tahu kamu hanya mencari kenyamanan, Arya. Aku mengerti, kok. Naira adalah bagian dari masa lalumu yang kamu cintai. Sementara aky hanya... bagian dari kontrak yang kamu benci."
Arya berhenti bergerak. Ia meletakkan kapasnya dan menangkup wajah Kinanti dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap pipi Kinanti yang pucat.
"Persetan dengan kontrak itu. Nan, dengarkan aku dulu. Di hutan tadi, saat kamu menyuruhku pergi agar aku nggak tertembak... itu bukan tugas. Itu sesuatu yang lain. Dan aku bodoh kalau masih menyangkalnya."
Kinanti menatap Arya, mencari kebohongan di mata itu, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang menyakitkan.
"Tapi mereka akan menghancurkan kita. Bram punya sistem. Naira punya hati kamu. Lalu apa yang aku punya?"
Arya tersenyum kecil, senyum tulus pertama yang Kinanti lihat sejak mereka mendarat.
"Nggak usah khawatir! Kamu punya aku. Dan aku punya fakta yang baru saja kusadari."
Arya berdiri dan mengambil ponsel miliknya yang sempat tertinggal di atas meja. Ia menunjukkan sebuah rekaman singkat.
"Saat aku mencarimu tadi, aku sempat melewati tenda komunikasi. Aku nggak merekam pembicaraan mereka, tapi aku melihat truk logistik itu bergerak tanpa izin. Aku sudah mengirimkan sinyal pelacak ke unit kavaleri di luar posko tanpa sepengetahuan Bram."
Kinanti tertegun. "Kamu... Kamu melakukan semua itu?"
"Aku dokter, Nan. Tugasku adalah mengamati detail terkecil untuk menemukan penyakit. Dan Bram adalah kanker di posko ini," ujar Arya tegas.
Ia kembali duduk di samping Kinanti, menarik tangan wanita itu ke dalam genggamannya. Ada momen ketenangan yang langka di antara mereka. Kinanti merasakan kehangatan yang menjalar, sebuah perasaan aman yang tidak pernah ia sangka akan datang dari pria yang memaksanya tidur di sofa apartemen selama berminggu-minggu.
"Kita harus keluar dari sini sebelum subuh," bisik Kinanti. "Bram nggak akan membiarkan kita hidup setelah truk itu sampai di tujuan."
"Aku tahu," sahut Arya. Ia mendekat, dahinya bersandar di dahi Kinanti. "Tapi kita akan melakukannya bersama. Bukan sebagai Letnan dan Kapten. Tapi sebagai... kita."
Momen itu terasa begitu sempurna, sampai sebuah ketukan keras terdengar di pintu. Bukan ketukan prajurit, melainkan ketukan yang teratur dan lembut.
Suara Naira terdengar dari balik pintu. "Arya? Aku tahu kamu ada di dalam. Aku membawa berkas medis yang membuktikan Letnan Kinanti telah memanipulasi data pribadinya sendiri. Buka pintunya, Arya. Ini demi kebaikanmu. Dia bukan siapa yang kamu kira."
Kinanti menatap Arya, ketakutan kembali merayap di hatinya. Apakah Arya akan goyah lagi?
Arya tidak berdiri. Ia justru merangkul pinggang Kinanti lebih erat.
"Biarkan saja dia bicara, Nan. Dia nggak tahu kalau aku sudah memegang kunci yang sebenarnya."
Namun, tiba-tiba listrik di mess padam total. Suara sirine tanda serangan udara atau infiltrasi musuh meraung keras di seluruh posko.
"Serangan!" teriak suara-suara di luar.
Arya segera berdiri, menarik Kinanti ke belakang punggungnya. Melalui celah jendela, ia melihat kegelapan posko kini dihiasi oleh api yang berkobar dari arah gudang logistik.
"Bram melakukan scorched earth," bisik Kinanti ngeri. "Dia membakar bukti dan akan menyalahkan serangan musuh atas hilangnya kita."
Pintu mess tiba-tiba didobrak paksa dari luar. Namun, yang masuk bukan Bram, melainkan seorang prajurit muda yang bersimbah darah.
"Kapten... Letnan... Cepat lari," rintih prajurit itu. "Mayor Bram... dia bukan menyerang musuh... dia menyerang kita semua."
Di belakang prajurit itu, siluet Naira berdiri di kegelapan koridor, memegang sebuah alat picu peledak kecil di tangannya. Ia tidak lagi tampak seperti dokter yang lembut. Ia tampak seperti malaikat maut yang baru saja kehilangan akal sehatnya.
"Jika aku enggak bisa memilikimu di dunia yang fana ini, Arya," suara Naira terdengar dingin dan bergema di koridor yang gelap, "Maka biarin kau mati sebagai pahlawan bersama istri kontrakmu yang malang ini."
Naira menekan tombol itu.
Ledakan besar menghantam bagian depan mess perwira.