Debu semen dan serpihan kayu memenuhi udara, menciptakan kabut putih yang menyesakkan di koridor mess perwira. Telinga Arya berdenging hebat, sisa dari dentum ledakan yang baru saja menghancurkan fasad depan bangunan. Di tengah kegelapan dan kepulan asap, insting pertamanya bukan lagi mencari jalan keluar, melainkan memastikan berat tubuh yang ia dekap masih bernapas.
"Kinanti? Kinanti, ayok bicara padaku! Jangan diam aja!" suara Arya begitu serak, dipenuhi kepanikan yang tidak pernah ia tunjukkan di ruang operasi mana pun.
Ia merasakan gerakan lemah di pelukannya. Kinanti terbatuk, mencoba menghirup udara yang kotor dan berdebu.
"Aku... Aku nggak apa-apa, Kapten. Aku cuma sedikit pening."
Arya menghembuskan napas lega yang begitu panjang. Ia membantu Kinanti duduk di lantai yang tertutup puing. Meski lampu padam, cahaya dari api yang mulai berkobar di luar memberikan pendar oranye yang cukup bagi Arya untuk memeriksa wajah istrinya. Ia menggunakan jemarinya untuk menyeka debu dari kening Kinanti dengan gerakan yang sangat berhati-hati, hampir seperti membelai porselen retak.
"Kamu bisa berdiri, Kinanti?" tanya Arya lembut.
Kinanti mengangguk, namun saat mencoba bertumpu pada kaki kirinya, ia meringis kecil, menandakan rasa sakit. Arya segera menopang pinggangnya.
"Jangan dipaksakan, Kinanti! Kamu terbentur lemari tadi."
"Kita harus pergi, Arya," bisik Kinanti, matanya menatap pintu yang kini hanya berupa lubang menganga. "Naira... dia menekan tombol itu. Dia benar-benar melakukannya."
Arya terdiam sejenak. Ada luka yang dalam di matanya saat mendengar nama itu, namun luka itu bukan lagi karena rindu, melainkan karena pengkhianatan terhadap citra wanita yang selama ini ia puja. Namun, ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam penyesalan. Ia menoleh pada Kinanti, dan untuk pertama kalinya, ada binar kepercayaan penuh di sana.
"Aku tahu itu, Kinanti. Dan aku minta maaf karena sempat ragu padamu, Nan. Sekarang, aku milikmu. Kemana sekarang kita harus bergerak?"
Mendengar kata-kata "aku milikmu" dalam konteks taktis dan emosional itu membuat jantung Kinanti berdegup lebih kencang daripada ledakan tadi. Meskipun ia tahu ia pernah ditolak berkali-kali, saat ini, ia memilih untuk percaya bahwa Arya benar-benar bersamanya.
"Kita nggak bisa keluar lewat depan. Anak buah Bram pasti menunggu untuk membereskan sisa ledakan itu," analisis Kinanti begitu cepat, otaknya kembali ke mode perwira logistik yang brilian. "Ada celah ventilasi di dapur mess yang terhubung langsung ke parit drainase di belakang. Itu rute satu-satunya yang bisa kita lewati."
Arya mengangguk. Ia meraih tas medis darurat yang untungnya masih tersampir di pundaknya sejak tadi.
"Aku bimbing untuk jalan, Letnan. Aku ada tepat di belakangmu."
Mereka bergerak merayap di antara reruntuhan. Di sebuah lorong sempit, sebuah balok kayu besar menghalangi jalan. Arya menggunakan seluruh kekuatannya untuk menggeser balok itu, memberikan ruang bagi Kinanti untuk lewat. Saat Kinanti berhasil melampauinya, ia berbalik dan mengulurkan tangannya pada Arya.
Tangan mereka bertautan, bukan sebagai paksaan kontrak, melainkan sebagai media keselamatan.
"Terima kasih, Nan," bisik Arya saat ia berhasil melewatinya.
Ia tidak melepaskan tangan Kinanti segera. Ia meremasnya lembut sesaat, seolah memberikan kekuatan.
"Kamu sangat hebat dalam situasi seperti ini. Bagaimana kamu tetap bisa setenang ini?"
Kinanti tersenyum tipis, sebuah senyum yang jarang terlihat.
"Dalam militer, kita dilatih untuk mengelola kekacauan. Dan dalam pernikahan kita... aku sudah terbiasa mengelola luka. Keduanya nggak jauh berbeda."
Arya tersentak pelan. "Aku akan memperbaiki yang kedua, Nan. Aku janji."
Mereka mencapai ventilasi dapur. Setelah bersusah payah merangkak keluar, mereka mendarat di parit drainase yang kotor dan basah. Namun, di sinilah mereka bisa melihat gambaran besar dari kekacauan di Posko Kerajaan Sumedang. Gudang logistik terbakar hebat, dan truk-truk bermuatan misterius mulai bergerak keluar dari perimeter dengan pengawalan ketat.
"Itu mereka," tunjuk Kinanti. "Bram sedang mengevakuasi Plasma Phoenix miliknya."
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat mendekat ke arah parit. Mereka segera bersembunyi di balik semak belukar yang rimbun. Dari tempat persembunyian, mereka melihat Mayor Bram berdiri dengan wajah murka, didampingi oleh Naira yang kini tampak pucat dan gemetar.
"Kenapa kamu harus meledakkan mess itu sekarang, Naira?!" bentak Bram.
"Seharusnya kamu menunggu mereka diinterogasi lebih dulu! Jika Arya mati, siapa yang akan menandatangani laporan klinis fiktif untuk menutupi jejak kita?"
"Aku nggak tahan melihatnya memeluk wanita itu, Mayor!" teriak Naira, suaranya melengking penuh kebencian. "Dia suamiku! Harusnya dia memelukku, bukan letnan pemungut sampah itu!"
Arya, yang mendengar itu dari balik semak, memejamkan mata rapat-rapat. Rasa jijik merayap di kulitnya. Kinanti menoleh, khawatir Arya akan meledak atau goyah. Namun, ia justru menemukan Arya sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam.
Arya mendekatkan bibirnya ke telinga Kinanti.
"Dia salah," bisiknya. "Kamu bukan pemungut sampah. Kamu adalah satu-satunya yang paling berharga yang tersisa di posko busuk ini."
Kinanti merasa matanya memanas. Meskipun situasi hidup dan mati, kata-kata Arya adalah obat yang lebih kuat dari morfin mana pun.
"Arya," bisik Kinanti pelan. "Apapun yang terjadi setelah ini, meskipun kamu memutuskan untuk meninggalkan aku setelah misi selesai... aku ingin kamu tahu bahwa aku tetap memilih untuk lebih mempercayaimu hari ini."
Arya menggeleng. "Nggak ada kata pergi setelah ini, Kinanti. Kita keluar dari sini hidup-hidup, dan kita akan membuat mereka membayar."
Tiba-tiba, ponsel satelit yang disembunyikan Kinanti di sol sepatunya bergetar. Ia segera mengambilnya. Sebuah pesan masuk dari unit kavaleri yang dihubungi Arya sebelumnya.
Sinyal pelacak terdeteksi. Unit kavaleri 10 menit dari lokasi. Siapkan perimeter aman.
"Mereka datang," ujar Arya penuh harapan.
Namun, kegembiraan mereka terhenti saat seorang prajurit bawahan Bram berteriak dari kejauhan.
"Mayor! Ada jejak kaki di drainase! Seseorang keluar dari mess!"
Bram segera mengarahkan senjatanya ke arah parit.
"Sisir area itu! Jangan biarkan mereka mencapai perimeter luar!"
Arya dan Kinanti saling pandang. Mereka terjepit antara parit yang buntu dan pasukan Bram yang mulai menyebar.
"Kamu punya rencana, Letnan?" tanya Arya, sambil mengokang pistol yang ia ambil dari penjaga tadi.
Kinanti melihat ke arah tangki bahan bakar cadangan yang berada tak jauh dari posisi Bram berdiri. Sebuah ide gila muncul di kepalanya, sebuah risiko logistik yang bisa meledakkan segalanya atau menyelamatkan mereka.
"Aku punya rencana, Kapten," ujar Kinanti tegas. "Tapi ini akan sangat berbahaya bagi kamu, Dokter. Kamu harus percaya pada bidikanku."
Arya tersenyum, kali ini dengan kepercayaan mutlak yang tak tergoyahkan.
"Aku sudah memberikan nadi dan jantungku padamu sejak ledakan tadi, Nan. Tembak saja."
Kinanti membidik tangki bahan bakar tersebut. Ia menarik napas panjang, mengunci sasarannya di tengah kegelapan, sementara langkah kaki prajurit Bram semakin mendekat. Di saat itulah, Kinanti menyadari bahwa pernikahan kontrak ini mungkin memang tidak dimulai dengan cinta, tapi di tengah desingan peluru dan aroma mesiu, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih kuat, sebuah kemitraan jiwa yang tidak akan pernah bisa dirobek oleh kontrak mana pun.
Klik.
Pemicu pun ditarik.