Bab 7. Antara Luka dan Kepercayaan

1136 Words
Asap hitam masih membumbung dari sisa-sisa ledakan di mess perwira. Di tengah hiruk-pikuk sirene dan kepanikan prajurit yang berlarian, Arya menarik Kinanti masuk ke dalam sebuah gudang logistik medis yang belum terjamah api. Ia menendang pintu hingga tertutup rapat, mengunci mereka dalam keheningan yang menyesakkan, hanya ditemani cahaya remang dari senter kecil di saku seragamnya. Arya tidak segera melepaskan pegangannya. Ia mencengkeram bahu Kinanti, matanya menyisir setiap inci tubuh istrinya dengan intensitas yang hampir menyakitkan. "Kamu berdarah, Kinanti," bisik Arya, suaranya parau. Ia menyentuh pelipis Kinanti yang tergores serpihan kaca. Kinanti mencoba mengelak, insting militernya untuk selalu terlihat kuat tetap mendominasi. "Ini hanya goresan kecil, Kapten. Kita harus keluar dari sini. Mayor Bram akan menyisir gudang ini dalam hitungan menit." "Diamlah, Kinanti," potong Arya. Kali ini bukan nada perintah seorang atasan, melainkan nada seorang pria yang sedang menahan rasa takut yang luar biasa. "Biarkan aku menjadi doktermu, setidaknya untuk semenit ini." Arya mendudukkan Kinanti di atas tumpukan peti kayu. Ia mengeluarkan perlengkapan medis darurat dari tasnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada seorang ahli bedah saraf sepertinya, ia mulai membersihkan luka di wajah Kinanti. Jarak mereka begitu dekat. Kinanti bisa merasakan napas Arya yang masih memburu di pipinya. Ia menatap mata Arya, di sana tidak ada lagi kebencian dingin yang ia temui di pesawat, tidak ada lagi bayangan Naira yang ia puja. Yang ada hanyalah penyesalan yang mendalam. "Kenapa kamu melakukannya?" tanya Arya tiba-tiba, suaranya nyaris seperti bisikan. "Kenapa kamu tetap melindungiku setelah semua yang kukatakan padamu? Aku menolakmu, Nan. Aku menghinamu di depan Naira. Aku meragukan akal sehatmu." Kinanti menatap Arya lurus-lurus. Meskipun rasa perih di pelipisnya terasa menusuk, hatinya terasa lebih tenang sekarang. "Karena kamu adalah misiku, Kapten. Dan di luar kontrak itu... karena aku tahu siapa kamu sebenarnya di balik semua topeng kemarahan itu." Arya berhenti mengoleskan salep. Ia menatap Kinanti dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu lebih mengenalku daripada aku mengenal diriku sendiri, ya?" "Seorang perwira logistik harus memahami setiap detail, termasuk detail manusia yang menjadi tanggung jawabnya," jawab Kinanti dengan senyum tipis yang tulus. "Meskipun manusia itu terkadang sangat menyebalkan." Kinanti melanjutkan ucapannya. Arya tertawa pendek, tawa yang terdengar getir namun melegakan. Untuk pertama kalinya, atmosfir di antara mereka tidak lagi terasa seperti medan perang. Ada kehangatan kecil yang mulai tumbuh di tengah puing-puing Kerajaan Sumedang. "Naira... dia benar-benar orang yang berbeda sekarang," ujar Arya, seolah mengakui kekalahannya pada realita. "Dia menekan tombol itu, Nan. Aku melihatnya dengan mataku sendiri. Wanita yang kucintai dulu nggak akan mungkin melakukan itu." "Orang bisa berubah di bawah tekanan, Arya. Atau mungkin, tekanan hanya menunjukkan siapa mereka sebenarnya," sahut Kinanti lembut. Ia memberanikan diri menyentuh punggung tangan Arya yang masih memegang kapas. "Sekarang kamu sudah tahu siapa yang berdiri di samping kamu. Bukan bayangan masa lalu, tapi orang yang nyata." Arya membalikkan tangannya, kini jemarinya menggenggam erat tangan Kinanti. "Aku sudah membuat kesalahan besar. Aku membiarkan mereka memfitnahmu hanya karena aku ingin percaya pada sebuah ilusi." Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar di luar gudang. Lampu senter menyapu celah di bawah pintu. "Kapten Arya! Letnan Kinanti! Keluar sekarang juga!" suara Mayor Bram menggelegar, penuh ancaman yang dibungkus dengan nada otoritas. "Kami tahu kalian ada di dalam. Jangan memperumit situasi dengan tuduhan yang tidak berdasar." Kinanti segera berdiri, insting tempurnya kembali tajam. Ia merogoh saku taktisnya dan mengeluarkan sebuah drive kecil yang berhasil ia selamatkan sebelum ledakan. "Ini buktinya, Arya," bisik Kinanti. "Semua transaksi gelap Bram dengan Geng Serigala Hitam ada di sini. Jika mereka menangkap kita sekarang, data ini akan musnah." Arya menatap pintu, lalu menatap Kinanti. Ia menyadari bahwa Bram tidak bertindak sendirian. Naira ada di sana, kemungkinan besar sebagai pemegang kendali emosional untuk memastikan Arya tetap bungkam. "Berikan padaku," ujar Arya. Kinanti ragu sejenak. "Jika mereka menemukan ini ada padamu, riwayatmu akan tamat." "Mereka nggak mungkin menggeledahku secepat itu. Aku masih punya reputasi di markas pusat," Arya mengambil drive itu dan menyembunyikannya di dalam jam tangan militernya yang memiliki kompartemen rahasia. "Sekarang, dengarkan aku. Aku akan keluar lebih dulu. Aku akan mengalihkan perhatian Bram dan Naira. Kamu coba cari jalan lewat ventilasi udara di belakang gudang ini. Kamu harus sampai ke titik komunikasi di sektor barat." "Nggak, Arya! Itu terlalu berbahaya!" Arya memegang kedua pipi Kinanti, memaksanya untuk menatapnya. "Nan, dengarkan aku. Kamu pernah bilang kamu mempercayaiku meskipun aku menolakmu. Sekarang, giliranku. Aku percaya padamu lebih dari siapapun di tempat ini. Pergilah. Selamatkan data itu. Dan selamatkan kita." Momen itu terasa begitu sakral. Pengakuan kepercayaan dari Arya adalah kemenangan terbesar bagi Kinanti, jauh lebih berharga daripada tanda jasa militer mana pun. "Aku akan kembali untukmu," janji Kinanti. Arya tersenyum, sebuah senyum yang penuh dengan keyakinan yang baru ditemukan. "Aku tahu kamu akan kembali. Kamu selalu melakukannya." Arya berbalik, merapikan seragamnya yang kotor, dan membuka pintu gudang dengan gerakan tenang. Cahaya lampu sorot langsung menghantam wajahnya. "Mayor Bram," sapa Arya dengan nada yang sangat formal dan dingin. "Ada apa dengan keributan ini? Istri saya sedang trauma berat akibat ledakan yang disebabkan oleh sabotase di mess kami." Di belakang Bram, Naira berdiri dengan wajah pucat, tangannya masih gemetar. "Arya! Syukurlah kamu selamat! Mana Kinanti? Dia harus diperiksa, dia sangat nggak stabil!" Arya menatap Naira dengan tatapan yang membuat wanita itu mundur satu langkah. Tatapan itu adalah tatapan seorang pria yang baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang. "Dia nggak ada di sini, Naira. Dan jika aku jadi kamu, aku akan lebih mengkhawatirkan stabilitas diriku sendiri." Bram mendengus, matanya menyipit curiga. "Geledah cepat gudang ini! Sekarang juga!" Saat para prajurit menyerbu masuk ke dalam gudang, Kinanti sudah menghilang di kegelapan saluran ventilasi. Ia merayap dengan d**a yang berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena harapan. Arya telah memilihnya. Arya telah menaruh nyawanya di tangan Kinanti. Di bawah, ia bisa mendengar suara Bram yang mulai marah karena tidak menemukan Kinanti. Namun, ia juga mendengar suara Arya yang tetap tenang, berdebat secara hukum dan medis, mengulur waktu demi waktu. Kinanti mencapai ujung ventilasi yang keluar di dekat tangki air raksasa. Ia melompat turun dengan senyap. Namun, saat ia hendak berlari menuju sektor barat, ia melihat sesuatu yang membuatnya membeku. Di bawah sinar bulan yang pucat, ia melihat truk-truk logistik yang seharusnya membawa bantuan medis sedang diisi dengan peti-peti kayu berlogo Phoenix. Dan yang berdiri di sana, memberikan instruksi terakhir kepada orang-orang Geng Serigala Hitam, bukan Mayor Bram. Melainkan sosok yang selama ini dianggap Arya sebagai korban paling suci dalam konflik ini. Naira. Wanita itu sedang memegang manifes pengiriman, wajahnya tidak lagi menunjukkan kecemasan, melainkan ketegasan seorang pemimpin yang sedang mengamankan asetnya. Kinanti tersadar. Bram hanyalah ototnya. Naira adalah otaknya. Dan Arya... Arya adalah pelindung yang sengaja ia ciptakan agar tidak ada yang berani menyentuh posko ini. Kinanti menggenggam drive di jam tangannya. Kebenaran ini akan menghancurkan Arya, tapi ia harus melakukannya. Demi Kerajaan Sumedang, dan demi pria yang baru saja mulai mencintainya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD