Malam di Kerajaan Sumedang terasa lebih mencekam setelah ledakan itu. Api yang melahap gudang logistik mulai meredup, menyisakan kerangka kayu yang menghitam dan bau menyengat dari bahan kimia medis yang terbakar. Di sebuah sudut tersembunyi di balik tangki air raksasa, Arya menarik Kinanti ke dalam kegelapan yang lebih pekat. Napas mereka berdua memburu, menciptakan uap tipis di udara malam yang dingin.
Arya tidak melepaskan tangan Kinanti. Genggamannya begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, ia akan tenggelam dalam pusaran kenyataan pahit yang baru saja ia saksikan. Penglihatan tentang Naira, sosok yang ia anggap sebagai malaikat pelindungnya selama bertahun-tahun, berdiri dengan dingin di tengah transaksi gelap, telah meruntuhkan seluruh fondasi kewarasan Arya.
"Arya, lepaskan tanganku. Kamu telah menyakitiku," bisik Kinanti pelan.
Arya tersentak, segera melonggarkan genggamannya namun tidak benar-benar menjauh. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar hebat di bawah cahaya bulan yang pucat.
"Dia... dia benar-benar ada di sana, Nan. Naira bukan korban. Dia adalah bagian dari mereka."
Suara Arya pecah. Suaranya bukan lagi suara Kapten Bedah Militer yang angkuh, tapi suaranya berubah menjadi suara seorang pria yang dunianya baru saja kiamat.
Kinanti memperhatikan Arya. Ada dorongan dalam dirinya untuk mengatakan "sudah kubilang", namun saat melihat bahu Arya yang biasanya tegak kini merosot jatuh, yang ia rasakan hanyalah empati yang mendalam. Ia melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. Secara perlahan, Kinanti meletakkan tangannya di atas tangan Arya yang bergetar.
"Coba lihat aku, Arya," ujar Kinanti dengan nada yang sangat lembut, jauh dari nada militer biasanya.
Arya mendongak. Matanya merah dan basah.
"Dunia ini nggak akan berakhir hanya karena satu ilusi yang runtuh," lanjut Kinanti.
"Naira mungkin adalah masa lalumu yang indah, tapi dia bukan masa depan yang harus kamu bela mati-matian. Sekarang kamu punya fakta. Dan fakta adalah senjata terbaik seorang prajurit." Kinanti melanjutkan ucapannya.
Arya menatap Kinanti lama sekali. Di tengah kehancurannya, ia baru menyadari betapa kuatnya wanita yang selama ini ia abaikan.
"Kenapa kamu masih di sini, Kinanti? Setelah semua penolakan itu... setelah aku lebih memilih memercayai kebohongan Naira daripada kebenaranmu, kenapa kamu nggak membiarkan saja aku terjebak dalam perangkap mereka?"
Kinanti tersenyum tipis. Ia merapikan kerah baju Arya yang kotor terkena abu ledakan.
"Karena meskipun Kapten Arya Satya Mahendra adalah pria yang keras kepala, namun suamiku ini adalah orang baik yang layak untuk diselamatkan. Dan aku memilih untuk mempercayai kebaikan itu, meskipun pemiliknya berkali-kali menolakku."
Kata-kata itu menghantam Arya lebih keras daripada ledakan mess tadi. Kepercayaan Kinanti yang tanpa syarat di tengah pengabaiannya membuat Arya merasa sangat kecil sekaligus sangat terlindungi. Tanpa sadar, Arya menundukkan kepalanya, menyandarkannya di bahu Kinanti. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya menjadi rapuh di hadapan wanita ini.
"Maafkan aku, Nan. Benar-benar maafkan aku," gumam Arya parau.
Kinanti tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengusap punggung Arya dengan gerakan menenangkan, memberikan dukungan emosional yang selama ini Arya cari di tempat yang salah. Selama beberapa saat, mereka hanya berdiri di sana, menjadi saksi bisu bagi satu sama lain di tengah kekacauan posko.
Namun, ketenangan itu terusik oleh suara derap sepatu bot yang mendekat. Kinanti segera menarik Arya untuk merapat ke dinding tangki.
"Mereka sedang menyisir area ini. Kita harus bergerak ke sektor barat menuju titik komunikasi sebelum Naira atau Bram menyadari bahwa kamu nggak benar-benar terluka dalam ledakan itu," bisik Kinanti, kembali ke mode taktisnya.
Arya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kekuatannya.
"Tunggu dulu. Sebelum kita pergi, ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Naira... dia memiliki kode akses ke tempat penyimpanan logistik bawah tanah. Jika dia tahu kamu memegang drive itu, dia akan mencoba menghapus semua data di pusat lewat terminal di sana."
"Apa kamu tahu jalannya?" tanya Kinanti.
Arya mengangguk. "Itu adalah bagian dari protokol medis darurat. Aku pernah diajaknya ke sana untuk meninjau stok obat langka. Sekarang aku sadar, dia hanya ingin tahu seberapa besar kontrol yang bisa ia dapatkan dariku."
"Kalau begitu kita harus bagi tugas," ujar Kinanti cepat. "Aku akan mencoba menembus perimeter luar untuk mengirim sinyal satelit ke kavaleri. Dan kamu, masuklah ke tempat penyimpanan logistik itu. Kamu harus mengunci akses Naira dari dalam. Apakah kamu bisa melakukannya? Menghadapi dia sendirian?"
Arya menatap Kinanti, dia ragu sejenak, namun kemudian matanya berkilat penuh tekad.
"Aku nggak akan goyah lagi, Nan. Jika aku menemukannya di sana, aku akan menghadapinya sebagai perwira, bukan sebagai pecundang yang merindu."
Kinanti menyerahkan sebuah pisau taktis dari sabuknya kepada Arya.
"Gunakan ini jika terdesak. Dan Arya... jangan mati."
Arya menerima pisau itu, merasakan kehangatan dari pegangan yang baru saja dilepaskan Kinanti. Ia menarik tangan Kinanti, mengecup punggung tangannya dengan cepat, sebuah gestur spontan yang membuat Kinanti terpaku sejenak.
"Aku akan kembali padamu, Nan. Kali ini, aku yang akan memegang janjinya," janji Arya.
Mereka berpisah di tengah kegelapan. Kinanti bergerak seperti bayangan di antara barisan tenda, sementara Arya menyelinap menuju pintu masuk penyimpanan logistik yang tersembunyi di bawah reruntuhan klinik.
Saat Arya mencapai pintu penyimpanan, ia melihat bayangan seseorang baru saja masuk. Sebuah bayangan yang familiar, Naira. Ia bergerak dengan tenang, seolah-olah ledakan di luar hanyalah gangguan kecil. Arya mengikuti dengan langkah tanpa suara, hatinya mendingin setiap kali ia melihat punggung wanita yang dulu ia cintai itu.
Di dalam penyimpanan logistik, Naira sedang sibuk di depan konsol komputer pusat. Cahaya biru dari layar menyinari wajahnya, membuatnya tampak seperti patung es yang cantik namun mematikan.
"Logistik sektor empat telah dibersihkan. Sisa stok Phoenix siap dipindahkan saat subuh," Naira berbicara melalui headset nirkabelnya. "Dan soal Arya... dia seharusnya sudah menjadi sejarah bersama istrinya. Jika belum, biarkan Bram yang menyelesaikannya secara personal."
Arya berdiri di ambang pintu, tangannya menggenggam pisau taktis pemberian Kinanti. Rasa sakit di hatinya kini telah sepenuhnya menguap, digantikan oleh kedinginan yang tajam.
"Ternyata sejarah nggak semudah itu ditulis ulang, Naira," suara Arya menggema di ruangan penyimpanan logistik yang kedap suara.
Naira tersentak, berputar dengan cepat. Wajahnya menunjukkan keterkejutan selama satu detik sebelum kembali ke topeng ketenangan yang menyeramkan. Ia tersenyum, namun senyum itu tidak lagi terasa hangat bagi Arya.
"Arya? Kamu selamat? Luar biasa. Kamu memang selalu punya sembilan nyawa," ujar Naira ringan, seolah-olah mereka sedang berbincang di kafe.
"Kenapa, Nai? Kenapa kamu melakukan ini pada Kerajaan Sumedang? Pada orang-orang yang membutuhkan bantuan medis ini?" tanya Arya, melangkah maju dengan hati-hati.
Naira tertawa, tawa yang terdengar hampa. "Bantuan medis? Arya, dunia ini nggak butuh pahlawan tanpa bayaran. Geng Serigala Hitam memberikan nilai yang jauh lebih tinggi untuk Plasma Phoenix daripada yang diberikan pemerintah pusat untuk misi konyol ini. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, yaitu kesuksesan dan kekayaan."
"Dan kamu harus mengorbankan nyawa prajurit untuk itu? Kamu juga mencoba membunuh Kinanti?"
Mata Naira menyipit. "Kinanti adalah gangguan. Dia terlalu pintar untuk posisinya. Dan kamu, Arya... kamu terlalu lemah karena terlalu mencintaiku. Itu adalah kelemahanmu yang paling berguna bagiku."
Arya berhenti di depan konsol. Ia tidak merasa marah lagi. Ia merasa bebas.
"Kelemahanku sudah berakhir, Naira. Karena hari ini, aku memilih untuk mempercayai orang yang benar-benar menjagaku, bukan orang yang hanya memanfaatkan aku."
Arya bergerak cepat menuju panel kontrol darurat. Naira mencoba menghalanginya, mengeluarkan sebuah pistol kecil dari sakunya, namun Arya lebih cepat. Dengan gerakan yang ia pelajari dari sesi latihan militer yang dulu sering ia abaikan, ia menangkis tangan Naira dan menjatuhkan senjatanya.
"Sudah selesai," ujar Arya dingin.
Namun, di layar komputer, sebuah notifikasi merah muncul, Self-Destruct Sequence Initiated - 05:00 Minutes.
"Kamu pikir aku akan membiarkanmu mengambil data ini begitu saja?" Naira tersenyum licik meski tangannya terkunci.
"Jika aku nggak bisa mendapatkan hasilnya, maka nggak akan ada yang bisa. Tempat penyimpanan ini akan runtuh dalam waktu lima menit lagi, Arya. Sekarang kamu pilih, kejar aku, atau kamu selamatkan datanya."
Naira menyentak dirinya bebas dan berlari menuju pintu keluar darurat yang lain. Arya menatap layar, lalu menatap pintu. Di luar sana, ia tahu Kinanti sedang berjuang menembus perimeter.
Ia harus membuat pilihan. Dan kali ini, ia tahu persis apa yang harus ia lakukan untuk membuktikan bahwa kepercayaan Kinanti padanya tidak sia-sia.