Bab 9. Detak Yang Beradu

1258 Words
Suara raungan alarm di dalam penyimpanan bawah tanah itu bukan lagi sekadar peringatan. Tapi, itu adalah musik pengiring kematian yang memekakkan telinga. Debu beton mulai berguguran dari langit-langit, menutupi layar monitor yang masih menampilkan angka hitung mundur berwarna merah darah dan tertulis 02:45. Arya merasakan paru-parunya mulai sesak oleh debu dan panas yang meningkat drastis. Mesin server di sekelilingnya mulai meledak kecil, memercikkan bunga api elektrik yang berbahaya. Namun, tangannya tidak berhenti. Jari-jari Arya bergerak dengan presisi seorang ahli bedah yang sedang menjahit arteri utama. Ia tidak lagi mengejar Naira. Bayangan wanita itu, yang dulu memenuhi seluruh ruang di kepalanya, kini telah menguap bersama asap yang memenuhi ruangan. Fokusnya hanya satu, ia menyelesaikan misi yang dipercayakan Kinanti kepadanya. "Sedikit lagi... ayolah," gumam Arya parau. Bilah kemajuan di layar menunjukkan angka 92%. Di luar sana, di perimeter barat yang gelap dan penuh semak berduri, Kinanti sedang merayap di antara bayangan. Bahu kirinya terasa panas karena sebuah peluru menyerempetnya saat ia menghindari patroli Mayor Bram lima menit yang lalu. Namun, rasa sakit itu ia abaikan. Di tangannya, ia memegang sebuah pemancar satelit darurat yang berhasil ia curi dari tenda komunikasi lawan. Kinanti berhenti di balik sebuah pohon beringin tua yang akarnya mencuat seperti jemari raksasa. Ia harus mengirimkan sinyal sekarang. Namun, hatinya terusik oleh dentuman teredam dari arah klinik. Ia tahu itu adalah suara ledakan dari dalam penyimpanan bawah tanah. Arya, jangan menjadi martir, batin Kinanti. Ada sebuah dorongan kuat dalam diri Kinanti untuk berbalik, kembali ke penyimpanan, dan memastikan pria itu keluar dengan selamat. Selama bertahun-tahun sebagai perwira logistik, ia selalu mengandalkan logika dan perhitungan matematis. Namun malam ini, variabel yang disebut Arya telah merusak semua kalkulasinya. Ia teringat bagaimana tatapan Arya yang hancur tadi berubah menjadi tatapan penuh tekad saat ia memberikan pisau taktisnya. "Dia memilih untuk percaya padaku," bisik Kinanti pada kegelapan. "Setelah semua penolakan itu, dia memilih untuk meletakkan nyawanya di tanganku. Aku nggak boleh membiarkan kepercayaan itu sia-sia." Dengan tangan gemetar karena adrenalin dan kehilangan darah, Kinanti mengaktifkan pemancar. Sinyal biru berkedip. Ia mengarahkan antena ke langit yang tertutup awan mendung, mencari celah sempit untuk mencapai satelit militer. BIP. Sinyal pun terkirim. Lokasi Kerajaan Sumedang telah dikunci oleh markas pusat. Bantuan akan datang dalam lima belas menit. Tapi bagi Arya, lima belas menit adalah waktu yang tidak ia miliki. Kembali di dalam penyimpanan bawah tanah, angka di layar menunjukkan 00:30. Arya mencabut drive eksternal dengan sentakan kasar tepat saat sistem komputer meledak sepenuhnya. Ruangan itu seketika menjadi gelap, hanya diterangi oleh lampu darurat merah yang berputar lambat. Pintu keluar darurat tempat Naira melarikan diri telah tertutup otomatis akibat sistem penguncian keamanan. Arya terbatuk hebat, merangkak di atas lantai beton yang panas. Ia menuju ke pintu masuk utama, namun reruntuhan langit-langit telah menutup akses tersebut. Ia terjebak. Di tengah kepungan maut itu, Arya terduduk lemas, menyandarkan punggungnya pada dinding beton yang bergetar. Ia menggenggam drive itu erat di d**a kirinya, tepat di atas jantungnya. "Nan... maafkan aku. Aku berhasil mendapatkan datanya, tapi aku nggak yakin bisa memberikannya langsung padamu," bisik Arya, suaranya hilang ditelan gemuruh reruntuhan. Tiba-tiba, suara benturan keras terdengar dari arah ventilasi udara di atasnya. Seseorang sedang mencoba membongkar jeruji besi itu dari luar. Arya mendongak, matanya yang perih berusaha melihat di tengah debu. "Arya! Arya Satya! Tolong jawab aku!" Suara itu adalah suara Kinanti. Suara yang dulu ia anggap sebagai gangguan, kini terdengar seperti melodi paling indah yang pernah ia dengar. "Kinanti? Tolong kamu pergi dari sana! Tempat ini akan runtuh!" teriak Arya sekuat tenaga. "Diam dan bantu aku membuka ini dari bawah!" balas Kinanti dengan nada memerintah yang tak terbantahkan. Melalui celah ventilasi, Arya melihat tangan Kinanti yang berlumuran darah dan tanah berusaha menarik jeruji itu. Dengan sisa tenaga yang ada, Arya berdiri, memanjat tumpukan meja server, dan meraih tangan Kinanti. Mereka menarik bersama-sama. Dengan satu hentakan kuat yang diiringi teriakan kesakitan Kinanti karena luka di bahunya, jeruji itu terlepas. "Ayok naik, Arya! Cepat!" Arya mendorong dirinya ke atas, dibantu oleh tarikan kuat Kinanti. Begitu Arya berhasil keluar dari lubang ventilasi, sebuah ledakan besar mengguncang tanah di bawah mereka. Penyimpanan bawah tanah itu runtuh sepenuhnya, menciptakan kawah kecil di tempat klinik tadi berdiri. Mereka berdua terlempar beberapa meter ke atas tanah yang lembab. Untuk beberapa saat, yang ada hanya kesunyian. Asap membumbung tinggi ke langit malam. Arya adalah yang pertama bergerak. Ia merangkak menuju sosok Kinanti yang terbaring diam. "Nan? Kinanti? Bangun!" Kinanti terbatuk, mengeluarkan debu dari parunya. Ia membuka matanya perlahan, menatap wajah Arya yang kotor oleh jelaga. Sebuah senyum tipis yang tulus, bukan senyum formalitas militer, terukir di wajahnya. "Kamu... masih berhutang penjelasan logistik padaku, Kapten," bisik Kinanti lemah. Arya tertawa pendek, sebuah tawa yang bercampur dengan isak tangis lega. Ia segera memeriksa bahu Kinanti. Luka tembaknya tidak fatal, tapi pendarahannya cukup banyak. Tanpa ragu, Arya merobek bagian bawah seragamnya sendiri, menggunakan keahlian medisnya untuk membebat luka Kinanti dengan cepat dan efisien. "Jangan banyak bicara dulu. Kamu sudah melakukan terlalu banyak hal malam ini," ujar Arya lembut. Tangannya yang besar membelai pipi Kinanti sejenak, sebuah sentuhan yang penuh dengan rasa syukur dan kasih sayang yang baru saja mereka sadari keberadaannya. "Mana datanya?" tanya Kinanti. Arya mengeluarkan drive dari saku dadanya dan meletakkannya di tangan Kinanti. "Ini. Semua bukti pengkhianatan Naira dan jaringan Geng Serigala Hitam ada di sini. Kamu benar, Nan. Semuanya benar." Kinanti menggenggam drive itu, tapi matanya tetap menatap Arya. "Terima kasih karena telah memilih untuk percaya padaku, Arya. Aku tahu betapa sulitnya itu bagimu." Arya menggeleng, menundukkan kepalanya hingga kening mereka bersentuhan. Di tengah sisa-sisa kehancuran Kerajaan, detak jantung mereka seolah beradu dalam ritme yang sama. "Nggak, Nan. Terima kasih karena kamu nggak pernah menyerah pada pria bodoh ini. Kamu adalah satu-satunya kebenaran yang tersisa di hidupku malam ini." Keintiman itu terputus saat suara deru helikopter tempur terdengar mendekat dari ufuk timur. Lampu sorot raksasa mulai menyapu daratan, menandakan bala bantuan telah tiba. Namun, bagi Arya dan Kinanti, pertempuran terbesar mereka baru saja dimulai. Mereka tahu Naira masih ada di luar sana, melarikan diri ke dalam kegelapan hutan bersama Mayor Bram. Arya membantu Kinanti berdiri, membiarkan wanita itu bersandar sepenuhnya pada tubuhnya. Saat mereka berjalan perlahan menuju titik pendaratan helikopter, Arya menyadari sesuatu. Selama ini ia menganggap Naira adalah cahaya hidupnya, namun ternyata Naira hanyalah kembang api yang menyilaukan lalu menghanguskan. Kinanti, di sisi lain, adalah api kecil di dalam lentera dan begitu tenang, stabil, dan mampu menuntunnya keluar dari kegelapan yang paling pekat. "Setelah ini selesai," ujar Arya sambil menatap helikopter yang mulai turun, "aku nggak ingin ada lagi kontrak di antara kita, Nan." Kinanti menoleh, sedikit terkejut. "Maksud kamu, apa?" Arya menatap matanya dalam-dalam. "Aku ingin kita memulainya lagi. Tanpa kebohongan, tanpa bayang-bayang masa lalu, dan tanpa sekat pangkat. Hanya sebagai Arya dan Kinanti." Kinanti tidak menjawab dengan kata-kata, tapi ia mengeratkan genggamannya pada lengan Arya, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu saat angin dari baling-baling helikopter mulai menerpa wajah mereka. Di sisa abu Kerajaan Sumedang, sebuah janji baru telah tumbuh lebih kuat daripada pengkhianatan manapun. Namun, di kegelapan hutan yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari mereka, sepasang mata tetap mengawasi. Naira berdiri di balik pohon besar, memegang walkie-talkie dengan tangan yang gemetar karena amarah. "Biarkan mereka merayakannya malam ini," desis Naira ke dalam alat komunikasinya. "Permainan ini belum berakhir. Arya baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya karena dia membiarkan aku tetap hidup untuk membalas dendam." Naira berbalik dan menghilang ke dalam kepekatan hutan rimba, meninggalkan Kerajaan Sumedang yang kini dipenuhi oleh lampu-lampu bantuan, sementara Arya dan Kinanti terbang menuju masa depan yang masih penuh dengan misteri dan ancaman yang belum terungkap sepenuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD