Bab 10. Nadi Yang Bertaut

1256 Words
Suara baling-baling helikopter Medevac yang menjauh meninggalkan kesunyian yang aneh di lapangan udara darurat perbatasan. Langit subuh di Kerajaan Sumedang mulai memudar, berubah dari ungu pekat menjadi abu-abu kebiruan yang dingin. Di bawah tenda pemulihan sementara yang didirikan jauh dari reruntuhan klinik, Arya duduk di kursi lipat militer, matanya tak lepas dari sosok yang terbaring di brankar di hadapannya. Kinanti tampak begitu rapuh di bawah selimut wol hijau zaitun. Wajahnya yang biasa kaku dan penuh otoritas kini tampak pucat, dengan beberapa goresan kecil yang sudah dibersihkan. Bahu kirinya terbebat rapi, hasil kerja keras Arya selama tiga puluh menit terakhir yang dilakukan dengan ketelitian yang nyaris obsesif. Arya tidak memedulikan seragamnya yang hancur atau luka bakar ringan di tangannya sendiri. Ia hanya terus menatap Kinanti, merasakan setiap detak jantungnya sendiri yang seolah memanggil nama wanita itu. "Engh..." Lenguhan pelan itu membuat Arya seketika tegak. Ia meraih botol air mineral dan segera mendekat. Kinanti membuka matanya perlahan, mengernyit saat cahaya lampu badai menyapa retinanya. "Jangan banyak bergerak dulu, Nan. Bahumu masih baru saja dijahit," bisik Arya lembut, tangannya secara refleks menahan pundak kanan Kinanti agar ia tidak memaksakan diri untuk bangun. Kinanti mengerjap, menatap langit-langit tenda, lalu beralih pada Arya. "Datanya... Mayor Bram..." "Semua aman. Datanya sudah di tangan tim intelijen kavaleri yang baru tiba. Bram dan Naira sedang dalam pengejaran intensif. Mereka tidak akan bisa keluar dari sektor ini," potong Arya cepat, mencoba menenangkan kegelisahan istrinya. "Sekarang, fokuslah pada dirimu sendiri." Kinanti menghela napas panjang, sebuah hembusan napas yang terdengar seperti melepaskan beban berton-ton. Ia mencoba menggerakkan jemarinya, dan saat itulah ia menyadari bahwa Arya sedang menggenggam tangan kanannya. Ada kehangatan yang asing namun menenangkan mengalir dari sana. "Kenapa kamu masih di sini, Kapten?" tanya Kinanti, suaranya masih parau. "Kamu seharusnya berada di pusat komando, memberikan laporan medis atau... mencari keberadaan Dokter Naira." Mendengar nama itu, Arya merasakan seleret rasa sakit di dadanya, bukan karena kehilangan cinta, melainkan karena rasa malu yang amat sangat. Ia menundukkan kepala, membiarkan jemarinya mengusap punggung tangan Kinanti dengan ibu jarinya. "Naira sudah selesai bagiku, Nan. Dia memilih jalannya sendiri saat dia memutuskan untuk membakar tempat penyimpanan logistik itu bersama kita di dalamnya," ujar Arya pahit. Ia kemudian mendongak, menatap mata Kinanti dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan. "Aku di sini karena di sinilah tempatku yang seharusnya. Di samping istriku. Di samping orang yang mempertaruhkan nyawanya demi pria yang bahkan tidak layak mendapatkan kesetiaannya." Kinanti terdiam. Ia bisa melihat kejujuran yang telanjang di mata Arya, sesuatu yang selama berbulan-bulan pernikahan kontrak mereka tak pernah ia temukan. "Kamu nggak perlu berhutang apa pun padaku, Arya. Aku hanya melakukan tugasku sebagai perwira logistik." "Berhenti menyebutnya sebagai tugas, Kinanti!" suara Arya sedikit naik, bukan karena marah, tapi karena frustrasi pada dirinya sendiri. "Kamu sudah menyelamatkanku saat aku menolak mempercayaimu. Kamu kembali ke penyimpanan bawah tanah yang hampir runtuh itu saat kamu bisa saja lari menyelamatkan diri. Kenapa? Setelah semua kata-kata kasar yang aku lontarkan... setelah aku menyebutmu pembawa sial... kenapa kamu tetap kembali?" Kinanti menatap langit-langit tenda lagi. Sudut matanya sedikit basah, namun ia menahannya. "Karena bagiku, janji di depan komando dan di depan Tuhan itu bukan sekadar formalitas militer, Arya. Meskipun kamu menolak keberadaanku, aku memilih untuk mempercayai bahwa di balik kemarahanmu, ada seorang pria yang layak untuk tetap hidup. Aku memilih untuk mempercayaimu, bahkan saat kamu nggak mempercayai diri kamu sendiri." Kata-kata itu menghantam Arya lebih keras daripada ledakan manapun. Ia merasa sangat kecil di hadapan kebesaran hati Kinanti. Perlahan, Arya bangkit dari kursinya dan duduk di tepi brankar, memperkecil jarak di antara mereka. Ia meraih tangan Kinanti dengan kedua tangannya, seolah-olah wanita itu adalah porselen retak yang harus ia jaga agar tidak hancur. "Maafkan aku, Nan. Aku cuma seorang lelaki pengecut yang bersembunyi di balik masa lalu karena takut menghadapi kenyataan bahwa kamulah yang sebenarnya aku butuhkan. Aku butuh ketegasanmu, keberanianmu... dan aku butuh caramu memandang dunia," bisik Arya. Ia kemudian melakukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Arya mengecup punggung tangan Kinanti lama sekali, membiarkan air matanya yang setetes jatuh di sana, sebagai wujud tanda penyerahan diri total. Kinanti merasakan jantungnya berdegup kencang. Kebekuan yang ia bangun selama ini mulai retak. "Arya... ini mungkin hanya karena adrenalin pasca-trauma. Kamu nggak perlu memaksakan perasaan…" "Ini bukan adrenalin, Kinanti Larasati," potong Arya, kali ini dengan senyum tipis yang tulus. Ia merogoh saku seragamnya yang robek dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah coklat batangan kecil yang sudah agak remuk. "Aku menemukannya di gudang logistik darurat tadi. Aku ingat kamu pernah bilang di minggu pertama kita menikah, kalau kamu sedang stres, kamu suka coklat tapi nggak pernah sempat membelinya." Kinanti tertegun. Ia ingat pernah mengatakannya sekali, sambil lalu, saat mereka sedang makan malam dalam keheningan yang canggung di markas bulan lalu. Ia tidak menyangka Arya mendengarkan, apalagi mengingatnya di tengah kekacauan perang. "Kamu masih mengingatnya?" "Aku mengingat setiap detail kecil tentangmu yang coba aku abaikan selama ini, Nan," jawab Arya sambil mulai mengupas bungkus cokelat itu dengan satu tangan, lalu menyuapkannya sepotong kecil ke mulut Kinanti. "Ini mungkin bukan makanan mewah, tapi ini adalah awal. Awal dari kita yang sebenarnya." Arya menambahkan. Kinanti menerima suapan itu. Rasa manis coklat itu bercampur dengan rasa asin air matanya yang akhirnya luruh. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menjadi Letnan yang kuat. Di bawah perlindungan Arya, ia merasa boleh menjadi seorang wanita yang dicintai. "Terima kasih, Arya," bisik Kinanti. Interaksi positif itu berlanjut dalam keheningan yang nyaman. Arya mulai menceritakan rencana-rencananya setelah mereka kembali ke markas, rencana yang tidak lagi melibatkan perceraian atau kontrak senyap. Ia berbicara tentang memperbaiki rumah dinas mereka, tentang mengambil cuti bersama ke tempat yang tidak ada bau mesiu atau antiseptik. Namun, di balik momen manis itu, Arya tetaplah seorang perwira medis yang waspada. Ia menyadari bahwa Kinanti masih sering meringis menahan sakit. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyesuaikan posisi bantal Kinanti. "Istirahatlah. Aku akan tetap di sini. Aku nggak akan pergi selangkah pun," janji Arya. "Janji Kapten?" tanya Kinanti dengan nada menggoda yang jarang ia gunakan. "Janji seorang suami," balas Arya mantap. Saat matahari mulai naik, menyinari tenda dengan cahaya keemasan, Arya melihat Kinanti akhirnya tertidur dengan tenang. Ia mengusap rambut Kinanti yang berantakan, merasakan ikatan emosional yang kini bertaut erat, sebuah nadi kedua yang tidak lagi dipaksakan, melainkan berdetak karena pilihan mereka sendiri. Namun, kedamaian itu terusik ketika seorang bintara masuk dengan tergesa ke dalam tenda, memberikan penghormatan. "Lapor, Kapten! Tim pengejar menemukan jejak Mayor Bram dan Dokter Naira di sektor tebing utara. Tapi ada masalah... mereka tidak sendirian. Mereka menyandera beberapa penduduk desa dan mengancam akan meledakkan jembatan utama jika kita tidak memberikan jalur pelarian." Arya terdiam. Ia melirik Kinanti yang masih terlelap, lalu kembali menatap bintara itu. Matanya kini berkilat tajam, kembali ke mode tempur, namun kali ini dengan motivasi yang berbeda. "Siapkan tim medis lapangan. Saya akan ikut dalam operasi pengejaran," perintah Arya dengan suara rendah agar tidak membangunkan Kinanti. "Tapi pastikan satu hal, perketat penjagaan di tenda ini. Jika terjadi sesuatu pada Letnan Kinanti, kalian berurusan langsung dengan saya." Arya berdiri, memberikan satu kecupan terakhir di kening Kinanti yang masih terlelap. Ia tahu pertempuran ini belum benar-benar berakhir. Naira mungkin adalah bagian dari masa lalunya, tapi pengkhianatannya adalah ancaman bagi masa depan yang baru saja ia temukan bersama Kinanti. Dengan langkah tegap, Arya keluar dari tenda, meninggalkan kehangatan sesaat demi melindungi satu-satunya orang yang telah mempercayainya saat semua orang, bahkan dirinya sendiri, meragukannya. Di sisa abu Kerajaan Sumedang, Kapten Aryasatya Mahendra tidak lagi berjuang untuk bayang-bayang,ia berjuang untuk realitas yang bernama Kinanti. Bagaimanakah liku perjalanan Kapten Arya selanjutnya? Akankah ia benar-benar bisa berjuang untuk Kinanti?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD