Udara di sektor utara Kerajaan Sumedang terasa jauh lebih dingin dan tipis. Lereng tebing yang curam diselimuti kabut tebal yang hanya menyisakan jarak pandang kurang dari lima meter. Bunyi gemericik air terjun di kejauhan menyamarkan langkah kaki tim medis lapangan yang dipimpin oleh Arya. Di belakangnya, dua bintara pengawal bergerak dengan senapan siaga, sementara Arya sendiri membawa tas medis darurat yang terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Pikiran Arya masih tertinggal di tenda pemulihan, pada wajah tenang Kinanti yang sedang tertidur. Namun, peringatan bintara tadi tentang penyanderaan penduduk desa memaksanya kembali ke realitas yang kejam.
"Kapten, kita hampir sampai di titik pengintaian," bisik Sersan Dua Raka, salah satu pengawal.
Arya mengangguk. Ia memberi isyarat untuk berhenti. Di depannya, sebuah jembatan gantung tua yang terbuat dari kayu dan kabel baja membentang di atas jurang yang dalam. Di seberang jembatan, terlihat samar-samar bayangan beberapa orang yang diikat, dijaga oleh pria-pria bersenjata dengan seragam loreng yang tidak rap. Mereka adalah Geng Serigala Hitam.
Dan di sana, berdiri di dekat pilar jembatan, adalah Mayor Bram. Di sampingnya, Naira tampak sedang memeriksa sesuatu di sebuah perangkat elektronik. Ia terlihat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang berada di tengah kepungan militer.
"Sial, mereka benar-benar memasang peledak di kabel utama," gerutu Raka saat melihat teknisi GSH memasang detonator.
Arya merasakan amarah mendidih di dadanya. Namun, sebelum ia sempat mengambil tindakan, sebuah suara yang sangat ia kenali terdengar dari radio panggil di pinggangnya. Suaranya lemah, tapi nadanya tegas dan penuh otoritas.
"Kapten Arya, ini Letnan Kinanti. Jangan mendekat ke jembatan melalui jalur utama. Di tempat itu terdapat jebakan."
Arya tersentak. Ia menekan tombol bicara dengan cepat.
"Kinanti? Kamu seharusnya istirahat! Bagaimana kamu bisa masuk ke frekuensi ini?"
"Aku seorang perwira logistik dan komunikasi, Arya. Frekuensi ini aku yang membuat," jawab Kinanti, terdengar sedikit terbatuk. "Dengarkan aku, Kapten Arya. Bram sengaja membiarkan posisi mereka terlihat. Dia sudah tahu kamu akan datang untuk menyelamatkan sandera atau mencari Naira. Jika kamu melangkah ke jembatan, mereka akan meledakkannya saat kamu sudah ada di tengah."
Arya terdiam sejenak. Logikanya berperang. Instruksi dari pusat komando adalah melakukan intervensi medis segera jika ada sandera yang terluka. Namun, suara Kinanti membawa kebenaran yang tidak bisa ia abaikan.
"Lalu apa saranmu, Letnan?" tanya Arya, tanpa sadar ia kembali menggunakan sebutan pangkatnya, namun kali ini dengan nada hormat yang mendalam.
"Ada jalur tikus di bawah tebing sebelah kiri. Bekas jalur air. Jalur itu akan membawamu langsung ke belakang posisi Bram tanpa melewati jembatan. Aku sudah mengirimkan koordinatnya ke perangkat GPS Anda. Percayalah padaku, Arya."
Arya melihat ke arah jembatan gantung itu lagi. Di sana, ia melihat Naira menoleh ke arah hutan, seolah menunggunya muncul. Semua itu adalah tarikan yang kuat dan keinginan untuk mengakhiri segalanya dan meminta penjelasan dari wanita yang pernah ia cintai. Namun, Arya kemudian teringat pada genggaman tangan Kinanti di tenda tadi. Ia teringat pada coklat remuk yang mereka bagi.
Meskipun insting medisnya menyuruhnya segera maju, Arya memilih untuk mendengarkan suara di radionya.
"Raka, kita memutar. Jalur bawah tebing," perintah Arya tegas.
"Tapi Kapten, itu jalur yang sangat terjal. Kita akan kehilangan waktu," protes Raka.
"Letnan Kinanti bilang jembatan di dekat itu terdapat jebakan. Dan aku percaya padanya lebih dari apa pun saat ini. Bergerak!"
Mereka mulai menuruni lereng tebing yang licin. Arya harus berpegangan pada akar-akar pohon yang menonjol untuk menjaga keseimbangan. Beberapa kali ia nyaris tergelincir, namun bayangan Kinanti yang berjuang di dalam gudang logistik memberikan kekuatan tambahan. Setelah lima belas menit merayap di jalur yang sempit dan berbahaya, mereka akhirnya tiba di belakang barisan pertahanan GSH.
Dari posisi ini, Arya bisa melihat semuanya dengan jelas. Bram memang sedang memegang detonator jarak jauh. Jika Arya muncul dari jembatan tadi, mereka semua akan tewas dalam hitungan detik.
"Dia benar... Lagi-lagi Kinanti," bisik Arya takjub.
"Tentu saja aku benar," suara Kinanti terdengar lagi, kali ini sedikit lebih kuat.
"Sekarang, Kapten, tim sniper dari batalyon infanteri sudah di posisi. Saat aku beri aba-aba, kamu harus masuk dan mengamankan sandera. Biarkan militer yang mengurus Bram."
"Kinanti, kamu masih di tenda, kan?" tanya Arya penuh kekhawatiran.
"Aku berada di pusat komando darurat sekarang. Aku nggak bisa duduk diam sementara suamiku bermain pahlawan di hutan," ada nada humor tipis dalam suara Kinanti yang membuat Arya tersenyum di tengah ketegangan.
"Terima kasih, Nan. Tetaplah di sana. Aku akan segera kembali."
Operasi itu berlangsung cepat dan efisien. Begitu aba-aba diberikan, tembakan presisi melumpuhkan para penjaga peledak. Arya berlari dengan kecepatan penuh, bukan menuju Naira, melainkan menuju penduduk desa yang ketakutan. Dengan cekatan, ia memotong tali pengikat mereka dan memeriksa kondisi fisik mereka.
"Amankan sandera ke jalur bawah!" teriak Arya pada pengawalnya.
Di tengah kekacauan, Arya melihat Bram dan Naira mencoba melarikan diri menuju helikopter kecil yang mendarat di area terbuka di balik tebing. Naira sempat menoleh ke arah Arya. Matanya penuh dengan emosi yang sulit dibaca, terliat penyesalan, ketakutan, atau mungkin manipulasi terakhir.
"Arya! Tolong bantu aku!" teriak Naira.
Langkah Arya sempat terhenti. Detak jantungnya berpacu. Bagian dari dirinya yang lama ingin berlari ke sana. Namun, suara Kinanti di radio kembali bergema di kepalanya.
"Aku memilih untuk mempercayaimu, Kapten."
Arya membalikkan badannya, membelakangi Naira. Ia memilih untuk memapah seorang kakek tua yang terluka kakinya menuju tempat aman. Ia membiarkan tim pengejar infanteri mengejar helikopter itu.
"Target melarikan diri ke sektor laut, Kapten. Kita nggak bisa menembak helikopter karena ada risiko merusak ekosistem atau mengenai warga sipil di pesisir," lapor Raka.
Arya hanya mengangguk. Ia tidak merasa kehilangan. Justru sebaliknya, ia merasa sangat ringan. Beban masa lalu yang selama ini menghimpit pundaknya seolah menguap saat helikopter itu menjauh.
Dua jam kemudian, Arya kembali ke pangkalan darurat. Ia langsung menuju pusat komando, mengabaikan tatapan heran dari para perwira lain karena penampilannya yang kotor dan berlumuran lumpur. Di sana, di depan deretan layar monitor, Kinanti duduk dengan bahu terbebat, wajahnya menunjukkan kelelahan yang luar biasa.
Begitu melihat Arya masuk, Kinanti mencoba berdiri, namun Arya dengan cepat menghampirinya dan menahan pundaknya.
"Sudah kubilang jangan banyak bergerak," ujar Arya lembut, suaranya sedikit gemetar.
Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di ruangan itu, Arya menarik Kinanti ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di leher Kinanti, menghirup aroma sabun antiseptik dan keberanian yang selalu terpancar dari wanita itu.
Kinanti tertegun sejenak, tangannya yang tidak terluka perlahan melingkar di punggung Arya.
"Kamu berhasil menyelamatkan sandera, Kapten."
"Kita berhasil menyelamatkan mereka, Nan," koreksi Arya.
Ia melepaskan pelukannya sedikit, menatap mata Kinanti dengan tulus.
"Tadi aku melihat Naira. Dia memintaku membantunya."
Tubuh Kinanti sedikit menegang. "Dan apa yang kamu lakukan?"
Arya tersenyum, sebuah senyum yang sampai ke matanya.
"Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria yang memiliki istri luar biasa. Aku berbalik dan menyelamatkan orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan. Aku memilih untuk mempercayaimu, Nan. Sepenuhnya."
Kinanti menghela napas lega, senyumnya merekah.
"Itu pilihan logistik yang sangat tepat, Kapten."
Interaksi positif itu berlanjut saat mereka berjalan beriringan keluar dari pusat komando menuju tenda peristirahatan. Arya memberikan lengannya sebagai tumpuan bagi Kinanti. Di bawah langit Kerajaan Sumedang yang kini cerah, mereka bukan lagi dua orang yang terjebak dalam kontrak. Mereka adalah dua detak jantung yang akhirnya menemukan ritme yang sama.
"Nan," panggil Arya saat mereka sampai di depan tenda.
"Ya?"
"Coklat remuk tadi... rasanya jauh lebih enak daripada semua makan malam mewah yang pernah aku jalani. Nanti, kalau kita sudah di markas besar, aku akan membelikanmu coklat paling mahal di kota."
Kinanti tertawa pelan. "Aku nggak butuh yang mahal, Arya. Aku hanya butuh kamu tetap mengingat detail-detail kecil itu."
"Aku akan mengingat semuanya," janji Arya. "Termasuk bagaimana kamu menyelamatkan nyawaku berkali-kali hari ini."
Malam itu, di tengah hutan Kerajaan Sumedang yang mulai tenang, mereka duduk bersama di depan api unggun kecil. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi Kontrak Senyap yang terasa seperti jeruji. Yang ada hanyalah sebuah pengakuan bisu bahwa di tengah perang dan pengkhianatan, mereka telah menemukan nadi kedua yang sesungguhnya, satu sama lain.
Namun, kedamaian itu tetap menyimpan tanda tanya. Arya tahu bahwa Naira dan Bram belum tertangkap sepenuhnya. Mereka masih menjadi bayang-bayang di cakrawala. Tapi malam ini, Arya tidak takut. Selama Kinanti ada di sisinya, ia tahu ia tidak akan pernah tersesat lagi.