Markas Besar Komando Pusat selalu memiliki aroma yang khas, aroma campuran antara plitur kayu tua, minyak senjata, dan ketegangan yang teratur.
Namun bagi Kapten Arya Satya Mahendra, kembali ke tempat ini setelah peristiwa berdarah di Kerajaan Sumedang terasa seperti memasuki dunia yang berbeda. Ia tidak lagi berjalan dengan bahu yang tegang karena amarah yang dipendam, sebaliknya, tangannya kini menggenggam erat jemari Letnan Kinanti Larasati saat mereka menaiki tangga pualam menuju ruang audiensi Jenderal.
Kinanti, dengan seragam PDU (Pakaian Dinas Upacara) yang sangat rapi, mencoba melepaskan tangannya dengan sopan.
"Arya, kita sedang di lingkungan Markas Besar. Protokol tetap berlaku."
Arya justru mempererat genggamannya, memberikan senyum miring yang jarang ia tunjukkan.
"Protokol nggak melarang seorang suami memegang tangan istrinya yang baru saja menyelamatkan nyawanya, Letnan. Biarkan mereka melihat bahwa kita bukan lagi sekadar nama di atas kertas kontrak."
Kinanti menghela napas, namun sudut bibirnya sedikit terangkat. Ada kehangatan yang menjalar ke dadanya, sebuah perasaan aman yang dulu hanya ia mimpikan.
"Kamu menjadi sangat keras kepala, Kapten."
"Belajar dari yang terbaik," balas Arya lembut.
Setelah laporan formal kepada pimpinan tertinggi mengenai jatuhnya Kerajaan Sumedang dan pengkhianatan Mayor Bram, mereka diberikan waktu istirahat selama tiga hari sebelum investigasi lanjutan dimulai. Arya memutuskan untuk tidak kembali ke mes perwira. Ia membawa Kinanti ke rumah dinas mereka yang selama ini hanya menjadi tempat singgah yang sunyi.
Malam itu, hujan turun dengan deras di kota markas. Di dalam dapur rumah yang kecil, Arya sedang sibuk dengan celemek menutupi seragamnya, sebuah pemandangan yang jika dilihat oleh anak buahnya akan dianggap sebagai halusinasi tingkat tinggi. Ia sedang mencoba memasak sup ayam jahe, resep yang ia cari di jurnal medisnya sebagai penambah daya tahan tubuh untuk luka bahu Kinanti yang masih dalam tahap penyembuhan.
Kinanti duduk di meja makan, memperhatikan punggung lebar Arya.
"Kamu tahu, Arya, kamu bisa saja memesan makanan. Kamu tuh dokter bedah terbaik kita, bukan koki bintang lima."
Arya menoleh, memegang sendok kayu dengan ekspresi serius yang jenaka.
"Memesan makanan nggak memiliki nilai terapeutik. Dan sebagai doktermu, aku meresepkan kasih sayang dalam bentuk sup ini. Jadi, diam dan perhatikan saja."
Kinanti tertawa kecil, suara tawa yang jernih dan tulus.
"Sejak kapan Kapten Arya yang kaku menjadi puitis begini?"
"Sejak aku menyadari bahwa aku hampir kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mengenalku," ujar Arya, suaranya merendah dan penuh emosi.
Ia mematikan kompor dan membawa semangkuk sup panas ke meja.
Saat mereka makan dalam keheningan yang nyaman, radio panggil Arya yang diletakkan di atas meja tiba-tiba berderak. Sebuah kode rahasia masuk, frekuensi yang hanya diketahui oleh tim investigasi internal.
“Elang Satu, ini Sarang. Target Utara, Naira, terlihat di pelabuhan tikus sektor Barat. Dia mencoba berkomunikasi dengan unit sisa GSH. Instruksi?”
Suasana di meja makan seketika berubah. Arya menatap radio itu, lalu menatap Kinanti. Bayangan Naira yang meminta tolong di tebing Kerajaan Sumedang kembali muncul. Logika militernya mengatakan bahwa ini adalah informasi intelijen yang valid dan ia harus segera melaporkannya ke komando tinggi untuk penangkapan.
Namun, Kinanti meletakkan sendoknya. Matanya yang tajam meneliti layar frekuensi radio itu.
"Tunggu, Arya. Jangan jawab dulu!"
"Kenapa, Nan? Ini kesempatan kita untuk menangkap Naira dan mengakhiri semua ini," tanya Arya, meskipun nadanya tidak lagi mendesak seperti dulu.
Kinanti bangkit dan mengambil perangkat dekoder logistiknya yang selalu ia bawa. Ia memasukkan kode frekuensi tersebut.
"Lihat pola gelombangnya. Pola gelombangnya bukan frekuensi sarang yang asli. Ada distorsi mikro di latar belakang. Itu menunjukkan spoofing, yaitu frekuensi buatan yang didesain agar terdengar seperti pusat komando."
Arya mengerutkan kening. "Maksudmu ini jebakan?"
"Jika kamu menjawab atau menuju ke koordinat itu, mereka akan tahu posisi tepat rumah ini. Dan lebih buruk lagi, mereka bisa meretas enkripsi ponsel kamu melalui balasan sinyal tersebut," jelas Kinanti dengan teknis.
"Logika militer mungkin menyuruhmu mengejar, tapi logika logistikku mengatakan ini merupakan umpan untuk menarikmu keluar tanpa pengawalan."
Arya terdiam. Di masa lalu, ia mungkin akan menuduh Kinanti hanya mencoba menghalangi pertemuannya dengan Naira karena cemburu. Ia mungkin akan menganggap Kinanti terlalu paranoid. Namun malam ini, Arya berdiri dan mematikan radio itu sepenuhnya.
"Aku akan mengikuti saranmu," ujar Arya mantap.
Kinanti sedikit terkejut.
"Apa kamu... Kamu nggak ingin memverifikasinya ke markas dulu? Bagaimana jika ini benar-benar Naira yang ingin menyerah?"
Arya melangkah mendekat, menggenggam kedua tangan Kinanti di atas meja.
"Dulu, aku menolak setiap peringatanmu karena aku dibutakan oleh bayangan yang salah. Aku menolakmu, tapi kamu tetap memilih untuk kembali ke gudang logistik itu demi aku. Sekarang, meskipun perintah militer mungkin terdengar masuk akal, aku memilih untuk mempercayaimu. Karena kamu adalah kompas yang nggak pernah salah arah, Nan."
Momen itu terasa sangat intim. Di luar, guntur menggelegar, namun di dalam dapur kecil itu, ada kedamaian yang tak tergoyahkan. Arya perlahan mendekatkan wajahnya, mengecup kening Kinanti dengan penuh rasa hormat.
"Terima kasih sudah menjagaku, bahkan dari diriku sendiri," bisik Arya.
Kinanti menyandarkan kepalanya di d**a Arya, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini terasa seperti miliknya sendiri.
"Kita menjaga satu sama lain, Arya. Bukankah itu gunanya Nadi Kedua, kan?"
Interaksi positif itu berlanjut hingga larut malam. Mereka tidak lagi membicarakan misi atau pengkhianatan, melainkan hal-hal sederhana, tentang warna cat yang ingin mereka ganti di ruang tamu, atau tentang keinginan Arya untuk mengajari Kinanti dasar-dasar pertolongan pertama medis. Ada tawa, ada godaan kecil, dan ada pengakuan-pengakuan tulus yang selama ini terkunci di balik kontrak.
Namun, pengungkapan antagonis tetap membayangi di luar sana. Naira, yang sebenarnya tidak berada di pelabuhan barat, melainkan sedang duduk di sebuah ruangan mewah di dalam kota markas, menatap layar monitor yang menunjukkan sinyal radio Arya yang mati.
Di sampingnya, seorang pria dengan seragam perwira tinggi, yang wajahnya masih tertutup bayangan, menyesap kopinya.
"Dia nggak terpancing," ujar pria itu, suaranya berat dan penuh wibawa.
"Istrinya jauh lebih pintar dari yang kita duga, Naira."
Naira mengepalkan tangannya di atas meja.
"Arya nggak pernah sepintar ini sebelumnya. Kinanti telah mengubahnya. Dia bukan lagi pria yang bisa dikendalikan dengan nostalgia."
"Kalau begitu," si pria misterius bangkit, bayangan lampu jalan menunjukkan pangkat Jenderal di bahunya sejenak sebelum ia melangkah kembali ke kegelapan, "Kita harus menggunakan cara yang lebih personal. Jika kita tidak bisa menarik Arya keluar, kita akan membawa kehancuran langsung ke depan pintu rumahnya. Pastikan dokumen investigasi Kerajaan Sumedang hilang besok pagi. Biarkan Kinanti yang disalahkan atas keteledoran logistik itu."
Naira tersenyum dingin. "Dengan senang hati, Jenderal."
Kembali di rumah dinas, Arya dan Kinanti tertidur di sofa sambil menonton televisi yang menyala redup. Arya memeluk Kinanti erat dalam tidurnya, seolah berjanji pada dunia bahwa ia tidak akan pernah membiarkan wanita ini terluka lagi. Meskipun badai pengkhianatan yang lebih besar sedang berkumpul di jantung markas, untuk malam ini, mereka memiliki satu sama lain. Sebuah kepercayaan yang lahir dari penolakan, kini telah menjadi fondasi yang tak terpatahkan.