Bab 13. Fitnah di Balik Seragam
Pagi di Markas Besar Komando Pusat dimulai dengan ketegangan yang merambat pelan seperti kabut beracun. Arya terbangun lebih dulu, mendapati Kinanti masih terlelap dengan kepala bersandar di bahunya di atas sofa ruang tamu. Sinar matahari tipis menembus jendela, menyinari wajah Kinanti yang tampak begitu damai, sebuah pemandangan yang membuat d**a Arya sesak oleh rasa protektif yang baru.
Perlahan, Arya memindahkan kepala Kinanti ke bantal sofa dengan sangat hati-hati, seolah takut merusak momen langka tersebut. Ia menyelimuti istrinya, lalu melangkah ke dapur untuk menyeduh kopi. Namun, ketenangan itu hancur saat ponsel dinasnya bergetar hebat.
Sebuah pesan singkat dari Kolonel Wirawan.
“Segera ke Ruang Investigasi III. Ada masalah dengan dokumen logistik Kerajaan Sumedang. Nama Letnan Kinanti disebut.”
Arya merasakan dingin menjalar di tengkuknya. Ia menoleh ke arah ruang tamu, menatap Kinanti yang baru saja menggeliat bangun. Wanita itu membuka matanya, tampak bingung sejenak sebelum kesadarannya kembali sepenuhnya.
"Arya? Ada apa?" tanya Kinanti, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
Mata tajamnya segera menangkap ekspresi tegang di wajah suaminya.
Arya menghampirinya, berlutut di depan sofa agar mata mereka sejajar. Ia menggenggam kedua tangan Kinanti.
"Nan, kamu dengarkan aku, ya? Ada laporan masuk. Dokumen investigasi Kerajaan Sumedang yang kamu susun... mereka bilang dokumen itu hilang atau dimanipulasi. Mereka memanggilmu ke Investigasi III."
Kinanti terdiam. Wajahnya yang semula hangat seketika berubah menjadi pualam yang dingin. Ia menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali sosok Letnan yang kaku.
"Sudah saya duga. Jaringan mereka nggak akan membiarkan aku tenang setelah apa yang kita temukan."
"Kita akan hadapi ini bersama, Nan," tegas Arya.
"Nggak, Arya. Ini urusan logistik. Jika kamu ikut campur, mereka akan menuduh kamu bias karena... karena kontrak kita," Kinanti mencoba bangkit, namun Arya menahannya.
"Ini bukan soal kontrak lagi, Kinanti. Ini soal kebenaran. Dan aku tahu kamu nggak akan pernah melakukan keteledoran kayak gitu ."
Dua jam kemudian, suasana di Ruang Investigasi III terasa mencekam. Dua perwira dari Polisi Militer duduk di depan Kinanti, sementara Arya berdiri di sudut ruangan, dilarang ikut campur namun bersikeras untuk tetap hadir sebagai saksi medis lapangan.
"Letnan Kinanti, catatan pengiriman amunisi dan daftar informan GSH yang Anda klaim telah ditemukan di Kerajaan Sumedang... file-file itu kosong. Bahkan salinan fisik yang Anda serahkan kemarin hanya berisi kertas-kertas laporan cuaca," ujar salah satu penyidik dengan nada menuduh.
Kinanti menatap kertas-kertas di depannya dengan tenang, meski hatinya bergemuruh.
"Itu tidak mungkin. Saya sendiri yang memasukkan dokumen tersebut ke dalam brankas logistik markas."
"Brankas yang kodenya hanya Anda dan staf administrasi Anda yang tahu, Letnan?"
"Saya curiga ada akses ilegal…."
"Atau mungkin," potong penyidik itu, "Anda sengaja menghilangkannya untuk melindungi seseorang? Kami tahu Mayor Bram adalah atasan langsung suami Anda. Apakah ini cara Anda membersihkan jejak mereka?"
Arya melangkah maju, tangannya mengepal.
"Jaga bicara Anda, Mayor. Tuduhan itu tidak berdasar!"
"Kapten Arya, harap tenang atau Anda harus meninggalkan ruangan," hardik penyidik satunya.
Kinanti menoleh ke arah Arya. Matanya memohon agar Arya tidak melakukan tindakan gegabah yang bisa menghancurkan karirnya. Namun, di saat yang sama, Kinanti merasakan gelombang keputusasaan. Siapa yang akan percaya padanya? Dia adalah Letnan muda yang karirnya baru saja diselamatkan oleh pernikahan kontrak. Di mata publik markas, dia hanyalah pion.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Seorang perwira administrasi masuk membawa sebuah map.
"Lapor, ada bukti tambahan yang ditemukan di tempat sampah luar kantor logistik semalam. Seragam Letnan Kinanti yang terdapat bercak tinta dari dokumen yang dipotong-potong."
Ruangan menjadi sunyi. Kinanti menatap seragam itu, seragam cadangannya yang seharusnya ada di lemari rumah dinas. Ini adalah jebakan yang sangat rapi. Kinanti menunduk, merasakan dunia seolah menolaknya sekali lagi. Ia teringat masa-masa di Kerajaan Sumedang saat Arya menolaknya, merendahkannya, dan menyebutnya pembawa sial. Rasa itu kembali, rasa menjadi orang asing di tengah bangsanya sendiri.
"Letnan Kinanti, apa Anda memiliki penjelasan?"
Kinanti membuka mulut, namun kata-katanya tertahan. Ia merasa percuma. Namun, sebelum ia sempat menyerah pada keadaan, suara Arya menggema di ruangan itu, tenang namun penuh otoritas yang tak tergoyahkan.
"Tunggu dulu," Arya berjalan menuju meja investigasi.
Ia tidak menatap para penyidik, melainkan menatap Kinanti. Tatapan yang penuh dengan keyakinan yang dulu tak pernah ada.
"Kapten, saya sudah bilang…."
"Sebagai dokter bedah militer yang menangani Letnan Kinanti selama di Kerajaan Sumedang dan di rumah dinas, saya memiliki catatan medis harian," Arya mengeluarkan sebuah tablet digital.
"Letnan Kinanti menderita cedera saraf motorik ringan pada tangan kanannya akibat luka tembak di bahu. Selama dua hari terakhir, dia bahkan kesulitan menggenggam pulpen dalam waktu lama, apalagi menggunakan alat pemotong kertas industri untuk menghancurkan ribuan lembar dokumen secara manual tanpa meninggalkan jejak kelelahan saraf."
Arya memutar sebuah video dari kamera pengawas di depan rumah dinas mereka yang ia pasang sendiri secara rahasia, sebuah langkah paranoid yang kini menjadi penyelamat. Video itu menunjukkan Kinanti yang sedang duduk di teras sambil membaca buku, sementara pada jam yang sama, dokumen itu diklaim sedang dihancurkan di markas.
"Selain itu," Arya melanjutkan, suaranya semakin tajam, "Letnan Kinanti tidak pernah menyentuh seragam cadangan itu sejak kami kembali. Saya yang merapikan lemari pakaian karena dia tidak boleh mengangkat tangan kanannya terlalu tinggi. Jika ada sidik jari di sana, saya berani bertaruh itu bukan miliknya."
Para penyidik tertegun. Mereka tidak menyangka Arya memiliki detail sekecil itu.
Kinanti menatap Arya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Arya memperhatikan setiap gerak-geriknya, setiap kesulitan fisiknya, bahkan hal-hal sepele yang ia anggap tidak penting.
"Arya..." bisik Kinanti.
Arya menoleh padanya, memberikan senyum tipis yang sangat hangat.
"Aku sudah bilang, Nan. Aku memilih untuk mempercayaimu. Bukan karena kamu istriku, tapi karena aku tahu siapa kamu sebenarnya."
Setelah perdebatan panjang dan verifikasi data medis, investigasi dihentikan sementara. Meskipun belum sepenuhnya bebas, Kinanti diizinkan pulang ke rumah dengan status pengawasan.
Saat mereka berjalan keluar dari gedung Investigasi, langit sore Markas Besar mulai berubah menjadi orange. Arya tidak melepaskan tangan Kinanti meskipun banyak perwira lain yang berbisik-bisik di koridor.
"Terima kasih, Arya," ujar Kinanti saat mereka sampai di mobil.
"Tadi itu... Kamu mempertaruhkan reputasi medis kamu untuk membela aku."
Arya membukakan pintu mobil untuk Kinanti.
"Reputasi itu nggak ada gunanya jika aku membiarkan orang yang paling jujur yang pernah kutemui dihancurkan oleh kebohongan."
Mereka kembali ke rumah dinas. Kali ini, suasana tidak lagi tegang. Arya segera menuju dapur, bukan untuk memasak sup, melainkan untuk mengambil es batu guna mengompres bahu Kinanti yang pasti menegang selama interogasi.
"Sini Nan, duduklah," panggil Arya.
Kinanti menurut. Ia duduk di sofa, membiarkan Arya dengan telaten menempelkan kompres dingin di bahunya. Interaksi itu terasa sangat alami, sangat positif, seolah-olah mereka telah melakukannya selama bertahun-tahun.
"Kamu tahu, Arya," Kinanti memulai, "Dulu aku pikir pernikahan ini adalah hukuman bagi kita berdua. Aku pikir kamu akan selalu melihatku sebagai beban."
Arya menghentikan gerakannya. Ia menatap Kinanti dalam-dalam.
"Aku yang bodoh, Nan. Aku terlalu sibuk melihat bayang-bayang di masa lalu sampai aku nggak sadar ada cahaya yang begitu terang di depanku. Meskipun aku pernah menolakmu berkali-kali, kamu tetap berdiri di belakangku. Sekarang, giliranku untuk berdiri di depanmu."
Kinanti tersenyum, lalu dengan keberanian yang jarang ia tunjukkan, ia menyentuh lengan Arya.
"Coklat yang kamu janjikan... apakah masih berlaku?"
Arya tertawa renyah. "Tentu saja. Tapi kurasa malam ini kita butuh lebih dari sekadar coklat. Bagaimana kalau makan malam di luar? Tempat yang nggak ada radionya, nggak ada seragamnya, dan hanya ada kita."
"Aku suka ide itu," jawab Kinanti.
Namun, di tengah momen interaksi positif tersebut, Arya teringat satu hal.
"Nan, soal video CCTV itu... aku memasangnya karena aku merasa kita sedang diawasi oleh seseorang di dalam markas. Seseorang yang sangat kuat."
Kinanti mengangguk setuju. "Jenderal yang disebut Naira di percakapan rahasia itu. Dia ada di sini, Arya. Dia mungkin sedang melihat kita sekarang."
"Biarkan dia melihat," ujar Arya tajam.
"Dia akan segera tahu bahwa Nadi Kedua ini bukanlah titik lemah kita, melainkan senjata terkuat yang kita punya."
Malam itu, Arya dan Kinanti pergi keluar markas. Untuk pertama kalinya, mereka makan di sebuah restoran kecil di sudut kota, tertawa karena hal-hal remeh, dan saling berbagi cerita masa kecil yang selama ini tersembunyi di balik kekakuan militer. Hal itu adalah momen pembangunan emosional yang luar biasa, bahwa cinta tidak selalu lahir dari pandangan pertama yang manis, terkadang ia lahir dari debu reruntuhan dan pilihan sadar untuk tetap saling percaya saat dunia menyuruh mereka untuk saling curiga.
Sementara itu, di sebuah kantor gelap di sudut lain markas, Naira menatap laporan kegagalan investigasi hari itu. Ia meremas kertas tersebut hingga hancur.
"Arya benar-benar telah berubah," desis Naira. "Dia mulai menggunakan otaknya, bukan lagi jantungnya yang lemah."
Sesosok bayangan berdiri di jendela, menatap ke arah lampu-lampu kota.
"Biarkan saja. Kesetiaan yang buta seperti itu justru lebih mudah dihancurkan. Jika kita tidak bisa menyerang Kinanti melalui logistik, kita akan menyerangnya melalui sesuatu yang lebih rapuh, masa lalu keluarganya yang dia sembunyikan bahkan dari Arya."
Naira tersenyum licik. Permainan ini baru saja memasuki babak yang lebih personal. Kita lihat selanjutnya, seberapa kuat Arya dan Kinanti bertahan?