Bab 15. Pelindung di Tengah Badai Udara di Markas Besar pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis menyelimuti deretan gedung beton yang angkuh, seolah-olah alam pun tahu bahwa sebuah eksekusi karier sedang dipersiapkan. Di dalam rumah dinasnya, Kapten Arya Satya Mahendra berdiri di depan cermin, merapikan kerah seragam PDU-nya. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang ia tekan dalam-dalam. Kinanti muncul dari kamar, sudah mengenakan seragam lengkap. Wajahnya pucat, namun matanya menunjukkan ketenangan yang mematikan, ketenangan seseorang yang sudah menerima nasibnya. "Arya, kamu nggak perlu melakukan ini," ujar Kinanti lembut. Ia melangkah mendekat, membantu Arya membetulkan letak tanda pangkat di bahunya. "Jika kamu tetap di rumah dan

