Korban Ketiga

909 Words
Shita mematut diri di cermin. Hari ini dia mengenakan Bandana pink dan membiarkan rambutnya yang ikal terurai. Shita terlihat berbeda dan lebih manis dengan penampilan barunya itu. Gadis itu senyum-senyum sendiri melihat bayangan wajahnya. "Ternyata rambutku kalau dibeginikan bagus juga," ujarnya. "Shita." Terdengar suara berat yang memanggil namanya. Gadis itu segera menyahut. "Ya, Ayah!" Dia melangkah keluar kamar dan berpapasan dengan Ayahnya, Kombespol Adam, yang sudah berdiri necis dengan seragam polisi. "Wah, hari ini penampilanmu beda ya." Adam terkejut. Shita hanya cengar-cengir. "Beda gimana, Yah? Apa kelihatan lebih cantik?" tanya Shita sambil tersipu. Sudut bibir Adam melengkung. "Kamu jadi semakin mirip ibumu," puji pria itu. Shita tentu senang, karena almarhum ibu Shita adalah mantan model yang sangat cantik saat masih muda. "Ayah berangkat kerja dulu ya," pamit Adam. "Oh iya, hati-hati, Ayah." Shita mencium tangan Ayahnya. Setelah berpamitan pada putrinya, Kombespol Adam pun berangkat, Shita kembali memandangi bayangannya sebentar sebelum naik ke lantai dua untuk menjemput Igo dan Wulan. Wulan baru saja keluar dari kamar, saat Shita naik ke atas tangga. Gadis itu juga tampak terpegun saat melihat penampilan baru Shita. "Pagi, Wulan!" seru Shita sambil tersenyum riang. Wulan mengambil notesnya dan menuliskan satu kalimat di sana sebagai jawaban lalu menunjukannya pada Shita. Shita cantik banget. Kepala Shita jadi semakin besar saat membaca sanjungan Wulan. Baguslah, ternyata eksperimennya sesuai dengan yang diharapkannya. Tak lama kemudian kamar nomer lima belas terbuka dan keluarlah Igo. Cowok itu memandang penampilan baru Shita dan tampak tertegun sesaat. Shita tersenyum, jangan-jangan Igo terpegun karena terpesona padannya. "Apa yang kamu pakai di kepalamu itu?" tanya Igo saat melihat bandana warna pink yang bertengger di atas kepala Shita. Shita tersenyum malu-malu. "Apa aneh ya?" tanya Shita. "Aneh banget!" komentar Igo spontan saja. Shita melotot mendengarnya. "Nggak usah pakai yang aneh-aneh begitu deh, pakai apa juga kamu akan kelihatan kayak cewek," tambah cowok tengil itu. Shita langsung putus harapan. Percuma dia membeli bandana itu, Igo tetap saja tak menganggapnya sebagai wanita. Shita jadi kesal sehingga mencekik Igo dengan lengannya yang super kuat. Igo meronta-ronta kesakitan. "Aduh, sesak! Sesak! Ampun!" keluh pemuda itu. Wulan tersenyum melihat tingkah dua orang sahabat sejak kecil itu. Shita lalu melepaskan cengkraman dari Igo. Shita menatap cowok itu dengan jengkel, sebenarnya sudah sejak lama Shita menyimpan rasa suka pada tetangganya itu, tapi Igo sama sekali tak pernah menganggapnya sebagai wanita. Ibu Shita sudah meninggal sejak Shita masih sangat kecil sehingga tak ada yang mengajarinya bagaimana cara dia harus bertingkah laku sebagai anak perempuan. Shita melepaskan bandananya kemudian menjadikannya sebagai ikat rambut seperti biasa. "Ya sudah, ayo berangkat," katanya sambil menggerutu. Ketiga remaja itu pun turun dari tangga spiral ke lantai satu. Di sana rupanya sudah ada dua sahabat baik Igo yaitu Tora dan Yusuf yang datang untuk menjemput Igo. "Hai, Bro!" sapa kedua cowok itu kompak. "Hai, Bro!" Igo membalas salam mereka kemudian turun dengan cepat dan menghampiri mereka. Shita dan Wulan berjalan di belakang ketiga cowok itu. Mereka menyusuri g**g lalu lewat di pinggir trotoar. Kota Surabaya begitu ramai di pagi hari. Volume kendaraan selalu meningkat pada kota terbesar kedua di Indonesia ini. Untunglah, rumah Shita dan teman-temannya sangat dekat dari sekolah. Mereka hanya perlu berjalan kaki selama lima belas menit dari rumah dan tidak perlu terjebak kemacetan. Wulan memandang Shita yang kini penampilannya sudah kembali seperti biasanya, rambut ikalnya diikat gaya buntut kuda. Wulan menuliskan kalimat di notesnya dan menunjukannya pada Shita. Kok dilepas sih bandananya? Bagus kok. Shita mendengus saat membaca tulisan Wulan itu. "Apanya yang bagus? Dia bilang aneh, kan!" Shita menunjuk Igo yang berjalan di depannya sambil bercanda dengan dua sahabatnya. Wulan tersenyum kemudian menuliskan kalimat lagi di notesnya. Igo hanya salah tingkah, makanya bilang begitu. Shita tertegun saat membaca tulisan Wulan itu. Dia memandangi punggung Igo. Masak sih Igo salah tingkah? "Ah, buat apa dia salah tingkah!" Shita masih tak percaya. Wulan hanya tersenyum. "Itu Elli, kan?" Igo menunjuk arah jam dua belas. Shita mengikuti arah pandang Igo, seorang gadis berambut panjang dengan bandana warna merah muda sedang duduk di bawah pohon. Gadis itu mengenakan seragam SMA F dalam keadaan terbalik. "Kayaknya iya, ngapain dia duduk di bawah pohon gitu?" tanya Shita. Shita kemudian berjalan menghampiri Elli yang sedang duduk di bawah pohon, keempat temannya mengikuti dari belakang. "Hei Elli, kamu ngapain di sini?" tanya Shita sambil menggoyang-goyangkan badan Elli. Elli tidak menjawab dan malah jatuh ke samping. Shita mengamati Elli dan terkejut saat melihat luka bekas tusukan di perut Elli yang bersimbah darah. Shita berteriak sekencang-kencangnya. Shita langsung berlutut dan menggoyang-goyangkan badan Elli. "Elli, kamu nggak apa-apa, kan? Elli!" Igo yang melihat pemandangan itu dari jauh segera menghampiri Elli. Firasatnya buruk. Dia dan membuka mata Elli lalu meneranginya dengan lampu dari ponselnya, pupil Elli membesar. "Dia sudah meninggal," kata Igo. Shita, Wulan, Tora dan Yusuf tertegun mendengar ucapan Igo itu. "Nggak mungkin! Elli! Elli! Elli bangun!" Shita menguncang-guncangkan tubuh Elli sambil menangis. Tapi tubuh itu tidak bergeming. Kenangan-kenangan tentang Elli pun mulai berputar di kepala Shita. Saat mereka belanja bersama, saat mereka dengan bodohnya menunggu jodoh Shita yang akan lewat di depan DTC dan saat Elli terus menggoda Shita di kelas kemarin. Semua kenangan indah itu terasa amat sangat menyakitkan bagi Shita sekarang. Shita menangis sejadi-jadinya. Igo mengelus-elus rambut Shita, berusaha menenangkan teman sejak kecilnya itu. Shita memeluk Igo sambil menangis. Cowok itu membalas memeluknya. Tora dan Yusuf hanya diam sambil memandang mayat Elli yang ada dihadapan mereka. Wulan pun terdiam, kini dia paham apa maksud pesan dari Daisy semalam. Tak semua takdir dapat dicegah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD