BAB 1
"Cukup, Paman... ini salah. Henti...kan. Ughh."
Suara Daniella tertahan dan terdengar parau. Lelaki yang tengah menyesap kewarasan Daniella itu mendadak diam. Gerakannya terhenti tepat di titik yang membuat sekujur tubuh Daniella meremang hebat
Perlahan, Liam mendongak. Sebuah seringai tipis yang sarat akan dominasii terukir di bibir tebalnya, memancarkan aura predator yang baru saja menemukan celah pada mangsanya.
"Kenapa, Daniella? Bukankah... ini yang kamu inginkan?"
Suara Liam rendah dan nyaris menyerupai bisikan setan di telinga Daniella. Jemari pria itu merayap turun, menyentuh permukaan perut Daniella yang polos. Kulit tangannya terasa sedingin es, menciptakan kontras yang menyakitkan saat bersentuhan dengan tubuh Daniella yang mulai panas karena demam kegelisahan.
"Kamu ingin benihku tertanam di sini, bukan?" lanjut Liam, memberi tekanan tipis yang membuat napas Daniella tertahan di tenggorokan.
Daniella menggigit bibir bawahnya hingga rasa perih mulai terasa, mencoba menahan isak yang nyaris pecah. Matanya yang berkaca-kaca memancarkan keputusasaan yang murni. Logikanya berteriak bahwa ini adalah kehancuran dan ini adalah salah besar, namun bayang-bayang desakan keluarga suaminya, bahkan dorongan keji dari suaminya sendiri seolah-olah mencekik lehernya.
Satu detik, nuraninya berontak. Namun di detik berikutnya, pertahanan itu runtuh sudah dan tak bersisa. Ia membiarkan tubuhnya lunglai dan menyerah sepenuhnya untuk dijamah oleh pria berusia 35 tahun itu. Sosok yang seharusnya ia panggil 'Paman', namun kini menjadi eksekutor atas harga dirinya sendiri.
"Iya! Lakukan, Paman! Jangan menunggu lebih lama lagi!" seru Daniella dengan suara serak, membuang sisa-sisa kewarasannya dan sengaja membuang jauh-jauh logikanya. "Lakukan sekarang!"
Daniella, telah membiarkan dirinya terbakar habis. Ia menutup mata rapat-rapat saat Liam kembali menenggelamkan wajahnya, menyesap aroma tubuh Daniella yang menegang kaku.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Sayang," bisik Liam, memberikan penekanan pada kata terakhir sebelum ia melanjutkan kegilaan yang sempat tertunda, menyeret Daniella lebih dalam ke dalam dosa yang tak terampuni.
*
*
Beberapa belas menit sebelumnya.
Cahaya lampu bar yang redup memantul di gelas kristal di depan Daniella. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan denting jam di dinding. Di layar ponselnya, aplikasi kencan itu masih terbuka, menampilkan pesan singkat dari akun bernama 'Stranger' yang berbunyi:
[Aku memakai kemeja hitam dan duduk di sudut paling gelap.]
Daniella menarik napas panjang. Pikirannya kalut. Ia muak dengan Aslan yang mengabaikannya serta ia juga lebih muak lagi dengan tuntutan mertuanya yang menginginkan keturunan. Jika Aslan sendiri tidak mau menyentuhnya, ya bagaimana juga ia bisa memberikan seorang keturunan??
Makanya, ia akan dan sedang mencari 'bantuan' lain. Itu pun karena hardikan Aslan, yang dengan sembarangan sekali menyuruhnya untuk mencari 'si penanam benih' sendiri.
Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, Daniella berdiri, melangkah menuju sudut bar yang tersembunyi oleh pilar marmer. Di sana, seorang pria duduk dengan punggung tegak, menyesap minuman beraroma alkoholnya dengan tenang. Aura pria itu terasa sangat dominan, dewasa, dingin, namun entah mengapa terasa familiar juga.
"Stranger?" panggil Daniella dengan suara yang bergetar.
Pria itu perlahan menoleh. Saat wajahnya tertimpa cahaya lampu yang minim, napas Daniella tercekat. Begitu pula dengan laki-laki yang menatap Daniella sendiri.
"Daniella?" suara berat itu menyebut namanya dengan nada tidak percaya.
Lutut Daniella lemas. Pria di hadapannya ini bukanlah sekadar orang asing yang kesepian. Rahang tegas itu, tatapan tajam yang selalu membuatnya segan ketika acara keluarga dilangsungkan dan pria itu adalah Liam, paman kandung dari suaminya sendiri.
"Paman... Liam?" bisik Daniella, tangannya refleks menutup mulut.
Edrick meletakkan gelasnya di atas meja dengan dentingan keras yang memecah kesunyian. Ia berdiri, tinggi badannya mengintimidasi Daniella. Matanya menyapu gaun hitam tipis yang dikenakan Daniella, gaun yang jelas-jelas dipilih untuk menggoda pria asing, bukan untuk menemui paman suaminya.
"Jadi..." Liam melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Daniella bisa mencium aroma wine dan parfum sandalwood yang memabukkan dari tubuh pria itu. "Apa keponakanku benar-benar tidak menyentuhmu, sampai kamu harus mencari pria di aplikasi sampah seperti ini?"
Wajah Daniella memanas antara malu dan juga marah. "Paman sendiri? Apa yang dilakukan seorang terhormat seperti Paman di sini?"
Liam tersenyum miring, sebuah senyum yang tak pernah ia tunjukkan di depan keluarga besar. Tangannya yang besar tiba-tiba merayap ke pinggang Daniella, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan.
"Aku juga terpenjara dalam pernikahan yang dingin, Daniella," bisik Liam tepat di telinganya, membuat bulu kuduk Daniella meremang. "Dan jika keponakanku cukup bodoh untuk menyia-nyiakan wanita sepertimu... mungkin sudah saatnya pamannya yang memberikan apa yang tidak bisa dia berikan."
Daniella terkesiap, dadanya naik-turun karena napas yang memburu. Sentuhan tangan Liam di pinggangnya terasa membakar kulit melalui kain gaun tipisnya. Ia seharusnya lari, namun pengabaian Aslan selama berbulan-bulan membuatnya haus akan pengakuan sebagai seorang wanita seutuhnya.
"Paman... ini... ini salah," bisik Daniella, meski ia berusaha untuk menjauhkan tubuhnya ini. Liam malah tidak serta-merta melepaskannya. Sebaliknya, ia malah semakin menekan telapak tangannya ke lekukan pinggang Daniella. "Salah? Yang salah adalah membiarkan wanita secantik kamu mengemis perhatian di aplikasi kencan karena suamimu terlalu pengecut untuk menyentuhmu."
Liam menatap tajam ke dalam mata Daniella, mencari keraguan di sana. "Keluargamu menuntut cucu, bukan? Dan keluargaku menuntut pewaris yang tak kunjung diberikan istriku yang dingin itu."
Daniella menelan ludah. "Apa maksud Paman?"
Liam mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Aroma maskulin yang dominan memenuhi indra penciuman Daniella.
"Kita berdua terjebak dalam sangkar emas yang sama, Daniella. Perjodohan sialan yang membunuh gairah. Jika kita melakukan ini, tidak akan ada yang curiga. Gen yang akan kamu kandung tetap gen keluarga besar ini. Aslan tidak akan tahu, orang tuamu akan senang, dan kita... kita mendapatkan apa yang selama ini kita cari."
"Paman ingin aku... mengandung anak Paman?" suara Daniella nyaris tak terdengar. Bahkan ia ragu bila kata-kata itu keluar dari mulut lancangnya ini. Bagaimana mungkin, ia melontarkan kata-kata tersebut kepada paman dari suaminya sendiri??
"Aku ingin memberikan kamu apa yang tidak bisa diberikan suamimu. Dan sebagai imbalannya, aku ingin memiliki apa yang sudah dia sia-siakan." Liam berbisik dengan suara rendah yang menggetarkan. "Hanya di sini. Hanya di balik pintu yang terkunci. Di luar ruangan ini, aku tetap pamanmu, dan kamu tetap istri keponakanku. Apakah kamu sanggup bermain api tanpa terbakar, Daniella?"
Daniella terdiam sejenak. Bayangan wajah Aslan yang dingin dan tuntutan mertuanya yang menyesakkan terlintas di pikirannya. Ia menatap Liam, si lelaki yang jauh lebih matang, kuat, dan jelas-jelas menginginkannya. Tidak seperti suaminya sendiri yang seringkali mengabaikannya bahkan sampai rela tidur di atas sofa yang keras dan karena semua itu juga, Daniella seolah kehilangan batas warasnya.
Perlahan, tangan Daniella naik, meremas kerah kemeja hitam Liam. "Tapi jangan pernah biarkan Aslan tahu. Jangan pernah biarkan siapapun tahu tentang ini."
Liam tersenyum tipis, sebuah seringai kemenangan yang terlihat berbahaya. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci kartu hotel mewah.
"Kamar 704. Aku menunggumu dalam lima menit. Buang ponselmu, atau matikan GPS-nya. Malam ini, tidak ada Paman Liam, tidak ada Daniella si istri penurut. Hanya ada dua orang asing yang akan saling memuaskan."
Liam melepaskan pinggang Daniella, meninggalkan rasa dingin yang mendadak di tempat tangannya tadi berada. Ia meminum habis wine-nya, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Daniella yang tangannya gemetar sambil menatap sebuah kartu kunci yang ada di tangannya itu.
*
*
Langkah Daniella nampak ragu pada awalnya sampai ia berhenti di depan salah satu pintu hotel yang ada di sini. Lima menit yang terasa sangat lambat bagi Daniella. Ia sudah berdiri di depan pintu kamar 704 sedari tadi, tangannya yang gemetar memegang kartu kunci. Jantungnya berpacu, bukan hanya karena ketakutan, tetapi karena isi kepala yang sudah mulai berpikir liar. Dengan satu sentuhan kartu, pintu terbuka dengan suara 'klik' pelan.
Kamar itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu meja di sudut ruangan. Aroma sandalwood dan wine yang tadi ia cium di bar kini terasa lebih pekat, memenuhi hampir seisi dari ruangan tersebut. Liam berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan kota di malam hari, kemeja hitamnya bahkan sudah setengah terbuka, menampakkan d**a bidangnya yang tegap.
Saat Daniella melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya, Liam berbalik. Tatapannya tidak lagi dingin. Ada api yang menyala di sana, api yang belum pernah Daniella lihat dari suaminya sendiri. Terlihat sangat menggebu dan yang Daniella tangkap sedang menginginkan sesuatu yang lebih jauh.
"Akhirnya kamu datang juga, Sayang." suara Liam rendah, bergetar dengan intensitas yang tertahan.
"Ayo, duduklah dulu. Aku tidak akan menggigit," perintah Liam namun Daniella tetap saja berdiri di depan pintu. Dia ragu, tapi bukan berarti takut. Dia hanya sedang merasakan gejolak batin yang kuat antara mengatakan hal ini salah tapi juga ingin sekali menutup mulut orang-orang yang hanya bisa menyalahkannya saja. Ia gamang namun bukan berarti dia tidak berani, hanya saja ia sedang meyakinkan diri, untuk tetap melangkah maju dan meneruskan kegilaannya atau malah kembali mundur dan siap mendapatkan banyak cecaran setiap harinya dari sang mertua. Apa lagi ia memiliki suami yang sama sekali tidak peduli terhadapnya dan masih juga memikirkan wanita lain, sampai-sampai enggan untuk menyentuhnya.
Daniella tidak berkata apa-apa. Ia merasa seperti mangsa yang mendekati pemangsa, namun ia tidak ingin lari. Perjanjian gelap yang mereka buat di bar tadi, kini digantikan oleh ketegangan intim yang cukup menyesakkan untuk Daniella.
Liam melangkah mendekat, setiap langkahnya terasa berat dan penuh kepastian. Ia berhenti tepat di depan Daniella, jarak mereka begitu dekat hingga Daniella bisa merasakan kehangatan dari tubuh pria itu. Tangannya yang besar terangkat, dengan lembut menangkup rahang Daniella, ibu jarinya mengusap bibir bawahnya yang gemetar.
"Apakah kamu sudah benar-benar yakin, Daniella?" tanyanya, memberikan satu kesempatan terakhir untuk mundur sebelum semuanya terlanjur terjadi. Ia harus pastikan, bila tidak ada paksaan dan mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. "Karena mungkin setelah ini, tidak akan pernah ada jalan untuk kembali." Penegasan yang Daniella terima dan harus ia putuskan detik itu juga.
Apakah harus ia lanjutkan sebuah hal yang bila dipikir-pikir adalah salah? Tapi saat dibayang-bayangi sikap suaminya maupun desakan dari mertuanya, membuat Daniella tak tahan dan membuat Daniella ingin segera membungkam mulut mereka.