Bab 14

2052 Words

Perjalanan menuju kantor terasa jauh lebih menyesakkan daripada kemacetan Jakarta di luar sana. Di dalam mobil, hanya ada keheningan yang tajam. Liam mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk kemudi mengikuti irama musik jazz yang mengalun rendah, seolah-olah kejadian semalam tidak pernah terjadi. "Kenapa diam saja, Daniella? Biasanya kamu selalu punya argumen untuk menentangku," ujar Liam memecah kesunyian tanpa menoleh. Daniella memalingkan wajah ke arah jendela, menatap deretan gedung tinggi yang kabur. "Apa lagi yang mau Paman dengar? Paman sudah menghancurkan segalanya. Paman berbohong pada Bibi Rosie, Paman memprovokasi Mas Aslan... Apa masih belum cukup?" Liam terkekeh rendah, suara yang selalu berhasil membuat pertahanan Daniella goyah. "Aku tidak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD