BAB 2

1632 Words
Daniella menatap mata paman suaminya, mencari keraguan, namun ia hanya menemukan gairah dan tekad yang sama kuat dengan miliknya juga. "Aku yakin," bisik Daniella, dari suaranya hampir tidak terdengar namun penuh keyakinan. Jawaban Daniella menghancurkan sisa-sisa pertahanan diri Liam. Ia menundukkan kepalanya, lebih mendekatkan diri lagi lantas menciumi leher Daniella dengan gairah yang sudah lama terpendam. Ciuman itu kasar, menuntut, dan penuh rasa lapar serta sangat-sangat berbeda dengan ciuman formal dan dingin dari suaminya, Aslan. Daniella terkesiap, terkejut dengan intensitas ciuman itu, namun dengan cepat ia membalasnya. Ia merindukan sentuhan ini, kerinduan yang selama ini ia tekan. Tangannya naik, meremas bahu kokoh Liam, menariknya lebih dekat. Liam mengangkat tubuh Daniella dengan mudah, membawanya menuju tempat tidur besar di tengah ruangan. Gaun hitam tipis Daniella jatuh ke lantai dengan mudah. Di bawah selimut sutra, mereka bukan lagi paman dan keponakan ipar. Mereka adalah dua jiwa yang kesepian, mencari kehangatan dan pemenuhan dalam pelukan satu sama lain. Setiap sentuhan Liam terasa seperti sengatan. Ia menjelajahi tubuh Daniella dengan teliti, memberikan kesenangan yang belum pernah Daniella bayangkan sebelumnya. Rasa bersalah perlahan memudar, digantikan oleh kesadaran yang membahagiakan bahwa ia diinginkan, bahwa ia berharga sebagai seorang wanita. Malam itu, di kamar 704, mereka melanggar janji pernikahan mereka masing-masing. Namun mereka juga menemukan pembebasan dari penjara emosional yang selama ini mengurung mereka. Mereka tahu dengan jelas, bahwa pagi hari akan membawa konsekuensi yang berat, namun untuk saat ini, mereka memilih untuk tenggelam dalam api gairah yang terlarang, yang pelan-pelan membakar dan menghasilkan peluh yang saling bercampur diantara permukaan kulit keduanya. Beberapa puluh menit berikutnya. Daniella tengah menggigiti jemari tangannya sendiri. Lantas, dia pun mencoba untuk bangun ketika pintu kamar mandinya terbuka, menghadapi kenyataan bahwa ia baru saja menyerahkan dirinya pada paman suaminya sendiri. Menyesal, mungkin hanya sedikit. Karena setelah ini ia tidak akan lagi ditanya kapan memiliki anak. Karena suaminya sendiri enggan menyentuhnya. Harusnya, bila seperti ini ujung-ujungnya kenapa tidak menolak perjodohan saja? Ia kira pernikahannya akan langgeng dan bahagia tapi ternyata, ia malah berakhir di atas ranjang bersama dengan pamannya ini. "Sudah. Kamu bisa mandi sekarang," ucap sang paman yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Sementara Daniella sendiri kini sibuk membelit tubuhnya dengan selimut dan kemudian membawa selimut itu bersamaan dengan dirinya sendiri ke dalam kamar mandi. Daniella membuka selimut yang sempat melilit tubuhnya tadi dan berdiri di bawah guyuran air shower yang sudah mulai membasahi tubuhnya perlahan-lahan. Segarnya. Yang tadi begitu melelahkan dan juga menggairahkan. Mana ada suaminya sendiri memberikannya hal sama. Mereka berbeda dan mereka sangatlah jomplang dalam memperlakukannya. Dasar Aslan yang bodoh, dia malah melewatkan hal yang seharusnya dia ambil duluan daripada pamannya sendiri. Tapi sudahlah. Sudah cukup ia tersiksa di dalam hubungan yang dingin. Ia butuh kehangatan dan yang tadi bukan hanya sekedar hangat bahkan bisa sampai membakar dan membuat geger satu keluarga besar, andaikata mereka mengetahui kebenarannya. Tapi ia akan berusaha menutup rapat semua yang telah terjadi tadi. Dan setelah ini, hanya tinggal pulang dan bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Ya, tidak pernah. Begitulah setidaknya yang Daniella pikirkan. * * Keesokan harinya. Meja makan panjang di kediaman besar keluarga Aslan biasanya terasa dingin, namun pagi ini, atmosfernya terasa mencekik bagi Daniella. Ia duduk di samping Aslan, suaminya yang masih sibuk dengan tablet di tangannya, sama sekali tidak menyadari bahwa istrinya ini pulang dengan aroma pria lain yang masih samar di balik parfumnya. "Kamu pulang telat semalam," bisik Aslan tanpa menoleh. "Acara kumpul temanmu sampai selarut itu?" Daniella meremas serbet di pangkuannya dan menelan salivanya sendiri. "Iya, kami... mengobrol banyak hal." Tepat saat itu, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Jantung Daniella serasa berhenti berdetak. Liam masuk ke ruang makan, tampil sempurna dengan setelan kerja mahal yang licin. Tidak ada sedikit pun jejak gairah liar semalam di wajahnya yang kaku dan terlihat berwibawa itu. "Paman Liam! Baru mau berangkat?" sapa Aslan, yang akhirnya mendongak untuk menatap pamannya sambil menyeruput secangkir teh yang terhidang di atas meja makan ini. "Ya," jawab Liam singkat. Suaranya yang berat membuat bulu kuduk Daniella berdiri. Liam menarik kursi tepat di seberang Daniella. Ia tidak langsung duduk, melainkan menatap Daniella selama beberapa detik yang terasa seperti satu jam. Tatapannya dingin, namun ada kilatan intensitas yang hanya bisa dimengerti oleh Daniella. Sebuah pengakuan atas apa yang terjadi di kamar 704. "Selamat pagi, Daniella," sapa Liam. Suaranya datar, namun penekanan pada namanya terdengar seperti bisikan intim di telinga Daniella. "P-pagi, Paman," jawab Daniella lirih, matanya tertuju pada piringnya sendiri dan saat itu juga, mertua Daniella, Ibu dari Aslan, masuk dengan senyuman yang lebar. "Ah, mumpung ada Liam juga di sini. Aslan, Daniella, Mama sudah berkonsultasi dengan dokter kandungan terbaik. Kalian harus segera periksa minggu depan. Mama ingin hasil secepatnya." Daniella tersedak air putihnya. Di seberang meja, ia melihat tangan Liam yang sedang memegang cangkir kopi mendadak menegang. "Mbak, jangan terlalu menekan mereka," sahut Liam tenang, namun matanya tetap mengunci Daniella. "Terkadang, hal-hal baik membutuhkan cara yang... tidak biasa untuk terwujud." Aslan tertawa kecil. Dia sama sekali tidak dapat menangkap sindiran itu. "Paman benar. Jangan terlalu khawatir, Ma. Kami sedang 'berusaha'. Jadi tenang saja." Daniella merasa ingin muntah mendengar kata 'berusaha' dari mulut suaminya sendiri, pria yang bahkan tidak pernah menyentuh kancing bajunya itu sama sekali. Dan di bawah meja, tanpa diduga, Daniella merasakan ujung sepatu pantofel mahal Liam menyentuh kakinya dengan sengaja. Sebuah kontak fisik yang cukup berani, di tengah percakapan keluarga di atas meja makan tersebut. Daniella mendongak, dan untuk pertama kalinya pagi itu, Liam memberikan seringai tipis yang sangat berbahaya. Ia tahu, permainan ini baru saja dimulai, dan tidak ada jalan keluar bagi mereka berdua. Daniella harus siap dengan segala macam konsekuensi atas apa yang telah ia lakukan semalam. "Berikan saja Daniella makanan yang sehat. Sayur mayur dan juga buah-buahan, agar keinginan Mbak segera terwujud," ucap Liam sembari menatap kakak iparnya yang adalah ibu mertua dari Daniella. "Kamu begitu mudahnya bicara. Tetapi lihatlah dirimu sendiri, apakah kamu sudah memberikan kontribusi yang sama? Sudah tahun kelima pernikahan, tapi masih belum juga mendapatkan keturunan," timpal ayah mertua Daniella yang merupakan kakak kandung Liam. Rosie, istri dari Liam terlihat gelagapan. Tapi Liam pun malah menimpalinya dengan santai. "Untuk sekarang masih belum. Tapi sebentar lagi, hasilnya pasti kelihatan," ucap Liam dengan senyuman penuh arti. "Oh iya, kapan kamu mencari tempat tinggal yang baru? Anak-anak yang lain sudah memiliki rumah, tempat tinggal mereka sendiri. Hanya kamu yang masih tertinggal di sini. Bukan ingin mengusir atau apa, tapi bukankah setelah menikah, setiap suami ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya?" sindir kakaknya Liam, Haris. Liam tersenyum kecut. Inginnya menimpali dengan menggebu-gebu ucapan dari kakak tertuanya ini. Tapi untuk menghadapi lelaki macam ini haruslah perlahan-lahan tetapi menusuk. Liam melirik sang istri sekilas, lantas melihat ke arah depan dimana Daniella berada. "Bukan tidak mau. Tapi kami belum seharusnya memiliki itu. Bayangkan saja, harus tinggal hanya berdua di sebuah rumah. Kakak-kakak yang lain sudah memiliki anak. Jadi istri mereka tidak akan kesepian. Kasihan Rosie yang harus ditinggal pergi bekerja sendiri. Lagi pula, ini rumah Papa dan Mama. Bukan rumah Mas Haris sendiri juga. Sejak kecil kita tinggal bersama di sini. Jadi rasanya, sekarang pun tidak jadi masalah. Toh rumah ini cukup luas, memiliki banyak kamar dan bisa untuk ditempati bersama. Benar kan?" Haris mengembuskan napas. Inginnya menguasai semuanya secara penuh. Namun begitu, tidak bisa semudah itu dia lakukan karena masih ada adik bungsunya di sini. Tapi sabar saja dulu. Toh ada putranya dan juga calon pewaris yang akan tetap membuat rumah ini menjadi miliknya secara penuh, bila menantunya sudah mengandung dan memberinya seorang cucu. Liam kembali menatap Daniella dengan cukup intens sembari berkata juga. "Ayo, Daniella. Makanlah makanan yang banyak dan juga menyehatkan. Dan berikanlah paman seorang 'keponakan' yang lucu dan juga menggemaskan," ujar Liam yang mendapatkan lirikan sinis dari Daniella. Dasar paman yang tidak waras. Kalau pun ia hamil, apakah anak itu layak disebut sebagai keponakan? Daniella mengibaskan kepalanya. Sepertinya semalam ia tidak berpikiran dengan jernih dan sekarang ia malah jadi bingung sendiri. Tapi mau disesali juga percuma. Toh sudah terjadi juga. Setelah sarapan pagi selesai dilakukan. Daniella yang memang bekerja di satu perusahaan yang sama dengan Aslan maupun Liam, kini pergi ke kamarnya untuk mengambil tasnya dan sementara Aslan suaminya menunggu di bawah. Hanya tinggal sedikit lagi tangga itu dipijak dan setelah tak ada lagi tangga yang menyentuh kakinya ini, tiba-tiba saja seseorang datang dari arah belakang. Merangkul bahu Daniella namun cepat-cepat Daniella lepaskan serta menoleh ke arah orang tersebut untuk mengetahui siapa orangnya. "Paman! Apa yang Paman lakukan!? Kita sedang di rumah sekarang!" bisik Daniella seperti suara pekikan yang tertahan. Ia benar-benar shock sekali, karena secara terang-terangan Liam berani sekali merangkul-rangkul dirinya macam tadi. Liam memandangi raut wajah Daniella yang nampak ketakutan dengan raut wajah yang tidak merasa bersalah sama sekali. Lantas, Liam pun membungkuk dan berbisik di dekat indra pendengaran Daniella persis, membisikkan kata-kata yang membuatnya merinding sekujur tubuh. "Yang semalam benar-benar menakjubkan. Bahkan masih selalu terngiang-ngiang di dalam kepalaku ini," ucap Liam sampai Daniella dibuat menganga mendengar kata-katanya. Daniella lantas mencubit lengan Liam meskipun inginnya menarik bibir Liam yang sudah bicara dengan sangat sembarangan sekali itu. "Jangan bicara yang aneh-aneh! Sudah sana! Nanti malah ada yang melihat kita!" Daniella masuk ke dalam kamar dan Liam yang sempat mematung di luar sambil menoleh ke kanan kiri itupun ikut-ikutan masuk dan menutup pintu serta memblokade tubuh Daniella di belakang pintu yang tertutup rapat itu. Daniella membeliak panik. Matilah ia sekarang. Kenapa bisa-bisanya paman suaminya ini berbuat nekat begini!?? "Paman, harusnya..." Mulut Daniella tiba-tiba saja dikunci rapat dengan menggunakan bibir oleh Liam. Tubuh mereka pun dirapatkan semakin dirapatkan oleh Liam, hingga suara panggilan dari Aslan di luar kamar membuat Daniella membuka kelopak matanya lebar-lebar. "Daniella? Apa kamu masih di dalam?" panggil Aslan. Liam melepaskan tautan bibirnya dan saling tatap dengan Daniella. Daniella kelihatan panik sekaligus kesal dengan laki-laki nekat yang berada di depannya sekarang. "Daniella?" panggil Aslan sembari menyentuh gagang pintu kamarnya ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD