BAB 3

2111 Words
Gagang pintu berderit. Logamnya bergesekan dengan suara tajam yang seolah mengikis kesadaran Daniella. Di balik pintu kayu itu, suaminya hanya berjarak beberapa inci, sementara di hadapannya, Liam sang paman yang seharusnya menjadi sosok terhormat malah masih mengunci tubuhnya tanpa rasa bersalah. Liam tidak menjauh. Alih-alih melepaskan, ia justru menempelkan telunjuknya di depan bibir, memberi isyarat agar Daniella tetap bungkam. Tatapan matanya yang gelap dan intens seolah tengah sengaja menantang maut. "Daniella? Kenapa pintunya dikunci?" Suara Aslan terdengar lebih menuntut. Ketukan di pintu kini berganti menjadi guncangan pada gagang yang tertahan. Jantung Daniella berdegup begitu kencang, hingga ia yakin Liam bisa merasakannya melalui d**a mereka yang berdempetan. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia harus bicara, atau Aslan akan mengambil kunci cadangan. "A-aku... aku sedang ganti pakaian, Mas!" teriak Daniella dengan suara bergetar, berusaha sekuat tenaga agar tidak terdengar seperti wanita yang baru saja habis napas. Di luar, gerakan pada gagang pintu itupun terhenti. "Oh? Ya sudah cepatlah. Ini sudah siang, nanti kita terlambat ke kantor. Oh iya, apa kamu melihat Paman Liam? Ada hal penting yang ingin dibicarakan Papa dengan Paman Liam. Tadi katanya dia naik ke atas sini." Mendengar namanya disebut, seringai tipis muncul di sudut bibir Liam. Ia justru semakin merunduk, napas panasnya menyapu telinga Daniella, membisikkan kata-kata yang membuat darah Daniella membeku. "Sampaikan pada suamimu..." bisik Liam nyaris tak terdengar, "bahwa pamannya sedang sibuk mengurus 'urusan' yang sangat mendesak." Tangan Liam mulai merayap ke pinggang Daniella, meremasnya pelan namun posesif. Daniella terbelalak, air mata kepanikan mulai menggenang. Ia menyentakkan tangan Liam, namun pria itu justru menahan kedua pergelangan tangan Daniella ke pintu dengan satu tangan besarnya. BRAK! "Daniella? Kamu menjatuhkan sesuatu?" tanya Aslan lagi, kecurigaannya mulai memuncak. "Buka pintunya cepat! Aku masuk ke dalam sebentar tidak masalah, kan? Aku ini suamimu." Tidak terdengar jawaban apapun. Takutnya malah terjadi sesuatu juga terhadap Daniella dan ibunya pasti akan marah jika menantunya kenapa-kenapa. Langkah kaki Aslan terdengar menjauh sedikit, seolah ia sedang merogoh saku celananya dan mencari sesuatu. Daniella tahu bunyi itu, bunyi gemerincing kunci cadangan yang selalu suaminya bawa-bawa kemanapun dan disatukan bersama kunci mobilnya juga. "Paman Liam, aku mohon..." isak Daniella tanpa suara, matanya memohon agar pria gila ini segera bersembunyi. Namun Liam hanya menatap pintu yang sebentar lagi akan terbuka itu dengan tatapan predator. Ia tidak berniat pergi. Ia seolah sengaja ingin menghancurkan segalanya di detik ini juga. Klik. Kunci cadangan itu memutar dari luar. Daniella membeliak dan mendorong serta menarik Liam menjauh ke dalam kamar mandi. Pintu kamar ini pun terbuka dan Aslan nampak melihat ke arah sekeliling sambil mengendus aroma parfum yang serasa tidak asing. Tapi malah ia abaikan karena sedang terburu-buru. "Daniella? Kamu dimana?" panggil Aslan lagi. "A-aku di kamar mandi, Mas!" seru Daniella sembari menoleh ke belakang dan melihat Liam yang tengah sibuk sekali menyentuh tengkuk lehernya ini menggunakan bibir yang tebalnya itu. "Ck! Kenapa lama sekali sih? Kamu mandi lagi atau bagaimana? Ayo cepatlah! Atau aku tinggal kamu ya!?" ancam Aslan. "Iya, Mas. Sebentar lagi. Aku sakit perut. Mas tunggu di bawah aja ya!" seru Daniella lagi sembari mencubit pinggang Liam agar ia berhenti membuatnya merinding begini. "Hahh... Ya sudahlah! Aku tunggu sepuluh menit! Lewat dari itu aku akan benar-benar meninggalkan kamu!" cetus Aslan tak main-main. Daniella yang sedang bergeming sambil menempelkan daun telinganya pada pintu itu pun bernapas lega, saat ia mendengar suara pintu yang sudah kembali ditutup. Pasti suaminya sudah pergi dan sekarang, hanya tinggal mengurus pria dewasa yang sudah seperti cacing kepanasan ini dan sejak tadi tak mau diam sama sekali. "Paman berhenti!" ketus Daniella sambil menatap muak kepada laki-laki yang sedang menggigit bibir bawahnya sendiri ini. "Aku mau keluar. Aku mau berangkat ke kantor dan Paman juga harus menemui ayahnya Aslan. Jadi sekarang, sebelum Mas Aslan kembali ke sini atau sebelum siapapun itu memergoki kita berdua di sini, sebaiknya Paman cepat-cepat keluar dari sini," usir Daniella yang sebenarnya tidak ingin juga dituruti oleh lelaki yang ada bersamanya ini. Tetapi demi kebaikan bersama dan atas kesepakatan bersama juga, Liam pun memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membungkukkan tubuhnya di sisi Daniella dan berucap di dekat indra pendengarannya. "Malam nanti, aku tunggu di tempat yang semalam," ucap Liam yang kemudian pergi dari sisi Daniella. Daniella mengerutkan keningnya. Konyol sekali pikirnya. Untuk apa juga bertemu di luar lagi seperti semalam. Tapi biarpun menurutnya konyol, ya tetap saja Daniella pergi ke sana untuk menemuinya lagi. Entah untuk apa Liam menyuruhnya ke sana, ia pun tak tahu itu. Makanya, dia mencoba untuk mencari tahu dengan datang dan masuk ke dalam kamar yang menjadi saksi pergumulan mereka semalam. "Ada apa?" tanya Daniella yang masuk sambil membuka jaket tebalnya karena udara di luar cukup dingin setelah diguyur hujan deras sejak sore tadi. Daniella menggantung jaketnya dan kini tubuhnya malah dilapisi jaket yang lain. Hangat, lembut dan juga bernapas. Kemudian, suara parau dan berat itu pun menyapa indra pendengarannya seperti sebuah bisikan yang mampu membuat bulu kuduk Daniella berdiri semua. "Aku benar-benar tidak bisa melupakan yang semalam Daniella. Aroma tubuhmu, rasanya dan juga... desahanmu." Daniella mengerjap dan berusaha melepaskan diri dari dekapan posesif itu, namun tenaganya seolah hilang begitu saja. Aroma maskulin yang semerbak dari leher Liam dan perpaduan antara hujan, tembakau mahal serta sesuatu yang sangat akrab malah membuat pertahanan dirinya luruh dalam hitungan detik. "Lepaskan... ini gila," bisik Daniella, meski suaranya justru terdengar seperti rintihan kecil yang tidak meyakinkan. "Kamu tahu ini salah, aku pun tahu ini salah," sahut Liam dengan suara yang rendah. Bukannya menjauh, pria itu justru semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Daniella, menghirup dalam-dalam aroma yang telah menghantuinya sepanjang hari dan sedari semalam. "Tapi setiap kali aku menutup mata, yang kulihat adalah kamu. Dan bukan dia." Daniella mematung kaku. Nama Aslan, suaminya sekaligus keponakan Liam, mendadak melintas di benak Daniella layaknya petir yang menyambar. Begitu juga wajah istri Liam yang anggun. Realitas itu seharusnya menjadi tamparan keras yang menyadarkannya, namun kehangatan tubuh Liam di tengah dinginnya sisa hujan di luar sana terasa jauh lebih nyata. Daniella memejamkan matanya erat-erat. Jantungnya berdegup kencang, beradu antara rasa bersalah yang mencekik dan gairah yang menyulut api di pembuluh darahnya. Ia benci bagaimana tubuhnya bereaksi secara otomatis terhadap sentuhan tangan Liam yang kini merayap perlahan di pinggangnya. "Kita akan menghancurkan segalanya dan juga semua orang," gumam Daniella, jemarinya kini justru tertanam di lengan jaket Liam, menariknya lebih dekat alih-alih mendorongnya menjauh. "Segalanya sudah hancur sejak kemarin malam, Daniella. Aku sudah mengatakannya bukan? Sekali kamu mengiyakan, tidak akan pernah ada jalan untuk kembali. Semuanya sudah tidak lagi sama, Sayang," balas Liam dengan suara serak yang penuh intimidasi. Daniella hendak melepaskan pelukan Liam. Namun Liam malah memutar tubuh Daniella sehingga mereka kini berhadapan. Di bawah temaram lampu kamar yang remang, gairah itu terpancar jelas di mata mereka berdua. Sebuah rasa lapar yang berbahaya, yang dipupuk oleh pengkhianatan dan rasa haus akan sesuatu yang terlarang. Daniella bisa merasakan napas Liam yang memburu di depan bibirnya, dan dalam satu momen singkat yang menentukan, ia berhenti berpikir. Ia membiarkan akal sehatnya hanyut, memilih untuk tenggelam dalam dosa yang terasa jauh lebih manis daripada kesetiaan yang hambar. Di kamar itu, rahasia mereka kembali berdenyut, mengubur dalam-dalam suara hati yang terus meneriakkan nama-nama yang seharusnya mereka jaga dan setelahnya, Daniella hanya bisa meringkuk sambil menghela napas berkali-kali. Sementara Liam sendiri sedang amat sibuk meninggalkan jejak di tubuh Daniella dengan sentuhan bibirnya. Benar saja. Setelah memulai semuanya, sangat sulit dan bahkan tidak pernah ada jalan untuk kembali. Meskipun tahu semuanya salah, tapi mereka tetap tidak bisa berhenti. Awalnya hanya menginginkan benihnya saja. Tetapi sekarang, kenapa ada keinginan lain yang terasa samar namun lama-kelamaan menjadi jelas dan sangat sulit untuk dikendalikan? Daniella berdecak, lantas berandai-andai. Kalau saja suaminya sendiri seperti pamannya ini, mungkin gairah yang tak seharusnya ini tak akan pernah terjadi. Mereka akan memiliki anak sendiri, tanpa ia harus sampai memintanya dari orang lain. "Paman?" panggil Daniella dan orang yang sedang sibuk menjelajahi setiap inci lekukan tubuh Daniella itupun berhenti, lalu naik sejajar dengan Daniella yang sedang menoleh kepadanya. "Ya? Ada apa, Sayang? Tapi ngomong-ngomong, kenapa kamu terus menerus memanggilku paman? Rasanya tidak enak sekali didengar telinga. Kenapa tidak Sayang? Baby? Atau mungkin Honey?" Pilihan yang Liam berikan sampai Daniella terkekeh. "Memangnya kita ini apa hm? Kenapa harus ada panggilan yang intim begitu?" tanya Daniella sekalian saja karena sama dengan isi pikirannya yang tadi ingin dia utarakan. Liam putar kedua bola matanya ke atas sambil berpikir keras. "Apa ya?" ucapnya juga yang malah kelihatan bingung sendiri. Daniella tersenyum masam. Apa memangnya yang ia harapkan dari laki-laki, yang maunya menjamah tubuhnya saja. Sudah tidak dapat cinta dari suami sendiri dan sekarang malah ingin mengharapkan suami orang juga. Sebegitu hausnya kah ia? Tapi bukankah semua itu wajar. Mengingat seorang wanita hakikatnya ingin disayangi dan juga dimanjakan. Hanya mungkin tempat dan waktunya saja yang salah serta, ia bersama dengan laki-laki yang salah. Daniella bangun dari atas tempat tidurnya dan membuat Liam mengikuti gerakannya lantai duduk di belakang Daniella sambil mengecup bahu polosnya itu. "Aku... aku mau pulang sekarang," ucap Daniella yang cepat-cepat memunguti pakaiannya berserakan di lantai dan pergi ke kamar mandi. Liam terdiam sesaat sebelum akhirnya dia mengenakan pakaiannya kembali dan duduk di sisi ranjang, saat Daniella sudah keluar dari kamar mandi, Liam menoleh dan menatap wajah Daniella yang kelihatan tidak tenang itu. "Kenapa? Ada apa?" tanya Liam bertubi-tubi. "Sebentar lagi Mas Aslan pulang. Dia pasti mencariku di rumah," balas Daniella yang kini sibuk merapikan rambutnya. Liam mendekat dan saat akan mendekap dari arah belakang, Daniella malah berpindah dan kembali memakai mantel tebalnya lagi. Daniella menghindari sentuhan itu seolah-olah kulit Liam adalah bara api yang baru saja membakar seluruh akal sehatnya. Ia tidak sanggup menatap mata pria itu lagi. Setiap kali tatapan mereka bertemu, ia merasa seperti melihat pantulan iblis yang sangat ia kenali. Yaitu, keinginannya sendiri. "Jangan sekarang, Paman. Sudah cukup. Apa yang tadi masih belum cukup?" cetus Daniella. Suaranya dingin, kontras dengan suhu tubuhnya yang masih panas. Liam berdiri mematung, lantas juga mengguratkan senyuman masam di bibirnya yang tebal. Ia tidak suka penolakan, apalagi setelah apa yang baru saja mereka lalui. "Kamu selalu saja lari setelah mendapatkan apa yang kamu mau, Daniella. Kamu pikir aku ini apa? Mesin pemuas?" Daniella berhenti merapikan rambutnya. Ia menoleh dengan senyum getir yang menyakitkan. "Dan kamu sendiri? Kamu pikir aku ini apa? Keponakan menantu yang malang, atau sekadar cara untuk membuktikan bahwa kamu bisa memiliki apa pun yang dimiliki Aslan?" Pertanyaan itu menggantung, berat dan menyesakkan. Liam tidak menjawab, hanya rahangnya yang mengeras menunjukkan kemarahan yang tertahan. Tanpa menunggu balasan, Daniella melangkah keluar dari kamar hotel itu. Udara malam yang dingin langsung menusuk pori-porinya, mencoba membasuh aroma maskulin Liam yang masih tertinggal di mantelnya. Sepanjang perjalanan pulang, jantungnya tidak berhenti berpacu. Ia terus meyakinkan dirinya sendiri. Ini demi anak. Hanya demi anak yang tidak bisa diberikan Aslan dan sangat diharapkan oleh orang tuanya Aslan sendiri. Sesampainya di rumah, keadaan sunyi senyap. Daniella masuk dengan langkah mengendap-endap, berharap Aslan sudah terlelap. Namun, saat ia melewati ruang tengah, lampu lantai mendadak menyala. Aslan duduk di sana, di sofa tunggal, masih mengenakan kemeja kantor yang kusut. Di tangannya, ia memegang sebuah benda kecil berwarna keemasan. "Dari mana, Dani?" tanya Aslan datar. Matanya merah, tanda ia sudah lama terjaga. "A-aku... aku tadi suntuk, Mas. Jadi aku keluar sebentar. Eum... cari angin," jawab Daniella, berusaha mengatur napasnya agar tetap stabil di tengah denyut jantungnya yang sedang tidak beraturan ini. Tapi bermain api tapi takut juga bila terbakar sendiri. Aslan berdiri perlahan, langkahnya terasa berat dan canggung saat mendekati Daniella. Ia tidak langsung marah. Ada sesuatu dalam ekspresinya yang lebih menyerupai kebingungan yang dipaksakan. Matanya yang merah menatap lekat pada bercak air hujan yang masih menempel di mantel istrinya tersebut. "Oh ya? Cari angin? Di cuaca seperti ini?" Aslan mengangkat alisnya jelas terasa aneh karena di luar habis turun hujan, lalu menunjukkan benda kecil keemasan di tangannya. Itu adalah sebuah bros milik ibunya yang biasa dipakai Daniella. "Aku menemukan ini di dekat pintu bagasi mobilku tadi sore. Aku baru sadar kalau mobil itu sempat dipakai seseorang siang tadi." Daniella menelan ludah. "I-itu... aku tadi sempat ke supermarket sebentar, Mas. Sebelum hujan turun." Aslan mengangguk-angguk kecil, namun gerakannya terasa tidak alami. Ia mulai berjalan mengitari Daniella, seperti seekor anjing pelacak yang sedang mencoba mengenali bau yang tidak sinkron dengan memorinya. "Supermarket ya? Benar. Tapi kenapa aromamu... aneh sekali, Dani?" Langkah Aslan terhenti tepat di belakang Daniella. Ia mendekatkan wajahnya ke arah tengkuk istrinya, menghirup udara di sana dengan tarikan napas yang panjang. Daniella membeku, merasa seolah kulitnya akan melepuh di bawah embusan napas suaminya. "Wangi ini..." gumam Aslan, suaranya bergetar antara keraguan dan kecurigaan yang mulai mengakar. "Campuran hujan, kayu manis, dan... tembakau? Sejak kapan kamu suka parfum maskulin yang berat begini? Dan baunya juga... kenapa mirip sekali dengan parfum yang sering dipakai Paman Liam?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD