BAB 4

2102 Words
Deg! Jantung Daniella serasa berhenti berdetak. Mendengar satu nama yang suaminya sebut-sebut barusan. "Oh, tunggu," Aslan tiba-tiba terkekeh, suara tawanya garing dan juga terdengar remeh. "Jangan katakan padaku kalau kamu tadi tidak sengaja berpapasan dengan Paman di luar? Papa bilang Paman Liam juga menghilang sejak sore tadi. Katanya ada urusan bisnis mendadak yang tidak bisa ditunda. Benar-benar kebetulan yang luar biasa, ya?" Aslan berpindah ke depan Daniella lagi, menatap mata istrinya itu dengan tatapan yang sangat polos namun menusuk. Kemudian, dia juga menyandarkan tubuhnya ke meja konsol di belakangnya. Ia menyilangkan tangan di depan dadanya sendiri dan memperhatikan istrinya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki dengan tatapan yang lebih mirip seorang detektif yang sedang mengamati spesimen rusak daripada seorang suami yang khawatir. Sejujurnya, Aslan tidak peduli ke mana Daniella pergi untuk memuaskan hatinya. Pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi nama baik keluarga dan tekanan orang tua untuk segera memiliki pewaris. Namun, ada satu hal yang sangat ia benci yaitu ketidakteraturan. Dan belakangan ini, Daniella adalah definisi dari kekacauan yang cukup mengganggu kenyamanannya. Selalu pergi ketika menjelang malam dan pulang larut malam. Bahkan pulang dengan aroma tubuh yang seharusnya tidak ada pada dirinya itu. "Kamu tahu, Dani? Aku tidak suka teka-teki," ucap Aslan dengan nada suara yang kini berubah menjadi dingin serta tajam. "Aku tidak peduli kalau kamu mau keluar sampai tengah malam untuk menghamburkan uang di butik atau sekadar menangis di pinggir jalan karena merasa hidupmu tanpa arah dan juga membosankan. Tapi bau tembakau ini? Ini benar-benar mengganggu seleraku." Aslan melangkah maju satu langkah dan membuat Daniella merasa terdesak, hingga ia pun mundur sampai punggungnya menyentuh dinding kamar yang terasa dingin ini. "Paman Liam itu orang yang kotor dalam bisnis. Dan aku tahu dia punya selera yang... cukup primitif pada wanita," lanjut Aslan sambil menatap lekat ke arah kerah mantel Daniella yang sedikit miring. "Melihatmu pulang dengan aroma tubuhnya, membuatku merasa seolah ada sampah yang masuk ke dalam rumahku tanpa izin. Kamu tidak sedang menjadi mata-mata untuknya, kan? Atau kamu sedang mencoba bermain api untuk mencari perhatianku?" Aslan tertawa sinis, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Daniella berdiri. "Kalau ini caramu agar aku menyentuhmu, caramu sangat menjijikkan, Dani. Menggunakan aroma pria lain untuk memancingku? Agar aku cemburu dan mau menyentuhmu, begitu??" Aslan mengangkat tangannya, dengan kasar ia menarik ikat pinggang mantel Daniella hingga mengencang, membuat istrinya tersentak. "Dengar. Aku tidak peduli dengan apapun urusanmu di luar sana. Tapi kamu, kamu harus dan wajib peduli pada citra suamimu ini. Sekarang, dengarkan aku baik-baik. Kalau sampai aku mendengar desas-desus aneh tentangmu dan Paman Liam atau mungkin lelaki bodoh mana pun itu di luar sana, aku tidak akan segan-segan untuk mendepakmu dari rumah ini, bahkan sebelum kamu sempat mengandung pewaris yang diinginkan Papa." Aslan mendekatkan bibirnya ke telinga Daniella, suaranya kini hanya berupa bisikan tajam yang penuh ancaman. "Pergi mandi. Gosok kulitmu sampai aroma menjijikkan itu hilang. Dan besok, pastikan kamu tidak terlihat mencurigakan lagi saat sarapan bersama Papa dan Paman Liam. Kalau kamu berani bertingkah aneh lagi di depan mereka..." Aslan menjauhkan wajahnya, menatap Daniella dengan pandangan merendahkan. "Aku sendiri yang akan mengunci pintu kamar mandi itu dari luar dan tidak akan pernah membukanya lagi." Tanpa menunggu jawaban, Aslan berbalik dan berjalan menuju sofa kembali dengan langkah angkuh. Dia meninggalkan Daniella yang gemetar dalam kekosongan. Terjepit di antara predator yang menginginkan tubuhnya dan suami yang hanya menganggapnya sebagai pajangan yang mulai tidak enak dilihat. Keesokan harinya. Daniella sedang mengerjakan tugasnya di kantor. Dia adalah salah satu Staff divisi marketing. Bisa bekerja di situ karena ada andil orang tua dan tentu yang paling besar adalah andil mertuanya sendiri. Ayah Daniella sudah berteman lama dengan ayah dari Aslan dan hal tersebut sampai berbuntut ke arah hubungan yang dijalani oleh Daniella serta Aslan sekarang. Memberikan pekerjaan pada Daniella di sana awalnya hanyalah akal-akalan, agar putra putri mereka menjadi dekat dan mudah untuk melakukan perjodohan. Sementara Aslan sendiri digadang-gadang akan menjadi Dewan Komisaris dan sekaligus pemilik perusahaan menggantikan posisi sang ayah tapi saat ini masih dalam proses belajar. Ada satu lagi sebenarnya yang ikut bekerja di sini juga dan dia malah mendapatkan jabatan di bawah ayahnya Aslan sendiri sebagai CEO di perusahaan ini dan orang itu, ya siapa lagi kalau bukan orang yang sedang mencuri-curi kesempatan untuk mendekati Daniella yang tengah sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Sore itu di kantor. Saat Daniella sedang merapikan tumpukan dokumen di ruang arsip yang sepi. Sebuah sudut yang jarang dilewati karyawan karena letaknya yang terpencil. Pintu yang berat itu tiba-tiba tertutup dengan bunyi klik dan membuat Daniella tersentak. Daniella berbalik, jantungnya terasa tertarik kuat-kuat. Karena di sana, bersandar pada pintu yang baru saja dikunci, berdirilah sosok Liam. Pria itu tidak mengenakan setelan jas lengkapnya, hanya kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka, memberikan kesan liar yang sangat kontras dengan lingkungan corporate yang sangat kaku di perusahaan itu dan di perusahaan manapun juga sebenarnya. "Bekerja keras seperti biasa, Daniella?" suara berat Liam menggema, mengisi ruangan sempit itu dengan aura dominasii yang pekat. "Paman... apa yang Anda lakukan di sini?" suara Daniella bergetar. Ia mencoba melangkah ke samping, mencari jalan keluar, namun Liam bergerak lebih cepat. Liam maju, langkahnya tenang namun pasti, hingga Daniella terpojok di antara lemari besi dan meja kayu besar. Pria itu meletakkan kedua tangannya di atas meja, mengurung Daniella dalam ruang gerak yang sangat terbatas. "Aku mendengar keponakanku yang tersayang memberikan ceramah panjang semalam," bisik Liam, wajahnya kini hanya beberapa senti dari wajah Daniella. "Tentang aroma tembakau, tentang sampah... Aslan memang selalu punya cara yang buruk untuk menghargai sesuatu yang indah." Jemari Liam terangkat, dengan berani membelai helaian rambut Daniella yang jatuh di bahu. "Dia bilang aku kotor, bukan? Tapi bukankah yang kotor itu biasanya lebih menggairahkan daripada si 'suami sempurna' yang bahkan tidak sudi menyentuhmu?" Daniella memalingkan wajah, namun Liam mencengkeram dagunya dengan lembut namun menuntut agar mereka saling bertatapan. "Lepaskan saya, Paman. Ini kantor," bisik Daniella. "Justru karena ini kantor," Liam terkekeh, suara rendahnya terdengar sangat sensual di telinga Daniella. "Di ruangan yang tidak diketahui siapa pun ini, kamu bukan staf marketing, dan aku bukan paman suamimu. Kamu hanya seorang wanita yang sedang ketakutan... atau mungkin, sedang menikmati perhatian yang tidak pernah diberikan suamimu." Liam merunduk, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Daniella, memberikan sensasi panas yang membuat lutut wanita itu lemas. "Aslan mengancam akan menguncimu di kamar mandi?" Liam berbisik dengan nada mengejek yang provokatif. "Kalau aku, aku lebih suka menguncimu di sini. Di bawah kendaliku. Biarkan dia sibuk dengan 'citra' dan 'bisnisnya', sementara kita... kita bisa melakukan bisnis yang jauh lebih intim, Daniella." Tangan Liam perlahan turun, menyentuh pinggang Daniella dengan tekanan yang disengaja. "Katakan padaku, apakah suamimu itu tahu betapa cepatnya jantungmu berdetak saat aku menyentuhmu seperti ini? Atau dia terlalu bodoh untuk menyadari bahwa istrinya sedang merindukan sentuhan seorang pria yang sesungguhnya?" Daniella menahan napas. Dia mencoba memalingkan wajah dari tatapan Liam yang seolah sedang menelanjangi jiwanya. Namun, punggungnya sudah tertahan kerasnya lemari besi, sementara tubuh besar Liam semakin merapat, memangkas habis jarak yang tersisa diantara mereka berdua. "Hentikan, Paman... Seseorang bisa lewat," bisik Daniella parau, tangannya mencoba mendorong d**a bidang Liam, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun. "Biarkan saja mereka lewat," Liam menyeringai, matanya berkilat penuh gairah yang berbahaya. "Biarkan mereka melihat bagaimana istri dari calon pimpinan perusahaan ini gemetar hanya karena napas pria lain. Bukankah itu akan menjadi skandal yang sangat... artistik?" Liam meraih tangan Daniella yang ada di dadanya, mencium telapak tangan itu perlahan sambil tetap mengunci tatapannya. "Aslan bilang aku punya selera yang primitif? Dia benar. Karena saat ini, insting primitifku mengatakan bahwa kamu tidak seharusnya berada di balik meja kerja yang membosankan ini. Kamu seharusnya berada di bawahku, memohon agar aku tidak berhenti." Tiba-tiba saja, terdengar suara langkah kaki di lorong luar. Daniella membelalak, jantungnya berpacu liar. Suara itu terdengar seperti sepatu pantofel mahal milik Aslan. "Paman, tolong... itu mungkin Aslan!" pinta Daniella dengan nada mendesak yang hampir menangis. Bukannya menjauh, Liam justru semakin menekan tubuhnya ke arah Daniella. Ia meletakkan satu tangannya di tengkuk Daniella, memaksa wanita itu untuk merasakan panas tubuhnya. "Bayangkan jika dia masuk sekarang, Daniella," bisik Liam, suaranya kini serendah desahan. "Bayangkan wajah sombongnya saat melihat pamannya sendiri sedang mencicipi apa yang dia telantarkan. Apakah itu akan membuatnya cemburu? Atau justru dia akan menyerahkanmu padaku sebagai 'kesepakatan bisnis'?" Suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu ruang arsip. Gagang pintu bergerak dan seseorang di sana mencoba membukanya dari luar. Daniella menutup matanya rapat-rapat, seluruh tubuhnya kaku karena ketakutan. Di saat yang sama, Liam justru sengaja menyesap aroma di ceruk leher Daniella, meninggalkan kecupan basah yang menuntut tepat di atas denyut nadinya. "Pintu ini terkunci, Sayang. Hanya aku yang punya kuncinya," gumam Liam tepat di bibir Daniella. Dari luar pintu, terdengar suara dingin yang sangat familiar. "Sial, kenapa ruangan ini terkunci? Bukankah seharusnya terbuka untuk staf marketing?" Itu suara Aslan. Daniella hampir memekik, namun tangan Liam dengan cepat membekap mulutnya. Liam tersenyum licik, menatap pintu, lalu kembali menatap Daniella dengan pandangan yang penuh kemenangan. "Dengar itu? Suamimu ada di sana," Liam berbisik, jemarinya kini mulai menelusup ke sela-sela kancing kemeja kerja Daniella. "Dia ada di balik pintu itu, sementara aku... aku ada di dalam dirimu. Pilihannya ada padamu, Daniella. Kamu mau berteriak dan menghancurkan hidupmu, atau kamu diam dan biarkan aku menunjukkan padamu apa yang tidak bisa diberikan oleh bocah arogan itu di malam pengantin kalian?" Liam perlahan melepaskan bekapannya, memberikan kesempatan bagi Daniella untuk memilih. Kehancuran yang jujur, atau kenikmatan yang berdosa. "Jadi, Daniella... apakah kamu akan tetap menjadi pajangan Aslan yang bersih, atau menjadi rahasia kotorku yang paling indah?" Daniella merasa oksigen di paru-parunya menipis. Di luar pintu, suara Aslan terdengar sedang menelepon seseorang, suaranya sangat dekat hingga Daniella bisa mendengar deru napas suaminya yang tidak sabar. ​"Ya, cari kunci cadangannya sekarang. Aku butuh dokumen proyek itu segera," bentak Aslan di balik pintu. ​Liam tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Sebaliknya, ia tampak menikmati adrenalin dari situasi ini. Ia justru sengaja menggeser tubuhnya, membuat gesekan kain kemejanya terasa jelas di kulit Daniella yang sensitif. ​"Suamimu sedang mencari kunci, Daniella," bisik Liam, tangannya kini berada di pinggang Daniella, menariknya hingga tidak ada lagi celah sedikit pun di antara mereka. "Kita punya waktu sekitar tiga menit. Apa yang ingin kamu lakukan dalam tiga menit ini? Membayangkan kemarahannya... atau merasakan keberanianku?" ​Liam menunduk, bibirnya menyapu sudut bibir Daniella, nyaris menciumnya namun sengaja menggantung, sebuah siksaan manis yang membuat Daniella tanpa sadar mencengkeram lengan kemeja Liam. ​"Jangan... Paman, dia akan membunuhku," rintih Daniella pelan, hampir tak terdengar. ​"Dia tidak akan menyentuhmu, Daniella. Dia terlalu mencintai dirinya sendiri untuk mengotori tangannya," Liam membalas dengan seringai predator. "Tapi aku? Aku tidak keberatan menjadi kotor. Aku akan membawamu ke tempat yang tidak pernah dia bayangkan, tempat di mana tidak ada peraturan, tidak ada nama baik keluarga... hanya ada kau dan aku." ​Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berlari mendekat dari luar. "Tuan Aslan, ini kuncinya!" seru salah seorang staf dari luar sana. ​Jantung Daniella seolah melompat keluar dari dadanya. Apa lagi saat mendengar perintah suaminya itu. ​"Buka sekarang," perintah Aslan tegas. ​Bunyi logam kunci yang dimasukkan ke dalam lubang pintu terdengar nyaring. Klek. ​Dalam satu gerakan kilat yang terkoordinasi, Liam melepaskan Daniella dan menarik sebuah rak geser besar berisi map-map tua, menciptakan penghalang visual tepat saat pintu terbuka lebar. Liam berdiri di balik bayangan rak itu, sementara Daniella jatuh terduduk di kursi kerja yang ada di sudut, berpura-pura sedang memeriksa tumpukan berkas dengan tangan yang gemetar hebat. ​"Daniella?" ​Aslan melangkah masuk, matanya menyipit tajam menyisir ruangan. Aroma parfum maskulin Aslan segera bertabrakan dengan sisa-sisa aroma tembakau Liam yang masih tersisa di sana. ​Aslan berjalan mendekati istrinya yang menunduk dalam. Ia meletakkan tangannya di atas meja, tepat di samping jemari Daniella yang pucat. "Kenapa kamu mengunci pintu dari dalam? Dan... kenapa wajahmu begitu merah?" ​Daniella tidak sanggup mendongak. Ia tahu, hanya beberapa meter di belakang rak arsip itu, Liam sedang berdiri dalam kegelapan, memperhatikan mereka, bahkan mungkin sedang menyentuh bibirnya sendiri sambil membayangkan rasa ketakutan Daniella. ​"Aku... aku merasa sedikit pusing, Mas. A-aku hanya ingin tenang sebentar," jawab Daniella dengan suara bergetar. ​Aslan tidak menjawab. Ia justru mendekatkan wajahnya ke leher Daniella, mengendus pelan. Matanya berkilat penuh kecurigaan. "Bau ini lagi," desis Aslan pelan, suaranya mengandung ancaman murni. "Tembakau. Di ruangan tertutup ini." ​Tepat saat itu, terdengar suara gesekan kecil dari balik rak arsip. Sesuatu jatuh dan itu adalah sebuah pulpen mewah milik Liam. ​Aslan menoleh dengan cepat ke arah sumber suara. "Siapa di sana?!" ​Daniella memejamkan mata, menunggu kehancurannya tiba. Namun, dari balik bayangan, Liam melangkah keluar dengan santai, mengancingkan satu kancing jas yang entah sejak kapan sudah ia kenakan kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD