"Ah, Aslan. Kau selalu berisik jika mencari sesuatu," ucap Liam dengan suara berat yang tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku sedang memeriksa arsip lama untuk rapat dewan komisaris nanti. Istrimu sedang membantuku untuk menemukannya. Apa ada masalah?"
Suasana ruangan itu seketika membeku. Dua pria berbeda generasi itu pun saling menatap. Sang keponakan dengan kecurigaan yang meledak-ledak, dan sang paman dengan ketenangan seolah menjadi pemenang yang baru saja mencicipi barang curiannya.
Aslan mematung. Rahangnya menegang hingga otot-otot di lehernya menonjol. Tatapannya beralih dari Liam yang tampak begitu tenang, ke arah Daniella yang masih duduk dengan napas yang tertahan di tenggorokan serta raut wajah yang nampak pucat.
"Memeriksa arsip... berduaan saja, Paman?" tanya Aslan dengan nada rendah yang sarat akan sindiran. "Sejak kapan seorang CEO atau apalah itu, turun tangan sendiri ke ruang yang pengap ini hanya untuk mencari sebuah map tua? Dan sejak kapan juga, seorang staf marketing menjadi asisten pribadinya?"
Liam terkekeh ringan, sebuah suara yang terdengar sangat santai namun bagi Daniella itu adalah suara lonceng kematian. Pria itu berjalan mendekat, melewati Aslan begitu saja, dan berhenti tepat di samping kursi Daniella. Dengan gerakan yang sangat berani lantas hampir gila, Liam malah meletakkan tangannya di sandaran kursi Daniella, tepat di belakang kepala wanita itu.
"Dunia bisnis sedang keras, Aslan. Aku lebih percaya pada mataku sendiri daripada laporan yang sudah dipoles," Liam menunduk sedikit, menatap Daniella yang semakin menciut. "Dan istrimu... dia punya ketelitian yang luar biasa. Sangat disayangkan jika bakatnya hanya disia-siakan di meja depan."
Liam kemudian menoleh ke arah Aslan, matanya yang tajam seperti tengah menantang. "Jangan terlalu posesif, Aslan. Itu membuatmu terlihat lemah. Lagipula, bukankah kau sendiri yang bilang semalam bahwa kau tidak peduli ke mana pun dia pergi?"
Wajah Aslan merah padam. Kata-katanya sendiri senjata makan tuan. Dia memang pernah berbicara seperti itu kepada Daniella. Tapi sekarang, dia sendiri yang merasa martabatnya sedang diinjak-injak di ruang sempit ini. Aslan pun melangkah maju secepatnya dan lantas merenggut pergelangan tangan Daniella hingga istrinya itu berdiri dengan paksa.
"Keluar," cetus Aslan pada Daniella, tanpa melepaskan pandangan tajamnya terhadap Liam. "Tunggu di mobil. Sekarang!" bentaknya dengan kasar dan lantang.
"I-iya, Mas."
Daniella segera menyambar tasnya dan berlari keluar ruang arsip tanpa menoleh lagi. Ia bisa merasakan tatapan Liam yang seolah "menyentuh" punggungnya untuk terakhir kali sebelum pintu yang Daniella tutup dengan rapat.
Kini, hanya tersisa dua pria itu di sana yang sedang menciptakan keheningan yang terasa sangat eksplosif. Keduanya memang diam, tapi batin mereka seakan-akan tengah saling memaki.
"Paman," ucap Aslan, suaranya gemetar karena amarah yang sedang ia coba tahan-tahan. "Aku tahu reputasimu. Aku tahu kau suka mengambil apa yang bukan milikmu. Tapi jangan sekali-kali menyentuh apa yang ada di dalam rumahku."
Liam melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak hingga mereka berdiri berhadapan. Ia lebih tinggi, lebih berpengalaman, dan jauh lebih berbahaya. Lalu, malah ditantang oleh anak kemarin sore?? Tentu saja Liam tidak gentar sedikit pun dan malah merasa hal ini cukup lucu dan juga seru.
"Rumahmu?" Liam tersenyum miring, lalu merapikan kerah kemeja Aslan dengan gerakan yang merendahkan. "Sesuatu hanya disebut milikmu jika kau bisa menjaganya, Aslan. Jika kau membiarkannya kedinginan dan kelaparan akan perhatian, jangan salahkan orang lain jika mereka datang untuk memberinya kehangatan."
Aslan mengerutkan keningnya. Kata-kata yang terlontar dari mulut pamannya barusan, bahkan belum sempat ia cerna di dalam kepalanya ini. Tapi pamannya tersebut malah sudah kembali memberinya pukulan telak.
Liam tersenyum menyeringai dan membungkuk sedikit, lalu berbisik di dekat indra pendengaran keponakannya itu.
"Kau tahu Aslan... istrimu memiliki kulit yang sangat sensitif. Sedikit sentuhan saja, dan dia gemetar seperti daun di tengah badai. Kau seharusnya mencoba menyentuhnya sesekali, sebelum aku memutuskan untuk melakukannya secara permanen."
Setelah mengatakan itu, Liam menepuk bahu Aslan dengan keras dua kali, lalu berjalan keluar sambil bersiul kecil, meninggalkan Aslan yang menghantamkan tinjunya ke meja kayu hingga retak. Belum lagi disusul dengan suara teriakkan bernada frustasi.
"Dasar bengsekk!!" umpatnya dan laki-laki yang tengah berjalan santai di koridor itu pun nampak terhenti langkahnya sesaat, sebelum akhirnya tersenyum puas dan kembali melangkahkan kakinya.
Di dalam mobil, Daniella duduk dengan napas yang terputus-putus. Tangannya gemetar saat ia merogoh tas untuk mencari cermin kecil. Ketika benda itu terbuka, dunianya seakan runtuh. Di dalam pantulan cermin itu, tepat di bawah garis kerah blusnya yang sedikit berantakan, terdapat sebuah tanda merah samar. Sebuah tanda yang ditinggalkan Liam dengan penuh perhitungan beberapa menit lalu saat Aslan belum masuk.
"Gila... dia benar-benar gila," bisik Daniella dengan suara parau.
Tiba-tiba saja, ponsel Daniella bergetar di atas paha dan di dalam tasnya. Ia segera mengambil ponselnya itu dan melihat sebuah pesan yang masuk, dari nomor tak dikenal yang muncul di layar, seolah pengirimnya sedang mengawasinya dari balik kegelapan beton parkiran.
[Warna merah itu sangat cocok di kulit putihmu, Daniella. Sampai jumpa di makan malam keluarga nanti malam. Jangan coba-coba untuk menutupinya.]
"Gila... dia benar-benar gila," bisik Daniella panik. Ia kira setelah malam itu semuanya selesai. Tapi baru ia sadari sekarang, bila itu adalah pembuka dan awal permulaan dari segala macam bentuk kegilaan yang Liam lakukan.
Daniella bahkan nyaris saja menjatuhkan ponselnya. Ketakutan menyergapnya seperti kabut tebal. Ia segera mengancingkan blusnya hingga ke atas, namun ia tahu, di bawah lampu kristal ruang makan keluarga besar malam ini, ketenangan palsunya akan sangat mudah retak. Tapi yang ia tahu pasti sekarang, ada sebuah permainan liar yang sedang dimainkan oleh paman suaminya sendiri dan entah apa pemicunya.
Aslan pun datang dari ujung pintu dan melangkah seperti orang yang sedang kesal. Pintu mobil lalu dibuka dan ditutup kembali dengan sebuah bantingan keras. Aslan duduk di kursi kemudi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Atmosfer di dalam kabin mobil itu begitu pekat dan panas, meski pendingin ruangan sudah disetel maksimal. Aslan tidak langsung menjalankan mobil. Ia hanya menggenggam kemudi dengan kedua tangan, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong dan tentu saja dengan tangan yang mengepal sangat erat pada kemudi itu.
"Kenapa kamu ada di sana, Dani?" tanya Aslan pada akhirnya. Suaranya tidak meledak, justru terdengar datar dan dingin, yang mana jauh lebih menakutkan menurut Daniella.
"Aku... aku hanya ingin mencari dokumen kontrak yang kamu minta tadi pagi, Mas. Lalu Paman Liam datang dan..."
"Lalu Paman Liam datang dan membantumu?" potong Aslan dengan tawa sinis yang pendek. Ia menoleh perlahan, matanya menyisir wajah Daniella dengan penuh selidik. "Sejak kapan Paman Liam peduli pada urusan administrasi rendahan? Dan kenapa kamu tidak menolaknya saat dia berada sedekat itu denganmu?"
"A-aku... aku nggak bisa menolak perintah atasan kan, Mas! Kamu tahu juga kan, bagaimana pengaruhnya di perusahaan?" bela Daniella, meski hatinya mencelos setiap kali ia merasa kerah bajunya bergesekan dengan tanda merah itu.
Aslan mendekatkan wajahnya, memangkas jarak di antara mereka hingga Daniella bisa mencium aroma amarah dari napas suaminya. "Jangan membohongiku dengan alasan hierarki Daniella. Aku melihat bagaimana dia menatapmu. Dan aku melihat bagaimana kamu... tidak berkutik di bawah kendalinya."
Tangan Aslan bergerak perlahan, seolah ingin menyentuh leher Daniella. Jantung Daniella berhenti berdetak sesaat. Jika tangan itu menarik kerahnya sedikit saja, tamatlah riwayatnya.
"Malam ini ada jamuan makan malam besar di kediaman utama," ucap Aslan, tangannya berhenti hanya beberapa sentimeter dari leher istrinya. "Paman Liam akan ada di sana. Seluruh dewan akan ada di sana. Jika aku melihatmu menatapnya lebih dari satu detik, atau jika dia berani menyentuh ujung jarimu saja..." Aslan menjeda kalimatnya, lalu menyalakan mesin mobil dengan raungan yang keras. "Aku tidak akan segan-segan menghancurkan apa pun yang tersisa dari martabat kita berdua!" cetus Aslan dengan napas yang memburu dan sambil melaju dengan mobilnya itu.
Gianna menelan salivanya sendiri. Ia pikir Aslan akan menyentuhnya tadi. Tapi ternyata tidak. Dia masih takut. Atau mungkin ia merasa, bila dirinya ini tidaklah pantas untuk disentuh??
Oh, ayolah. Memang sejak awal pun sikapnya sudah seperti ini. Sikapnya sangat dingin dan penyebab itu semua, karena dia memiliki wanita idaman lain, jauh sebelum perkenalan mereka bahkan hingga pernikahan akhirnya terjadi.
Di sepanjang perjalanan, Aslan memacu mobilnya membelah kemacetan kota dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Daniella hanya bisa mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat dan menerima serta membiarkan tubuhnya terguncang setiap kali Aslan menyalip kendaraan di depan mereka. Hening di antara mereka bukan lagi sebuah kedamaian, melainkan sebuah bom waktu yang sedang berdetik dan entah kapan waktunya akan meledak.
Pikiran Daniella kini melayang pada satu nama yang tiba-tiba muncul di benaknya.
Raisa.
Wanita itu. Sosok yang selalu menjadi bayang-bayang dalam pernikahannya bersama Aslan dan juga menjadi alasan, mengapa Aslan tidak pernah benar-benar "menyentuh" Daniella dengan kasih sayang, melainkan hanya dengan kemarahan dan tuntutan kepemilikan. Dulunya, dia bekerja di perusahaan tempatnya bekerja juga. Akan tetapi, ayah dari Aslan yang tidak menyetujui hubungan mereka karena Raisa tidaklah sepadan dengan keluarga Aslan, membuat ayah mertuanya itu memberhentikan Raisa dari pekerjaannya hanya dengan alasan yang sepele. Daniella tahu, karena Aslan yang selalu menyebut-nyebut nama wanita itu.
Tapi ironisnya, Aslan begitu murka melihat Liam mendekatinya, namun di sisi lain, Aslan sendiri menyimpan hatinya untuk wanita lain. Apa dia tidak bisa menggeser keberadaan wanita itu dan menjalani kehidupan yang normal bersama dengannya??
Oh ya ampun. Memikirkan kata normal saja seketika membuat dirinya sendiri jadi merinding. Ia ingin Aslan bersikap normal dan ia sendiri sudah melakukan hal yang jauh dari kata normal. Yaitu dengan bermain api bersama paman suaminya sendiri.
"Kenapa diam? Sedang memikirkan pembelaan apa lagi untuk Paman Liam?" suara Aslan memecah keheningan serta lamunan Daniella barusan.
"Nggak ada yang perlu dibela, Mas," jawab Daniella lirih, suaranya hampir hilang ditelan deru mesin. "Aku hanya lelah. Bisa kita nggak membahas tentang hal ini sampai di rumah?" pinta Daniella gusar. Ia benar-benar terjebak diantara hubungan yang membuatnya hampir gila.
"Lelah? Lelah karena apa, Dani hm? Karena bermain kucing-kucingan di ruang arsip atau lelah karena harus berpura-pura menjadi istri yang setia di depanku?" Aslan tertawa hambar, jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi dengan ritme yang tidak beraturan. "Bersiaplah. Malam ini aku ingin kamu memakai gaun yang paling tertutup. Jangan biarkan satu inci pun kulitmu terlihat oleh pria itu. Aku tidak sudi menjadi bahan tertawaan karena istriku menjadi santapan mata paman sendiri."
Daniella membuang muka ke arah jendela, tersenyum getir sambil memejamkan matanya erat-erat dan membiarkan pantulan bayangan gedung-gedung tinggi di kaca jendela menyamarkan air mata yang nyaris jatuh. Kata-kata Aslan barusan bagaikan ribuan jarum yang menusuk tepat di ulu hatinya. Sangat tajam, namun sekaligus sangat menggelikan.
'Paling tertutup? Jangan biarkan satu inci pun kulitku terlihat?' batin Daniella menjerit dalam diam.
Daniella ingin tertawa keras di depan wajah Aslan, sebuah tawa histeris yang mungkin akan menghancurkan sisa-sisa kewarasan pria itu. Aslan begitu sibuk menjaga "bungkus" luar istrinya agar tidak dipandang orang lain, padahal dia tidak tahu, bahwa di balik blus yang kini ia kancingkan rapat-rapat, seluruh tubuhnya ini bahkan sudah tidak lagi asing bagi pamannya itu.
'Kamu terlambat, Mas...' Daniella meremas jemarinya yang masih dingin. 'Kamu bicara soal menjaga martabat, padahal kamu sendiri yang melempar aku ke dalam kesepian ini. Kamu terlalu sibuk memuja bayang-bayang Raisa sampai kamu tidak sadar bahwa pamanmu sudah masuk ke wilayah yang paling pribadimu.' batin Daniella lagi.
Setiap kali mobil ini berguncang, Daniella bisa merasakan nyeri halus di beberapa bagian tubuhnya. Jejak-jejak yang ditinggalkan Liam dengan penuh d******i dalam pertemuan rahasia mereka sebelumnya. Liam tidak hanya sekadar menatapnya dengan nafsu. Tapi pria itu telah memetakan setiap lekuk tubuh Daniella, mengklaimnya dengan cara yang tidak pernah dilakukan Aslan selama pernikahan mereka yang hambar.
'Bukan hanya mata Paman Liam yang menikmati, Mas,' lanjutnya dalam hati dengan getaran ketakutan yang bercampur dengan rasa bersalah yang memuakkan. 'Dia sudah menyentuh apa yang seharusnya menjadi hakmu. Dia sudah mendengar desahan yang selama ini kamu abaikan. Dan sekarang, tanda merah di leherku ini hanyalah sebuah kartu nama kecil darinya untuk mengingatkanmu, bahwa di saat kamu sibuk mengejar masa lalu, pamanmu telah mencuri masa sekarangmu sendiri.'
Daniella menoleh sedikit ke arah suaminya, menatap raut samping wajah Aslan yang masih terlihat mengeras karena cemburu yang salah sasaran.
Oh ya ampun. Ia bahkan tidak tahu itu cemburu atau bukan. Dia marah tapi entah apa pemicunya. Karena seingatnya juga, hanya wanita itulah yang dia cintai dan bukanlah dirinya ini. Wanita yang jelas-jelas sudah menjadi istri dan dinikahi olehnya selama beberapa bulan terakhir ini.
'Tunggu saja sampai malam ini, Mas. Kamu akan melihatku memakai gaun paling tertutup seperti maumu. Tapi di bawah kain mahal itu, aku akan terus merasa kotor, sekaligus terbakar oleh ingatan tentang tangan pamanmu sendiri, yang lebih hangat daripada kata-katamu tadi.'
Daniella tahu dengan pasti, bila malam ini di jamuan makan malam keluarga, ia akan berdiri di tengah-tengah dua pria itu. Satu pria yang mencintainya hanya sebagai properti yang harus dijaga demi harga diri juga nama baiknya saja dan satu pria lagi yang memperlakukannya sebagai mangsa lezat, yang bahkan sudah menyantapnya habis-habisan.
Tapi yang paling mengerikan diantara itu semua adalah kenyataan bahwa Daniella sama sekali tidak tahu, siapa di antara mereka yang sebenarnya lebih berbahaya bagi hidupnya.