BAB 9

2242 Words
Aslan tidak segera menyusul Daniella keluar dari mobil. Ia tetap berada di balik kemudi, membiarkan mesin mobil yang mati menciptakan keheningan yang menyesakkan. Napasnya memburu, sementara telapak tangannya berkeringat dingin di atas kemudi kulit yang mahal. “Ada orang lain yang justru membuka mataku.” Kata-kata yang Daniella ucapkan itu, terus bergema seperti lonceng kematian di telinga Aslan. Kini, pikirannya mulai berkelana ke tempat-tempat yang tak pernah ia jangkau. Selama ini, ia merasa berada di atas angin. Ia merasa dirinya adalah pihak yang "berkorban" dengan menikahi Daniella demi wasiat dan stabilitas perusahaan. Ia merasa Daniella adalah pelabuhan yang tenang, tempat ia bisa menyimpan kenangan masa lalunya tentang Raisa tanpa perlu merasa terancam. Namun sekarang, pelabuhan itu justru telah berubah menjadi badai yang siap menenggelamkannya kapan saja. Paman Liam. Nama itu muncul lagi di dalam kepalanya dan memicu mual di perut Aslan. Ia mencoba menepisnya dengan logika. Tidak mungkin. Liam adalah pamannya, adik dari ayahnya yang selama ini menjadi mentor bisnisnya. Meskipun Liam dikenal sebagai pria yang dingin dan penuh perhitungan, tapi merayu istri keponakannya sendiri? Itu adalah tindakan yang melampaui batas kewajaran, bahkan untuk standar keluarga mereka yang penuh intrik. "Tapi tatapan itu..." gumam Aslan pada dirinya sendiri. Ia teringat malam sebelumnya di balkon. Liam berdiri terlalu dekat dengan Daniella. Tangan Liam yang menyentuh bahu Daniella di meja makan tidak terlihat seperti gestur seorang paman yang protektif, melainkan seperti seorang predator yang sedang menandai wilayah. Dan kalung itu... Aslan tahu Daniella tidak memiliki tabungan sebanyak itu untuk membeli berlian dengan kualitas seperti itu. Di dalam galeri, suasana sudah mulai ramai. Daniella berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh lukisan-lukisan abstrak yang seolah menggambarkan kekacauan di dalam dadanya. Ia menatap dalam-dalam dan isi kepalanya bahkan menjadi seperti sebuah benang yang kusut, yang mau dipetakan bagaimana pun tetap saja tidak pernah menemukan ujung benangnya. "Kamu terlihat memukau, Sayang." Suara itu muncul dari arah belakang Daniella. Bukan Aslan. Suara itu lebih rendah, lebih berwibawa, dan memiliki nada kepemilikan yang membuat bulu kuduk Daniella berdiri. Liam berdiri di sana, tampil sempurna dengan setelan jas abu-abu arangnya. "Paman," ucap Daniella tanpa menoleh dan tetap menatap sebuah lukisan bertema gradasi merah darah di depannya. "Aslan ada di belakang. Dia mungkin akan segera masuk," ucap Daniella agar Liam tentunya lebih waspada, ia bisa mati konyol, bila ketahuan memiliki hubungan dengan pamannya ini. "Biarkan dia. Dia sedang sibuk mengumpulkan kepingan harga dirinya yang baru saja kamu hancurkan di mobil tadi." Liam melangkah maju hingga mereka berdiri dengan sejajar. Aroma parfum sandalwood dan tembakau dari tubuh Liam mulai menyeruak dan menyapa indra penciuman Daniella dan menggantikan udara segar di dalam galeri. Daniella menoleh sedikit dengan mata yang berkilat tajam. "Bagaimana Paman tahu apa yang terjadi di mobil?" Liam terkekeh, suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Daniella. "Aku tidak perlu mendengar untuk mengetahui bahwa kamu telah mengasah taringmu, Daniella. Kamu melakukannya dengan sangat baik. Caramu memakai kalung itu... itu adalah pernyataan perang yang sangat indah." Tak lama kemudian, Aslan masuk ke ruangan. Langkahnya lebar, matanya langsung mencari keberadaan istrinya. Saat ia melihat Daniella berdiri begitu dekat dengan Liam, langkahnya sempat terhenti. Rasa bersalah yang ia rasakan semalam di sofa kini menguap, berganti dengan ego pria yang terluka dan amarah yang murni. Aslan berjalan mendekat dan segera merangkul pinggang Daniella dengan posesif. Sesuatu yang dilakukan bahkan bukan karena cinta, melainkan sebagai tanda kepemilikan seperti berada di depan seorang saingan. "Maaf aku terlambat, Paman. Ada urusan mendadak yang harus kuselesaikan di parkiran," ucap Aslan, nadanya terdengar seperti tantangan. Matanya tidak beralih dari tangan Liam yang masih berada di dekat lengan Daniella. Liam tersenyum tenang dan sama sekali tidak merasa terintimidasii. "Tidak masalah, Aslan. Pamanmu ini baru saja memuji istrimu. Dia adalah bintang di acara ini. Banyak kolektor yang bertanya-tanya siapa wanita cantik yang bersamamu." Aslan mempererat rangkulannya, membuat Daniella sedikit tersentak karena tekanan jari Aslan di pinggangnya. "Dia istriku, Paman. Dan dia akan selalu berada di tempat yang seharusnya." "Tentu saja," jawab Liam santai. "Selama tempat itu tidak terlalu dingin untuknya. Karena wanita seperti Daniella... jika dia merasa diabaikan, dia akan mencari kehangatan di tempat lain yang lebih menghargainya." Kalimat Liam itu seperti tamparan keras bagi Aslan. Ia menatap pamannya dengan kebencian yang mulai sulit disembunyikan. Namun, sebelum ia bisa membalas, beberapa tamu penting mendekat untuk menyapa mereka dan memaksa mereka kembali ke dalam topeng kesopanan sosial yang palsu. Hingga pada malam harinya, setelah acara berakhir, rumah besar itu kembali ke dalam suasana sunyi yang mencekam. Ayah Aslan sudah beristirahat, sementara Liam menghilang ke sayap kanan bangunan. Aslan sendiri berdiri di balkon kamarnya, menatap kegelapan taman yang luas. Di tangannya, ia memegang selembar foto itu lagi saja. Biasanya, memandangi wajah Raisa memberinya kedamaian, sebuah pelarian dari kenyataan. Namun malam ini, ia merasakan gejolak yang berbeda. Ia teringat betapa Raisa selalu menurut padanya, berbeda dengan Daniella yang tadi siang berani menatapnya dengan penuh kebencian. Rasa bersalah sempat melintas, Aslan sadar ia telah menelantarkan Daniella, setidaknya sebagai seorang istri yang sah. Namun egonya segera menepisnya. 'Aku telah memberinya segalanya. Nama besar, kemewahan, posisi. Mengapa dia harus mencari 'mata' orang lain?' Aslan tidak ingin menyerah pada rasa bersalahnya. Alih-alih meminta maaf lagi, batinnya justru diselimuti oleh obsesi baru. Ia merasa dikhianati, padahal ia sendiri yang membangun dinding di antara mereka.. Kemudian dia pun mulai menoleh ke dalam kamar. Daniella sedang duduk di depan meja rias, perlahan-lahan melepaskan kalung berlian yang melingkar di lehernya dan Aslan mulai merasa terprovokasi dengan hal itu. Aslan pun masuk ke dalam kamar dan meletakkan foto Raisa di atas meja dengan suara dentuman yang sengaja dibuat keras. Ia tidak membuang foto itu. Ia justru memposisikannya tepat di samping kotak perhiasan biru, yang tadi pagi ia berikan dan ditolak oleh Daniella. "Kamu pikir aku bodoh, Dani?" suara Aslan berat dan penuh ancaman yang tertahan. Daniella baru saja hendak meletakkan kalung itu ke dalam kotaknya, namun tangan Aslan lebih cepat. Ia menyambar kalung berlian itu, membiarkan permata yang dingin itu melilit di sela-sela jarinya yang gemetar karena amarah. Suasana kamar menjadi begitu menyesakkan saat Aslan berdiri tepat di depan Daniella, menghalangi cahaya lampu meja rias sehingga bayangannya jatuh menelan tubuh kecil istrinya. Aslan tidak lagi melihat foto Raisa. Tapi perhatiannya kini tersedot sepenuhnya pada kalung berlian yang berkilau di membelit jemari tangannya ini. "Aku tidak suka ada barang asing masuk ke rumah ini tanpa aku ketahui asalnya," suara Aslan terdengar tenang namun mengandung ancaman yang tajam. "Katakan, Dani. Siapa pria yang memberimu ini? Kolektor mana yang berani mengirimkan perhiasan pribadi padamu?" Dalam benak Aslan, ia mencurigai salah satu kolektor seni kaya atau pengusaha yang tadi malam tampak begitu terpesona pada Daniella di galeri. Ia belum sampai pada pemikiran bahwa pelakunya adalah Liam, orang yang merupakan pamannya sendiri. Baginya, ini hanyalah gangguan dari pria luar yang mencoba menggoda istrinya. Atau mungkin Aslan masih denial dan merasa kedekatan mereka tidak akan sampai menggila. Daniella terdiam, jemarinya meremas pinggiran kursi. Ia tidak bisa mengatakan bahwa itu dari Liam. Jika ia jujur, perang saudara akan pecah, dan Aslan pasti akan menghancurkannya lebih dulu. "Kenapa kamu harus tahu?" jawab Daniella lirih dengan suaranya bergetar. "Selama ini kamu tidak pernah peduli apa yang melingkar di leherku, atau apa yang ada di hatiku kan? Tapi kenapa sekarang jadi sok peduli??" Aslan mendengus dingin. Ia melangkah maju satu tindak, membuat jarak di antara mereka hilang. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Daniella, sesuatu yang selama ini ia abaikan demi bayang-bayang masa lalu. Namun malam ini, melihat istrinya seolah mulai "dimiliki" oleh orang lain melalui benda itu, egonya terbakar. "Aku suamimu. Aku berhak atas segalanya yang ada padamu," Aslan mengulurkan tangan, ujung jarinya menyentuh pundak Daniella yang terbuka, lalu turun perlahan ke tulang selangkanya. "Selama ini aku memberimu ruang. Aku membiarkanmu sendirian karena kupikir itu sudah lebih dari cukup." Aslan membungkuk, napasnya terasa hangat di telinga Daniella. "Tapi jika perhiasan ini adalah caramu memintaku untuk lebih 'dekat', maka aku akan memberikannya." Logika Aslan mendadak tidak bekerja dengan baik. Entah memang karena naluri alamiah seorang lelaki atau karena harga dirinya terkoyak. Tangannya yang besar kini mendarat di pinggang Daniella, menariknya pelan agar berdiri menghadapnya. "Bagaimana jika kita mulai malam ini? Bagaimana jika aku mencoba menyentuhmu, bukan sebagai formalitas, tapi sebagai suamimu? Apakah itu akan membuatmu berhenti menerima pemberian dari pria lain?" Aslan mencoba merunduk untuk mencium leher Daniella, tempat yang biasanya menjadi awal dari sebuah keintiman. Namun, tepat sebelum bibirnya menyentuh kulit istrinya, Daniella tersentak hebat. Ia mendorong d**a Aslan dengan kekuatan yang tidak terduga, membuat pria itu mundur satu langkah. "Jangan, Mas!" cetus Daniella. Matanya berkaca-kaca, penuh dengan penolakan yang sangat nyata. Bahkan, tubuhnya itu sampai bergetar hebat. Padahal, Aslan adalah suaminya sendiri. Aslan mengerutkan kening dan harga dirinya semakin terluka. Ia cukup perkasa dan lantas kenapa? "Ada apa, Dani? Bukankah ini yang kamu keluhkan selama ini? Bahwa aku dingin padamu?" "Bukan sekarang, Mas. Jangan sekarang," Daniella memalingkan wajah, tangannya secara tidak sadar menyentuh area leher dan bahunya sendiri, titik-titik di mana tangan Liam telah menjajahnya secara rahasia pada hari-hari sebelumnya. Sentuhan Liam masih terasa seperti luka bakar di kulitnya. Rasanya kotor, penuh rahasia, dan berbahaya. Diperlakukan secara posesif oleh Aslan saat ia masih merasakan "jejak" pria lain di tubuhnya membuat Daniella merasa mual. Ia menolak bukan karena tidak menginginkan Aslan, tapi karena ia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya untuk diberikan pada siapa pun. Aslan menatap tangan Daniella yang menutupi lehernya sendiri, matanya menyipit penuh kecurigaan. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia bisa merasakan penolakan Daniella bukan karena benci, melainkan karena ada sesuatu yang menahan istrinya itu. "Kamu menolakku, Dani?? Padahal, kamu selalu mengeluhkan tentang hal ini kan??" suara Aslan menjadi sedingin es. "Kamu membiarkan kalung itu ada di kamarmu, tapi kamu malah mengusir suamimu sendiri? Apakah pantas seperti itu??" Aslan berbalik, berjalan menuju pintu kamar dengan langkah gusar. "Simpan kalungmu itu! Tapi jangan harap aku akan menawarkan tangan yang sama untuk kedua kalinya!" Pintu tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Daniella yang luruh ke lantai. Ia menangis tanpa suara, meratapi kenyataan bahwa saat Aslan akhirnya ingin "menyentuhnya". Tapi dia bahkan sudah lebih dulu dihancurkan oleh sentuhan orang yang paling tidak seharusnya melakukan hal itu. Keheningan yang ditinggalkan Aslan terasa jauh lebih berat daripada amarahnya. Di dalam kamar yang luas itu, Daniella masih bersimpuh di lantai, menatap nanar ke arah pintu yang tertutup rapat. Aroma parfum Aslan, yaitu perpaduan antara cedarwood dan dinginnya malam, masih tertinggal di ruangan beradu dengan aroma sandalwood milik Liam yang seolah-olah telah menyerap ke dalam pori-pori kulitnya. Daniella mengangkat tangannya, gemetar, lalu menyentuh lehernya sendiri. Di sana, di bawah lapisan kulit yang tampak halus, ia masih bisa merasakan tekanan jemari Liam yang kasar saat pria itu membisikkan ancaman di galeri tadi. “Sentuhan suamimu akan terasa seperti anak kecil yang bermain api, Daniella. Tapi aku? Aku adalah api itu sendiri.” Daniella memejamkan mata erat-erat. Ia merasa kotor. Penolakannya terhadap Aslan tadi bukan karena ia tidak menginginkan suaminya, melainkan karena ia merasa tubuhnya telah dikhianati oleh ingatannya sendiri. Ia takut jika Aslan menyentuhnya, Aslan akan bisa merasakan sisa-sisa keberadaan pria lain di sana. Di Ruang Kerja Aslan. Di lantai bawah, Aslan tidak pergi tidur. Ia menuangkan wine ke dalam gelas kristal hingga hampir penuh, meminumnya dalam satu tegukan yang membakar tenggorokan. Ia berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Pikirannya mendadak kacau. Penolakan Daniella tadi terasa seperti tamparan yang lebih keras daripada kata-kata hinaan mana pun. "Siapa?" gumam Aslan pada gelasnya. "Siapa pria yang bisa membuatmu gemetar ketakutan saat aku menyentuhmu?" Aslan meletakkan gelasnya dengan kasar. Ia mulai mengingat kembali daftar tamu di galeri. Pengusaha tekstil dari Surabaya? Kolektor muda dari Jakarta? Atau mungkin kurator seni yang tadi siang tampak terlalu akrab dengannya? Ia sama sekali tidak mencurigai Liam. Baginya, Liam adalah tembok karang yang menjaga nama baik keluarga. Namun, satu hal yang pasti, Aslan merasa harga dirinya sebagai seorang pria dan seorang suami telah diinjak-pijak. "Kamu pikir kamu bisa menyembunyikannya dariku, Daniella?" ucapnya dengan nada dingin yang baru. "Jika aku tidak bisa memilikimu dengan kelembutan, maka aku akan memilikimu dengan kebenaran yang akan menghancurkan siapa pun yang mencoba mendekatimu." Pukul 02:00 Pagi Lampu di sayap kanan rumah, paviliun milik Liam masih menyala samar. Dari jendela kamarnya, Liam berdiri dalam kegelapan, memperhatikan bayangan Aslan yang mondar-mandir di ruang kerja melalui pantulan kaca. Liam tersenyum tipis. Ia tahu persis apa yang terjadi di kamar atas. Ia tahu Daniella akan menolak Aslan, bukan karena benci, tapi karena rasa bersalah dan ketakutan yang telah ia tanamkan dengan begitu rapi. Liam merogoh saku jubah tidurnya, mengeluarkan sebuah anting kecil yang ia "temukan" terjatuh di gaun Daniella saat mereka berdekatan tadi sore. Ia memutar-mutar perhiasan kecil itu di jarinya. "Marahlah, Aslan," bisik Liam dengan suara yang berat. "Semakin kamu marah, semakin kamu akan mendorongnya ke pelukanku. Dan saat itu terjadi, aku akan memastikan kamu melihat semuanya." Kembali ke Kamar Utama. Daniella akhirnya bangkit, langkahnya gontai menuju kamar mandi. Ia menyalakan pancuran air panas hingga uap memenuhi ruangan. Ia menggosok bahu dan lehernya dengan kasar, mencoba menghapus "jejak" yang sebenarnya tidak terlihat secara fisik, namun terasa begitu nyata secara mental. Saat ia keluar dengan jubah mandi, ia melihat kalung berlian itu masih tergeletak di meja rias. Kilauannya seolah mengejeknya. Daniella pun mendekat dan mengambil kalung itu, bermaksud menyembunyikannya di laci terdalam, namun tangannya berhenti saat melihat sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya yang tergeletak di samping kotak perhiasan. [Tidur yang nyenyak, Little Bird. Jangan biarkan suamimu melihat memar kecil di hatimu. Sampai jumpa di mimpi.] Daniella hampir menjatuhkan ponselnya ke atas karpet. Ia sadar, pelariannya dari Aslan tadi malam bukanlah sebuah kemenangan. Itu adalah awal dari sebuah jerat yang jauh lebih mematikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD