Daniella melangkah mendekat. Bayangannya di dinding terlihat tinggi dan mengancam di bawah cahaya temaram kamar tersebut. Kemarahan yang selama ini ia pendam, yang selama ini berhasil diredam oleh manipulasi Liam, kini meluap layaknya bendungan yang jebol.
"Kamu bukan pahlawan, Mas! Kamu hanya pengecut yang bersembunyi di balik kenangan mati!" suara Daniella naik satu oktav, tajam dan bergetar. "Kamu bilang menyentuhku akan membuatku merasa murah? Lihat aku, Aslan! Lihat istrimu ini!"
Aslan tersentak. Ia duduk tegak di sofa dan nampak terkejut melihat Daniella yang biasanya pasif, kini meledak-ledak di depannya.
"Kamu membiarkan aku berjalan di rumah ini seperti hantu. Kamu membiarkan Paman Liam menatapku seolah aku adalah hidangan penutup di meja makan, dan kamu hanya diam! Kamu terlalu sibuk meratapi wanita yang entah ada dimana itu, sampai kamu tidak sadar bahwa istrimu sendiri sedang hancur berkeping-keping!"
Daniella mencengkeram kerah gaunnya sendiri, hampir saja ia merobeknya untuk memperlihatkan tanda merah di lehernya itu, sebagai bukti nyata dari pengabaian Aslan. Namun, sisa kewarasannya menahan tangan itu. Ia tidak boleh menghancurkan rencananya dengan Liam, setidaknya tidak malam ini. Biarpun ia tahu pasti, akan ada masa dimana semuanya akan terbuka juga.
"Cukup, Daniella!" Aslan berdiri, mencoba mengintimidasii dengan lebih tinggi dari amarah Daniella sendiri. Namun, matanya tidak bisa menyembunyikan getaran rasa bersalah yang juga menyambarnya.
"Nggak, ini belum cukup!" Daniella mendorong d**a Aslan dengan kedua tangannya. Kekuatan yang muncul dari rasa sakit hati yang murni. "Mulai detik ini, jangan pernah bicara soal kehormatanku lagi. Kamu sudah kehilangan hak itu saat kamu lebih memilih selembar kertas kusam daripada wanita yang bernapas di sampingmu. Simpan fotomu, simpan rasa bersalahmu, dan tetaplah di sofa busuk ini sampai kamu membusuk bersamanya!"
Daniella berbalik dan berjalan menuju tempat tidur besar mereka lalu merebahkan dirinya dengan kasar. Dia memunggungi Aslan dan lantas menarik selimut hingga ke bahu untuk menyembunyikan getaran hebat di tubuhnya itu.
Di sofa, Aslan sendiri diam mematung. Kata-kata Daniella barusan bukan sekadar kemarahan. itu adalah vonis. Untuk pertama kalinya, ia melihat fotonya, foto Raisa yang selalu ia jaga dan merasa ada yang salah. Kilatan amarah di mata Daniella tadi mengingatkannya pada sesuatu yang hidup, sesuatu yang nyata, yang selama ini ia abaikan demi sebuah ilusi masa lalu.
Aslan menatap punggung Daniella. Rasa bersalah mulai merayap naik, lebih dingin dari udara AC di kamar itu. Ia teringat bagaimana Liam menatap Daniella di balkon tadi. Ia teringat bagaimana Liam dengan sengaja menyentuh bahu Daniella di meja makan.
'Apakah aku benar-benar mendorongnya ke arah serigala itu?' pikir Aslan. Jantungnya berdegup kencang karena ketakutan yang baru, yaitu ketakutan kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah ia miliki sepenuhnya.
Tiba-tiba saja terbersit keinginan untuk melangkah maju, ingin menyentuh bahu Daniella dan meminta maaf. Namun, bayangan Liam yang tersenyum penuh kemenangan di meja makan tadi kembali muncul. Ada sesuatu yang berbeda dari Daniella malam ini. Aromanya bukan lagi sekadar melati yang biasa ia pakai, ada aroma lain, sesuatu yang maskulin, tajam, dan familiar yang tertinggal di udara saat Daniella melewatinya tadi.
Aslan mengepalkan tangannya. Ia kembali duduk di sofa, namun kali ini ia tidak memandangi foto di tangannya. Ia menatap pintu kamar, lalu beralih ke punggung istrinya. Rasa bersalah itu kini malah bercampur dengan kecurigaan yang membakar.
Sementara di bawah selimut itu, Daniella memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya jatuh membasahi bantal sutranya. Ia merasa menang karena berhasil membuat Aslan terpukul, namun di saat yang sama, ia merasa ngeri. Karena di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia tidak melihat wajah suaminya yang menyesal. Ia justru melihat seringai Liam yang berkata, "Lihat? Hanya aku yang bisa membuatmu merasa hidup."
Malam itu, di kamar yang megah tersebut, ada tiga orang yang terjaga dalam diam. Daniella dengan pengkhianatannya, Aslan dengan rasa bersalahnya yang terlambat, dan di sayap lain rumah itu, Liam... yang mungkin sedang menuang gelas wine kedua, menunggu bidak-bidaknya bergerak tepat sesuai rencana yang telah ia susun dengan sangat rapi. Kehancuran itu tidak lagi menunggu di depan pintu. Ia sudah berada di dalam, ikut tidur di antara mereka.
Keesokan harinya.
Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah gorden beludru, menciptakan garis-garis emas yang tidak diinginkan di atas tempat tidur. Daniella terbangun dengan perasaan seolah seluruh sendinya membeku. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban berat di dadanya, dan hal kedua adalah keheningan yang mencekam di dalam kamar.
Ia menoleh perlahan ke arah sofa.
Kosong.
Selimut di sofa itu terlipat rapi, dan bantalnya sudah kembali ke posisi semula. Aslan sudah pergi. Daniella bangkit dan berdiri berdiri, lalu merasakan sisa-sisa ketegangan semalam masih berdenyut di pelipisnya. Ia berjalan menuju meja rias, dan di sana, ia menemukan sesuatu yang membuatnya mematung.
Sebuah kotak perhiasan kecil berwarna biru gelap tergeletak di samping sisir dan di bawahnya, ada secarik kertas dengan tulisan tangan Aslan yang kaku.
'Maaf untuk semalam. Pakailah ini untuk acara peresmian galeri ayah siang ini. Aku menunggumu di ruang makan.'
Daniella membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah bros berlian berbentuk mawar yang sangat indah. Namun, alih-alih merasa tersentuh, Daniella justru merasa mual. Hadiah ini bukan bentuk cinta, melainkan ini adalah tebusan atas rasa bersalah. Ini adalah cara Aslan menyuap nuraninya sendiri agar bisa terus merasa sebagai "pria baik."
Namun, ia juga teringat akan perintah Liam semalam.
'Besok, aku ingin kamu memakai perhiasan yang kuberikan minggu lalu... Itu akan menjadi pengingat bahwa di bawah kilau berlian itu, ada tandaku yang tetap tinggal.'
Daniella menarik laci rahasia di meja riasnya. Ia mengeluarkan kalung berlian dengan rantai tipis pemberian Liam. Dua perhiasan kini berada di depannya. Satu dari suaminya yang sedang mencoba menebus dosa, dan satu dari paman suaminya yang sedang mengklaim wilayah kekuasaan.
Di Ruang Makan
Suasana sarapan keluarga besar itu tampak seperti lukisan yang sempurna. Ayah mertua Daniella sedang sibuk membaca koran digital, sementara Liam duduk di kursi biasanya, terlihat segar dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia sedang mengoleskan mentega ke rotinya dengan ketenangan yang mematikan.
Aslan sendiri duduk di seberang Liam. Wajahnya pucat, lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan oleh aroma kopi yang kuat. Saat Daniella masuk ke ruangan, percakapan terhenti dan suara lelaki yang usianya paling tua di sana nampak menyapanya.
"Selamat pagi, Dani," sapa ayah mertuanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet.
"Pagi, Pa," jawab Daniella lirih. Ia mengambil tempat duduk di samping Aslan dan Aslan reflek langsung menoleh ke arah Daniella. Sepasang bola matanya nampak sibuk mencari-cari sesuatu di tubuh istrinya. Tapi bros mawar pemberiannya sama sekali tidak tersemat di gaun pagi Daniella. Namun, napasnya sontak tertahan saat matanya menangkap kilauan di leher Daniella.
Kalung berlian rantai tipis itu melingkar indah di leher jenjang Daniella, berkilau di bawah lampu kristal ruang makan. Liam mengangkat wajahnya. Sudut bibirnya terangkat hampir tak kentara. Ia menatap kalung itu, lalu beralih menatap mata Aslan yang kini memerah karena amarah yang tertahan.
"Kalung yang indah, Daniella," suara bariton Liam memecah keheningan. "Sangat cocok dengan kulitmu. Aku tidak menyangka kamu akan memakainya pagi ini."
Aslan meremas garpunya hingga kuku jarinya memutih. "Aku tidak ingat pernah membelikanmu kalung itu, Dani," ucap Aslan dengan nada suara yang rendah, berusaha keras menjaga wibawanya di depan sang ayah.
Daniella menyesap tehnya dengan tangan yang sangat tenang, ketenangan yang tentu saja ia pelajari dari Liam. "Oh, ini? Aku membelinya sendiri beberapa waktu lalu, Mas. Kamu terlalu sibuk dengan laporan keuangan untuk menyadari koleksi perhiasanku, bukan?"
Dusta itu meluncur begitu mulus dari mulut Daniella dan Liam malah terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar seperti ejekan langsung ke wajah Aslan.
"Sepertinya kamu memang harus lebih memperhatikan istrimu, Aslan," timpal Liam sambil melirik tanda yang samar-samar tertutup oleh kilau berlian di leher Daniella. "Wanita seperti Daniella memiliki selera yang tinggi. Jika kamu tidak bisa memenuhi standarnya, jangan terkejut jika dia menemukan caranya sendiri."
Aslan bangkit berdiri dengan kasar hingga kursinya berderit di atas lantai marmer. "Aku sudah selesai. Dani, aku tunggu di mobil dalam sepuluh menit. Kita tidak boleh terlambat ke galeri."
Aslan melangkah pergi tanpa pamit, memancarkan aura suram yang pekat. Rasa bersalah yang ia rasakan tadi malam kini telah bermutasi menjadi kecemburuan yang beracun. Ia merasa sedang kehilangan kendali atas miliknya sendiri, dan ia tidak tahu bahwa musuhnya duduk tepat di hadapannya, sedang menikmati sarapan dengan santai.
Tinggallah Daniella dan Liam di meja makan, sementara ayah mertuanya sudah lebih dulu pindah ke ruang kerja dan tetap sibuk mengurusi pekerjaan di hari libur ini.
"Kamu bermain dengan api, Daniella," bisik Liam setelah memastikan mereka hanya berdua, karena Rosie istri dari Liam sendiri, sudah dibawa pergi oleh kakak iparnya untuk mengikuti arisan para ibu-ibu sosialita.
Daniella menoleh, matanya yang kini tampak lebih tajam menatap pria itu. "Bukannya itu yang Paman inginkan? Melihatnya hancur perlahan-lahan?"
Liam bangkit, berjalan mendekat dan berdiri di belakang kursi Daniella. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga wanita itu, aromanya kembali memabukkan kesadaran Daniella.
"Aku ingin dia hancur, ya. Tapi aku ingin kamu tetap utuh... setidaknya sampai aku selesai memilikimu."
Liam menyentuh kalung itu dengan jarinya, sengaja menyentuh kulit leher Daniella yang sensitif, membuat wanita itu merinding hebat. "Pergilah. Mainkan peranmu sebagai istri yang patuh hari ini. Tapi ingat, setiap kali kalung ini menyentuh kulitmu, itu adalah tanganku yang sedang meraba tubuhmu."
Daniella menarik napas panjang, menguatkan hatinya sebelum berdiri dan menyusul suaminya. Pagi itu, drama baru dimulai. Di bawah terik matahari, rahasia mereka menjadi semakin berat, dan benang-benang takdir yang ditarik oleh Liam mulai menjerat leher mereka semua dan telah siap untuk mencekik kapan saja.
Mobil Mercedes-Benz hitam itu melaju membelah kemacetan kota dengan keheningan yang menyesakkan. Aslan mencengkeram kemudi dengan begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol, sementara Daniella hanya menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit yang tampak kabur di matanya.
Aslan beberapa kali melirik ke arah leher Daniella. Kilau kalung itu seolah mengejeknya. Setiap kali lampu lalu lintas berubah merah, ia ingin sekali merenggut kalung itu dan bertanya dari mana sebenarnya perhiasan itu berasal. Namun, rasa bersalah semalam masih menyisakan sisa-sisa di sudut hatinya, menciptakan konflik batin yang menyiksa.
"Kenapa kamu tidak memakai bros pemberianku?" suara Aslan akhirnya pecah, terdengar berat dan sarat akan ketegangan.
Daniella tidak menoleh. "Bros itu terlalu formal untuk acara galeri siang ini. Aku lebih suka yang ini."
"Kamu lebih suka sesuatu yang tidak aku ketahui kapan kamu membelinya?" Aslan terkekeh hambar, nada suaranya mulai naik. "Sejak kapan kamu punya rahasia soal pengeluaranmu, Dani? Semua kartu kreditmu terhubung dengan akunku."
Daniella akhirnya menoleh, menatap suaminya dengan tatapan yang kini jauh lebih berani dan tatapan itu juga yang ia pinjam dari cara Liam memandang dunia. "Mungkin karena kamu terlalu sibuk memperhatikan foto wanita kamu itu, sampai kamu lupa bahwa aku juga punya tabungan sendiri sebelum kita menikah, Mas. Atau mungkin, kamu memang tidak pernah benar-benar mengenali siapa istrimu sendiri?"
Kalimat itu menghantam Aslan tepat di ulu hati. Ia membanting setir sedikit lebih kasar saat berbelok ke area parkir gedung perusahaan keluarganya. Ia menginjak rem dengan mendadak begitu mobil sampai di slot parkir khusus direksi.
Aslan mematikan mesin, namun ia tidak segera keluar. Ia berbalik sepenuhnya menghadap Daniella, matanya menatap tajam. "Kamu berubah, Daniella. Sejak jamuan makan malam semalam, kamu bukan lagi wanita penurut yang aku kenal."
"Wanita penurut itu sudah mati karena kedinginan di kamar yang suaminya lebih memilih tidur di sofa," balas Daniella dingin. Ia hendak membuka pintu mobil, namun tangan Aslan dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya.
Cengkeraman itu tidak kasar, namun penuh dengan keputusasaan. "Aku... aku minta maaf soal semalam. Aku tahu aku keterlaluan. Tapi tolong, jangan bersikap seperti ini. Jangan membuatku merasa seolah aku sedang berbagi mobil dengan orang asing."
Daniella menatap tangan Aslan yang memegang pergelangan tangannya. Ia bisa merasakan denyut nadi suaminya yang tidak beraturan. Untuk sesaat, ia merasa iba. Namun, aroma parfum maskulin Liam yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya segera menghapus rasa itu.
"Kita memang orang asing, Aslan," bisik Daniella yang seperti menabuh genderang perang. "Kita hanya dua orang yang terikat kontrak dan tinggal di bawah atap yang sama. Kamu mendapatkan posisimu di perusahaan, dan aku... aku mendapatkan keamanan finansial. Bukankah itu kesepakatannya?"
"Itu kesepakatan ayahku, bukan aku!" Aslan menyahut dengan suara tertahan. "Aku sedang mencoba, Dani. Aku memberikanmu perhiasan itu karena aku ingin kita mulai lagi. Tanpa bayang-bayang masa lalu."
Daniella tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat pahit. "Sudah terlambat untuk 'mulai lagi', Mas. Karena saat kamu sibuk menutup mata, ada orang lain yang justru membuka mataku."
Wajah Aslan memucat. "Apa maksudmu? Siapa?"
Daniella melepaskan cengkeraman tangan Aslan dengan perlahan namun pasti. Ia merapikan gaunnya dan memperbaiki posisi kalung di lehernya. "Dunia, Mas. Dunia yang menunjukkan padaku bahwa aku layak untuk diinginkan, bukan hanya sekadar dijadikan pajangan."
Daniella keluar dari mobil, meninggalkan Aslan yang terduduk lemas di kursi kemudi. Aslan memukul kemudi dengan frustrasi. Ia merasakan ada sesuatu yang sangat besar yang sedang disembunyikan darinya. Kecurigaannya kini tidak lagi hanya mengarah pada perubahan sikap istrinya, tapi mulai mengerucut pada satu nama yang paling ia segani sekaligus ia benci di rumah itu.
Paman Liam.
Tapi benarkah Daniella senekat itu??
Saat Daniella melangkah masuk ke lobi gedung dengan langkah anggun dan kepala tegak, ia bisa merasakan mata para karyawan tertuju padanya. Ia bukan lagi bayangan di belakang Aslan. Namun, di balik keberaniannya, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil menjauh dari Aslan, sebenarnya adalah langkah yang membawanya semakin dalam ke dalam pelukan sang predator yang sedang menunggunya di atas sana.
Tanpa mereka sadari, dari lantai atas melalui jendela kaca besar, Liam berdiri mengawasi kedatangan mereka dengan segelas kopi di tangan. Ia melihat adegan di dalam mobil tadi, meski tidak bisa mendengar suaranya. Ia melihat Daniella keluar dengan kemenangan, dan ia melihat keponakannya hancur di dalam mobil.
Liam menyesap kopinya, senyum puas tersungging di bibirnya. Permainan catur ini baru saja mencapai babak yang paling menarik.