Sepanjang hari itu, kantor terasa seperti sangkar emas yang transparan bagi Daniella. Setiap kali ia mengangkat kepala dari tumpukan berkas akuisisi, matanya selalu beradu dengan tatapan Liam dari balik sekat kaca. Dan yang lebih menyebalkannya lagi, ternyata pria itu tidak benar-benar bekerja. Dia malah duduk di kursi kebesarannya, sesekali menyesap kopi hitam, namun matanya tetap tertuju pada Daniella seperti pemangsa yang sabar menunggu mangsanya kelelahan. Daniella pun menatap Liam terus menerus tanpa sadar. Hingga senyum menyeringai muncul dari bibir Liam dan barulah Daniella memalingkan wajahnya. Bila tidak ada suami serta ayah mertuanya di sini, Liam menjadi sok berkuasa. Dia benar-benar mengendalikan semua hal, seolah semua ini adalah miliknya. Daniella tidak lagi memperdulikan L

