Tender merapat di dermaga kecil. Seorang pekerja pelabuhan mengikatkan tali tambang pada tiang. Heru menapakkan kaki di darat. ”Pak Narto. Where are you? Ia menoleh kesana-kemari. Penumpang Tender sudah ke luar semua. Ia memperhatikan sekitarnya. Heru!” Pak Narto berteriak ke arahnya. Suara yang sempat akrab di telinganya. Pak Narto tersenyum lebar. Tak disangka ia bisa melihatnya lagi. Lelaki kurus dengan kerutan di dahi itu nampak rapi dengan memakai jas dan kaos turtle neck (kerah menutup leher) di dalamnya. Rambut putihnya hampir tak terlihat, hitam klimis, pendek dan bergelombang. Heru hampir tidak mengenalinya. Pak Narto berjalan cepat ke arahnya. ”Heru, akhirnya kita bertemu lagi.” Pak Narto menjabat tangannya, memeluk dan menguncangkan tubuhnya. Heru hanya tersenyum menerima sa

