Cato duduk terpekur di hadapan Ibu Indi seperti seorang terpidana mati di hadapan algojo, suasana terdengar hening, tidak ada suara sama sekali. Bahkan, helaan nafas nyaris tak terdengar. Semua diam dalam pikiran masing-masing, begitu pula dengan Indi saat Cato datang. Dia melihat mata Indi sembab, kemudian dia melihat wajah Tante Laura berbeda saat melihatnya. Tidak ada senyum seperti biasa di sana. Raut wajahnya tidak marah, tapi terlihat sedih. Cato merasa bodoh. Seperti biasa Tante Laura masih menyambutnya dengan ramah, menyuruhnya masuk, meminta Indi menyiapkan minuman juga menawarinya makan siang. Tetapi tidak ada nada kegembiraan di sana. Cato datang lebih cepat dari janjinya, setelah menunggu cukup lama, Ayah Indi keluar ke ruang tamu. Ternyata, beliau sudah lebih dulu pulang.

