Suatu sore, hujan deras mengguyur Jakarta tanpa ampun. Naira baru saja menyelesaikan pekerjaan di kantor. Ia bergegas menuju area parkir. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sebuah sedan hitam melaju kencang tanpa kendali di tikungan basah. Mengarah lurus ke seorang anak kecil yang tengah menyeberang jalan tanpa pengawasan.
Tanpa berpikir panjang, Naira berlari. Menarik tubuh anak kecil itu menjauh dari jalur mobil. Tepat sebelum kendaraan itu melintas. Namun, bumper mobil sempat menyerempet lengan Naira. Membuatnya terjatuh keras ke aspal basah.
"Nak, kau tidak apa-apa?" tanya Naira lirih pada anak kecil itu. Makhluk kecil tersebut menangis ketakutan dalam dekapan Naira. Naira mengabaikan rasa nyeri yang menjalar di lengannya sendiri.
Kerumunan orang segera berkumpul. Seseorang menghubungi ambulans. Sementara ibu si anak kecil datang berlari histeris. Memeluk anaknya sambil berterima kasih berkali-kali. Naira mulai merasakan pusing akibat benturan di kepala.
Kabar kecelakaan itu sampai ke telinga Adrian dalam hitungan menit. Kabar itu datang melalui panggilan panik dari salah satu rekan kerja Adrian. Dia menyaksikan langsung kejadian tersebut.
Adrian langsung meninggalkan ruangan tanpa penjelasan. Tanpa basa-basi. Padahal ia sedang memimpin rapat penting dengan investor asing. Lelaki itu memacu mobilnya secepat mungkin menuju rumah sakit tempat Naira dilarikan.
Ia tiba di UGD dengan napas terengah. Wajahnya pucat pasi. Ekspresi panik yang belum pernah ditunjukkan oleh seorang Adrian Mahendra di depan siapa pun.
"Di mana istri saya?! Naira Adelia?!" tanyanya pada perawat yang bertugas. Suaranya bergetar penuh kekhawatiran.
Setelah diarahkan ke ruang perawatan, Adrian mendapati Naira terbaring dengan lengan kiri diperban. Serta sedikit luka lecet di dahinya. Naira tersenyum lemah begitu melihat kedatangan "suami kontrak"nya.
"Adrian, saya baik-baik saja. Hanya luka ringan yang...." ucapan Naira terhenti. Adrian tiba-tiba memeluknya erat. Tubuh lelaki itu gemetar menahan emosi yang meluap.
"Kau membuatku hampir gila, Naira," bisik Adrian di telinganya. Suaranya serak menahan tangis. Sesuatu yang jarang sekali ia tunjukkan. "Kenapa kau nekat menerjang mobil? Bahkan anak kecil itu tidak kau kenal."
"Saya tidak bisa berdiri diam. Anak itu dalam bahaya," jawab Naira lembut. Ia membalas pelukan Adrian dengan tangan kanannya yang tidak terluka. "Saya juga akan melakukan hal yang sama untuk orang-orang yang saya sayangi."
Kata "sayangi" itu membuat Adrian melepaskan pelukannya. Pria itu menatap Naira dalam-dalam. Sorot matanya campur aduk penuh emosi. "Naira, aku..."
Namun, Adrian belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Dokter masuk ke ruangan untuk memeriksa kondisi Naira lebih lanjut. Memaksa momen intim itu terhenti tanpa kelanjutan yang jelas.
Malam itu, Naira diperbolehkan pulang dengan lengan yang masih diperban. Adrian bersikeras menggendongnya masuk ke penthouse. Padahal Naira sudah protes. Ia bisa berjalan sendiri.
"Biarkan aku merawatmu malam ini," kata Adrian tegas. Membaringkan Naira dengan hati-hati di sofa ruang tengah. Bergegas mengambilkan selimut dan segelas air putih.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak mereka, Adrian tidur di sofa seberang Naira malam itu. Menjaga setiap gerakannya sepanjang malam. Seolah takut kehilangan sesuatu yang baru saja ia sadari begitu berharga baginya.