Gengsi

445 Words
Minggu-minggu setelah kecelakaan itu membawa perubahan yang semakin kentara. Hubungan Naira dan Adrian makin dekat. Adrian menjadi lebih protektif. Lelaki itu sering mengecek kabar Naira melalui pesan singkat di sela kesibukannya. Bahkan beberapa kali membatalkan rapat penting hanya untuk memastikan Naira makan siang tepat waktu. Namun setiap kali perasaan itu mulai terlihat jelas, Adrian selalu buru-buru menariknya kembali. Seolah takut dengan apa yang mulai tumbuh di hatinya. Suatu sore, Naira tanpa sengaja mendengar percakapan telepon Adrian dengan Bimo. Sahabat lama suami Naira itu juga menjabat sebagai direktur. Bimo memegang salah satu anak perusahaan Mahendra Group. "Aku tidak tahu harus bagaimana, Bim," suara Adrian terdengar frustrasi. Pintu ruang kerjanya sedikit terbuka. "Aku sudah bersumpah tidak akan jatuh cinta lagi. Tapi Naira, dia berbeda. Dia membuatku merasakan sesuatu yang sudah lama aku kubur." Jantung Naira berdebar kencang mendengar pengakuan tak terduga itu. Namun, istri Adrian itu tidak langsung masuk. Ia masih menahan diri. Penasaran dengan kelanjutan percakapan itu. "Lalu, apa masalahnya?" terdengar suara Bimo dari ujung telepon. Tidak sejelas suara Adrian. "Masalahnya aku takut," jawab Adrian. Suaranya melirih. "Bagaimana jika ini hanya perasaan sesaat? Sesuatu yang cuma timbul akibat kedekatan yang dipaksakan oleh kontrak? Bagaimana jika di akhir tahun nanti, semua ini hanya akan berakhir seperti Karin? Bagaimana jika pengkhianatan menghancurkanku sekali lagi? Aku tidak yakin bisa bertahan jika itu terjadi untuk kedua kalinya." Naira mundur perlahan dari pintu. Dadanya sesak mendengar ketakutan Adrian. Ia mengerti sekarang. Bukan karena Adrian tidak memiliki perasaan. Tetapi karena ia terlalu takut untuk mempercayai "cinta" kembali. --- Malam itu, makan malam bersama seperti biasa. Suasana terasa canggung. Naira ingin sekali membicarakan apa yang ia dengar. Namun, ia tidak tahu harus memulai dari mana. "Adrian," Naira akhirnya memberanikan diri. "Boleh saya bertanya sesuatu?" "Tentu," jawab Adrian. Matanya tetap fokus pada makanan. "Apa yang sebenarnya Anda rasakan tentang pernikahan kita?" tanya Naira hati-hati. "Maksud saya, di luar kontrak. Di luar semua urusan bisnis ini." Adrian terdiam. Sendoknya berhenti di udara. Untuk sesaat, Naira berharap Adrian akan jujur mengungkapkan perasaannya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Tembok pertahanan Adrian kembali terbangun. "Pernikahan ini hanya kontrak bisnis, Naira," jawab Adrian datar. Ia kembali fokus pada makanannya. "Jangan mencampuradukkan hal-hal lain ke dalamnya." Kata-kata itu terasa seperti tamparan bagi Naira. Terutama setelah mendengar sendiri kejujuran Adrian kepada Bimo beberapa jam lalu. Gengsi Adrian begitu tinggi. Membuat lelaki itu terus menyangkal perasaannya sendiri. Padahal jelas-jelas hatinya sudah mulai terikat pada Naira. "Baik," Naira menahan kekecewaan yang mendalam. Memilih untuk tidak memaksa lebih jauh. "Saya mengerti." Ia menyelesaikan makan malamnya dalam diam. Hatinya berat memikirkan betapa rumitnya hubungan mereka. Dua hati itu mulai saling membuka diri. Namun, terhalang oleh trauma masa lalu. Serta gengsi yang begitu tebal untuk diruntuhkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD