Sosok bayangan tak berwujud

1215 Words
Assalamualaikum..... Jumpa lagi !!! Semoga suka ya baca cerita Mila... SELAMAT MEMBACA.... Setelah selesai berdoa lalu disambung membaca Al qur'an dan kemudian melipat mukena dan sejadahnya,Mila merasa ia perlu menelpon ibunya.Semoga setelah mendengar suara ibunya tersayang,ia bisa mendapatkan ketenangan. Tangannya terulur pada tas yang digantung dibelakang pintu.Ponselnya berada didalamnya. Ternyata ponsel itu berdering,namun belum sempat ia mengangkat panggilan,deringnya berhenti berbunyi.Ada 5 panggilan tak terjawab dari "ibuku sayang" tercatat pada layar ponsel milik Mila. "Apa aku terlalu khusuk sampai tak mendengar ponselku berdering dari tadi?" "tapi kebetulan sekali ibu menelpon bertepatan saat aku ingin menelpon ibu." Ia menggantungkan kembali tasnya setelah mengeluarkan ponsel lalu mendudukkan bokongnya diatas kasur singgle nya. Mila menelpon "ibuku sayang" dan langsung terdengar salam dari seberang hanya dalam sekali bunyi "tuut". "Assalamualaikum Mila..." Entah karena haru atau apa hatinya langsung menghangat begitu mendengar suara ibunya. "Waailaikumssalam bu..." jawabnya.Tanpa direncanakan, beberapa kali sedu sedan keluar begitu saja. "Lho! suaramu kenapa nak?" "Eh, engh nggak apa apa kok bu."Mila menghapus air mata yang sudah menetes dipipinya begitu saja dan tak tinggal juga ia menutup hidungnya yang ikut meleleh hanya karena mendengar suara sang ibu.Entah perasaan seperti apa yang ia rasakan saat ini. Andai ia bisa memeluk ibunya saat ini.Sungguh itulah yang sangat ia butuhkan sekarang.Namun apalah daya,mereka terpisah oleh jarak yang sangat jauh.Bukan hanya kota,tapi mereka juga terpisah dua pulau yang berbeda.Itulah sebabnya, mau tak mau ia harus berpuas hati dengan hanya mendengar suara ibunya saja. Ponselnya juga belum di upgret ke ponsel smatphone sehingga ia belum bisa bervidio call dengan ibunya. "Kamu nangis ya..? ada apa nak? kamu sakit?" "Ehem.."Mila berdehem sejenak untuk mengurangi getaran pada suaranya dan sedikit menjauhkan ponsel dari wajahnya. "Mila nggak apa apa kok bu.Mila cuma kangen sama ibu dan ayah juga Imran dan Rahma bu." "Kalian semua baik baik aja kan disana bu?" "Kami semua baik baik saja.Dari sejak siang tadi ibu kepikiran terus sama kamu.Beneran kamu nggak apa apa kan?" "Hm.. Mila nggak apa apa kok bu... ibu tenang aja ya... jangan cemas... nanti ibu kepikiran terus sakit lagi "sesekali ia berdehem dan memencet hidungnya dengan tisu ditangannya agar suaranya tetap terdengar stabil. "Ibu juga nggak mau cemas cemas gitu Mila,Tapi gimana? cemas itu kan bisa muncul tiba tiba aja tanpa bisa diatur mau cemas atau nggak.kan nggak ada tombol menyala dan matikannya." "Hahaha"Mila merasa lucu dengan perkataan ibunya tentang tombol menyala dan mematikan perasaan cemas. "Nah itu ayahmu baru pulang,mau ngobrol?" "um nggak usah ya bu,itu kak Lina manggil Mila.Nanti deh Mila telpon lagi ya bu... Udah dulu ya.. Assalamualaikum bu..." potongnya cepat.Ia tak mau sikap manjanya pada sang ayah akan membuat ia menceritakan yang sebenarnya.Entah bagaimana nanti orang tuanya menanggapi masalahnya ini.Sementara ia sendiri masih dalam kebingungan. "Waalaikumssalam" Sambungan telpon langsung diputus oleh Mila begitu salamnya mendapat balasan.Meskipun Mila berusaha dan mengatakan bahwa dia baik baik saja,Namun sang ibu dapat merasakan putrinya tidak benar baik baik saja.Tapi apa yang bisa ia lakukan jika putrinya sendiri tidak terbuka padanya. "kenapa? kok habis telponan mukanya sedih gitu?Mila ngomong apa?" tanya pak Marli sambil menyangkutkan pecinya di paku yang menancap di dinding rumah kayu yang mereka tinggali, ketika melihat istrinya masih diam menatap ponselnya. "Mila sepertinya nggak jujur sama kita bang". "Nggak jujur gimana?" "Hh... Abang ingat kan waktu Mila kecelakaan dulu? seharian aku kepikiran terus sama dia sebelum akhirnya si Badar ngasih kabar ke kita.Seharian ini juga aku kepikiran terus sama dia.Tapi ditelpon, dia bilang dia baik baik aja." "Itu artinya dia memang baik baik aja." pak Marli menyeruput kopinya yang sudah dibuat bu Santi seperginya pak Marli ke Masjid yang tak jauh dari rumah mereka, tadi. "Tapi tadi suaranya kayak habis nangis bang" "Sudahlah! nggak usah terlalu dipikirkan. Nanti malah sakit lagi.Kalau Mila bilang dia baik baik saja,itu artinya dia sedang mencoba berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri.Dia sudah besar,beri dia kesempatan untuk mandiri.Anggap saja dia tengah menjalani proses pendewasaan diri." "Tapi bang..." "Sudah, Kalau memang perlu,nanti biar abang telpon dia.Kita berdoa saja supaya Allah selalu menjaga dan melindungi anak anak kita. hmm?.Sudah shalat belum? kalau belum,sana ! shalat dulu biar hati dan pikiranmu jadi tenang." "Belum, hm baiklah." Di jam 10 malam hari,Mila turun ke lantai bawah untuk mengisi botol minumnya yang sudah kosong. Sejak ia naik ke lantai atas siang tadi,dia belum turun sama sekali.Dia bahkan melewatkan makan siang dan malamnya.Entah kenapa ia tak merasa lapar sama sekali.Hanya haus saja yang ia rasakan.Kerongkongannya kering.Mungkin karena terlalu banyak menangis. Tapi mengingat kekhawatiran ibu dan juga ayahnya yang kembali menelponnya ( karena pak Marli juga tertular rasa cemas dan khawatir dari istrinya ) sehabis magrib tadi, akhirnya Mila tetap memaksakan dirinya untuk mengisi perut dengan sedikit makanan.Dia tidak ingin sakit dan malah membuat orang tuanya semakin cemas lalu jatuh sakit juga. Meski Mila bukan putri tunggal,tapi kedua orang tuanya selalu memanjakannya karena dari kecil ia sering sakit.Dan syukurnya,ketika semakin tumbuh besar,tubuhnya semakin sehat.Namun kasih sayang orang tuanya tak pernah berkurang meskipun ia sudah memiliki dua orang adik. Rizwan yang sedang fokus mengerjakan pekerjaananya di kamar,tangannya bergerak mengambil gelas kopi disampingnya dan mendekatkan bibir gelas itu ke bibirnya,sedang matanya tak beralih dari kertas dihadapannya.Namun sayang gelas itu telah kosong ternyata,dan hanya menyisakan ampas kopi saja. "Tck." decaknya agak kecewa.Dilihatnya Lina sudah tidur dengan posisi yang masih dalam mode menyusui baby Farhan.Tak tega ia membangunkan sang istri hanya untuk membuatkan kopi baru untuknya.Ia pun keluar dengan pelan pelan agar tak menimbulkan bunyi dan bisa saja mengganggu tidur istri dan anaknya. Langkahnya terhenti saat ia baru 2 kali melangkah keluar kamar, karena diruang makan ia melihat Mila sedang makan.Kepalanya berputar kearah jam dinding di atas lukisan "Ka'bah" yang menempel di dinding yang dibelakangnya. "sekarang sudah jam 10:17 malam.Apa dia baru makan sekarang sejak tadi siang?." Rizwan jadi makin merasa bersalah. Rizwan jadi delima, eh maksudnya dilema, bingung antara memilih mundur masuk kekamar kembali, atau lanjut melangkah kedapur dan membuat kopi baru. Jika ia menampakkan diri pada Mila sekarang,bisa jadi Mila akan sangat terganggu dan makin tak nyaman dengannya.Nyaman ya...? "Ah, aku memang harus menjelaskan kesalahan tadi siang,supaya Mila tidak berpikir yang tidak tidak tentangku."pikir Rizwan,dan ia mengangkat kakinya melangkah mendekati Mila.Tapi tidak jadi karena "tapi sepertinya tidak etis deh rasanya tengah malam begini membicarakannya,apalagi hanya berdua dengan suasana sepi begini."pikirnya lagi. Akhirnya ia memutuskan mundur masuk kamar lagi."Mungkin besok pagi saja, saat aku mengantarnya kepasar, baru aku jelaskan." putusnya. Mila yang merasa ada sebuah sosok bayangan orang yang tengah memandang kearahnya dari tadi,mencoba menoleh kearah bayangan tersebut.Namun ternyata tak ada siapa siapa disana.Seketika darahnya berdesir. Mila mencoba tetap tenang sembari bibirnya menggumamkan ayat kursi dan zikir zikir yang ia hafal. Kebetulan makannya sudah selesai.Cepat cepat ia meletakkan piring kotornya ke westafel.Ia tak ingin berlama lama disitu,jadi ia tak mencuci piringnya dulu.Besok pagi saja ia cuci. Dengan mempercepat langkahnya ia meraih botolnya diatas meja yang sudah ia isi penuh sebelum makan tadi. Sembari terus berzikir dan membaca ayat,matanya juga sesekali tertutup dan terbuka hingga kakinya jadi tersandung di tangga.Suara jatuhnya terdengar cukup kuat bagi Rizwan yang masih terjaga dikamarnya di suasana malam sepi itu. Rizwan membuka sedikit pintu dan mengintip dari celahnya.Tampaklah Mila yang terjatuh, dan dengan cepat ia bangkit lagi, lalu berjalan cepat menaiki tangga dengan menahan sakit dikakinya. Rizwan jadi meringis sendiri melihatnya.Ia bisa membayangkan betapa sakitnya kaki Mila saat ini. "Kenapa ia ceroboh sekali."gumamnya. TERIMAKASIH SUDAH MAU BACA CERITA PERTAMA SAYA INI. TOLONG TINGGALKAN KOMENTAR YA TEMEN TEMEN....... TERIMAKASIH....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD