Assalamualaikum semuanya...???
Semoga semuanya selalu sehat ya.... Maaf membuat kalian terlalu lama menunggu....
Selamat membaca......
.....
Mila berusaha sekuat mungkin untuk menahan agar tangisannya tak mengeluarkan suara.Di tekan tekan dadanya yang terasa sesak.Dengan kuat , ia menekankan kedua bibirnya agar tak terbuka dan mengeluarkan tangisan.Namun nyatanya,sesekali isakan sedu berhasil lolos dari pertahanannya.
Sungguh ia tak ingin membuat seisi rumah jadi heboh lagi karena tangisanya seperti yang pernah terjadi beberapa minggu yang lalu.
"Apa salahku, kenapa dia melakukan itu padaku?" ia kembali menangis "apa dia sengaja melakukan itu?" " atau, apakah mungkin dia salah mengira aku adalah kak Lina?" Mila mencoba berfikir positif tentang Rizwan.
Mengingat betapa setianya pria itu dengan kakaknya.Meski keluarganya,dan bahkan Lina dan keluarganya juga telah berusaha membujuk Rizwan untuk menikah lagi demi mendapatkan keturunan.Namun semua itu ditolak dengan tegas oleh Rizwan , karena ia mencintai Lina.Dan ia bersumpah "hanya akan menghabiskan umurnya bersama Lina ,dengan atau tanpa anak disisi mereka".
Memikirkan itu,rasanya tidak mungkin Rizwan akan bersikap tidak senonoh pada Mila yang notabene adalah adik iparnya.Dan dari sikapnya selama ini juga Rizwan tidak pernah menunjukkan sikap tak baik pada Mila.
" Tapi namanya laki laki kan bisa aja tergoda hawa nafsu." setan kembali membisikkan prasangka buruk itu .
Azan ASHAR berkumandang.
Mila pun menghentikan tangisnya sejenak.Dan mencoba melupakan segala hal yang memusingkan dan membebani hati dan fikirannya.
Ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya.Digosok dengan kuat dan disabun bagian tubuhnya yang bersentuhan dengan tubuh Rizwan.
Mila melakukannya berulang ulang.Dia fikir dengan begitu,bekas sentuhan itu bisa hilang dan tidak akan terasa lagi.
Setelah dirasa cukup dengan acara bersih bersihnya,Mila mengeringkan badan lalu memakai pakaianya baru kemudian keluar dari kamar mandi.
Dibukanya keran yang memang sengaja dibuat diluar kamar mandi,khusus untuk mengambil air wuduk.
Setelah selesai berwuduk,ia kembali kekamar memakai mukenah dan sarung,kemudian menggelar sejadah lalu ia memulai shalatnya dengan niat shalat Ashar dan mengangkat kedua tangannya sambil melantunkan kalimat takbir. "ALLAHU AKBAR"
Sementara di lantai bawah
Lina terheran dengan suaminya yang katanya sudah makan.Tapi lihatlah! Rizwan makan dengan sangat lahap.
Entah itu karena perasaan gugupnya atau jangan jangan dia bohong waktu bilang sudah makan.Tapi masa iya Rizwan bohong? tck! entahlah!
"Beneran tadi papa udah makan?" tanya Lina yang menopang kepalanya dengan sebelah tangan agak miring memandang suaminya yang sedang makan dengan lahap.
"Huum." angguk Rizwan tak bisa membuka mulutnya karena penuh.
"Tapi kok lahap banget! kayak orang kelaparan gitu makannya."
"Itu kan tadi di tempat kerja ma,kalau dirumah kan lain ceritanya.." jawab Rizwan setelah menelan yang sudah dikunyahnya terlebih dahulu itu.
"Masakan dirumah itu selalu ISTIMEWA.Mana mungkin bisa papa lewatkan begitu saja." tambahnya lagi "apalagi ini nih!" tunjuknya pada piring berisi cumi yang tinggal sepotong ,tapi langsung ia tuang kepiringnya lagi.
"Hari ini ce' Popon masaknya beda ya.tapi lebih enak!" katanya lagi.
"Oh, itu Mila yang masak..."
Uhuk uhuk....
Rizwan tersedak. Mendengar nama Mila ia jadi ingat lagi kejadian salah peluknya dikamar tadi.Lina mendekatkan gelas padanya.
"Duh... pelan pelan dong pa..." Lina menepuk nepuk pelan punggung Rizwan.
"Iya ini ada nasi yang belum hancur nyangkut di kerongkongan." kilahnya
"Ya udah,hati hati makanya.Kebiasaan sih kalau makan langsung main telan aja,nggak dikunyah sampai halus dulu.Makan kaya gitu tuh,nggak sehat tau pa,Nanti ususnya nggak bisa..."
"Iya iya udah paham kok." selanya cepat sebelum istrinya menjelaskan panjang lebar tentang proses pencernaan seperti guru biologi yang mengajari murid muridnya.Tak lama makananya habis.Dan tak lupa ia mengucap Hamdalah sesudahnya.
"Oh iya,si ece' kemana? kok nggak keliatan dari tadi?"
"Ece' pulang kampung tadi pa.Tadi mama nelpon papa tapi ponsel papa nggak aktif."
Tadi pagi
"bu!" ce' Popon mendekati Lina yang baru selesai memakaikan baju baby Farhan sehabis mandi.
"kenapa ce'?"
"Ini bu, anu.. ece mau minta izin pulang ke kampung ya bu..."
"Lho! tapi minggu kemarin kan udah pulang ce'.Kenapa? nggak biasanya ce' pulang sebelum jadwalnya.Ada masalah apa ce'?"
"Maaf bu.. anu.. Nofran kecelakaan bu.." beritahu ce' Popon dengan suara bergetar dan mata yang sudah berkaca kaca ingin menangis kembali.Ia menangis tersedu sedu tadi begitu mendengar kabar dari keluarganya di kampung yang mengatakan Nofran anak remajanya yang berusia 15 tahun mengalami kecelakaan dan sedang dirawat dirumah sakit.
"Inna lillahi wainna ilaihi rajiun... yang sabar ya ce'"
"Ya udah sekarang ce' siap siap aja deh biar saya pesan tiketnya dulu ya." Lina mengambil ponselnya di atas lemari baju baby Farhan lalu menelpon seseorang.
Setelah baby Farhan tertidur sehabis menyusu,Lina keluar dari kamar menemui ce' Popon yang sudah selesai berkemas dan menunggu di ruang keluarga.
"Ini ce' untuk tiketnya dan ini ada sedikit,semoga bisa bermanfaat dan maaf ya ce' kami belum bisa kesana menjenguk Nofran.Semoga Nofran cepat sembuh.Nanti kalau ada apa apa,kasih kabar kesini ya ce'?."Lina menyerahkan dua buah amplop ke tangan ce' Popon.
"Hiks ! makasih ya bu. Ibuk sama bapak baik banget,Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian dengan yang lebih baik lagi.Aamiin.."
"Aamiin.. Hati hati ya ce'"
"Sekali lagi makasih"
"Iya,sama sama. Jangan lupa kasih kabar.." ce' Popon mengangguk.Dalam hati ia bersyukur bekerja dengan Lina dan Rizwan yang tidak pelit dan selalu memperlakukan dia seperti keluarga.Tidak seperti ditempat kerjanya sebelum dengan Lina.
Dengan majikan yang sebelumnya yang selalu main perintah,bahkan untuk hal hal yang kecil,tidak lupa juga dengan sikap perhitungannya.Bahkan sisa belanja 500 perak saja tetap ditagih.
Meskipun ce' Popon tidak pernah berniat mengambilnya ,namun sikap majikan itu padanya seolah olah dirinya akan selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.Dan tentu saja itu menyinggung perasaan.Akhirnya ce' Popon hanya betah sebulan saja bekerja dengan majikannya itu.
Tapi dengan Lina,ia diperlakukan layaknya keluarga.Lina tidak pernah memerintahnya dengan kata yang tidak baik.Lina dan Rizwan selalu menggunakan kata "tolong" dan "terimakasih" padanya.Dia juga bahkan diizinkan pulang kampung sekali dalam sebulan jika dia mau.
Mila masih khusyuk berdoa memohon ketenangan hatinya dan meminta pertolongan atas semua masalahnya,terutama masalah yang terjadi hari ini dengan Rizwan.Serta minta agar dijauhkan dari segala hal yang tidak baik.
Setelah melipat sejadahnya,tangannya terulur mengambil ponsel didalam tas,hendak menelpon seseorang yang dapat membuat hatinya tenang.Siapa lagi kalau bukan sang ibu.
Tak disangka,ponselnya berdering.Namun deringnya berhenti sebelum Mila sempat menekan tulisan jawab diponselnya.Tercatat ada 5 panggilan tak terjawab atas nama "Ibuku sayang" di layar ponsel.
Apa mungkin ibunya merasakan firasat sesuatu tentang Mila?
Cepat Mila menekan gambar telepon untuk nama "Ibuku sayang" tersebut dan langsung mendapat respon dalam sekali bunyi "tutt" saja.
"Assalamualaikum Mila .."