Rumah luas dengan bale-bale beratap rumbia berukuran sedang di bagian halaman yang ditumbuhi rumput pendek tampak lengang sore itu. Tak ada aktivitas apa pun di tempat itu, kecuali keberadaan seorang pria tua yang sebagian rambutnya telah memutih tengah duduk-duduk sambil menembang. Sesekali mengisap cerutunya, kemudian menghembuskan asap di udara seperti cerobong kereta lokomotif.
Biarpun ia melagukannya pelan, suaranya tetap terdengar sampai di dalam rumah, di tengah-tengah kesunyian siang itu. Pria tua tersebut berhenti menembang merasakan keberadaan seseorang yang telah berdiri tak jauh darinya. Ia memutar kepala ke belakang, mendapati Nagara Adinata yang entah berapa lama telah berdiri di dekat bale-bale.
“Oy, Gus!” sapanya, melambai ke arah Nagara dan menyuruhnya segera bergabung dengannya di bale-bale. Memenuhi panggilan pria tua itu, Nagara melanjutkan langkahnya mendekat, lantas memosisikan dirinya dengan duduk bersila di depan si tua yang mengenakan kemeja batik.
Pertemuan di antara mereka sering dilakukan setiap ada keperluan penting—rahasia golongan revolusioner kalau mereka menyebutnya. Beberapa saat saling bertukar pandang, si tua memanggil salah seorang pelayan di rumahnya dan memintanya untuk memberikan suguhan pada tamu yang datang.
“Maaf atas keterlambatan saya, Pakde,” Nagara membuka percakapan di depan si tua, yang bukan lain ialah pamannya sendiri. Kakak dari ayahandanya, yang memegang kendali sebagai pemimpin Pari.
“Tak apa. Hasilnya bagaimana? Apa yang sedang direncanakan mereka jangka panjang nanti?”
“Wanita itu menganggap mengambil pekerja dari kaum proletar di Vrischika sudah tidak kondusif lagi. Kekhawatiran adanya kecolongan dan masuknya kaum revolusioner menjadi alasan utama dari masalah itu.”
“Itu berarti mereka tidak akan lagi mengambil orang-orang tertindas di daerah sana, kan? Lhah, bagus kalau begitu?”
“Masalahnya bukan itu. Saya mengamati wacana wanita itu yang melibatkan manusia genetika, Pakde.”
“Sebentar. Maksudmu bagaimana, Gus?” Pakde mencondongkan badannya. Tangannya ditepuk pada pangkuannya sedang sikunya yang lain tertumpu di atas paha. Ia pandangi keponakannya itu, meminta penjelasan yang rinci. “Manusia genetika? Untuk apa kiranya?”
“Pakde tahu kan, manusia genetika yang sering dibuat mereka?”
Pakde mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyipit, menunjukkan kerutan-kerutan samar di kedua sudut matanya.
“Mereka hendak mengembangkannya dalam jumlah besar sebagai alternatif lain, menciptakan sekelompok militan, menambahkan kekuatan untuk menyerang dan menumbangkan milisi-milisi di berbagai daerah.” Ia berhenti sejenak mengambil napas. “Salah satu dari manusia genetika kembangan mereka ada di rumah saya.”
Bagaikan ada sambaran petir di atas puncak kepalanya, Pakde menyentak kepalanya. Tubuhnya ditegakkan dengan gestur kaku. “Maksudmu, dia mata-mata dari sana?”
“Bukan,” khawatir ditanggapi salah, Nagara menjawab cepat. “Dia bukan mata-mata. Dia hanya korban pengasingan.”
“Lalu apa lagi?”
Tepat saat Nagara hendak menjawab, pelayan wanita datang membawa baki di tangannya. Diletakkannya baki berisi dua cangkir minuman di atas meja, lalu membungkuk rendah sebelum berlalu pergi. Kini perbincangan di antara mereka dilanjutkan kembali.
“Saya baru akan masuk lebih dalam, tapi sambungan terputus.” Nagara mengernyit samar. “Mereka tahu telah dimata-matai.”
Dan ya, ia tahu, cepat atau lambat pemerintah tak akan tinggal diam. Apalagi Presiden Andromeda yang dengan telunjuknya dapat melenyapkan siapa pun sesuai kehendaknya. Wanita itu tak akan menolerir kelakuan masyarakatnya yang dianggap membangkang. Ia tak akan membiarkan rencana-rencana yang telah disusunnya pada Tanah Air terganggu. Meski dipisah menjadi empat bagian dan menjadi daerah otonom, wanita itu tetap memasang mata serta telinganya, menghindari adanya p*********n mendadak dari pihak-pihak yang tak menyukai sistem pemerintahan saat ini. Juga menyusun strategi licik membuat ketiga wilayah itu seratus persen berada dalam genggamannya tanpa eksistensi kelompok revolusioner yang menghambat rencananya. Rencana mereka.
Berita mengenai peretasan dan penyadapan itu pasti sudah tersebar. Dapat dipastikan setiap saluran televisi yang dibuat oleh orang-orang sana mulai mengonfrontasi seberapa besar bahaya yang akan mengancam mereka. Melebih-lebihkannya melalui media.
Pakde membuang napas panjang. Ia meraih cerutu yang menyala di atas meja dekat asbak, lantas menghisap dan menghembuskan asapnya di udara. Tubuhnya digoyang-goyangkan samar di tengah-tengah berpikir.
“Pergilah dari sini, Gus,” katanya kemudian. “Sebelum mereka menemukanmu di sini dan menangkapmu. Pergi saja dari sini.”
*
Hak sepatu delapan senti keluaran terbaru milik Presiden Andromeda terketuk khidmat penuh hitungan. Kaki jenjangnya dilenggangkan melewati koridor lengang; beberapa anggota paspampres mengekor di belakangnya seperti sahaya pada ratu.
Wanita itu berhenti, mengangsurkan Karma pada asisten pribadinya untuk digendong, lantas merapikan kerah blazer dalam gerakan lugas berhadapan dengan tentara yang menelikung tangan-tangan orang berpakaian kumal di halaman depan. Matanya yang tajam bak belati menelisik dengan saksama. Sekelompok orang itu balik menatapnya dengan bibir mengerucut jijik. Salah seorang dari mereka, seorang pria paruh baya yang digiring melewatinya memelototkan mata nyaris keluar dari rongga. Hampir-hampir pegangannya lepas andai saja dua tentara dengan badan besar di dekatnya tak menariknya kuat.
“Mereka yang terlibat dalam peristiwa penembakan pasukan kita saat melakukan perjalanan udara untuk mengantar Btari Pembayun, Bu Presiden,” pria tinggi besar yang merupakan seorang Perwira Tinggi menghadap di depan Presiden Andromeda. “Kami berhasil menangkap mereka di tempat.”
Dengan angkuh, Presiden Andromeda merapikan kerah blazernya dan mengibaskan tangan di udara. “Cepat singkirkan. Aku sangat terganggu dengan keberadaan mereka.” Ia mengibas-ngibas lagi bagai mengusir nyamuk. Hidungnya mengernyit jijik. Ia merogoh ke dalam saku blazernya, lantas menyemprotkan wewangian di udara seakan-akan tengah dihadapkan oleh sekumpulan sampah.
Digiring seluruh pemberontak yang hampir membuat rusuh di kota J dengan sikap kasar. Mereka didorong keras, tak berperikemanusiaan, dan diperlakukan secara biadab bagaikan kambing yang hendak disembelih. Seorang pria lain begitu melewati Presiden Andromeda meludah tepat di wajah wanita itu.
“Pemimpin b******n! Dasar tamak! Manusia rakus! Mampus kau di neraka!” teriakannya menggema, hingga tak terdengar saat ia berbelok ke tikungan.
Presiden Andromeda meraih saputangan miliknya dari kantong blazer, mengusap wajahnya yang menampilkan ekspresi monoton. Ia menghembuskan napas panjang, menjatuhkan sapu tangan di genggamannya. Sepatu mahalnya menginjak kain itu begitu ia melangkah lagi dikawal anggota paspampres menuju mobil yang telah menunggunya selama beberapa waktu di tempat itu.
Kira-kira setengah jam yang lalu, seorang pimpinan badan intelijen baru yang dibentuk pertengahan abad lalu di negeri itu mengabarkan pada Presiden Andromeda mengenai kebobolan keamanan dan penyadapan yang dilakukan oleh pihak luar. Sudah lama mereka menangkap keberadaan mata-mata pemerintah yang dilakukan oleh orang cerdik dan tak terdeteksi dengan mudah. Kali ini Presiden Andromeda berharap lebih. Ia jengah dan terganggu dengan ancaman seperti itu. Apalagi jika orang lain berhasil mengetahui rencana apa yang tengah disusunnya saat ini.
Mobil yang mengangkut Presiden Andromeda berhenti di depan gedung Government Secret Intelligence Agency (GSIA). Ia muncul dari dalam mobil begitu pintu dibuka oleh sopir, lantas melangkah anggun masuk ke dalam untuk segera bergabung bersama anggota GSIA lainnya. Untuk sampai di lantai atas tempat rapat rahasia sering diadakan, ia harus menaiki elevator tabung kaca yang akan mengantarnya ke tempat tujuan dalam waktu singkat. Begitu masuk ke dalam elevator tabung kaca, Presiden Andromeda menengok jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Ia rasakan getaran dan tarikan kuat, membuat tubuhnya seakan dihempaskan di antariksa. Pintu tabung kaca terbuka, mempersilakannya melanjutkan langkah lagi bersama orang-orang kepercayaannya. Tangannya terangkat di udara, pertanda bahwa ia tak membutuhkan lagi anggota paspampres yang sedari tadi mengekor di belakangnya; hanya asisten pribadi yang menggendong Karma yang membuntut mengikutinya. Pintu terbuka dengan sendiri begitu ia lolos dari detektor yang menuntutnya memberikan keterangan melalui sidik jarinya.
Serentak, para peserta rapat berdiri dari kursi masing-masing menyambut kedatangannya. Wanita culas itu melangkah tak acuh melewati kursi-kursi di sampingnya, lalu berhenti di kursi utama dan merendahkan tangannya memerintahkan mereka duduk kembali.
“Saya baru mendapatkan kabar dari Graha Rosemeijer kalau peretas akun kepresidenan dan pelaku penyadapan itu sudah dapat dideteksi keberadaannya.” Presiden Andromeda menoleh ke arah pimpinan GSIA, seorang pria indo berusia tiga puluhan berdarah Sunda-Belanda. “Silakan dijelaskan.”
“Biar Mikazuki yang memberikan keterangan selaku deputi bagian teknologi.”
Graha Rosemeijer beralih melemparkan tatapannya ke arah seorang gadis peranakan Jepang yang duduk di seberangnya. Ia mengangguk memberi kesempatan gadis itu untuk bicara. Gadis berambut hitam lurus dengan mata sipit tersebut membungkukkan badannya rendah. Ditariknya kursi ke belakang, lalu melenggang melewati meja berbentuk oval di dalam ruangan itu menuju ke depan.
Layar transparan besar di dekatnya muncul menyedot perhatian peserta rapat. Terdapat titik merah berpendar-pendar di salah satu daerah yang kini dilingkari. Ia lantas mendekatkan obyeknya hingga dapat dilihat oleh seluruh orang di dalam sana.
“Sinyalnya berhasil terdeteksi beberapa hari lalu. Pelakunya revolusioner dari Pari,” katanya. Ia meraih tongkat panjang di atas meja, menunjuk titik merah berpendaran pada layar transparan di sebelahnya. “Lokasinya dekat di titik pantai utara Java di kota L. Tapi saya belum mendapatkan profil hacker ini. Berikan saya waktu beberapa waktu lagi. Paling lambat tiga hari, lantas akan saya kirim datanya pada Anda, Bu Presiden. Anda bisa memberikan perintah selanjutnya.”
Presiden Andromeda menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia berdecak mengagumi kelihaian hacker yang berhasil membobol keamanan Waluku.
“Bagaimana orang ini sanggup melewati keamanan, mencuri data-data pribadiku, bahkan menyadap pembicaraan rahasiaku?” bisiknya pada Graha yang duduk di dekatnya.
“Sudah pasti seorang programmer hebat, Bu Presiden.”
“Apa saja yang berhasil dicurinya?”
“Entahlah. Kami tidak bisa memastikan berapa banyak informasi yang berhasil dicurinya dari Anda.”
“Sialan.” Presiden Andromeda membuang napas kasar. Digerakkan jari-jemari lentiknya, mengusap kuku mengilapnya yang diberi kuteks merah. Bibirnya bergetar samar, benar-benar muak dan berjanji dalam hati akan menangkap pelaku di balik peretasan serta penyadapan ini.
Dan membunuhnya.