Bab Dua Belas

4996 Words
Aku hampir pingsan saking gelisah dan gugupnya. Ini tak pernah terjadi padaku. Tidak dalam mimpi terindah maupun terburukku. Namun pada akhirnya hari pagelaran seni budaya tiba, yang membawaku pada perasaan tak menentu. Dadaku seperti bergemuruh riuh. Seolah ada gelombang elektromagnetik yang bersatu dengan darahku. Kuhirup dan hembuskan napas beberapa kali sekadar menenangkan diri. Rasanya badanku sudah kaku. Aku tak boleh pingsan dulu sebelum menunjukkan kebolehanku dalam menari di depan publik. Iya, menari. Ingat tari Gandrung Banyuwangi yang kupelajari dalam beberapa waktu itu, kan? Aku akan membawakannya beberapa waktu lagi dalam acara pagelaran seni di desa ini. Beradu kemampuan dengan warga lainnya. Bunda yang membantuku merias. Ia pasang atribut lengkap pada tubuhku seperti selendang, kelat bahu, sembong dan kain batik bermotif gajah oling. Termasuk di bagian kepala yang membuatku pening. Bunda mengamatiku dari puncak kepala hingga ke bawah, lantas berdecak memuji. “Cantik kau ini.” Ia mengusap-usap pundakku. “Jadi teringat masa-masa muda Bunda sewaktu jadi penari.” “Mengapa Bunda ingin jadi penari?” “Kalau sudah hobi, pasti kebawa sampai minat.” Bibirnya melengkung ke atas. “Apa cita-citamu?” “Pianis atau violis.” “Nah, kebawa dari hobi juga, kan?” Aku menyengir. Ia rapikan atribut tariku dan menyelipkan kipas pada selendangku sebagai pelengkap. “Kapan-kapan, ajari saya menari yang lain, Bunda,” tukasku. “Bunda sudah lama kan tidak menari? Tarian apa yang paling Bunda suka?” “Hm… Bunda paling suka tari pendet. Kalau Bunda lihat, plerog’anmu bagus juga. Cocok buat nari itu.” “Kalau begitu kapan-kapan Bunda menari lagi ya. Ajari saya tarian yang lain.” “Sudah pasti.” Bunda menepuk bahuku. “Jangan lupa, Nduk. Selama di atas panggung, berikan senyum terbaikmu.” Namaku telah dipanggil. Bunda sorong tubuhku ke depan, menyuruhku pergi ke panggung. Jantungku berdebaran, terasa dekat dengan telingaku. Begitu aku berdiri di atas panggung dan dihadapkan oleh jubelan penonton yang meramaikan dengan sorak-sorai serta tepuk tangan riuh, lututku terasa lemas. Ya ampun! Banyak sekali penontonnya! Seketika keringat dingin menyentuh permukaan kulitku. Di depan sendiri, aku melihat Nagara yang bersedekap memandang ke arahku. Matanya mengamati dengan lekat dan intensif. Aku rikuh ditatap sedekat itu. Seolah ada rantai yang berkelindan di antara kami dan membawa lebih dekat. Jangan-jangan aku yang terlalu percaya diri. Ia tak mungkin terpana seperti itu, kan? Musik pengiring terdengar, seketika aku teringat perkataan Bunda untuk mempertahankan senyumku. Maka, kusunggingkan senyum merekah dan mulai bergerak sesuai yang diajarkan Elfana padaku. Bahkan sepanjang tarian, Nagara tidak mengalihkan perhatiannya. Juga tak berkedip. Ia termangu dalam diam di tempatnya. Meskipun di sampingnya berdiri Ayu yang mengajaknya bicara, ia tak mengacuhkan gadis itu, alih-alih mendekatkan telunjuk pada bibirnya sendiri, sebagai kode menyuruh Ayu diam. Dahi Ayu mengernyit ke dalam, tidak suka terhadap balasan Nagara padanya. Perempuan itu memalingkan muka sebal, enggan memandang ke arahku pula. Tapi aku tidak terlalu mempermasalahkan gadis itu. Aku nikmati pertunjukan ini sampai selesai.   *   “Baru tahu kamu bisa nari,” suara Arka adalah yang pertama kudengar saat aku duduk di depan meja rias mengatur pernapasanku yang terengah-engah. Kukira Nagara yang datang pertama menemuiku. Aku sedikit kecewa, tapi segera menutupinya dengan senyum lebar. Kutarik badanku dari kursi, membalikkan badan menghadap Arka yang telah menyandarkan pinggulnya pada tepi meja rias. Aku melepas omprok pada kepalaku, meletakkannya ke atas meja dan membiarkan rambutku tergerai ke belakang. Arka tak berkedip. Ia amati diriku dengan sorot mata terperangah. “Kamu ibarat sosok Nawang Wulan,” katanya. Aku hendak bertanya siapa itu Nawang Wulan, tapi kuurungkan pertanyaan itu dan membiarkannya tertelan ke dalam perutku. Ia tak boleh curiga padaku. “Oh… ehm.” Aku berdeham. “Terima kasih. Sungguh murah hati memujiku seperti itu.” Tiba-tiba ia meraih tanganku, menggenggamnya, dan mencium punggung tanganku sambil menatapku bagaikan mendambakan seorang bidadari. Aku mengerjap-ngerjap dan bertingkah rikuh diperlakukan seperti ini. “Kamu cantik. Aku suka padamu, Btari. Kecantikanmu telah menarik hatiku sejak kita bertemu pertama kali di sekolah alam. Kamu membuatku takluk.” Mataku membeliak mendengar pengakuannya. Ia pandangi aku harap-harap cemas. Seperti mengharapkan jawaban dariku atas ucapan tadi. Aku baru beberapa kali bertemu dengannya dan mengobrol selama hampir dua bulan tinggal di sini. Itupun hanya sebentar. Dan dengan mudahnya ia bilang suka padaku? Melihat gesturku yang kaku, Arka melepas tangannya dariku dan menegakkan badannya. Aku menggaruk tengkukku, bingung harus membalas seperti apa. Tak berselang lama, suara dehaman menyentak kepalaku menuju pintu. Dari arah itu, Nagara masuk menghampiriku, lalu menarik lenganku menjauh sedikit. Ia memandang Arka selama sepersekian detik. Dari sini aku dapat menangkap kemarahan melingkupinya, seperti api yang dikobarkan. Namun ia tak berkata apa-apa kecuali, “Ayo pulang, Btari.” Dan menggandengku mengikutinya pergi. Aku menoleh ke belakang, memberikan ucapan selamat tinggal pada Arka melalui gerakan bibirku, lantas lenyap di balik tembok bersama Nagara yang tetap menggandeng tanganku.   *   Entah apa yang telah kuperbuat padanya. Ia mendiamiku sejak siang tadi. Sore ini aku tak melihatnya keluar; sejak tadi ia berada di kamarnya, tanpa kutahu melakukan apa. Matahari yang bersembunyi malu-malu di ufuk barat menghantarkan sinar lembutnya sampai di tempat ini. Beberapa hari yang lalu hujan menyapa bumi. Air diturunkan deras pada malam hari saat aku terlelap. Jarang kutemui hujan turun pagi, siang, atau sore di sini. Itupun kata Bunda, kami harus bersyukur hujan bersedia mampir. Akibat pemanasan global yang semakin parah, keadaan di bumi begitu panas, nyaris seperti berada di pintu neraka. Setidaknya, tempat ini tak sepanas di kota J. Efek rumah kaca, jendela gedung-gedung tinggi, serta minimnya tumbuhan hijau membuat keadaan kota J ibarat berada di titik dasar kerak bumi. Aku meminjam biola dari sanggar seni atas izin Bunda. Ia malah memintaku membawa biola itu ke rumahnya untuk kumainkan di sela-sela waktu senggang. Seperti sore ini, aku berdiri di ujung selasar, memosisikan biola di atas pundakku dan mulai memainkannya. Kutambahi permainan ini sambil melakukan tarian. Bergerak lincah ke kanan, kiri, depan, belakang, berputar, ke mana pun kujarah. Lagi-lagi Song of the Caged Bird. Kumainkan lagu ini dengan perasaan tenang, mengenyahkan segala masalah atau hal-hal yang memberatkan hati serta pikiranku. Sebab kata Bunda, aku bermain musik untuk menyegarkan pikiran, bukan menambah beban. Aku pernah mengikuti kelas ballet sewaktu kecil. Jadi bermain biola sambi menari ballet bukanlah masalah. Itulah mengapa aku menyukai Lindsey Stirling. Ia seorang pemain biola sekaligus penari ballet. Dilakukannya dua hobi itu di dalam satu panggung, yang mengantarnya pada kesuksesan beberapa dekade lalu. Kujinjitkan kakiku, hanya menumpu badan dengan jempol kaki, berputar hingga membuat bawahan bajuku mengembang, dan berhenti. Lalu menarik sebelah kakiku ke belakang, bertumpu pada satu kaki yang menjinjit, terus menggesek dawainya tanpa kesalahan. Berdiri tegak lagi, badanku condong ke belakang melakukan gerakan kayang. Rambutku yang panjang menyentuh lantai kayu selasar. Wajahku menengadah ke atas, memandang langit biru dan oranye kepucatan, lantas kutolehkan kepalaku ke belakang, melihat ke arah rumah Bunda. Di teras berdirilah Nagara yang mengamatiku sambil bersedekap. Aku spontan menarik badanku untuk tegak lagi, menyelesaikan permainanku. Kuputar badanku ke belakang. “Kamu itu ajaib, ya,” celetuknya. Ia melangkah mendekati selasar, lalu duduk di atas birainya. Dipandangnya aku dengan senyum serupa bulan sabit. “Bisa melakukan apa saja.” Rambutku kukait ke belakang telinga. “Kalau belajar pasti bisa. Bisa karena biasa.” “Baru juga beberapa jam yang lalu kelar pertunjukan tari. Tidak capek?” Aku menggeleng. “Kalau begitu, mainkan Phantom of the Opera untukku.” Ia tahu Phantom of the Opera! Kuamati dirinya sambil menelengkan kepala. Rambutku terurai ke samping menyentuh pundakku. Aku tak pernah kepikiran memotong rambut panjang ini. Namun akhir-akhir ini aku berkeinginan memotongnya hanya beberapa senti, memotong bagian yang kuwarnai. “Kamu tahu Phantom of the Opera,” tukasku, menautkan kedua alisku. “Kamu mau tanya dari mana?” ia sela pikiranku dengan pertanyaan itu, membuatku menyengir kuda. “Mainkan saja.” “Oke.” Aku memasang posisi bermain lagi. Tanpa menunggu waktu lama, kumainkan Phantom of the Opera sesuai keinginannya. Lagu ini benar-benar membangkitkan semangatku. Aku memainkannya riang, menari seperti tadi, memejamkan mata merasakan hembusan angin sore membelai kulitku. Menyibak rambutku ke belakang. Sungguh, aku seperti merpati bebas berada di sini. Aku tak sebosan sewaktu tinggal di kota J. Tempat ini bagaikan menarikku pada ribuan kesenangan dengan keberagaman budaya dan keindahan panoramanya. Aku berhenti mendadak begitu kurasakan tangan semu seolah meremas jantungku, memelintirnya, menggaruknya, menohok-nohoknya. Kubungkukkan badanku ke depan seraya menyentuh dadaku dalam-dalam. Dahi dan hidungku mengernyit menahan sakit. Biola beserta dawai yang kugenggam jatuh secara menyedihkan di bawah kakiku. Hampir tubuhku terjun ke depan dan tercebur ke laut andai saja tak ada yang menopangku dari belakang dengan pelukan erat. Pandanganku kabur. Darah seolah melebur di dalam kepalaku. Begitu menengadah, hanya kulihat wajah panik Nagara yang lantas berubah menjadi gelap yang pekat. Aku kehilangan kesadaran detik itu pula.   *   Satu hal yang kurasakan saat mataku terbuka adalah remang-remang cahaya di dalam kamar. Kupandangi langit-langit di atas sana sambil berpikir apa yang telah terjadi padaku. Terakhir kuingat, aku pingsan di selasar waktu memainkan Phantom of the Opera. Dahiku mengernyit ke dalam. Aku khawatir kerusakan organ pemompa darahku semakin parah. Apa yang harus kulakukan kalau begini? Mengapa sampai detik ini Bima tak datang memberi kabar untuk memperbaikiku? Sudah lupakah ia padaku? Kecurigaan menguar dalam pikiran dan hatiku, mengatakan berulang kali kalau Bimasakti telah melupakan segala hal yang berhubungan denganku akibat oblivetanol. Mendadak aku gelisah. Bagaimana tidak? Ia harapanku satu-satunya untuk bertahan dari kesalahan fatal yang disebabkan oleh ilmuwan sinting itu. Apakah hidupku tak lama lagi? Aku baru menyadari keberadaan seseorang yang tengah berdiri di dekat jendela, mengamati pemandangan di luar sana. Langit petang tampak dari tempatku berbaring, menandakan malam tiba. Nagara menoleh ke arahku. Ia menyandarkan tubuhnya pada kusen jendela. Wajahnya tertutupi bayangan pekat. Cahaya rembulan yang lembut terhalangi oleh dirinya, tak diberikan izin masuk ke dalam kamarku. “Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku, Btari?” ia bertanya tiba-tiba. “Bilang apa?” “Alasanmu diasingkan.” “Sudah kukatakan kalau aku tak sempurna, kan?” Kutarik badanku dari rebahan. Kakiku memijak pada lantai yang dingin. Aku duduk di tepi ranjang berhadap-hadapan dengannya. “Hanya itu. Kenapa aku harus menunggu dokter mengatakannya padaku? Kenapa bukan kamu yang langsung mengatakan—” ia menahan napas, “—mengatakan kalau kamu sekarat?” Meski terselimuti oleh kegelapan, dapat kulihat jelas bagaimana raut wajahnya saat ini. Ia kecewa padaku karena tak berterus-terang mengenai alasanku dibuang. Secara signifikan, maksudku. Namun untuk apa? Apa pedulinya ia padaku jikalau aku sudah mengatakan sejujurnya? Apa pedulinya jika ia sudah tahu bahwa aku sekarat? “Apa pedulimu?” “Apa peduliku?” ia mengulang pertanyaanku dengan nada sentimen. “Aku baik-baik saja,” pada akhirnya kalimat itu yang justru keluar dari mulut ini. “Bimasakti berjanji padaku akan menjemputku jika dia menemukan solusinya.” Ia menautkan sepasang alisnya. Melangkah mendekat, tak kulihat perubahan emosi di kedua matanya yang masih dipenuhi sorot kekecewaan. Ia mengambil tempat di sebelahku. Duduk di sana, dekat sekali denganku. Mungkin hanya beberapa senti saja jarak yang memisahkan kami. Kupandang ia penuh minta maaf, dibalas dengan tatapan lesu dan helaan napas berat. “Siapa itu Bimasakti?” Kuulurkan tanganku padanya, menunjukkan gelang yang melingkari pergelangan tanganku. Berkilau disinari cahaya rembulan yang kini dipersilakan masuk melalui lubang jendela kamar ini. Nagara mengamati gelang itu, lalu melirikku meminta penjelasan. “Dia yang memberikan ini padaku,” jawabku. “Ini detektor. Dia bisa melacakku di mana pun aku berada. Dia pernah berjanji akan menjemputku untuk membawaku kembali dan menyembuhkan aku.” Ia bergeming. “Kenapa?” tanyaku, merasa ganjil dengan kediamannya. “Sepertinya dia penting untukmu.” Aku berkedip beberapa kali. “Ya… kami dekat sudah lama. Dari kecil.” “Besok pagi, lihat tanaman mawar yang aku berikan padamu. Aku lihat, kuncupnya sudah mulai mekar.” Aku hendak menimpali, namun ia langsung beranjak dari ranjang, melangkah tak acuh meninggalkanku di tengah kesunyian dan keremangan tempat ini. Pintuku ditutup pelan. Kini tinggallah aku seorang diri, masih bertekur pada pintu kayu itu, tempat ia pergi. Napasku tercekat di tenggorokan. Apa kiranya yang membuat ia tiba-tiba bersikap sedingin itu padaku? Apa karena ia mencemburui Bima?   *   Benar apa kata Nagara. Mawar yang ia berikan telah mekar menawan. Ada tiga bunga berbeda di dalam satu pot. Aku membungkuk ke depan mengamati bunga-bunga yang telah bermekaran itu seraya menyelipkan rambut ke belakang telinga. Kuhirup wanginya dalam-dalam, sampai menyelesak ke dalam paru-paruku. Aroma pagi dan mawar segar tercium harum. Aku memejamkan mata merasakan kenikmatan pagi seperti ini. Potnya diletakkan di atas birai pagar di teras, berjejeran dengan pot lain—mulai dari yang kecil sampai besar, ada pula yang digantung di atas. “Kamu suka?” Tiba-tiba Nagara sampai di sebelahku, menoleh ke arahku diikuti eksistensi senyum tulusnya. Jarang kulihat ia tersenyum selepas itu, seolah ia benar-benar menikmati paginya bersamaku. Kubalas pertanyaannya dengan cengiran lebar dan anggukan. “Bunga-bunganya bagus. Aku tidak tahu kalau satu pot ini ditumbuhi tiga mawar berbeda. Monsieur Thomas sungguh pintar meramunya.” “Tahu kau kenapa aku menyuruhmu menunggu bunga ini sampai mekar?” Aku menggeleng. “Aku ingin kamu menunggu dengan sabar, Btari,” katanya. “Seperti mawar-mawar ini, cinta butuh waktu dan kesabaran untuk saling memahami. Menunggunya sampai mekar dan mulai mengenali. Benar itu cinta atau sekadar obsesi belaka?” Lagi-lagi senyumnya muncul. Lututku melemas bagai tak dilingkupi tempurung. Ada yang memukul jantungku keras, membuatnya menghentak-hentak seperti pasukan baris-berbaris. Jari-jarinya menyapu kelopak mawar mekar yang masih muda itu. “Sekarang kamu sudah mengetahuinya setelah melihat tanaman ini berbunga.” Ia tunjuk mawar berwarna kuning. “Ini simbol kecemburuan. Seperti yang sering kita berdua rasakan.” Nah! Benar apa kataku. Rupa-rupanya ia mencemburui sikap manis Arka padaku. Ia juga mencemburui Bima. Dan memang, aku amat sangat mencemburui sahabat perempuannya. Disentuhnya mawar berwarna merah muda. “Sedang, mawar merah muda simbol kepercayaan. Aku ingin di antara kita ada rasa saling percaya. Tidak seperti Rama pada Sinta yang meragukan kesuciannya. Lelaki yang tak mempercayai tambatan hatinya, sudah pasti cintanya pun diragukan oleh perempuannya.” Jemarinya berhenti menyentuh mawar merah. “Dan mawar merah ini jawabanku untuk pertanyaanmu waktu itu.” Dipandangnya aku secara intens. “Aku mencintaimu, Btari.” Paru-paruku praktis berhenti bekerja, mencekikku, menahan napasku di tenggorokan. Mulutku terbuka sedikit, terkejut mendengar ucapan yang terlontar mulus dari bibirnya. Jantungku berdebar, laksana dihempas ombak yang terbawa angin laut. Tidakkah aku salah dengar? Benar ia ucapkan kalimat itu di depan mukaku, secara sadar dan tulus dari hatinya? Sudut mataku berkedut samar. Lidahku kelu bagaikan dipaku. Aku sangsi ia tak dapat mendengar suara hentakan keras jantungku yang tak berirama teratur, menyentuh rongga dadaku, mengalirkan darah dengan derasnya hingga menyentuh sukmaku. “Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu?” tanyaku masih kurang percaya dan puas. “Masih juga kamu menanyakannya?” Ia berdecak, menggelengkan kepala. “Satu hal yang perlu kamu tahu. Bagiku kecantikan hanyalah ilusi yang bertahan sesaat. Bukan itu yang kulihat darimu. Kamu memang cantik, tapi bukan itu yang kucari darimu. Aku perlu bertanya pada diriku sendiri bagaimana aku bisa memiliki perasaan krusial seperti itu padamu. Tapi aku tidak pernah menemukan jawabannya.” Ia mengambil napas dan mengulum bibirnya sedetik sebagai jeda. “Aku rasa, mencintai seseorang tidak butuh alasan.” Rasanya aku ingin meledak menjadi kepingan mikroskopik mendengar penuturannya. Terlalu terbuai pada sesuatu memang tak baik. Tapi aku tidak sanggup menyembunyikan kebahagiaanku di depannya. Secara instingtif, aku melompat ke depan, memeluknya. Kusembunyikan ekspresi sumringah dan pipiku yang memerah lantaran panas membara. Tidak sekaku saat kami baru bertemu, ia balas pelukanku. Tangannya dilingkarkan di sekitar tubuhku. Keabsahan jiwaku semakin dikoyak dalam kehangatannya. Karena belum puas, kudekatkan telingaku pada dadanya. Kini dapat kudengar suara degup jantungnya. Debaran itu nyata. Seperti yang kurasakan. Perasaan itu memang ada. Ah, Tuhan, sungguh hebat Kau ciptakan perasaan seperti ini. Kau sisipkan berbagai macam rasa yang sulit dijelaskan. Sungguh beruntung aku mengenal makhluk ciptaanMu ini. Yang Kau buat dengan sebaik-baiknya, meski tanpa kesempurnaan untuk memenuhi kodratnya sebagai manusia. Beruntung pula aku mendapatkannya. Aku berjanji tak akan melepasnya untuk alasan apa pun.   *   “Aku tak pernah melihat lambang kalian di sini,” kataku di siang yang mendung, duduk-duduk di tepi selasar menikmati suara koakan beburung dan lautan lepas dengan beberapa perahu nelayan. Nagara memandangku begitu mendengar kalimat itu. Diliriknya bandul bunga lily yang terkait dengan kalungku, melingkari leher. Aku mengangguk sebagai balasan pertanyaan tak tersirat darinya. “Tidak perlu ditampakkan seperti itu,” katanya. “Lambang kami sudah tercermin dalam diri kami.” Ia meraih tangan kananku, melipat ibu jari dan kelingkingku hingga menyisakan tiga jari. “Tiga ikat bambu.” Disentuhnya jari-jemariku. “Seperti ketiga artinya juga; kekuatan, loyalitas, dan keteguhan.” Bambu. Pohon yang banyak kutemukan di wilayah ini. Obrolan ini semakin menggelitikku untuk mengetahui lebih banyak. “Bagaimana dengan dua wilayah lainnya?” Ia lepaskan sentuhannya dari tanganku. Kemudian menjawab, “Iris biru, milik Vrischika. Harapan dan kepercayaan. Merefleksikan apa yang mereka rasakan. Mereka percaya masih ada harapan mendapatkan kemerdekaan dari jajahan pribumi.” Sungguh tidak dapat kubayangkan semiris apa kehidupan orang-orang sana. Ditindas dan dibikin sengsara. Tanah yang seharusnya mereka miliki malah dikuasai oleh orang-orang tamak. “Seperti cerminan orang-orang Biduk yang mengedepankan kedamaian di negeri ini,” lanjutnya, “tanaman ekor kucing lambang teritorial mereka.” “Kamu sering berkunjung ke sana?” “Kalau aku jenuh.” Ia pandang tanganku yang kupangku. “Sinikan tanganmu.” Kuulurkan tanganku, membiarkan ia menggenggamnya dan menggerakkannya sesuka hati. “Karena kamu bagian dari kami sekarang, akan kuberitahu salam rahasia yang kami ketahui.” “Kami?” “Para revolusioner.” Ia menyunggingkan senyum manis madu. “Salam ini dibuat pendahulu yang mengatasnamakan diri sebagai revolusioner pertama yang lahir akibat konflik besar di negeri ini.” Mulai digerakkannya tanganku, membuka kelima jariku. “Lima jari ini, Btari, menyangkut pancasila yang telah dirusak oleh kaum oligarkis. Aku yakin di lembaga pendidikan wilayahmu, tak ada yang namanya Upacara Bendera hari Senin. Orang oligarkis yang menghapus tradisi Upacara Bendera, kurasa orang yang sewaktu masih sekolah membenci kebiasaan itu.” Dan aku tertawa mendengar ujarannya. Ia menyentuh satu per satu jemariku. “Ini sila pertama, ketuhanan yang maha esa. Sila ke dua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila ke tiga, persatuan Indonesia. Sila ke empat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Dan sila ke lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Ia gerakkan telapak tanganku, menyentuh dadaku, hingga dapat kurasakan detak jantungku. “Nah, ini tanda perdamaian berlandaskan pancasila.” Lantas, tanganku yang semula terbuka digerakkan lagi menjadi kepalan kuat. “Sedangkan ini, tanda perlawanan, kekuatan yang berkumpul dalam satu kepalan tangan.” “Harus kiri?” “Aha, tempat jantung kita berdetak. Kita akan merasakan debaran jantung kita di saat merasakan kedamaian dan semangat berjuang.” Aku tersenyum samar. Mata kami saling berpaut sejenak. Tak bertahan lama. Sebab, dilepaskannya tanganku dan memalingkan pandangan. Kami berdiam lagi. Kakiku terkatung-katung di bawah selasar menyentuh air. Di sebelah, aku dengar Nagara mulai bergumam pelan. Seperti melagukan tembang sambil memandang ke arah utara. “Lagu apa itu?” tanyaku memotong secara tak sopan. Praktis, Nagara menoleh ke arahku. “Itu tembang yang diciptakan Sunan Kalijaga,” jawabnya. “Aku sering mendengar tembang ini dinyanyikan di lingkungan Biduk. Selain sebagai lagu dakwah, tembang ini masuk ke dalam lagu daerah. Isinya ajakan agar manusia bangun dari keterpurukan dan sifat malas untuk mempertebal keimanan.” Ia kembali menekuri pemandangan laut di utara sana. “Di seberang lautan sana, seseorang kerap melagukannya.” Sesuatu yang dingin dan basah menyentuh dahiku. Kutelan pertanyaan yang hendak kuajukan padanya. Tentang seseorang yang baru saja ia sebutkan. Begitu menengadah, aku mendapatkan satu tetesan lagi, tepat di atas bibirku. Datang tetesan air lain yang menyentuh kepalaku. Hujan yang kunanti-nantikan akhirnya tiba. Nagara menyeka tetesan air di atas bibirku dengan jarinya. Ia lalu beranjak berdiri, mengulurkan tangan padaku. “Ayo masuk. Aku tak mau kau pingsan lagi seperti kemarin.” “Hey, aku tidak selemah itu.” Kuraih tangannya dan ditarik sampai berdiri. Sebelum rintiknya semakin deras, kami lekas meninggalkan selasar dan berteduh di dalam.   *   Sampai senja datang, hujan masih mengguyur deras desa ini. Aku amati rintiknya dari balik jendela kamarku yang berembun. Karena ingin mencium aroma kedamaian, maka kukuak daun jendela itu. Kuhirup dalam-dalam udara segar yang diantar masuk ke dalam kamarku. Menyelesak berdesakan di paru-paruku sampai penuh. Rasanya memang damai. Andai saja dunia ini lebih banyak ditumbuhi pepohonan hijau. Sungguh perbandingan yang tak sepadan. Jika diberikan kesempatan, aku rela menukar mobil-mobil mewah, rumah-rumah megah, atau gedung-gedung raksasa dengan milyaran batang pohon. Bayangkan saja betapa sejuknya bumi ini. Aromanya bisa berkali-kali lipat damai dibanding dengan ini. Suara gumaman di luar kamarku sontak menarik perhatian. Kupalingkan wajahku dari pemandangan hijau di luar yang agak petang, alih-alih menoleh ke belakang diikuti badanku. Aku melangkah lamat-lamat, menghampiri kusen dan membuka sedikit pintunya untuk mengintip. Kudengar perdebatan antara Bunda dengan Nagara yang tertangkap pendengaranku. Perdebatan mereka memancing rasa keingintahuanku. “Kalau aku pergi, Bunda harus pergi.” “Bunda dan adik-adikmu bisa menjaga diri. Yang penting kau pergi dari sini, Le. Jangan sampai kejadian itu terulang lagi. Lebih baik Bunda yang menyerahkan diri daripada anak Bunda yang jadi perkara.” Senyap. Hanya ada suara rintik hujan. “Tapi, mereka bisa memporak-porandakan tempat ini,” Nagara melanjutkan. “Antek-antek b*****t itu bisa mengundang kerusuhan.” “Tinggal kau atur saja pertahanan di tempat ini. Pikirkan dari sekarang ke mana kau pergi dari sini.” Perbincangan macam apa itu? Mengapa Nagara berniat pergi dari tempat ini? Mulutku yang lancang dan ingin tahu menceplos begitu saja, menyambung perbincangan mereka sambil melangkah menghampiri ruang tamu. “Kenapa pergi? Pergi ke mana?” Dua orang itu saling melempar pandangan ke arahku. Aku serasa ditelanjangi oleh tatapan-tatapan itu. Bunda menghembuskan napas, mengangguk ke arah putra sulungnya agar menjelaskan padaku. Sedang, aku sudah duduk di sofa lain, menampilkan raut wajah penasaran. “Aku akan pergi, Btari,” Nagara memulai. “Kamu ikut Bunda dan adik-adikku ke kota.” Praktis saja aku menggeleng menolak perintahnya. “Kenapa pergi?” tuntutku lagi. “Aku tidak akan ke kota bersama Bunda dan adik-adikmu. Aku ingin ikut bersamamu.” Dahinya mengernyit dengan alis menyatu tampak tak setuju. Bunda sekali lagi mengangguk ke arahnya. Sepertinya ia berpikiran sama denganku. “Tapi, keselamatannya bisa terancam kalau ikut denganku.” “Aku tetap pergi bersamamu.” Aku memaksa kali ini. Nadaku naik setengah oktaf. “Kamu pergi, aku juga pergi. Ingat, kan?” Ia menghela napas berat. Jemarinya menyusup pada rambutnya, menariknya kasar dan frustrasi. Diliriknya aku dari sudut matanya. Lirikan itu beralih menuju Bunda yang membisu seribu bahasa. Tampaknya memang terjadi konflik di sini, entah apa. Sepertinya bukan sesuatu yang mudah diselesaikan. “Memangnya apa yang terjadi? Tolong jelaskan padaku.” “Udaranya dingin. Biar Bunda buatkan teh hangat ya.” Bunda memberi kesempatan pada kami untuk berbicara berdua. Percayalah, biasanya orang tua memang begitu kalau sedang bermain kode. Bunda melangkah lambat menjauhi kami, menuju dapur. Entah apakah ia benar-benar membuatkan teh hangat atau hanya alibi agar bisa memisahkan diri dari perbincangan ini. “Btari,” Nagara memanggil namaku. “Kalau kamu ikut, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu.” Ia tatap aku lesu. “Aku buronan sekarang.” “Buronan apa? Kenapa?” nadaku naik lagi, satu oktaf kali ini. “Aku mata-mata,” ia mengakui. Aku tak bernapas entah berapa detik. “Aku yang meretas situs dan menyadap setiap obrolan rahasia Presiden. Para revolusioner telah lama menyusun banyak rencana untuk mengembalikan negeri ini ke tangan para pemimpin yang tepat.” Jadi, ia yang dibicarakan Bimasakti waktu itu! Hacker yang sulit dilacak keberadaannya. Aku hidup di rumah seorang buronan. Kemungkinan ia sering berdiam diri di kamar dan tak keluar-keluar itu karena melakukan tugasnya. Memata-matai pemerintah. Tidak kusangka, ia bertindak senekad ini. Hanya orang-orang bernyali besar yang berani mengibarkan bendera perang secara terang-terangan di depan muka Presiden Andromeda. “Mungkin berita seperti ini sudah tersebar di media kelolahan mereka.” Nagara menghela napas panjang. “Dan aku yakin mereka sampai di sini lebih cepat. Seperti yang pernah terjadi pada ayahandaku. Mereka menuduh Ayahanda pemberontak dan provokator berbahaya, membawanya untuk dihukum tanpa keadilan. Padahal Ayahanda tidak ada sangkut-pautnya dengan pemberontakan itu.” “Lantas, apa yang akan kamu lakukan? Kamu tidak mungkin menghindar terus-menerus, kan?” “Suatu saat aku pasti berhenti melarikan diri. Waktulah musuhku sesungguhnya. Aku bisa menghindari mereka, tapi tidak akan bisa menghindari waktu.” Ia berhenti sebentar untuk merasakan atmosfer padat di ruang tamu ini. “Untuk sekarang aku akan pergi. Aku pergi agar mereka tidak menyentuh keluargaku, Btari. Aku yang diinginkan Presiden.” “Kamu salah.” Kugelengkan kepalaku. “Wanita itu iblis yang sesungguhnya. Dia beda dari pemimpin-pemimpin otoriter sebelumnya. Dia akan menghabisi semuanya.” “Aku tahu. Aku akan membawa Bunda dalam pengawasan kelompok pertahanan Pari. Sejak aku diperkenalkan dengan teknologi, aku memulai tugas ini atas bimbingan pamanku. Selama itu pula aku memantau wanita tiran itu.” Ia mencondongkan badannya, menumpu kedua tangannya di atas pangkuan. Ditatapnya aku lekat. “Wanita itu berusaha mengkhianati kelompoknya, para oligarkis, dengan mengubah sistem pemerintahan negeri ini menjadi tirani.”  “Papaku pejabat negara,” bisikku. “Kamu menganggapnya orang oligarkis?” “Mereka semua oligarkis. Di era ini, Btari, yang berduitlah yang berkuasa.” Aku menggigit bibir bawahku. Papaku seorang oligarkis. Otomatis aku adalah anak dari orang oligarkis. Kutundukkan wajahku malu bagaikan bunga layu. Aku tak berani menatap Nagara. Ia seakan lebih tinggi derajatnya daripada diriku. Tak kusadari, hujan sudah berhenti. Aku tidak mendengar suara rintik derasnya di luar sana. Barangkali hanya rintik-rintik saja, tidak selebat tadi. Meski begitu, udara terasa dingin di pucuk jariku. Aku menggosok telapak tanganku dan meniupnya, lalu mengusap bahuku. Ternyata Bunda sungguh membuatkan teh hangat. Ia datang bersama nampan di tangannya. Lalu duduk di sofanya tadi sambil mengangsurkan secangkir teh hangat untukku. “Minum, Nduk. Biar tubuhmu hangat,” perintah Bunda padaku. Kuraih cangkir teh itu dan menyesapnya. Nah, ini baru lebih baik. “Jadi, bagaimana keputusan kalian?” Bunda bersuara lagi. Ia berikan pertanyaan itu pada Nagara. “Besok Bunda, Sam, dan Mega harus mengosongkan tempat ini, pergi ke kota. Kalau bisa, ke rumah Pakde saja.” Bunda tak menjawab. Hanya hembusan napas beratnya yang kudengar. Ia menyandarkan punggungnya pada sofa, memijit pangkal hidungnya. Ada kerutan samar pada keningnya. Ini memang masalah rumit. Suaminya telah dihukum mati atas kesalahpahaman. Lantas sekarang, putra sulungnya menjadi buronan. Aku memutuskan untuk menemani Nagara ke mana pun ia pergi. Bukankah aku sudah berjanji untuk tidak melepasnya?   *   Malam ini aku gelisah. Kelopak mataku sulit dipejamkan barang sebentar. Sejak perbincangan di ruang tamu tadi, pikiranku ngelantur ke mana-mana, membayangkan yang tidak-tidak. Aku mengubah posisi tidur berkali-kali. Terlentang, miring ke kanan, miring ke kiri, tengkurap, terlentang lagi, namun tak kunjung terlelap. Mataku terus terjaga. Kurasakan dadaku yang naik-turun. Besok aku pergi dari sini, menemani pelarian Nagara dari kejaran antek-antek Presiden Andromeda. Ia berencana menuju Vrischika, di tempat yang sekiranya sulit dideteksi para tentara—katanya ada tempat persembunyian para milisi-milisi di wilayah itu. Aku tidak mempermasalahkan keputusan ini. Tapi aku berdusta kalau tidak mengatakan takut. “Belum tidur?” suara pintu berderit menyentak kepalaku. Aku mengangkat badanku setengah, melihat cahaya masuk melalui sela-sela pintu yang dibuka. “Belum.” Nagara masuk ke dalam kamarku. Pintu ditutup di belakangnya. Ia mendekat ke arahku, duduk di sebelahku. Kuamati dirinya sambil berbaring. Kepalaku terlalu berat untuk diangkat. Apalagi dibuat menegakkan badanku. “Aku bisa merasakannya,” ujarnya, mengelus telapak tanganku. “Kamu itu mudah dibaca seperti ensiklopedia terbuka. Kalau kamu takut, tidak usah memaksa ikut.” Kugelengkan kepalaku. Enak saja ia memutuskannya semudah itu. “Pokoknya aku tetap ikut.” “Kau itu keras kepala ya.” Tangannya meraih puncak kepalaku, mengacak-acak rambutku sampai berantakan. Sebelum ia menjauhkan tangannya dariku, aku menahannya, menggenggamnya. “Temani aku di sini.” “Ternyata ini tabiat aslimu,” celanya. “Manja sekali.” Aku tak menyangkal kalau aku manja. Kupasang wajah memohon, semelas-melasnya sampai ia bersedia menemaniku. Ia berdecak pelan, menggeleng-gelengkan kepala. Namun pada akhirnya mengabulkan permintaanku dengan mengambil posisi duduk berselonjor di sebelahku. Intens sekali. Aku bergeser lebih ke kanan untuk memberinya ruang. Tangannya dilingkarkan di sekitar tubuhku, menghantarkan kehangatan melalui dekapannya. Aku kian merangsek hingga tubuh kami saling berdempetan, hingga dapat kurasai napasnya yang hangat dihembuskan di leherku. Jantungku mendadak bertalu-talu. Kupandangi ia dengan tengadah. Mata kami saling bertemu dan mulai bercengkerama. “Pernah kamu lakukan ini pada gadis lain?” tanyaku. Sebelah alisnya ditarik ke atas. “Tidak pernah,” balasnya. “Kamu yang pertama.” Darahku seakan tersumbat di pipiku dan membuatnya merona merah. Untunglah tempat ini temaram sehingga aku tak perlu merisaukan tanggapannya melihat wajah memerahku. “Kamu pasti bohong.” “Sungguh, Btari.” Bahkan ia memberikan wajah bersungguh-sungguh, menjamin kejujurannya. “Aku hanya dua kali jatuh cinta pada dua gadis berbeda.” Mendengar pengakuannya itu, hatiku seolah disenggol sesuatu, mencipratkan rasa perih. Sudut bibirku tertekuk ke bawah samar. Hey, tentu saja ia pernah mencintai gadis lain selain diriku. Memang siapa aku ini mengharap menjadi yang pertama? Jadi yang terakhir saja sudah pasti bersyukur sekali. “Siapa gadis sebelumnya? Anjani?” Teringat olehku ia pernah menyebut nama itu. “Bukan. Yang pasti bukan dari sini. Dia sangat pemalu dan pendiam. Dia bahkan tak boleh disentuh sembarang orang. Dia seakan disakralkan oleh para malaikat.” Bukan dari sini, artinya ia berasal dari wilayah berbeda. Sebenarnya aku ingin bertanya-tanya lebih mengenai siapa cinta pertamanya, namun sekiranya pertanyaan itu sungguh tak sopan jika kuajukan. Maka, aku memilih untuk memberikan kalimat lain. “Nyanyikan aku sesuatu.” Lagi-lagi ia memandangku dengan sebelah alis terangkat. “Nyanyikan apa?” “Terserah.” “Asal kamu langsung tidur.” “Tidak janji.” Aku terkikik pelan. “Maka pintar-pintarlah meninabobokan aku.” Dibalasnya perkataanku dengan cengiran. Tangannya mengelus rambutku. Ini kali pertamanya ia menunjukkan rasa sayangnya padaku. Sehingga aku bisa meyakini bahwa perasaan itu memang hidup di antara kami. Bukan angan-anganku belaka. Bukan lagi pungguk merindukan bulan. “Anut runtut tansah reruntungan. Munggah mudhun gunung anjok samudra,” ia mulai bernyanyi untukku. Kulingkarkan tanganku di sekitar lengannya, bergelayut mesra. Mataku perlahan terpejam selama mendengar ia bernyanyi pelan di sampingku. “Gandheng rendhengan jejering rendheng. Reroncening kembang, kembang temanten.” Baru beberapa saat aku mendengar suaranya yang sayup-sayup, aku sudah mengantuk, membawa serta nyanyiannya ke dalam mimpiku. Hal terakhir yang kurasakan sebelum jatuh ke lubang kegelapan yang curam dan ketidaksadaran hanyalah satu; ciuman di puncak kepala, pucuk hidung, dan sudut bibirku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD