Pukul sepuluh tiga puluh. Presiden Andromeda bertekur dengan dokumen-dokumen yang harus ia periksa di atas meja kerjanya. Wajahnya menampakkan garis keras. Di sela-sela waktu itu ia mulai memikirkan kembali ancaman yang siap menyerangnya kapan saja. Mimpi-mimpi indah yang telah ia bangun lama tak boleh digulingkan begitu saja, hanya karena ulah seorang bocah. Dalam setiap tarikan napasnya, ia tanamkan pada dirinya, didikan-didikan mendiang Papanya yang mengajarkan tentang apa artinya kekuasaan mutlak. Seorang pengkhianat yang berkeliaran di negeri tempatnya dilahirkan. Bersembunyi di balik topeng, berlaku munafik, dan mengoarkan provokasi demi kepentingan golongannya. Namun di dalam kelompok itu pun, Papanya selalu menyisihkan diri, belajar menjadi seorang tiran yang keinginannya harus terpenuhi.
Presiden Andromeda berjanji pada dirinya untuk membuktikan bahwa ia dapat menjadi anak kebanggaan Papanya, meski ia menganggap Papanya tak pernah menyayanginya, menganggapnya seorang anak yang tidak berguna. Selain karena dibayang-bayangi gemerlap kekuasaan mutlak tanpa acungan telunjuk pemimpin golongannya yang menjadikan ia wayang. Ia inginkan itu semua. Orang tuanya mati sia-sia di tangan gerombolan pemberontak. Kematian yang direncanakan sedemikian cantiknya. Peliknya kemelut politik yang terjadi melahirkan jiwa otoriter di dalam dirinya. Entah manakah yang benar atau salah, ia tak memedulikan itu. Untuk waktu ini, akan ia lanjutkan keinginan dan mimpi-mimpi manis Papanya. Menunjukkan pada Papanya bahwa ia bisa diandalkan, bukan hanya menjadi beban keluarga. Ia tak peduli disebut sebagai titisan Caligula. Ia tak peduli jika semua keputusannya merugikan banyak orang. Yang ia pedulikan adalah hasrat pribadinya. Hasrat memiliki dan menguasai. Bukan ditunjuk atau dikuasai. Ia bertekad tetap jadi jari telunjuk.
Jari telunjuk yang tidak memedulikan eksistensi jari-jari lainnya.
Presiden Andromeda memang cerdas. Ia memiliki kemauan kuat untuk mendapatkan keinginannya. Sejak kecil ia tak memiliki teman. Jangankan berteman, sampai saat ini pun ia tak pernah berkencan. Sejak Mayall bersekolah di luar negeri, Presiden Andromeda sering merasa kesepian. Sebab Mayall satu-satunya teman yang ia miliki, selain sebagai adik perempuan. Presiden Andromeda tak pernah tahu arti persahabatan. Tak ada yang mau berteman dengannya, meski orang tuanya dianggap sebagai orang terpandang. Pribadinya yang terlalu keras, semena-mena, dan suka memerintah itulah yang membuat ia dikucilkan.
Namun kini ia pikir, ia tak membutuhkan siapa pun. Bukankah ia memiliki segalanya? Satu-satunya teman setia yang masih menemaninya hanyalah kekuasaan. Perjuangan liciknya dalam menguasai secara mutlak negerinya tanpa kekangan akan terus dipertahankan. Baginya, menyingkirkan satu orang merupakan urusan sederhana. Akan ia kejar siapa pun yang berusaha menggagalkan misinya.
Ia ingat beberapa waktu silam, ketika jaringan di Waluku mengendur dan dapat ditembus oleh serangan halus orang-orang Pari. Dari internet, serangan masuk secara perlahan-lahan seperti virus komputer. Memasukkan unsur-unsur kebudayaan tradisional Nusantara melalui akses hiburan anak-anak sekolah. Bahkan, konten game yang bernapaskan permainan tradisional di gawai masyarakat borjuis itu langsung disingkirkan. Siapa lagi pembuatnya kalau bukan revolusioner yang pandai meramu teknologi? Presiden Andromeda mudah mengendus bau-bau pembelot yang berusaha keras memasuki zona mereka. Segera saja ia mengambil tindakan tiap terjadi kebobolan di wilayahnya, dengan masuknya pengaruh-pengaruh dari golongan revolusioner itu.
Sekitar beberapa hari—waktu itu—internet terpaksa dimatikan sementara waktu. Begitu berhasil membersihkan kekacauan yang ditimbulkan oleh kaum pembelot, barulah jaringan internet dihidupkan kembali. Tentu dengan tambahan pengamanan ketat mencegah masuknya pengaruh yang merambat secara halus ke dalam zona mereka.
Sejak kejadian itu pengamanan semakin diperkuat dengan menambahkan orang-orang yang ahli di bidang teknologi. Tidak ada lagi yang boleh memasuki teritorial mereka, menyerang secara hati-hati dengan memanfaatkan teknologi yang memang mereka dewakan sejak beberapa dekade lalu.
Bel pintu ruang kerja Presiden Andromeda berbunyi dari luar. Dengan satu seruan mempersilakan masuk, pintu tergeser otomatis, menampakkan seorang gadis peranakan Jepang yang melenggang menuju meja. Ekor mata Presiden Andromeda meliriknya skeptis. Sebuah tablet nano diletakkan di depannya, kemudian ia hidupkan sehingga muncullah proyektor yang menunjukkan sebuah data lengkap.
“Saya sudah memberikan rinciannya di sini, Bu Presiden,” Mikazuki yang merupakan kepala deputi bagian teknologi membuka percakapan. Ia mengambil tempat duduk setelah dipersilakan oleh Presiden Andromeda.
Presiden Andromeda tersenyum simpul. Ditelaahnya data-data yang berhasil dikumpulkan Mikazuki. Senyum di bibirnya semakin tertarik ke atas, tanda kepuasaannya atas kerja keras yang membuahkan hasil baik baginya.
“Terima kasih, Mikazuki. Silakan keluar dari kantor ini.”
Mikazuki menundukkan kepalanya hormat. Ia lalu berdiri dari kursinya, meninggalkan ruang kerja Presiden usai mengerjakan tugasnya dengan baik. Menghela napas panjang, Presiden Andromeda menghidupkan terminalnya untuk menghubungi seseorang. Begitu tersambung dengan seseorang di seberang sana, wanita itu mulai berbicara,
“Aku perintahkan penangkapan atas nama Nagara Adinata.”
Senyum miring culas meruap di bibirnya.