Sebelum berangkat hari ini, aku meminta Bunda merawatku sebentar. Aku duduk di depan cermin, sementara ia menyisir rambut panjangku dan memotongnya hingga sebatas bahu. Kuamati pantulan bayanganku yang mengikuti setiap gerakku. Kini tak ada lagi warna ungu gradasi platinum di rambutku. Jatuh terpangkas di bawah kaki. Di atas lantai kayu berpolitur halus. Tangan Bunda kembali disibukkan dengan rambutku, menyisirnya sampai rapi dan halus. Ia belai rambut itu, penuh kasih sayang, memperlakukanku bagai anak sendiri. Serasa tinggal di rumah dengan Mama yang merawatku. Sewaktu masih kecil, Mama tak pernah absen menyisir rambutku tiap malam. Ia bilang rambutku halus seperti sutra. Harus disisir dengan baik. Sehelai yang jatuh bagaikan menghamburkan harta bernilai besar.
“Kenapa kau minta Bunda memotong rambutmu?” Bunda bertanya setelah ia letakkan sisir di atas meja rias, menatapku melalui pantulan bayangan di dalam cermin. “Bagi perempuan, rambut itu harta yang tak ternilai.”
Badanku membungkuk, mengumpulkan rambutku jadi satu dan memungutnya. Kugenggam tangan Bunda, memberikan potongan rambutku tadi padanya. Ia balik menggenggam tanganku kuat.
“Simpan saja ini, Bunda. Sebagai tanda terima kasih saya telah diizinkan tinggal di sini, dirawat baik oleh Bunda, dan diajarkan banyak hal.”
“Kenapa kau bicara seperti itu, Nak? Kita pasti bertemu lagi.”
“Selama saya tak ada di sini, hanya ini yang bisa menemani Bunda. Simpan saja ya, Bun. Jangan sampai hilang.”
Bunda tersenyum. Dielusnya rambutku penuh cinta. Lalu dikecup pula keningku tanda sayang. “Btari, cah ayu, Bunda tidak meminta banyak darimu. Bunda hanya ingin kau baik-baik saja. Bunda janji akan simpan ini. Datanglah temui Bunda lagi. Pegang janji itu, Nak.”
“Pasti, Bunda.”
Dipeluknya aku setelah itu. Aku balas memeluknya, membenamkan wajahku pada dadanya. Aku telah kehilangan figur ibu setelah diusir dari tempat kelahiranku. Sekarang aku harus berpisah dari figur ibu lainnya. Kali ini bukan karena sebuah pengusiran dari rasa ketidakadilan. Bukan karena dampak krisis humanisme. Melainkan misi lain yang kulakukan, mengikuti dan menemani orang yang aku cinta.
Pelukan kami terlepas. Bunda menepuk pipiku, berkata bahwa ia telah menyiapkan segalanya di dalam rangselku. Ia bahkan memintaku membawa serta biola dari sanggar seni yang sering kumainkan. Benda yang dapat menemaniku, pelipur laraku, jika aku merasa kesepian.
Begitu segalanya telah dipersiapkan, aku diantar keluar. Sejak subuh tadi kulihat Nagara sudah lebih dulu siap dibandingkan aku. Kulihat ia di depan sana, tengah berbicara serius dengan Ayu yang tampaknya tak sependapat dengan rencana ini.
“Ini bukan soal melarikan diri saja, Yu,” katanya.
“Bukan soal melarikan diri, lalu apa? Ini namanya tindak-tanduk seorang pengecut! Lupa dengan semua yang kamu katakan padaku?”
“Aku yakin yang kulakukan ini benar.”
Perdebatan di antara mereka terhenti ketika Nagara menoleh ke arahku. Ia memberikan kode padaku untuk segera pergi dan memberikan waktu pada Bunda agar secepatnya meninggalkan desa ini. Kakiku rasanya kaku saat kuajak melangkah melintasi teras. Begitu sampai di samping Nagara, pandangan mata Ayu terlihat membunuh. Ia amati aku dari puncak kepala sampai ujung kaki. Memandang jijik. Sebelah alisnya ditarik ke atas, memberikan perhitungan. Lantas tatapannya berhenti pada dadaku. Lebih tepatnya, bandul kalungku. Matilah aku. Ia pasti marah besar menemukan fakta bahwa aku penduduk Waluku.
“Oh… jadi benar dugaanku. Kamu berani menyembunyikan mata-mata!” bentaknya pada Nagara.
“Yang pertama, dia bukan mata-mata,” Nagara menyahut dengan nada tegas. Tatapannya membidik sahabatnya, begitu tajam, bak mata belati. “Yang kedua, dia tidak ada hubungannya dengan semua ini. Yang ketiga, beri kami jalan.”
“Ada apa ini?” Bunda datang menengahi pertengkaran. Ia berdiri di antara kami, membagi pandangannya satu per satu, lantas berhenti pada Ayu. “Ada apa, Yu?”
“Tak apa, Nyi.” Bibir Ayu terpilin membentuk garis keras. Begitu murkanya gadis ini. Tak kepalang tanggung, di depan Bunda pun ia tampakkan raut wajah tidak senangnya. Lebih dari delapan puluh persen pasti karena diriku.
Nagara meraih telapak tangan Bunda, lantas dikecupnya punggung tangan Bunda sebagai restu. Aku amati momen antara ibu dan anak yang begitu intens. Andai saja waktu itu aku diberi banyak waktu, akan kucium Mama pada pipinya. Seperti yang bisa dilakukan Nagara. Baru kali ini aku mencemburuinya karena ia diberi kesempatan untuk berpamitan pada ibundanya sebelum pergi.
Bunda menyentuh kepala putra sulungnya memberi restu untuk pergi dari desa ini. Menghindari kejaran pasukan Presiden yang akan menangkap dan mengadilinya. Aku sependapat dengan rencana ini. Bagaimana juga, aku tahu bagaimana watak Presiden Andromeda.
“Mencapai kebaikan itu mudah, Anakku,” Bunda berujar lembut. “Yang membuatnya sulit hanyalah tekad dan niat. Selama kita bisa berusaha, selama itu pula gerbang menuju kebaikan akan terbuka. Hati-hati. Jangan lupa pada tanggung jawab dan kewajibanmu. Perjuanganmu.”
“Sahaya, Bunda.”
Nagara melepas tangan Bunda. Langsung saja aku mengikutinya, meraih tangan Bunda dan mencium punggung tangannya cukup lama. Ia kecup puncak kepalaku sambil dielus-elus penuh rasa sayang. Begitu kulepas tangannya, Bunda mendaratkan ciuman pada kedua pipiku.
“Hati-hati,” katanya. “Suatu saat nanti kau akan tahu apa tujuan Gusti Pengeran membawamu kemari, Btari.”
Kedua alisku bersatu. Aku menganggapnya sebagai pesan dari Bunda, bahwa aku dilahirkan di Tanah Air untuk satu tujuan. Darahku hanya akan tertumpah di tempat ibu pertiwi. Memperjuangkannya, seperti orang-orang lain yang diperlakukan bagai sampah. Aku memang lahir dan dibesarkan di sekitar orang-orang borjuis. Tapi matiku hanyalah untuk negeri ini. Apa pun akan kulakukan demi membela Tanah Airku dari jajahan pribumi yang tamak dan gila kekuasaan.
Bola mataku melirik Ayu detik lainnya. Telapak tangan gadis itu dikepalkan keras. Aku tahu ia memendam amarah. Wajahnya merah padam dengan mata nyalang dan nanar. Tak dipedulikan perintah Nagara, ia bergeming di tempatnya, enggan menyingkir dari hadapan kami. Tidak mengacuhkan perempuan itu, Nagara menggandeng tanganku setelah mengucap salam pada Bunda, mengajakku segera pergi dan tak mau membuang-buang waktu terlalu lama. Maka, aku mengikutinya sembari sesekali menoleh ke belakang. Kuamati Ayu yang berbalik badan menatap kepergian kami. Amarah masih tersirat di mukanya. Namun ia tidak berkata maupun bertindak apa pun kecuali mengamati kepergian kami dengan muka ditekuk masam.
*
Perjalanan ini mungkin memakan waktu lama. Aku tak pernah keluar kota, jadi aku tidak bisa memperkirakan kapan sekiranya kami sampai di perbatasan. Selama satu hari itu, perjalanan darat kami tempuh menggunakan kereta. Nagara bilang kami akan menyeberangi pulau-pulau menggunakan kapal. Sejak terjadinya krisis besar-besaran di negeri ini pertengahan abad lalu, perjalanan udara di luar Waluku dilarang keras. Perusahaan pesawat terbang ditutup jika tidak ingin dihancurkan secara paksa. Sama seperti jalur kereta api yang menghubungkan Waluku dengan wilayah lainnya. Bisa kukatakan kalau wilayah tempatku lahir memang terisolasi dari wilayah lain. Orang-orang kami selalu menganggap masyarakat di luar pusat pemerintahan adalah masyarakat tak berpendidikan yang tidak layak disejajarkan dengan mereka. Kaum proletar yang patut dibumihanguskan.
Tentu saja, berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan masyarakat Pari. Justru mereka menganggap orang-orang Waluku adalah titik terendah peradaban manusia. Menurut Chris Jenks, tidak ada manusia tanpa kebudayaan. Semua watak alamiah manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan. Tanpa kebudayaan, manusia tidak akan menjadi binatang yang cerdas. Tanpa kebudayaan, manusia akan menjadi sampah mental semata.
Aku yakin, sebenarnya masyarakat di Waluku pun memiliki kebudayaan mereka sendiri. Seperti yang pernah dikatakan oleh Nagara. Teknologi bagian dari kebudayaan, sebagai alat budaya. Dari buku yang kupelajari, arti kebudayaan itu sendiri merupakan kebiasaan dari suatu masyarakat. Nah aku berpikir, kemungkinan besar hal-hal seperti yang sering kutemui di Waluku adalah kebudayaan masyarakat sana. Korupsi, sebagai contoh besarnya. Bagi mereka korupsi merupakan hal biasa. Suap-menyuap pun biasa. Hukum dapat dibeli menggunakan uang. Jadi pelaku tindak kejahatan seperti itu dapat bersembunyi di balik tumpukan uang. Hukum hanya berlaku untuk orang yang tak berduit.
Aku tak bisa meyakinkan apakah Papaku bersih, tapi aku harap ia demikian. Namun sayangnya yang kutahu hanyalah, hampir semua pejabat di negeri ini bermain-main hukum dan keadilan dengan uang.
Orang borjuis berkuasa, orang proletar dijadikan bahan permainan. Menjelma menjadi seekor tikus besar berjas yang tengah mengamati ratusan proletar yang dijebak di dalam labirin mencari jalan keluar. Mungkin seperti itulah yang dapat kugambarkan untuk keadaan sekarang.
Selama dalam perjalanan, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur, melihat bentang alam—sawah, ladang, danau, tambak, dan pepohonan rindang berjejeran—, atau membaca buku. Aku lirik Nagara yang duduk diam di sampingku.
“Mengapa di sini jarang ada teknologi canggih?” bisikku. Sungguh, aku tidak mau mengundang perhatian dengan pertanyaan-pertanyaan yang dianggap tak lazim di tempat ini.
“Kami dilarang pemerintah mempergunakannya,” balasnya ikut pelan. Dipandangnya aku setelah itu. “Kamu tahu sendiri, mereka khawatir kami mempergunakan teknologi dan mesin canggih untuk menyerang pemerintah. Tapi bukan berarti kami buta akan semua itu.”
“Aku dengar dari Mas Yudhistira, internet jarang digunakan di sini kecuali orang-orang penting.” Dan aku ingat pula apa statusnya di sini. Mata-mata pemerintah dari golongan para milisi. Patutlah ia memiliki hal-hal yang tidak sembarangan dimiliki kebanyakan orang di tempat ini.
“Ya… kami mendapatkannya pun bukan tanpa usaha.”
“Bagaimana caranya?”
“Itu rahasia leluhur, Btari.” Ia tersenyum sekilas. “Mereka yang meninggalkannya untuk kami. Pembaruan-pembaruannya pun kami peroleh dari berbagai golongan. Ada yang pandai merakit mesin, menciptakan perangkat lunak dan keras, membuat program serta menciptakan virus komputer, bahkan melakukan kerja sama dengan sahabat yang tinggal di negara lain. Kami memiliki ahli bidang masing-masing. Kami saling melengkapi. Hanya saja, jejak kami mudah disamarkan, sehingga tidak banyak orang tahu siapa dari kami yang merupakan golongan revolusioner. Kami menyebut kelompok revolusioner negeri ini dengan nama Wirasena Pancasila.
“Di dunia ini, Btari, kamu mengenal dua tipe orang; waras dan tidak waras. Tipe orang waras, tipe yang masih memiliki sisi kemanusiaan. Sedang yang tidak waras, hati dan pikiran mereka sudah dibutakan hanya demi mencapai angan-angan di dunia fana, sampai rela mengorbankan orang lain.”
“Berarti memang tidak semua orang di tempatku dulu buruk, kan?” Kedua alisku terangkat.
“Aku kan sudah bilang, memang tidak semua orang di tempatmu itu buruk. Dan aku sudah banyak menerima bukti nyatanya melalui dirimu.”
Aku tertawa kecil. “Selain memata-matai mereka, apa yang kamu kerjakan?”
Ia memberikan sikap berpikir, lalu memandangku, “Memberikan pengaruh.”
“Memberikan pengaruh?” sepasang alisku bertautan, semakin tertarik.
“Sayangnya, butuh strategi lebih tepat lagi agar bisa masuk ke dalam zona mereka secara leluasa. Mereka selalu sigap menyingkirkan hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kami sering membobol masuk jaringan internet mereka. Ayu pandai menciptakan permainan dan menyebarkannya melalui aplikasi yang diunggah, sedangkan Kinara dan Arka yang lebih sering mengunggah konten musik dan film bernilai tradisional. Tak hanya mereka, kami memiliki banyak kawan yang bergantian melakukan tugas itu. Sayang, semuanya tidak bertahan lama. Pemerintah memblokirnya dari jajaran toko aplikasi di semua gawai. Termasuk konten musik dan film kami yang berhasil menjajaki zona mereka.” Ia pandang aku sambil menyengir. “Kami serang mereka melalui teknologi sebagai senjata makan tuan.”
Aku terkekeh. Strategi bagus untuk memberikan pengaruh serta kesadaran, mengubah paradigma orang-orang borjuis yang mengalami krisis besar.
“Sering pula orang-orang Biduk dan Vrischika—yang berkeinginan untuk memberikan perlawanan pada pemerintah—melakukan hal serupa. Banyak media yang dapat kami gunakan, Btari,” ia melanjutkan. “Sastra termasuk di antaranya. Menulis artikel, opini, fiksi… sampai saat ini kami masih melakukannya Meskipun banyak di antara kami harus menanggung konsekuensinya. Jadi buronan, ditangkap, dihukum. Banyak di antara kami yang mundur, banyak juga yang semakin melangkah maju. Mary Wollstonecraft contohnya. Dia mengubah paradigma perempuan melalui tulisannya.” Dihelanya napas panjang sebagai jeda. Bersamaan itu, aku melihat beberapa orang melewati kompartemen kami. Salah seorang dari mereka memandang kami di balik kaca pintu, lantas mengalihkan perhatian. “Ki Hajar Dewantara berjuang pun tidak menggunakan senjata. Dengan ilmu yang diajarkan, banyak pemuda yang pikirannya tergerak untuk bangkit dari penjajahan.”
“Itukah mengapa kalian sulit menjamah dunia pendidikan?”
“Ya… mereka, orang-orangmu dulu, takut kami lebih pintar daripada mereka. Kamu bisa menarik kesimpulan sendiri mengapa.”
Kuangguk-anggukkan kepala mengerti.
“Socrates, guru Plato, pernah berada di posisi kami, Btari,” lanjutnya. “Kamu tahu apa penyebab dia mati?”
“Karena ajarannya tentang monoteisme.”
“Selain itu, dia mati untuk sebuah keadilan.” Mulailah ia bercerita lagi. “Di era Yunani kuno, pernah terjadi konflik politik di Athena. Elit politik Athena menjeratnya pada tuduhan yang menghakiminya. Karena Socrates menolak membebaskan diri dengan menyuap hakim di persidangan, dia memilih mati meminum racun yang ditawarkan. Jika kami diberi pilihan seperti yang terjadi di persidangan Athena, kami akan melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Socrates.”
Kami mulai bertukar banyak cerita. Giliran aku yang memberinya cerita. Ia sendiri yang ingin aku menceritakan segala hal yang berhubungan dengan kehidupanku semasa tinggal di Waluku. Kuceritakan padanya tentang aktivitasku di sana. Walau aku jujur padanya bahwa keseharianku di sana tidaklah menyenangkan. Malah membosankan. Apa sih yang menarik dari jadwal yang terlalu terstruktur? Pagi, siang, malam, segalanya harus sesuai dengan jadwal. Aktivitasnya pun monoton. Aku bukan tipikal gadis yang suka berfoya-foya membelanjakan semua uang jajan serta tabungan, atau keluar malam dan mabuk-mabukan, atau juga berlibur ke luar negeri bersama teman-teman. Aku lebih suka melakukan kegiatan yang benar-benar kurasakan dampak positifnya. Bagiku, kesenangan yang sesungguhnya bukan seperti yang kusebutkan tadi. Kesenanganku adalah waktu di mana aku dapat mengobrol bersama orang yang kucintai, saling berbagi pengetahuan, dan memandangnya dari samping selama ia bercerita.
Seperti sekarang.
*
Untung perutku kuat. Hebatnya, aku tidak mabuk laut. Udara malam ini begitu dingin. Perlu kurapatkan jaketku sekadar menghalangi dingin menusuk tulang-tulangku. Begini lebih baik, membenamkan tangan ke dalam saku sambil memandang laut lepas. Malam di tengah lautan laksana bercengkerama dengan lilin-lilin kecil di tengah kegelapan. Tampak cahaya kecil di ujung sana, tempat di mana garis fatamorgana memisah antara batas laut dengan langit. Entah cahaya apa, barangkali lampu-lampu dari barisan rumah penduduk, bangunan lain, atau lampu jalan.
Selama perjalanan, kami tak banyak menegur orang-orang di atas kapal ini. Menghindari kecurigaan dan menghalau pemerintah dapat mengendus keberadaan kami, Nagara mengambil inisiatif dengan menyembunyikan identitas kami saat pembelian tiket atas nama Jagad Angkara dan Rahajeng. Sebelumnya, ia sudah mempersiapkan segalanya. Termasuk kartu identitas palsu.
Tiba-tiba saja hatiku berbisik lirih, berkata aku begitu merindukan orang tuaku. Mama, Papa, aku merindukan kalian. Apa yang kiranya kalian lakukan di sana? Masih ingatkah kalian padaku? Masihkah kalian sadar bahwa aku putri kalian? Rasanya baru kemarin aku mendapatkan ciuman selamat tidur dari Mama, hadiah kenaikan kelas dari Papa, dan pergi bertiga saat liburan sekolah tiba. Rasanya baru kemarin. Ketika aku merajuk lantaran keinginanku tak tercapai. Ketika aku jatuh dari atas kuda dan menangis tersedu-sedan hingga Mama perlu menggendongku dan mengecup-ngecup puncak kepalaku. Ketika aku datang ke kantor Papa, merangkulnya dari belakang dan ikut mengamati kerjanya sambil sesekali mengajak ngobrol dan ia akan mencium pipiku.
Kerinduan itu lantas kutumpahkan dalam tangis teredamku. Meski tak terlahir dari rahim Mama, aku sangat menyayanginya. Ia yang ajarkan aku berbicara, berjalan, membaca, dan segala hal baik. Aku yakin tiada orang tua yang mengajari anaknya berbuat buruk.
Paru-paruku seakan menyusut hingga membuatku kesulitan bernapas. Kuamati bintang-gemintang di angkasa, bersembunyi di balik kabut tipis kelabu yang meredam kelap-kelipnya. Aku berusaha untuk tak menangis, namun air mata ini terus saja berdesakan, menetes melewati pelupuk mataku sampai menyentuh pipi dan daguku, menggantung menunggu angin menyenggolnya hingga jatuh.
“Kenapa kamu menangis?” aku dengar suara selembut beledu di sampingku, membuatku lantas berpaling muka menghindari bertatap muka dengannya. Kuseka air mata di kedua pipiku yang membuatnya terasa dingin oleh rembesan angin laut. Barulah aku berbalik memandang Nagara yang tampaknya telanjur memergokiku menangis.
“Aku merindukan Mama dan Papa,” balasku dalam setengah bisikan. “Menurutmu, apakah mereka masih sayang padaku setelah semua ini?”
Ia mengangkat sebelah alisnya. “Orang tua mana yang tidak menyayangi anak-anak mereka? Bahkan induk singa yang buas saja tak berani memangsa anaknya.”
“Aku takut mereka melupakanku. Aku takut mereka menyentuh oblivetanol.”
“Jika mereka sayang padamu, Btari, mereka tidak akan menyentuh serum itu.”
“Mengapa kamu begitu yakin?”
“Percayalah pada hatimu.”
Disekanya jejak air mata di pipiku dengan jarinya, lantas mengusapnya lembut. Kusentuh telapak tangannya, membawanya dalam genggaman tangan yang berpadu. Kutatap matanya yang menyorot hangat, saling bersipandang bagai tak memiliki ruang. Tiada pula bergerak. Mata itu lagi-lagi menyihirku, mencengkeram jiwaku yang terlalu rapuh untuk jatuh ke dalam pelukannya.
Ia melepas genggamanku. Kini ia yang menyentuh tanganku, membawanya ke dalam genggaman hangatnya, mengaitkan jemarinya padaku. Ditariknya senyum yang kusuka. Yang tidak setengah-setengah. Yang lebih lepas. Yang sangat tulus dan jarang kulihat. Ia jarang memberikan senyum seperti itu pada orang lain. Beruntunglah diriku mendapatkan porsi lebih banyak untuk menikmati keindahannya.
“Lelaki memang diciptakan lengkap dengan nalurinya,” katanya.
“Hm?”
“Boleh, Btari?”
“Boleh apa?” aku menyatukan alisku.
“Menciummu.”
Pipiku memanas seperti ditampar seseorang. “Mengapa meminta izinku?”
“Aku masih punya etika.”
Entah mengapa kalimatnya membuatku tertawa geli. Kuanggukkan kepalaku sebagai jawabannya. Detik berikut ia cium pipiku, begitu dalam dan lama. Aku tidak berkedip, napasku seolah terhenti di tenggorokan, debar jantungku mempermainkan akal sehatku, dan darah mengalir deras bagaikan air terjun. Kupandang ia dengan muka seperti dibakar hidup-hidup.
“Cium aku sekali lagi,” pintaku. Ia terheran-heran mendengarnya dan tersenyum miring. Namun tidak ada protes atau pun penolakan yang kudengar, alih-alih ia lakukan hal itu sekali lagi.
Detik itu pula aku palingkan wajahku dengan sengaja, hingga bukan pipiku yang kena, melainkan bibirku. Aku bagaikan menyentuh madu dan beledu dijadikan satu. Kupandangi lagi matanya yang tak beranjak menatapku. Bara api bagai membakar kami di atas kapal ini. Jantungku dibuatnya bertalu-talu dan napasku seolah terhenti di tenggorokan. Tangannya dilingkarkan di sekitarku pinggangku dan tubuhku ditarik kian mendekat. Mataku terpejam begitu bibirnya dikatupkan pada bibirku dan menggerakkannya lembut.