MAFIA LOVE STRUGGLE-8

1290 Words
Fredi duduk di tepian kolam berenang seraya menikmati seputung rokok di tangannya. Banyak pikiran di otaknya, apalagi baru saja dia menyaksikan bagaimana argetta nyaris hidupnya dalam bahaya. Syarat yang di beri oleh Ayahnya sendiri menyiksanya. Kenapa Ambrik beritu menginginkan kehancuran Emran. Apa alasannya. Aku memang membenci Emran tapi Aku tidak selicik ayah. Pikir Fredi. Berbeda dengan argetta yang berdiri sambil bersandar di tepian jendela kamar Fredi. Air matanya terus mengalir, ia tak sanggup membayangkan melihat kehancuran Emran. "Argetta, apa yang harus kau lakukan untuk menyelamatkan kakakmu sendiri." Lea berbicara sendiri sambil memandangi langit yang penuh bintang. Hari sudah gelap tapi hatinya masih saja kalut tak menentu. Tok..Tok..Tok.. Terdengar suara ketukan pintu dari luar sana, argetta tetap tak menggubris. Ia tak perduli dengan apa yang ada di hadapnya sekarangan. Tok..Tok.. Tok... Sekali lagi suara ketukan di menggema tanpa mendapat izin, seorang masuk menemui argetta. CEKLEK. Argetta menoleh ke arah pintu. "Maaf, Aku menganggumu. Boleh aku bicara denganmu sebentar." Edwin berdiri di belakang argetta berharap ia bisa menenangkan hati wanita sahabatnya ini. "Bicaranya, aku akan mendengar." Argetta berucap dengan suara paraunya. "Baik. Aku tau apa yang kau pikirkan. Seorang adik memikirkan nasib kakaknya." Edwin berseru. Argetta tersentak dan berbalik memandang Edwin. "Kau mengetahui ak---" "Aku tahu segalanya tentang dirimu. Saat Fredi memintaku mencari tau tentang dirimu, aku tahu kau adik Emran Farnazio Pencily tapi aku tidak mengatakan segalanya pada fredi." Edwin mendaratkan bongkongnya di sofa lalu melanjutkan ucapannya. "Justru aku membiarkan Fredi terjerat mencintaimu. Jika saat itu Fredi tahu kau adik dari Emran. Dia akan merasa dapat sebuah berlian. Argetta, Emran adalah musuh terberat Fredi dalam bisnisnya." Edwin menjelaskan panjang lebar. Tangisan argetta semakin jadi, ia menghempaskan tubuhnya. "Lanjutkan." "Aku harap jangan sampai tuan Ambrik mengetahui ini. Dia juga sangat membenci Emran tapi dia tak sengan membunuhmu kapan saja, kau sedang berhadapan seorang mafia yang licik kau harus bermain pintar. Kau mengerti maksudku." Edwin berharap argetta lebih tenang saat ini. Argetta mengangguk mengerti. "Apa yang harus aku lakukan." "Hubungi Laura katakan untuk mengikuti permainan Fredi tanpa di ketahui Emran. Ini akan mempermudah Fredi membebaskanmu, setelah itu kita dengan mudah membuat kepercayaan pada Ambrik." Ucap Edwin. "Apa kau gila. Laura bisa saja mengatakan pada Emran segalanya. Laura sangat mencintai kakakku." Argetta terlihat gelisah. "Ini tugasmu, kau harus membuat Laura yakin. Dan jangan sampai di membocorkan segalanya. Aku harus pergi, sepertinya Fredi akan segera ke atas. Ini ponsel kau bisa hubungi Laura." Edwin meninggalkan tempat itu setelah mengatakan segalanya. Argetta terus berpikir bagaimana cara untuk bicara pada Laura. Tap.. Tap.. Tap.. Laura mendengar hentakan kaki menuju kamarnya, ia tahu pasti itu Fredi. Dengan sangat cepat, argetta menyembunyikan ponselnya. Dia kembali dengan posisinya menatap langit di tepian jendela. CEKLEK Fredi melihat wanita kesayangannya berdiri terdiam tak seperti biasa yang sering berdebat dengannya, Kali ini argetta lebih memilih diam. Fredi memeluk tubuh argetta dari belakang. "Bagaimana kabarmu hari ini. Apa kau tak merindukanku." Argetta tak menjawab, ia membalik kan tubuhnya lalu memeluk Fredi. "Apa artinya kau sudah tidak marah padaku lagi." Fredi berucap saat argetta mulai memeluknya. "Aku akan berjuang, Fred. Aku percaya padamu." Argetta berucap pelan. Fredi mempererat peluknya, ia sungguh takut membayangkan jika argetta menghilang dari hidupnya. "Aku sangat mencintaimu. Jangan pernah coba pergi dariku." Bisik Fredi yang mencium tubuh khas argetta. Fredi menggendong tubuh argetta ala bridal style, membaringkan wanitanya di ranjang. Pria itu juga berbaring di samping argetta. "Kapan kau akan pergi menemui Laura." Argetta bertanya seraya menenggelamkan wajahnya di d**a Fredi. "Secepatnya." Ucap singkat Fredi. Fredi tak tahu bagaimana memulai permainan yang di buat oleh Ayahnya sendiri. Argetta meneteskan air matanya kembali, air mata argetta jatuh di d**a fredi. Pria itu bisa merasakan sebuah tetesan air jatuh dari mata argetta. "Kau menangis lagi." Fredi melihat wajah argetta. "Apa aku tak boleh menangis." Laura menjawab. "Mau sebuah kecupan." Fredi menyeringai nakal. Argetta bangkit, ia duduk di hadapan Fredi yang masih terbaring. Ia mengelus wajah argetta dengan lembut, pria itu mendekap tubuh argetta hingga wanita itu berada di atas tubuh besar gagah Fredi. "Apa yang ingin kau lakukan, Fred." Argetta mengingatkan bagaimana Fredi melakukan hal yang membuatnya melepaskan perawannya. "Aku mau kau tidur seperti ini, tenang saja aku tidak akan melakukan hal tidak kau inginkan." Fredi tersenyum menatap argetta. Argetta mengecup lembut bibir Fredi yang seinci dengan bibirnya. Dia merasakan ketenangan saat ini. Argetta akan berjuang untuk Fredi dan Emran. Aku berjanji akan melawan mafia keji itu, akan ku pastikan Laura dan Emran akan baik baik saja. Lelaki biadap itu harus menerima ganjarannya, ia sudah bermain dengan hidupku, cintaku, Dan Emran saudaraku. "Malam ini dan selamanya, kau hanya milikku argetta." Emran memeluk tubuh wanita ini memutar tubuh mereka. Sekarang Fredi berada di atas tubuh argetta. Ia melumat bibir lembut argetta, memasuki bagian lidahnya untuk bermain. Argetta membalas aksi Fredi. Mereka berdua menikmati ciuman begitu hangat. Fredi melepaskan seringaiannya. "Ada apa." Argetta berucap. Fredi bangkit, ia kembali menghempaskan tubuh di samping argetta. "Sudah malam, Ayo tidur." Fredi memeluk argetta dari belakang tak perduli kejantanannya sangat menegang berada di dekap argetta. *** Pagi hari, setelah memastikan Fredi dan Edwin pergi dengan jet pribadinya, ia menghubungi Laura sahabatnya. Di New York, Laura Mexim berada di sebuah kamar menemani pria yang mengalami frustasi hilangnya sang adik. Drrttt...Drrtt.. Laura mendengar ponselnya berdering. Ia bangkit dari pelukan Fredi yang masih tertidur pulas. Laura meraih ponselnya, dan sedikit menjauh dari Emran. Ia tak ingin menganggu Emran yang dalam keadaan tenang. "Halo." Laura menjawab di tepian balkon mansion milik Emran yang megah Bak istana. "Laura, ini Aku. Argetta." Argetta menjawab dari seberang sana. Laura tersontak dan menatap Emran dengan senyum. Ia berpikir penderitaan Emran segera berakhir. "Argetta, Aku senang mendengar suaramu." Laura berucap riang. "Kau sedang bersama dengan Emran. jika iya, jangan sampai dia tahu aku yang bicara denganmu." "Tapi ar--" "Kalau tidak, Aku tidak akan beritahu keberadaanku." Ancam argetta. Laura menyerah dan mengikuti apa maunya argetta, ia tau sahabatnya keras kepala. Tidak Ada kata menyerah di kamusnya. "Baiklah." Laura berseru pasrah. Argetta menceritakan segalanya pada Laura, tentang bagaimana ia bertemu Fredi hingga kejadian menyeramkan menimpanya karena Ayah fredi. "Apa kau sadar betul, argetta. Siapa pria yang kau cintai itu." Laura tersentak kaget dengan semua cerita argetta. Ia masih belum percaya apa yang barusan di dengarnya. Ini sangat tak masuk akal untuknya. Bagaimana jika terjadi suatu pada argetta. Laura sangat khawatir. "Kau harus membantuku. Aku mohon padamu biarkan Fredi bersamamu sementara waktu. Kau tenang saja, Fredi tidak akan berbuat yang tidak kau inginkan. Kita hanya butuh mengelabui tuan Ambrik. Laura, apa kau bersedia." Pinta argetta. "Apa aku punya pilihan lain. Tapi ingat, setelah ini kau harus menjelaskan semua pada Emran. Aku tak ingin Emran membenciku akibat ulahmu." Ucap Laura. "Kau tenang saja, Aku akan mengatur semuanya. Aku mencintaimu Laura." Argetta mengecup ponsel di tangannya lalu mematikannya. "Siapa pagi pagi gini menelponmu, sayang." Emran bertanya seraya memeluk Laura dari belakang. Jantung Laura terpacu cepat, ia merasakan takut jika Emran mengetahui segalanya. "Tem--temanku." Laura berucap sangat gugup. "Siapa??? Bukannya temanmu hanya argetta. Apa argetta menelponmu." Emran kembali bertanya sedikit curiga. Astaga..!!! Aku salah bicara. Semua ini salahmu argetta, aku terjebak. Batin Laura. Laura menelan salivanya. "Teman lamaku, kau tak mengenalnya. Dia juga teman Laura. Kami satu kampus dulu." Ucap Laura berharap Emran percaya. "Baiklah, aku harus pergi lebih awal pagi ini. Kau disini saja, jangan pergi kemana pun sebelum aku datang. Nanti aku akan mengantarmu pulang." Emran mengecup bibir Laura perlahan lalu pergi ke kamar mandinya. Laura kali ini di situasi sulit, harusnya dia bisa menolak argetta. Tapi jika dia menolak tentu argetta akan mati. Dan Emran akan sangat terpukul, setelah kejadian setahun yang lalu menimpa ayahnya dan sekarang adiknya. Mana mungkin Laura tega membiarkan semua itu terjadi. Otak terus berputar memikirkan itu semua, racun apa yang mampu mematikan seorang mafia keji. Rasanya ingin di bunuh seorang bernama Ambrik. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD