MAFIA LOVE STRUGGLE 7

1120 Words
Beberapa Hari berlalu mereka berdua lewati, selalu berdua. Cinta. Mereka terombak ambik hanyut desiran cinta mereka sendiri. Bahkan kedua orang tersebut melupakan akan banyak badai menerpanya. Dalam beberapa menit kebahagiaan mereka rusak saat kedatangan Ambrik di paviliun Fredi. Fredi seharusnya tak terkejut dengan kedatangan sang Ayah secara mendadak. Bukannya ini sudah terbiasa seorang ayah datang ke tempat putranya, tapi tidak untuknya. "Wah.. tuan Ambrik terhormat, anda datang kemari. Gerangan apa yang membawa anda datang ke paviliun kecil saya ini." Fredi berucap seolah menyindir. "Dimana wanita kesayanganmu kau sembunyikan." Ambrik berkata dengan raut wajah tak bersahabat. "Ck..ck.. kau datang khusus untuk bertemu dengan wanitaku, aku tak menyangka." Fredi kembali berucap, kali ini ia sangat bengis. Ambrik pun menatap Fredi dengan tatapan tajam. Tersirat kemarahan di matanya yang sangat menyeramkan. Ambik mendekat dan menodongkan pistol di dahi Fredi, "Kau jangan melupakan, Aku ayahmu, Fred." Fredi sungguh merasa serigala ini akan mengamuk, ia berharap argetta tak turun untuk menemuinya. "Aku tidak pernah lupa, Ayah. Tapi kau sendiri yang membuatku lupa." Fredi menyingkirkan pistol di dahinya. Ambrik terlihat muak, dengan kelakuan satu satunya putra yang ia punya. Argetta mendapatkan kebahagiaan, ia bahkan tak mengetahui suatu yang terjadi di paviliun tersebut. Argetta keluar dari kamar menemui Fredi. Dengan ciri khas cantiknya, rambut terurai indah, tubuh elok di balut gaun pendek sangat mempesona. Argetta kaget dengan pria yang berada bersama fredi dengan sebuah pistol di tangannya. "Argetta, kembali ke kamarmu sekarang." Perintah Fredi. Argetta sepertinya mengetahui tidak berada di situasi yang aman. Argetta berpikir pria ini pasti penjahat atau musuh kekasihnya. Baru saja argetta berbalik, pria itu melangkah berjalan mendekati argetta dengan tatapan seolah merendahi dirinya. Argetta yang merasa di tatap langsung memalingkan wajahnya. "k*****t, SERIGALA JANGAN COBA BERANI KAU SENTUH DIA." Fredi berkata dengan marah. Wajah argetta semakin pucat, ia takut menghadapi pria di depannya ini. Padahal ia tak pernah merasakan takut luar biasa. "Menurutmu apa yang Aku lakukan pada wanita ini, Fred." Ambrik menarik tangan argetta lalu menghembaskan tubuhnya di sebuah sofa besar miliknya. "AKU SUDAH MEMPERINGATI JANGAN SENTUH DIA, BERANINYA KAU." Fredi bernotasi dengan nada tinggi. Kedua tangannya sudah tergepal karena amarah di hatinya yang mengebu. Tubuh argetta semakin gemetar melihat pertingkaian keduanya. "Aku sudah lebih dulu memperingatimu, bukan. b******n rendahan." Ambrik menyeringai tajam pada argetta. "Kau masih ingin berguna bagiku, bukan." Ambrik melanjutkan perkataannya yang sempat terjeda. Seakan Fredi mengetahui maksud kata Ambrik tersebut, ia mengidik ngeri seakan pria di hadapannya akan melakukan suatu yang menakutkan. Ambrik mengeluarkan sebuah pisau dari saku celananya. Fredi terkejut, ia berharap apa yang di pikirkannya tidak terjadi. "IKAT TUBUH WANITA INI, DAN BUAT MULUTNYA TAK DAPAT BICARA, CUKUP DIA MELIHAT DAN MENDENGAR SAJA." Perintah Ambrik pada anak buahnya. Argetta menangis, tidak pernah rasanya begitu takut dengan pria di depan. Pria di hadapannya sungguh b***t, apa yang akan mereka lakukan pada ku. Batin argetta dengan derai air matanya. Faro dan Edwin tak bisa menolong argetta maupun Fredi, mereka berdua hanya terpaku diam. Seandai mereka bisa, sudah dari dulu mereka menolong Fredi yang tak ingin menjadi seorang mafia, dengan paksaan Dan ketakutan pada ayahnya sendiri, ia menjadi mafia. Fredi menatap penuh amarah, ingin rasanya ia menghantam wajah pria yang ia sebut Ayah. Apa tak bisa seorang Ayah melihat putranya bahagia. Tidak, untuk orang yang di hadapannya. Dia serigala k*****t. "Lihatlah, Fred. Wanitamu sudah terikat, sekarang kita hanya tinggal bermain saja dengan pisau ini." Ambrik berkata seraya memain benda tajam di tangannya. "JANGAN LAKUKAN APAPUN. b******n, CUIH." Fredi sungguh keadaannya sangat marah. "POTONG DAN CINCAK DAGING WANITA INI LALU BERI MAKAN PADA ANJING." Ambrik berkata dengan suara yang terdengar keras. Argetta menelan salivanya, apa ini akhir hidupnya. Begitu sulit menjalin hubungan dengan seorang mafia. "Lakukan." Pinta Ambrik memberi pisau di tangan pada salah satu anak buahnya. Argetta mengerjap kan matanya. Airmatanya semakin jadi, ia tak tahu ternyata akan secepat ini nyawa. Lamunan argetta. "Ayah, aku mohon padamu. Jangan lakukan apa pun padanya, aku akan menuruti semua maumu asal biarkan aku bersamanya." Fredi berlekuk luntut pada Ambrik dengan tangis di matanya. 'Ayah....'Argetta terkejut dengan sebutan itu. 'Ya tuhan, jadi pria busuk ini Ayah Fredi. Dia ingin membunuhku, sungguh aku belum pernah bertemu dengan Ayah seperti dirinya yang tergolong ngeri.' batin argetta berteriak. Ambrik menduduki sofa dan menyilang kakinya. "Baiklah." Ambrik berucap dengan senyum licik di wajahnya. "Aku lepaskan wanitamu ini, hanya dengan syarat." "Apa pun itu akan Aku lakukan." Fredi terus memohon dan berharap pria ini mau mendengarnya. "Berhenti berlutut, duduk disana." Perintah ambrik. Fredi mengikuti maunya, ia menghela napasnya. Setidaknya ia tidak perlu kehilangan argetta. "Katakan. Apa yang harus ku lakukan." Fredi bertanya pasrah. "Kau harus mendekati Laura." Mata argetta terbelalak. 'laura.' Apa yang Laura yang sama. Tidak mungkin, nama Laura banyak. "Laura Mexim, kekasih dari Emran. Aku ingin Emran hancur, baru saja aku mendengar dia kehilangan adiknya. Pria bodoh itu sangat frustasi jika dia kehilangan Laura kekasihnya. Emran akan benar hancur." Ambrik tersenyum puas. Argetta merasakan sesak di dadanya. Ia tak percaya apa yang di dengarnya. Air matanya semakin deras, tadinya sudah mulai terhenti. "Tidak, Laura Dan Emran. Mereka tidak boleh melakukan hal itu pada kakak dan sahabatku. Bagaimana aku menghentikannya. Jika mereka tahu aku adik Emran, mereka bisa saja langsung membunuhku." Ucap dalam hati argetta. "Aku akan lakukan itu." Fredi berucap pasrah tanpa bantahan, ia tak bisa berbuat apapun selain menuruti ayahnya yang licik. "Kau sungguh pintar, Fred. Aku tunggu kabar baik itu. Lepaskan wanita itu." Ucap Ambrik dengan seringaian puas. Ambrik beserta anak buahnya pergi meninggalkan paviliun. Fredi bernapas lega lalu ia mendekati tubuh argetta yang masih kaku dengan tangis pilunya. "Argetta, jangan nangis lagi. Mereka semua sudah pergi." Fredi memeluk erat argetta yang masih terisak tangis. Tangisan argetta semakin jadi, Fredi tak mengerti apa yang terjadi. Fredi menyesap bibir argetta sekilas. "Kau masih ketakutan, sayang." Argetta tak bergeming sama sekali, ia hanya menangis sejadinya. Argetta tak bisa membayangkan bagaimana jika Emran kehilangan Laura, apa yang terjadi pada kakaknya itu. Bagaimana nasibnya kehilangan semua orang yang cintai. Argetta berpikir apa dia melakukan kesalahan pergi dari Emran. Astaga..!! Argetta kau benar dalam keadaan sulit. Apa yang bisa ku lakukan untukmu dan Laura. Pikir argetta yang sangat kacau. "Argetta, bicaralah padaku. Jangan diam seperti ini, Aku tidak mengerti." Ucap Emran frustasi mengacak rambutnya. "Tinggalkan aku sendiri, Fred. Aku Tak ingin di ganggu." Argetta berdiri hendak ke kamarnya. "Apa kau ingin menyerah dan memutuskan untuk meninggalkanku." Fredi berseru, argetta menghentikan langkah kakinya dan berbalik lagi. "Aku tak akan meninggalnya bahkan Aku rela jauh dari keluarku demi kau, Fred. Tapi kau akan melakukan suatu yang memgorbankan perasaan seorang." Lirih argetta lalu melanjutkan langkahnya pergi. "Dan seorang itu kakakku, Fred." Argetta melanjutkan ucapannya dalam hati. Tidak ada seorang adik yang ingin hati kakaknya hancur, air mata tak terhenti. Pikirannya melayang pada Emran. Bisakah dia menolong yang akan mendapat kesulitan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD