MAFIA LOVE STRUGGLE 6

1006 Words
New York City Dua hari berlalu Fredi belum juga kembali, pria itu berhasil membuat wanita berparas cantik itu gelisah belakangan ini. Pintu utama paviliun terbuka, argetta melangkah keluar. Berharap sosok pria yang di tunggunya datang. "Kau menunggu Fredi." Faro bertanya. "Tidak." Argetta mengelak. "Kau ingin membohongiku." Faro bersarkas. "Apa kau jatuh cinta pada fredi. Kalau jika iya, jangan lakukan itu." Faro memperingati argetta. "Kenapa." Argetta sedikit penasaran. "Tuan Ambrik Ayah Fredi bisa membunuhmu, dia sangat bias dan berbahaya. Jangan masuk kehidupan Fredi terlalu dalam. Ayahnya seorang mafia besar, dia bisa saja menghancurkanmu." Argetta masih terdiam mendengar perkataan faro barusan. Ia semakin penasaran, bahkan argetta tak perduli dengan tuan Ambrik yang di sebut faro. Argetta kembali memasuki kamarnya, bergeletak tubuhnya di sofa. Pikirannya terpaku pada fredi yang belum kembali. "Aku akan menghajarnya jika dia kembali." Argetta menatap langit Kamar Fredi. CEKLEK Seorang masuk ke kamarnya. "Faro, aku tak ingin di ganggu. Sebaiknya kau keluar dari kamar ini." Suara argetta sedikit keras seraya matanya terpejam. Tap..Tap..Tap.. Terdengar suara kaki mendekati tubuhnya. "Apa kau tak merindukanku." Fredi mencium bibir argetta sekilas. Argetta membuka matanya, terkejut melihat pria yang telah di tunggunya Dua hari ini. Fredi menindik tubuh argetta. Argetta tak bisa melakukan apa pun bahkan ia sendiri tak berniat untuk lari dari Fredi. Fredi sangat merindukan wanita itu, berhari hari di London membuatnya gelisah. Wanita ini sungguh membuatnya tak berdaya. Argetta menatap Fredi. "Fred, apa kau merasakan sesuatu." Sebenarnya argetta sudah merasakan firasat hatinya gelisah tanpa Fredi. Fredi berdiri, ia menghela napasnya."apa yang rasakan." "Aku tak bisa jauh darimu, Fred. Aku gelisah." Argetta memeluk tubuh gagah Fredi dari belakang. "Apa kau sadar dengan ucapanmu. Aku seorang mafia, kau tahu itu." "Aku tak perduli. Aku mencintaimu, Fred." Fredi melepaskan tangan argetta yang melingkar erat di pinggangnya. "Bagaimana dengan keluargamu. Kau punya keluarga, bukan." Hah, Iya. Argetta melupakan Emran yang telah bertanggung jawab atas dirinya penuh. "Keluargaku." Argetta berucap singkat. Fredi membalikkan tubuhnya, menatap argetta. "Iya, keluargamu. Kau harus ingat." "Aku hanya punya seorang kakak laki laki. Orang tuaku sudah meninggal, ayahku menghilang setahun yang lalu dan polisi sudah mempediksinya meninggal." Argetta menjelaskan pada fredi. "Apa kakak lelakimu, akan setuju kau bersama seorang mafia." Fredi berseru. "Tentu, dia akan sangat marah tapi aku akan menghadapinya." "Kau wanita keras kepala." Fredi melingkarkan tangan kanannya di pinggang argetta. Argetta menyesap bibir Fredi sekilas. "Apa kau yakin ingin bersamaku." Ucap Fredi menatap manik mata argetta. "Kau harus menghadapi ayahku." Fredi melanjutkan perkataannya. "Aku bukan wanita yang gampang menyerah." Argetta mendaratkan tubuhnya di ranjang. Fredi menduduki sofa besarnya. "Aku akan menyuruh Edwin mempersiapkan kepulanganmu ke London." Fredi bertutur. Argetta terduduk seraya menatap tajam Fredi. "Aku tidak mau pulang." Fredi tidak menggubris ia beranjak keluar kamarnya. "Edwin." Fredi berteriak. Argetta mengikuti Fredi dari belakang. "Ada apa, Fred." "Kau siapkan semua keberangkatan argetta kembali ke London." Fredi memperintah Edwin. "Tidak, aku tidak akan kembali. Aku akan disini denganmu." Argetta berseru. "Kau harus kembali." Fredi mempertegas ucapannya. Argetta menetes airmatanya. Ia menatap Fredi berharap membiarkan ya tetap disini. "Argetta, mengertilah aku tidak bisa membahayakan hidupmu." Fredi menghela napas panjang. Saat ini argetta sungguh tak perduli apa pun. la hanya menitik air mata membasahi pipinya. "Bukankah Aku sudah mengatakan, Aku tak kan menyerah. Aku menghadapi ayahmu tak peduli seberapa jahatnya dia." Argetta terisak tangisannya. Sebenarnya Fredi merasakan hal sama, ia tak bisa tanpa argetta. Perasaan gelisah yang sama tak menentu berjauhan dengan argetta. "Argetta, aku harap kau mengerti. Aku tak bisa tak mau melibatkanmu terlalu jauh. Kau akan mendapatkan banyak masalah." Argetta menggeleng tegas. "Aku tahu kau akan melindungiku." Sekarang, argetta benar membutuhkan Fredi. Dia justru memeluk erat dalam tangisnya pada pria tersebut. Melihat ketulusan argetta, Fredi menyerah dan memutuskan akan berjuang bersama argetta. "Semua ini akan sulit, sayang. Aku harap kau tak pernah menyesal dengan keputusanmu." Ucap Fredi tulus dari hatinya. "Aku mencintaimu, argetta." Fredi berucap lalu melepaskan pelukan argetta. Faro dan Edwin hanya menyaksikan drama yang di buat pasangan baru ini. "Sebaiknya kalian berdua harus bersiap menghadapi rintangan cinta kalian." Faro berucap. "Kalian hadapi tidaklah mudah." Edwin berucap. Kedua pengawal meninggalkan mereka berdua saja. Fredi meletakkan tubuhnya di sofa miliknya dan argetta duduk di pangkuan Fredi. Pada saat itu hanya mereka berdua, tidak ada siapa pun. Fredi tak menyangka jika ia terjatuh dalam kepelukan wanita asing yang belum lama di kenalnya. Mata hijau gelap, Fredi menatap mata indah itu. Rasanya ringan dan argetta tersenyum ketika tatapan mereka bertemu. "Argetta, apa Aku mampu melindungimu dari ayahku." Fredi berlirih. "Kau takut." kalimat singkat dari argetta. "Tidak, Aku ragu jika kau bisa hidup tenang dengan seorang mafia." Fredi berkata dengan ragu. Persis seperti adegan di film, Fredi menggendong argetta ala bridal style dan argetta menatap mata Fredi. Argetta belum pernah merasakan kebahagiaan seperti ini bersama pria lain sebelumnya. Termasuk Farel, ah iya Farel. Argetta melupakan pria malang itu, Emran telah menjodohkan dengan Farel namun argetta menolak secara sepihak. Bahkan Emran telah merencanakan pertunangan mereka namun tak terlaksana, argetta sudah terlebih dahulu kabur darinya. Fredi tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, seorang pria jatuh cinta pada orang asing. Fredi sering menyaksikan skenario semacam ini, tapi saat ini dia mengalaminya sendiri. Argetta di turunkan di ranjang besar Fredi. Pria itu terlihat sangat lelah, ia berbaring dan perlahan menutup matanya. Wajahnya Fredi bukan terlihat seperti mafia saat tertidur di pelukan argetta. "I Love u always." Argetta berkata seraya menatap wajah Fredi. "Aku harus memikirkan bagaimana cara menghadapi Emran. Dia akan marah besar, mungkin akan menyinggiri Fredi." Tidak.. Tidak.. Argetta menggeleng cepat, ia menepis pikirannya pada sang kakaknya emran. Dia memenangkan kompetisi yang sulit pria lain dapatkan. Kau mendapatkan cintaku, Hidupku. Kau mafia yang pencuri hatiku. pikir argetta. Argetta terus bicara sendiri, seraya menatap Fredi tiada henti. "Aku tidak akan melepaskanmu, tidak akan pernah. Tidak Ada wanita yang boleh berdekatan denganmu kecuali Aku. Hanya aku, sayang." Argetta kembali bicara sendiri. Ia pun tenggelam di d**a bidang Fredi. Argetta bisa mendengar deruhan denyut jantungnya terdengar kencang. Argetta selalu berharap hasil yang dalam setiap perjuangan tidak akan sia sia. Dalam kebebasannya yang argetta miliki, ia mendapat cinta seorang mafia yang terkenal kejam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD