MAFIA LOVE STRUGGLE 5

1312 Words
Waspada untuk umur di bawah 21 tahun Cerita ini mengandung unsur dewasa.... Argetta tak henti mencelah, napasnya menggebu. "Pria gi--" Fredi menyesap bibir argetta. Hhhmmmbbbbbb Hhhhmmmmmbbbbbtttt. Argetta terkejut mendapat perlakuan menyeringai dari fredi secara mendadak. Padahal di dalam mobil masih Ada Edwin dan faro menyaksikan Fredi mencium argetta. Fredi mengibas satu tangannya memberi kode pada kedua pengawalnya agar pergi meninggalkan mereka berdua. Argetta memberontak semaunya, tapi Fred semakin melumat bibir argetta. Ia ingin menikmati setiap sentuhan hangat Fredi namun dia melawan keinginannya agar tak terjerat terlalu jauh dari pria mafia b******n untuk argetta. Pria di depannya ini bukan hanya mafia biasa tapi iblis berdarah dingin, dia mampu membunuh. Fredi menarik d**a argetta lebih dekat lagi, mata mereka saling bertemu. "Apakah kau baik baik saja." Fredi melepaskan ciumannya. Argetta berlari memasuki paviliun tersebut. "Dasar b******n, apa dia pikir aku bisa baik baik saja setelah dia menciumku." Argetta merenggut menghempaskan tubuhnya di ranjang. Seluruh tubuh argetta bergemetar, jantungnya tak karuan saat ini. Pria itu berhasil membuat desiran darah argetta berpacu lebih cepat. Fredi memasuki kamarnya yang sudah terlebih dahulu ada argetta. Fredi tersenyum getir, Ia melepaskan satu persatu pakaiannya. Hanya tersisa boxer mengenakan di tubuhnya. Argetta merasakan suara kencang dari jantungnya. Ia menelan kasar saliva miliknya. Astaga..!! Pria ini mau apa lagi, argetta terlihat terkesiap melihat tubuh gagah Fredi yang polos. Fredi menaiki ranjangnya, entah Fredi sendiri tak mengetahui. Dia ingin memiliki wanita ini. Dia tidak mau pria lain terlebih dulu yang akan menyentuh wanita ini. "Kenapa argetta kau takut." Fredi menindik tubuh argetta tanpa perlawanan. "Apa yang kau mau, Fred." Ini pertama kali argetta berbicara lembut padanya. "Kenapa kau bertanya. kau akan melayaniku untuk bercinta. Semua inci bagian tubuhmu ini milikku." Fredi mulai menyentuh bibir argetta dengan bibirnya dengan lembut. Argetta tak mengetahui kenapa dia ingin menikmatinya. Fredi menyisap lembut bibir argetta perlahan hingga turun ke bagian leher beraroma wangi vanilla. Fredi menyeringai nikmat, mata terpejam. Argetta mulai menikmatinya.. "Hhmmmmmm." Argetta berdesah nikmat. Fredi membelai bagian p******a argetta, ia meremasnya. Fredi merobek seluruh gaun argetta. Ia menjilat bagian p****g argetta. "Ah..hah..ah." argetta kembali berdesah. Mereka benar lalui malam dengan bercinta. Fredi mencium setiap lekuk tubuh wanita ini. Nikmat yang Fredi rasa, pertama kali dia merasa dadanya berdenyut dua kali lipat dari biasa. Fredi memasuki jarinya kebagian into argetta. "Bagaimana kau merasa nikmat." Fredi berbisik lalu melumat kembali bibir lembut argetta. Fredi menuruni ciumannya hingga kebagian v****a argetta. Argetta terus berdesah tanpa henti. Fredi menjilat nikmat milik argetta hingga basah. Sekarang giliran sang jantan masuk ke lubang surganya. Napas argetta sudah terjengah di buat Fredi. Ia menyeringai nakal, dan memasuki miliknya yang besar perlahan. Argetta melepas perawannya bersama fredi. "Aaaaahhhh." Argetta merasakan sakit yang hebat saat Fredi memasuki miliknya. "Tahan, sakit sesaat." Ucap Fredi. Fredi menggoyang tubuhnya agar merasakan nikmat yang sama. Malam penuh gairah membuat Fredi tak ingin lepaskan kenikmatannya, Setelah lama mereka merasakan puncak bersamaan. "Kau sungguh nikmat, argetta." Fredi berkata. Argetta sudah terbaring lemah, dengan menutup selimut ditubuhnya dan tidur di pelukan Fredi. Pagi hari argetta terbangun lebih dahulu. Dia berada di d**a bidang Fredi. Argetta terkesiap dan terduduk. Ia mengingat apa yang terjadi. Argetta menutupi tubuhnya dengan selimut dan berjalan cepat ke arah kamar mandi. Bisa di bayangkan saat ini Fredi tubuhnya polos terlihat. Wanita itu hanya pergi meninggalkan wanita itu. "Pria itu telah mengambil perawananku. Oh sial, jika aku hamil bagaimana. Apa pria itu memakai pengaman." Argetta mandi di atas shower yang sudah membasahi rambutnya. Fredi terbangun mendengar ketukan pintu kamarnya dan sadar bahwa dia tidak mengenakan satu pakaian apa pun. Ia mengambil asal boxer milik tanpa memakai dalaman yang entan berserakan dimana. "Ada apa, Ed." Fredi berucap saat membuka pintu kamarnya. "Kau sepertinya lupa malam ini ada pertemuan dengan Emran di New York." Edwin sekedar mengingat Fredi. "Ah.. iya. Aku akan segera bersiap, kau tunggu saja di bawah." Fredi berseru lalu menutup pintunya. Argetta keluar dari kamar mandi, ia memilih bicara apa pun. Argatta lebih memilih bisu tanpa bicara. Fredi mandi dan segera bersiap. Ia tak berniat untuk memberitahu argetta akan pergi ke new York kalau tidak pasti wanita itu ingin ikut. Ia hanya tak ingin kejadian bodoh terjadi di restoran, akan terjadi di New York. Dia hanya meninggal kan argetta dengan faro agar Ada yang menjaga wanita itu. Fredi tanpa berpamitan bersama Edwin. Tapi argetta melihat dari dalam kamar jendela Fredi pergi tanpa mengatakan suatu padanya. Argetta merasa kecewa, saat Fredi begitu saja pergi meninggalkannya bersama satu orang kepercayaannya. *** Emran memiliki pertemuan sangat penting malam ini. Dia harus melupakan sejenak tentang argetta menghilang. Exel orang kepercayaannya Emran telah mengurus semua pencarian argetta di London. Emran menduduki kursi besar di ruangannya. "Maaf, tuan. Jangan lupa malam ini kau harus menemui tuan Fredi dari London." Exel berkata. "Baik, aku mengerti. Siapkan senjata yang ingin di lihatnya." Emran menjawab. "Baik, tuan. Aku akan segera lakukan." Jawab exel lalu pergi. Eleven Madison Park, East 24th Street, di Distrik Flatiron Manhattan. Sebuah restoran besar di New York. Tempat dimana Fredi dan Emran telah berjanjian untuk melakukan transaksi. Fredi telah menunggu Emran di restoran tersebut. Ketika lama menunggu, Emran datang bersama orang kepercayaannya exel. "Malam, tuan Fredi terhormat." Emran berucap dengan suara tegas menyeringainya. "Malam." Balas Fredi singkat. Emran mendaratkan bongkongnya di kursi hadapan Fredi. Ia saat itu tak perduli kebenciannya pada fredi, "apa Kita bisa melakukan transaksinya." Emran tak suka berlama lama berhadapan Fredi yang membuatnya muak. "Ed, periksa senjatanya." Perintah Fredi. Edwin periksa senjata pesanan Ambrik ayah Fredi. Edwin tak pernah meragukan senjata buatan perusahaan emran, "tuan, senjata ini pesan tuan Ambrik." Edwin berucap dengan memegang senjatanya. Ketika melakukan transaksi, Emran tak terlalu banyak bicara. Ia juga malas bertatap muka terlalu lama pada seorang Fredi yang di kenal b******n yang luar biasa. "Ed, apa kau lihat sepertinya Emran memiliki masalah bukan. Penampilannya sangat menjijik kan, berantakan." Fredi berdiri meninggal restoran tersebut. Edwin mengerdik bahunya, "tentu, Fred. Dia telah kehilangan adiknya yang telah menjadi mangsamu." Ucap Edwin bicara dalam hati. Mereka kembili ke hotel tempat mereka menginap, Fredy melihat senjata yang telah di belinya terdapat nama kecil disana 'pencily'. Aku seperti pernah mendengarnya. "Fred, apa yang kau pikirkan." Edwin bertanya dengan secangkir kopi di tangannya. "Lihat tulisan kecil ini. Aku pernah mendengarnya 'pencily'." Fredi menunjukan tulisan kecil yang terdapat di senjata itu. Edwin hanya terdiam dan tak menjawab apa pun. Ia tahu betul, tulisan kecil itu mama belakang dari argetta dan Emran. * * * Argetta berjalan malam, melihat kota London di temani faro. Tidak ada satu orang yang berani memandang wanita ini. Semua orang tahu faro pengawal sekaligus orang kepercayaan Fredi setelah Edwin. Jika ada yang berani menatap intens argetta. Mereka tahu dan yakin hidupnya tak kan lama. Siapa pun yang berani menganggu kepunyaan mafia London, bisa mati mengerikan di buatnya. Mereka semua tertunduk, argetta dapat melihat ketakutan di wajah mereka semua. Tubuh mereka gemetar takut. Sebegitu mengerinya kah mafia bernama Fredi. Pria itu pasti sangat menguasai Kota London. Pikir argetta. Ketika kembali ke paviliun milik Fredi. Argetta belum menemukan pria itu kembali. Ia melihat ke arah luar pintu, berharap pria itu segera kembali. Faro menyadari kegelisahan argetta yang terus mondar mandir tanpa henti. "Dia tak pulang, percuma kau menunggunya." Faro berseru saat ia menyesap sebuah minuman di hadapannya. "Apa yang kau maksud." Argetta berpura pura tak mengerti. "Kau menunggu Fred bukan. Dia tak kembali hari ini, dia Ada urusan tiga hari di New York." Jelas faro. Argetta pergi ke arah kamar tidurnya. Ia nampak begitu kesal pada fredi yang tak mengabarinya pergi ke New York. Ia memukul bantalnya, dia ingin marah sejadinya. Fredi telah membuat argetta gila, wanita itu dari tadi tak henti menggerutu sendiri. "Dasar mafia brensek. Dia ke New York tanpa memberitahu, apa setelah menyentuhku, dia berniat membuangku. Aku tak kan biarkan itu terjadi. Aku pastikan dia tak bisa lepas dariku seperti dia memangsaku." Argetta bergeletak gelisah di atas ranjang. Pergerakannya tak menentu, ia berharap Fredi berada tidur di sampingnya. Fredi telah menyiksa hati argetta, dia menjadi tak karuan. ..................................................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD