MAFIA LOVE STRUGGLE 4

1162 Words
Fredi kembali ke paviliun miliknya, tentu untuk menemui argetta dengan membawa pakaian baru untuk wanita tersebut. "Ed, apa kau rasa cukup pakaian untuk wanita itu." Fredi bertanya pada Edwin yang sedang mengemudi memasuki halaman paviliun miliknya. "Apa wanita itu akan tinggal lama di tempatmu." Edwin berbalik bertanya. Fredi menatap Edwin tajam, Edwin sangat mengenal tatapan fredi. Dengan mudah Edwin menebaknya. "Apa kau marah padaku." "Apa aku bisa membunuhmu, Ed." Fredi mengeluarkan kata pedasnya. "Lakukan jika kau puas." Edwin membalasnya dengan tenang. Fredi memasuki kamarnya namun tak menemukan wanita bernama Argetta tersebut. "Ah sial..!!! Apa wanita itu kabur. Kemana dia. Bukannya aku meminta faro menjaga." "Faro.. Faro.." Fredi memanggil faro meneriaki pria itu. Rahang pria itu mengeras di buatnya. Ia benar mengira kehilangan mangsanya. "Faro..." Suara fredi kembali terdengar keras. Fredi mengelilingi paviliun besarnya, tidak ada tanda dia menemukan argetta. Dia kembali mengelilingi hingga menemukan faro tertidur di teras belakang pavilion miliknya. "Faro.." Fredi meneriakinya. "Apa telinga kau tuli, far. Aku sudah meneriakimu dari tadi." Fredi menjeda perkataannya. " Mana wanita sialan itu." Fredi melanjutkan perkataannya. "Apa kau tidak periksa kolam berenang pavilion ini." Faro berucap dengan mata yang masih terpejam. "Fred, aku beritahu segera singkirkan wanita itu. Dia merepotkan." Faro mengeraskankan suaranya agar Fredi yang telah pergi mendengarnya. Fredi tak mendengar, Fredi bukan tipe orang yang gampang mendengar orang lain. Dia lebih memilih mendengar kan dirinya sendiri. Bahkan dia bisa langsung menentang orang itu menyampaikan maksud hatinya. Fredi pergi ke arah kolam renang dan benar baru saja dia melihat argetta duduk manis di sebuah kursi dengan kaca matanya. "Akhirnya mafia ini pulang juga." Argetta bersuara dengan lantang. Fredi akan memutuskan apa yang harus di lakukan dengan wanita ini. Apa dia akan memotong bagian tulang kecil wanita ini. Tiba tiba Fredi mendekat wanita yang tubuhnya masih basah. "Kau tahu apa paling aku benci di dunia." Fredi bertanya dengan suara keras yang tebal. "Lalu." Kalimat singkat keluar dari mulut argetta. "Dan apa yang kau lakukan, wanita sialan." Fredi kembali berkata. Argetta berdiri membuka kaca matanya. "Mana pakaianku. Apa aku harus tiap hari hanya menggunakan bra." Argetta mencercah Fredi. Argetta pergi dari penglihatan Fredi. Memasuki kamar Fredi. Fredi berbalik dan duduk di kursi argetta duduk. Fredi mengacak wajahnya dengan kesal. Argetta tertawa berjalan di dalam kamar. Ia meraih sebuah plastik yang berserakan di ranjang. Argetta mengambil salah satu pakaian dan mengenakannya. "Aku tidak menyangka kau cocok mengenakan gaun itu." Sebuah suara mengatakan dengan dingin. Argetta segera menjadi waspada, ia perlu berhati hati dengan pria yang memiliki rahang pipi yang tajam. Posisi argetta sedang berdiri di tepian jendela. Fredi meletakkan bagian tangan kanannya di pinggul wanita itu. "Apa kau tak ingin melanjutkan permainan kita tadi." Fredi terkekeh berbisik di telinga argetta. Argetta menatap tajam Fredi, "kau benar benar tak waras. Aku belum pernah mengenal laki laki iblis seperti dirimu." Argetta mencelah habis Fredi. "Aku tidak seperti kau, wanita sialan." Fredi mengerang kesal dan melepaskan tubuh argetta. Fredi mendaratkan bongkongnya di ranjang, "aku akan menembakimu jika kau tak menurutiku." Fredi mengancam dengan nada bahaya. "Kau Akan terkena masalah besar jika membunuhku." Argetta menantang. Fredi sangat kagum dengan wanita di hadapannya, satu satu wanita tidak takut Setelah mengetahui jati dirinya seorang mafia. Fredi tersenyum tipis dan mengambil sebuah jas hitam. Dia mengangkat kakinya lalu keluar meninggalkan argetta. Argetta kemudian berjalan menyusul Fredi dan seringaian wajah cantiknya. "Apa kau hendak keluar." Argetta bersuara lembut pada fredi. "Ya, malam ini aku harus menemui seorang untuk bisnis senjata." Fredi menjawab sambil menyeringai pergi. Argetta mencekal tangan Fredi, "aku akan ikut denganmu." Argetta berseru. "Tidak, kau akan tinggal dengan faro disini." "Aku tidak mau." Argetta melipat kedua tangannya seolah sedang bermarahan dengan kekasihnya. "Aku tak mau tau, aku harus ikut." Argetta merengek pada fredi. Akhirnya Fredi menyerah, dia mengikuti mau argetta kali. Pertama kalinya ia menuruti seorang wanita. Faro dan edwin berusaha menahan senyumnya. Edwin mengulum senyum melihat sikap merana Fredi yang harus menuruti argetta yang bukan siapanya. Fredi memasuki sebuah restoran, Argetta menggandeng Fredi yang di ikuti kedua pengawalnya. "Kau duduk disini. Aku harus menemui seorang." Fredi melepaskan tangan kiri argetta yang erat melingkar di lengannya. Argetta melirik, entah kenapa dengan mudah dia mau saja bersentuhan dengan pria yang telah menjadikan dirinya mangsa. "Faro, apa kau tak punya bongkongnya. Tubuh kau letih berdiri terus." Argetta memandangi wajah faro yang bodoh menurutnya. Dia bisa mendapatkan sepuluh orang seperti faro di New York. "Tidak, Nona. Ini sudah tugas Saya menjaga anda." Faro memberi jawaban dengan seformal mungkin. "Iih.. aku jijik mendengar perkataanmu." Komentar argetta. Argetta memperhatikan gerakan gerik Fredi yang tegang, dan tentu saja Edwin lebih tegang. Seperti suatu akan terjadi Sebentar lagi. Edwin sudah bersiap dengan pistolnya. "PERSETAN." Fredi mengerang. Faro melihat situasi sudah di aman, akan bahaya untuk argetta jika musuh mengetahui argetta bersama mereka. "Mari, Nona. Kita pergi disini." Faro mengajak argetta pergi tempat tersebut. "Tidak, ada apa ini. Kenapa kau terlihat tegang. Tuanmu yang iblis juga sama tegangnya." Argetta bersuara sedikit keras pada faro. Faro tak perduli dia menarik argetta, dan membawanya ke dalam mobil mereka. Lalu ia meninggalkan wanita itu, dan membawa sebuah senjata tajam yang berada di dalam mobil. Argetta bukan wanita yang penakut, dia biasa menghadapi hal ini bersama Emran. "Dasar tiga pria tak berguna. Mereka menganggap aku bodoh. Bukan kah aku sering melakukan hal ini. Emran membiarkan ku menembak jika seorang berlalu tak sopan." Argetta merengut meluapkan kekesalan pada pria yang selalu di anggap iblis. Argetta mengambil senjata kecil milik Fredi. Pisau berukuran sangat kecil dengan mudah argetta membawanya. Dari kejauhan argetta melempar pria yang bersama fredi dengan benda kecil itu. Tepat sasaran argetta melemparinya terkena kaki pria itu. Fredi tak menyangka argetta bisa berbuat sedemikian. "Faro, apa kau yang menyuruh wanita tak waras itu." Fredi mengeluarkan suaranya. "Tidak, tuan. Aku menyuruhnya menunggu di Mobil." Faro berkata berdiri di samping sisi kiri Fredi. Fredi berdiri, "Hancurkan tempat ini." Kalimat itu keluar dari mulut Fredi lalu dia meninggalkan tempat tersebut bersama kedua pengawalnya. Argetta terkejut melihat sudah banyak orangnya Fredi, menghancurkan restoran tersebut. Argetta menelan salivanya, ternyata aksinya bukan apa apa. Argetta bukan pembunuh, ia hanya senang melukai seorang. Emran sering mengatakan padanya jangan pernah membunuh. Fredi menarik tangan argetta yang masih terpelonggo dibuatnya. Mereka memasuki Mobil mereka. Argetta tak bisa berkata kata, ia benar benar tak menyangka pria ini penjahat maniak. "Wanita bodoh, apa yang barusan kau lakukan." Suara fredi dengan tegas meluncurkan kalimat itu. Argetta menoleh, lamunannya membuyar. "Aku bukan wanita bodoh, kau benar iblis. Kau merusak tempat usaha orang lain." "Ck..Ck.." Fredi menggeleng pelan. "Apa itu masalahmu." Fredi berseru menyeringai. Tanpa terasa mereka semua sampai di paviliun Fredi, bahkan kedua manusia saling berdebat tak menyadarinya. Edwin dan faro menggeleng menyaksi perdebatan mereka. "Apa kalian berdua tak ingin turun." Faro berucap berbalik wajahnya ke arah belakang kursi. Fredi dan argetta tak mengubris sedikit pun. Argetta secara dramatisir menghela napas, merobek pandangan pada fredi. "Kau memang iblis keparat." Argetta mencelah fredi. Fredi tersenyum getir. "Kau biadab." Argetta kembali mencelah dengan suara keras. Argetta tak henti mencelah, napasnya menggebu. "Pria gi--" Fredi menyesap bibir argetta. Hhhmmmbbbbbb
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD