Abi berdiri di balkon kamar, memandang matahari yang mulai terbit. Sarung yang ia kenakan selepas shalat subuh belum ia lepas, umi datang menghampiri, membawa secangkir teh hangat untuk ia berikan kepada suaminya.
"Teh nya bi?" Ucap Umi.
"Simpan saja di meja." Kata Abi pada istrinya tanpa menoleh.
Umi menurut, menyimpan teh itu di meja, kemudian memilih duduk di kursi.
"Abi kenapa lagi?" Tanya umi. Abi menghembuskan nafasnya kasar.
"Apa aku harus mengirim Nayra pergi dari rumah ini?" Ujar Abi tiba-tiba, umi yang mendengarnya setengah terkejut. Umi yang sebelumnya duduk santai kini menegakkan tubuhnya.
"Abi apa-apaan sih? Kalau ngomong suka gak di pikir dulu. Emang kenapa sampai Nayra harus pergi dari rumah ini?" Ujar umi masih tidak mengerti dengan jalan pikir suaminya. Nayra selalu jadi bahan utama suaminya untuk melamun. Padahal Abi tahu sendiri, kenakalan Nayra di sekolah pun bukan hal yang besar. Nayra juga bukan beban yang tiba-tiba harus pergi.
Abi berbalik menatap sang istri cukup dalam "Kita hanya butuh keluarga kita utuh. Naura tidak akan memiliki rasa iri atau cemburu kepada Nayra. Rafka juga, kamu tahu anak itu kan?"
Ujar Abi berusaha memberi pengertian, membujuk agar istrinya mau menyetujui apa yang ia bicarakan perihal Nayra yang harus pergi.
Umi Aminah menunduk sejenak "Nayra anak kamu." Katanya singkat tapi membuat Abi terdiam seketika. Tatapan wanita yang tengah duduk itu menghunus tajam kearahnya, bahkan sampai terasa hingga jantung.
"Aku hanya berpikir, bahwa satu masalah harus di bereskan agar tidak menambah masalah baru." Ucap Abi seperti ragu.
Umi bangkit, terlihat matanya memerah menahan tangis "Kamu anggap anakmu adalah masalah? Yang bermasalah itu kamu dan pikiran kamu." Kata umi marah.
Abi membalas tatapan istrinya "Lihat! Gara-gara dia, kamu selalu marah. Setiap kali membahas dia, kita selalu bertengkar." Kata Abi mencoba memelankan suaranya supaya tidak terdengar oleh telinga lain.
"Kamu selalu menangisi dia."
Umi tersenyum sinis "Kita udah dewasa, bahkan kita sudah menuju tua. Kenapa pikiranmu masih sedangkal itu?"
"Aku hanya ingin hidup tenang." Abi berbalik, tangannya menggenggam pagar balkon dengan kuat.
"Apa dengan Nayra pergi kamu akan tenang, Karim? Apa penyesalan mu tidak akan terasa lebih besar nanti?" Bibir umi bergetar, bagian dalam mulut ia gigit sekuat mungkin menahan sakit yang begitu kentara di hatinya.
Umi mengusap pipinya yang basah "Aku saja menyesal akan dosa yang telah kamu lakukan."
Abi berbalik "Itu bukan dosa, itu kesalahan yang tidak aku sadari." Katanya membela diri.
"Kesalahan yang tidak kamu sadari itu terjadi karena kamu ada hati, bajingan."
***
"Dah siap, tinggal berangkat." Kata Nayra yang tersenyum sumringah kearah cermin.
Semua siap, tas sudah ia gendong, rambut ia cepol lebih dulu sebelum berada di sekolah, buku pelajaran sudah berada di tempatnya dan tidak tertinggal.
Nayra menunjuk dirinya sendiri melalui cermin sambil melotot "Lo, gak usah bikin masalah. Hukuman masih berjalan, bahkan baru akan dimulai. Persiapkan rasa malu mu sebanyak mungkin." Ungkapnya kemudian kembali tersenyum.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya dalam hati sambil berbalik dan berjalan menuju pintu.
Trek
Tangan memutar kunci, pintu dibuka secara perlahan.
"Astaghfirullah." Nayra terkejut karena saat pintu terbuka, uminya sudah berdiri disana entah dari kapan.
"Umi. Bikin kaget aja." Kata Nayra sambil mengusap dadanya.
Umi diam tidak menjawab.
"Umi dari kapan di depan kamar Nay? Ini masih pagi lho!" Ucap Nayra lembut.
"Ada yang mau umi kasih ke kamu." Tanpa persetujuan Nayra, umi menarik puterinya kembali kedalam kamar seraya menutup pintunya rapat.
"Ada apa?"
Umi tidak menjawab, Nayra mulai memperhatikan raut wajah umi nya yang berbeda. Sembab.
"Umi kenapa matanya sembab, habis nangis ya?" Nayra mendekati umi sedikit panik.
Umi menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Umi gak papa."
Umi Aminah merogoh saku gamisnya, mengambil sebuah amplop coklat yang lumayan berisi.
"Ambil ini." Umi menarik tangan Nayra dan langsung memberikan amplop berwarna coklat itu tepat ditangan puterinya.
Nayra keheranan, berusaha menebak apa isi dari amplop tersebut.
"Ini apa? Mau dikasih ke siapa?" Ucap Nayra berpikir umi menitipkan benda tersebut untuk diberikan kepada seseorang.
"Itu uang, untuk kamu?" Nayra menatap uminya tidak percaya.
"Uang?" Katanya sambil memeriksa isi didalamnya. Mulut Nayra terbuka lebar, begitu pun dengan matanya.
"Ini banyak banget umi, uang dua gepok buat apa?" Seperti baru melihat sesuatu yang aneh, Nayra sampai tidak sadar suaranya meninggi. Uang dengan jumlah hampir 10 juta itu membuat Nayra tidak percaya bisa memegang nya.
"Itu masih sebagian." Ucap umi, Nayra menatap uminya semakin terkejut.
"Uang yang kamu pegang bukan dari umi atau Abi, itu memang untuk kamu, uang kamu. Maaf karena umi dan Abi belum bisa memenuhi semua kebutuhan kamu sampai-sampai kamu harus kerja. Maaf karena umi gak memperhatikan kamu." Ujar umi sedih, tangannya mengusap bahu Nayra begitu lembut.
Nayra diam "Apa ini gara-gara kemarin?"
Umi menggeleng, karena bukan itu alasannya memberikan Nayra uang. Tapi umi memberinya karena memang hak Nayra. Umi hanya menyimpan kan nya untuk masa depan Nayra.
"Sungguh umi, Nayra kerja karena Nayra butuh dan sanggup. Nayra sudah besar, malu kalau harus terus-menerus minta sama umi dan Abi." Nayra mulai tidak nyaman dengan sikap uminya.
Umi tidak membalas ucapan puterinya "Simpan saja, umi yakin kamu akan menggunakannya dengan baik."
"Tapi umi_"
"Jangan dibahas dan jangan sampai ada orang yang tahu tentang uang itu, entah itu Abi, Naura atau bahkan Rafka." Ucap Umi mengingatkan.
"Lebih baik kita keluar dan sarapan." Ajak umi dengan wajah tersenyum.
Nayra membalas senyuman itu dengan canggung.
"Masukan dulu uang itu kedalam tas." Nayra mengangguk dan dengan cepat memasukkannya kedalam tas.
"Keluarlah lebih dulu, biar umi keluar belakangan. Jangan pergi sebelum sarapan."
Nayra mengangguk dan keluar masih dengan perasaan yang tidak jelas. Uminya cukup berbeda, tidak seperti biasanya. Terlihat lebih tegas walau mata itu sembab.
***
"Umi simpan kerudung aku dimana sih?" Gerutu gadis yang setengah siap. Seragam putih abu sudah ia kenakan, hanya saja rambutnya belum ia tutupi menggunakan hijab yang sering ia pakai.
Lemari yang semula rapi kini isinya berhamburan keluar. Mencari satu barang yang disimpan orang lain itu cukup menyulitkan, oleh karena itu seseorang bertanggungjawab atas barang miliknya sendiri.
"Jangan-jangan Nayra yang ambil. Iya, pasti keurudung gue kebawa sama pakaian dia." Tuduhnya pada orang yang bahkan tidak tahu apapun.
Dia Naura, kesal karena seharusnya dia sudah turun dan berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama, tapi malah berkutat dikamar Mecari kerudung yang entah dimana.
Gadis itu keluar dari kamar dengan hati dongkol. Berjalan cepat menuju kamar disampingnya.
"Pintu kamarnya masih terbuka, dia belum berangkat." Ucapnya mempercepat langkahnya.
"Nayra, lo pasti bawa kerudung gue kan?" Gadis itu terdiam diambang pintu menatap seseorang yang berdiri dikamar itu bukanlah pemiliknya.
"Kamu memang pemalas."
***
Nayra duduk di meja makan sendirian, lauk pauk, nasi juga air minum sudah tersedia diatas meja dengan rapi. Nayra celingukan mencari penghuni yang lain, mereka belum datang.
Sesaat kemudian, Abi datang, terdiam sejenak ketika melihat baru ada Nayra. Beliau sudah siap dengan setelan kantor, berjalan menuju meja makan dan duduk ditempatnya. Nayra merasa canggung saat duduk hanya berdua dengan Abi. Ini yang sangat ia hindari.
"Kemana umi?" Tanya Abi dengan mimik wajah datar.
"Tidak tahu." Balasnya singkat.
Nayra tidak terbiasa duduk terlalu lama di meja makan, dia lebih sering makan lebih dulu atau berangkat tanpa makan. Umi tidak mempermasalahkan itu, terkadang umi sendiri yang sengaja menyiapkan bekal.
Umi datang bersamaan dengan Rafka dan Naura yang terlihat mengekor dengan wajah cemberut.
Saat sampai di dapur, Naura dengan cepat duduk di dekat abinya dan memeluk lengan Abi manja. Nayra memilih memalingkan wajah agar tidak melihat adegan tersebut.
"Bang Rafka marahin aku, bi!" Adu nya seraya memasang wajah sedih. Abi melirik puterinya dan menoleh pada Rafka yang mengambil duduk di samping Nayra. Terlihat Nayra yang menggeser kursinya menjauh.
"Karena apa?"
"Dia nyari kerudungnya sampai semua isi lemari dia keluarin, terus masuk kamar Nayra marah-marah dan nanyain kerudungnya sama orang lain." Jawab Rafka menjelaskan.
"Kenapa nyari kerudung sampai harus bongkar isi lemari?"
"Namanya juga pemalas, makanya gak tahu barang sendiri disimpan dimana, karena apa-apa umi yang kerjain." Jawab Rafka lagi dengan nada sinis.
"Abang kenapa sih gitu banget ke aku!" Nayra melepas pelukannya dari lengan Abi dan beralih menatap tajam Rafka.
Rafka menggerling kan matanya malas "Makanya, jadi cewek itu mandiri."